
Waktu terus berjalan, Nizam masih berjuang sebagai support system untuk Bulan. Hampir setiap malam ia menjadi penenang sang istri dari mimpi buruknya, dan ketika pagi menjemput, ia akan menjadi orang yang selalu memberikan senyuman, rasa nyaman, dan rasa aman kepadanya.
Mumpung hari ini adalah akhir pekan, tepatnya hari sabtu. Nizam memiliki misi rahasia yang ingin ia jalankan dengan bantuan Nizwa. Sementara pekerjaannya ia serahkan kepada Arfan.
Nizam kini duduk di bangku taman seorang diri dengan pakaian yang cukup tebal dan panas berwarna hitam-putih. Pria itu sesekali mengipasi wajahnya dengan tangan untuk menghilangkan rasa gerah, padahal waktu masih menunjukkan pukul delapan pagi.
Tak hanya Nizam yang ada di taman itu. Beberapa orang juga tampak berdatangan untuk berolah raga atau piknik bersama keluarga di akhir pekan. Senyuman pria itu tersungging kala melihat pasangan suami istri sedang lari pagi bersama saling bergandengan tangan. Ingin sekali rasanya ia melakukan hal yang sama bersama sang istri, tetapi keadaan rupanya belum mengizinkan.
Ponsel Nizam berbunyi sebagai notifikasi pesan masuk. Nama sang adik tertera di layar ponselnya sebagai pengirim pesan.
'Kak, kami otw.'
Buru-buru Nizam segera memakai penutup kepala yang sejak tadi berada di sampingnya. Walaupun terasa berat, pengap, dan panas, tapi senyuman pria itu tak lepas dari wajahnya. Ya, sebuah harapan baru sedang ia ikhtiarkan saat ini demi kesembuhan sang istri.
Tak lama setelah itu, dua orang wanita berhijab yang baru saja tiba di taman menunjuk ke arahnya dari jauh. Rasa gugup ditambah debaran jantung yang semakin cepat membuat pria itu semakin berkeringat. Semoga usahanya kali ini bisa berjalan lancar, itulah yang ada dipikirannya saat ini.
"Bulan, lihat, deh! Ada boneka panda besar, di sana," ujar Nizwa begitu antusias seraya menunjuk seseorang dengan maskot boneka panda sedang bergoyang lucu sehingga banyak orang mulai berkumpul di dekatnya.
"Ayo ke sana, aku ingin lihat dari dekat!" Bulan segera menarik tangan Nizwa mendekati boneka panda itu dengan senyuman merekah.
Kedua wanita itu kini berdiri tepat di hadapan boneka panda bersama para pengunjung taman lain yang kebanyakan dari kalangan anak-anak. Satu per satu dari mereka meminta foto bersama. Tak ingin kalah, Nizwa pun menawarkan diri untuk mengambil gambar Bulan dengan boneka panda itu.
Dengan senang hati, Bulan menerima tawaran itu, tapi sebelumnya ia melepaskan jaket yang ia kenakan karena mulai merasa gerah, lalu ia sampirkan di sandaran bangku taman yang berada di belakang boneka panda.
"Tunggu!" ujar Bulan seraya bergeser ketika tangan boneka panda itu hendak merangkulnya. "Kamu pria atau wanita?" tanyanya.
Boneka itu tidak menjawab dan hanya bergerak memberikan kode.
"Dia wanita, Bulan. Aku sering melihatnya di sekitar sini," ujar Nizwa memperjelas jawaban dari boneka panda itu.
Kini terlihat raut wajah lega dari Bulan. Ia kembali mendekat dan menerima rangkulan dari boneka panda itu tanpa curiga sedikit pun. Ia bahkan ikut memeluk gemas tubuh boneka tersebut. Tanpa ia sadari, seseorang di dalam maskot itu tengah tersenyum haru merasakan pelukan sang istri untuk pertama kalinya, walaupun terhalang oleh pakaian tebal.
__ADS_1
Puas mengambil gambar, Bulan dan Nizwa pun langsung pergi meninggalkan sang boneka panda yang kini melambaikan tangan ke arahnya dari belakang. Setelah memastikan kedua wanita itu tidak terlihat lagi, boneka hitam-putih tersebut duduk kembali di kursi taman, lalu melepaskan penutup kepalanya.
Nizam kembali mengipasi kepalanya yang sebagian sudah basah oleh keringat. Walau panas, pria itu tetap saja menyunggingkan senyum bahagia karena berhasil menyentuh sang istri walau tidak secara langsung.
Atensi Nizam kini teralihkan pada sebuah jaket yang berada tepat di sampingnya. Ia jelas mengenal siapa pemiliki jaket itu dan berencana akan mengembalikannya.
"Mas Nizam?"
Nizam seketika menoleh ketika mendengar seorang wanita memanggilnya dengan nada terkejut.
