
Langkah kaki wanita dengan sepatu high heels terdengar memasuki sebuah kamar rumah sakit yang sedikit terpisah dari kamar rawat pasien lainnya. Suasana sekitar terasa sangat sepi, dan memang tidak semua tenaga medis memiliki akses masuk ke dalamnya. Hanya beberapa tim medis saja yang dipercayakan masuk dan menangani pasien di dalam ruangan itu secara intensif.
"Bagaimana keadaannya, Ben?" tanya Aura usai menutup pintu dan mendapati Ben, perawat yang bertanggung jawab secara khusus di ruangan itu berdiri tidak jauh dari tempat tidur pasien.
"Dia masih belum bergerak, tapi dari grafik ini, sebuah aktivitas listrik di otaknya baru saja terlihat," jawab Ben.
Aura berjalan menghampiri pasien yang dalam keadaan tidak sadar itu. Wajahnya tampan seperti biasa, meski beberapa bekas luka masih terlihat di sana.
"Apa yang sedang kamu mimpikan, Zam? Apa mimpimu begitu indah hingga kamu enggan bangun?" tanya Aura pada pasien koma yang ada di hadapannya. Ya, dia adalah Nizam.
...
Sebelumnya, tepat setelah ledakan terjadi, dua ambulans datang ke lokasi kejadian usai mendapat telepon darurat. Awalnya, dua ambulans tersebut hendak menuju ke rumah sakit yang sama, tetapi karena keadaan Nizam yang kritis, akhirnya tim medis dalam ambulans tersebut memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit yang peralatannya lebih lengkap.
Kebetulan, dokter yang berada di rumah sakit tersebut adalah teman Aura. Ia mengenali wajah Nizam sebagai calon suaminya dan karena itu ia menelepon Aura untuk mengabarkan keadaannya.
"Razieq, tolong aku, sekali ini saja, demi alasan keamanan. Izinkan aku membawa Nizam ke rumah sakit di kotaku untuk mendapat perawatan. Di sana juga peralatannya lengkap. Aku juga bisa menjamin keamanannya jika berada di sana. Kamu tahu sendiri, dia adalah korban ledakan b0m ter0ris. Aku khawatir para ter0ris itu masih mengincarnya di kota ini," pinta Aura memohon melalui sambungan telepon karena saat itu ia masih berada di markas tim khusus.
Razieq, selaku teman sekaligus direktur rumah sakit itu diam sejenak menimbang permintaan temannya. Hingga kemudian ia menyetujuinya.
Aura keluar dari markas dengan di kawal oleh tim khusus menuju rumah sakit tempat Nizam saat itu. Usai mendapat persetujuan dari Razieq, ia langsung menghubungi direktur rumah sakit tempatnya bekerja mengenai keadaan Nizam yang akan dipindahkan ke sana. Lalu berangkat dengan menggunakan helikopter medis darurat menuju kota A di pagi buta.
Itu sebabnya tak ada sama sekali rekaman CCTV yang bisa menangkap jejak Nizam, kecuali rumah sakit itu. Namun, atas permintaan Aura, mereka menghapus semua jejak rekamannya.
...
"Dokter Aura, apa pasien ini tidak memiliki keluarga? Kasihan juga dia selalu sendiri selama ini, sementara dia butuh dukungan keluarganya," tanya Beni.
Aura terdiam sejenak mendengar perkataan perawat tersebut. Wanita itu tersenyum kecut lantas berbalik dan menjawab, "Ada, tapi demi alasan keamanan, sebaiknya keberadaan pasien ini harus dirahasiakan hingga pulih total."
__ADS_1
"Oh, begitu, baiklah, saya mengerti, Dok." Perawat itu segera pergi dari kamar Nizam untuk memberi ruang kepada Aura. Wanita itu kini mengambil kursi dan duduk tepat di samping Nizam sambil menampilkan senyumannya.
"Maafkan aku, om Boy dan tante Khaira, aku terpaksa merahasiakan keberadaan Nizam dari kalian. Tenang saja, aku akan menjaga Nizam dengan tulus hingga dia sembuh total," ucap Aura lalu membuang napas kasar. "Huufh, kuharap setelah ini, hatinya bisa kembali terbuka untukku," lanjut wanita itu.