"Bu-Bulan?" Refleks Nizam berdiri dengan wajah yang berubah pucat.
"Kamu bohongi aku, Mas?"
"Sayang, aku ..., aku tidak bermaksud seperti itu." Nizam berjalan perlahan ke arah Bulan, mencoba menjelaskan apa yang sedang terjadi agar wanita itu tidak salah paham. Akan tetapi wanita itu memilih mundur.
"Jangan mendekat!"
"Aku hanya ingin menghiburmu, Sayang. Aku juga ingin membuatmu terbiasa dengan sentuhanku. Aku tidak bermaksud membohongimu," jelas Nizam menatap sendu sang istri.
"Tapi tidak beginu caranya, Mas. Kamu justru membuatku takut dan tidak mempercayaimu." Bulan segera berlari pergi meninggalkan taman. Ia bahkan mengabaikan Nizwa yang menunggu di gerbang masuk taman saat memanggilnya.
Nizam tak bisa berkutik melihat Bulan yang semakin menjauh. Jangankan mengejar, bergerak pun rasanya sulit. Tidak, bukan ini yang ia inginkan. Keadaannya saat ini sangat jauh dari yang ia harapkan, bahkan kini terasa semakin rumit.
"Apa aku terlalu egois dengan keinginanku hingga gegabah mengambil keputusan?"
...
Usai menenangkan pikiran dan membereskan maskotnya ke dalam gudang. Nizam berjalan cepat memasuki rumah dan langsung menghampiri Nizwa yang memang sejak tadi sudah menunggunya.
"Di mana Bulan?" tanya pria itu dengan raut wajah khawatir.
__ADS_1
"Dia di dalam kamar tamu, Kak. Aku panggil-panggil dari tadi, tapi dia nggak menjawab," jawab Nizwa tak kalah khawatir.
Gegas Nizam melangkah ke kamar tamu yang sedang terkunci dari dalam. Alih-alih mengetuk pintu, pria itu justru merapatkan telinganya untuk memastikan apa yang terjadi pada istrinya di dalam sana.
Tak ada suara apa pun, rasanya ia ingin sekali membuka paksa pintu itu karena khawatir dengan keadaan Bulan. Akan tetapi, ia juga khawatir jika kehadirannya justru akan membuat sang istri semakin marah dan berujung memperburuk keadaan wanita itu.
"Maafkan aku, Bulan." Hanya kata itu yang bisa Nizam ucapkan untuk saat ini.
☘☘☘
Malam semakin larut. Bulan tak pernah sekali pun keluar dari kamar tamu sejak pagi tadi. Tak peduli seberapa sering Nizam mengetuk pintu untuk memanggilnya makan atau pun menanyakan keadaannya.
Perasaan wanita itu kini kembali membaik setelah menenangkan diri hampir seharian. Walau rasa kecewa itu masih mengganjal di hatinya, hingga membuat Bulan enggan bertemu sang suami. Namun, suara aneh yang bersumber dari perutnya tak bisa lagi ia abaikan.
Bulan berjalan perlahan membuka pintu, sangat hati-hati agar tak menimbulkan suara apa pun. Wanita itu terperanjat kaget ketika di depan pintunya terdapat boneka panda berukuran besar. Tak hanya itu, sebuah kertas yang menempel di tangannya membuat Bulan membaca tulisannya dengan seksama.
"Maafkan aku istriku. Aku tidak menyangka jika apa yang kulakukan tadi malah melukaimu. Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi. Jika saja kamu bisa menyentuhku, aku siap dihajar sampai babak belur, tapi kalau tidak, kamu bisa menghajar boneka ini sampai puas, anggap saja aku ada di dalamnya. Satu pintaku, jangan menghilangkan kepercayaanmu padaku, aku mencintaimu dan aku akan selalu berusaha membuatmu aman dan nyaman di sisiku."
Bulan mengembuskan napasnya kasar melihat pesan itu. Di satu sisi, ia ingin tersenyum karena mendapat pengakuan cinta, tapi di sisi lain rasa kecewa dan bayangan ketakutan masih saja mengganggunya.
☘☘☘
Beberapa hari kemudian, seorang pria dengan baju serba hitam datang menghampiri wanita berhijab yang tengah duduk di salah satu kursi sebuah restoran.
"Bagaimana?"
"Sangat susah mendapatkan informasi ini karena dokternya benar-benar menjaga kerahasiaan data dan kondisi pasien dari siapa pun. Tapi tenang saja, aku sudah menemukan cara lain dan ini hasil yang aku dapatkan."
Pria itu kemudian mengeluarkan sebuah map berisi beberapa lembaran foto dan kertas, lalu memberikannya kepada wanita itu.
"Kasihan kamu, Bulan, tapi sebenarnya yang lebih kasihan di sini adalah kamu, Nizam."
__ADS_1
-Bersambung-