Aura mengerutkan dahinya ketika menyadari kedua mata Nizam mengeluarkan air mata. Segera ia memeriksa monitor EEG, dan lagi-lagi menemukan adanya aktivitas listrik di otak pria itu.
Ketika Aura kembali menatap Nizam, ia cukup terkejut karena mendapati pria itu telah membuka mata.
"Alhamdulillah, Nizam, kamu sudah sadar," ucap Aura, tetapi pria itu tak memberikan respon apa pun selain gerakan mata yang melirik ke arahnya.
Aura mulai melakukan serangkaian pemeriksaan terhadap Nizam, mulai dari gerakan pupil mata, dan lain-lain. "Zam, apa kamu bisa melihatku dengan jelas?" tanya Aura. "Cukup kedipkan matamu jika iya," lanjut wanita itu karena tahu Nizam belum bisa merespon dengan suara.
Pria itu mengedipkan matanya sekali. Aura kemudian kembali bertanya untuk memastikan ingatan Nizam baik-baik saja.
"Apa kamu mengenalku?"
Kali ini Nizam tidak menjawab dengan kedipan mata. Ia hanya diam menatap Aura dengan sorot mata kebingungan.
Meski sudah bisa berbicara dan berjalan, Nizam masih kesulitan dalam mengingat masa lalunya. Kondisi ini merupakan hal yang umum terjadi pada pasien pasca trauma, seiring berjalannya waktu, Nizam akan kembali mendapatkan ingatannya secara fungsional.
"Ben, di mana Nizam?" tanya Aura ketika baru pulang dari rumah sakit. Hampir setiap hari ia akan menyempatkan diri mengunjungi pria itu, membawakan makanan, bahkan jika sempat, ia yang akan memasak untuknya.
"Dia ada di halaman belakang, Dok," jawab Beni.
"Baiklah, terima kasih. Oh iya, ini untukmu." Aura memberikan sebuah kotak makanan kepada Beni, lalu segera berjalan memasuki rumah hingga tiba di halaman belakang.
Wanita itu bersemangat karena saat ini ia membawa martabak telur kesukaan Nizam. Ia ingin memakannya bersama, sebagaimana yang dulu sering ia lakukan ketika ia berkunjung ke kota B, atau Nizam yang berkunjung ke kota A.
"Zam, ngapain?" tanya Aura seraya menghampiri Nizam yang duduk di kursi panjang dan ikut duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Aku sedang menikmati sejuknya angin malam dan indahnya hamparan bintang, sayangnya aku tak melihat rembulan," jawab Nizam seraya menatap langit.
"Mungkin bulannya malu menampakkan diri di depanmu," ujar Aura tertawa pelan. "Oh, iya, ini aku bawain martabak kesukaan kamu. Dulu, kamu sering beliin aku martabak ini kalau sedang berkunjung ke rumah," lanjut Aura sambil membuka box makanan berisi martabak.
"Benarkah? Pantas saja aku selalu merasa tidak asing.
"Apa kamu belum mengingatku sepenuhnya?" tanya Aura penasaran.
"Entahlah, tapi setiap kali melihatmu, aku merasa kita dulu sangat dekat," jawab Nizam.
"Memang, kamu bahkan akan menikahiku, tapi ...." Aura menggantung perkataannya, membuat Nizam mengerutkan dahi.
"Tapi kenapa?"
"Tapi kamu malah kecelakaan, alhasil, aku harus kembali bersabar menunggumu hingga kamu pulih total," jawab Aura tersenyum menatap langit.
"Benarkah? Apa itu artinya dulu aku mencintaimu?"
"Wow, aku sedih, loh, mendengar pertanyaanmu itu. Apa kamu tidak lagi mencintaiku sekarang?" tanya Aura dengan mata berkaca-kaca menatap Nizam hingga membuat pria itu serba salah.
"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu bersedih. Ya, mungkin aku memang masih mencintaimu, hanya saja keadaanku ini yang membuatku ragu," kata Nizam, membuat Aura merasa lega.
"Makanya, hingga saat ini aku setia menunggumu. Aku ingin impian kita bersama dulu segera terwujud."
"Impian bersama?"
"Iya, menyatu dalam ikatan suci pernikahan."
-Bersambung-
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen yah 🥰