
Matahari mulai tegelincir ke kaki langit, semburat warna jingga pun ikut membentangi langit cerah sore itu. Seorang pria berkacamata dengan setelan jas lengkap berjalan memasuki rumah, ditemani sang asisten pribadi yang baru saja menjemputnya di bandara beberapa menit yang lalu.
Usai mendapatkan telepon dari sang ibu ketika di kota A, Nizam langsung menyelesaikan urusannya dan bergegas kembali ke kota B melalui jalur udara. Setelah menempuh satu setengah jam perjalanan, akhirnya pria itu tiba dirumah yang menjadi saksi tumbuh kembangnya sejak kecil.
"Assalamu 'alaikum, Bunda. Bagaimana keadaan Bulan?" ucap Nizam saat menjumpai sang ibu di ruang tengah lalu menciumi punggung tangannya.
"Dia di kamar bersama Nizwa. Oh iya, duduklah, bunda mau bicara," titah Khaira sambil menepuk sofa yang kosong di sampingnya.
Nizam langsung duduk dengan patuh. "Ayah di mana, Bunda?"
"Ayahmu sedang mengisi pengajian di pesantren, palingan setelah sholat isya baru kembali," jawab Khaira. "Oh iya, Bunda mau bicara penting sama kamu," sambungnya.
"Ada apa, Bunda?"
"Ini tentang Bulan." Nizam terdiam sejenak memandangi wajah sang ibu. "Tolong jujur sama Bunda, siapa Bulan sebenarnya? Apa dia istrimu?" lanjut wanita itu.
Bola mata Nizam seketika melebar mendapat todongan pertanyaan yang sangat diluar dugaannya. "Bukan Bunda," jawab Nizam sambil menggelengkan kepalanya.
"Kamu yakin? Bunda curiga, loh! Jangan-jangan kamu diam-diam sudah menikah," selidik Khaira dengan mata memicing.
"Astaghfirullah, tidak Bunda. Nizam jamin, putramu ini pasih bujangan alias perjaka ting-ting," jelas Nizam meluruskan kesalahpahaman sang ibu.
"Kamu tidak bohong, 'kan? Bunda hanya curiga saja karena selama ini kamu tidak pernah mau membawa wanita lain ke rumah ini selain Aura."
"Nizam membawanya karena darurat, Bunda."
"Kalau begitu, jujur sama Bunda, siapa Bulan?"
Nizam terdiam sejenak sambil menunduk, alisnya berkerut, ia menggigit bibirnya menutupi rasa bimbang yang sedang menyelimuti hatinya. Tak ingin berbohong, tapi takut jujur, itulah yang dirasakan pria itu.
__ADS_1
"Nizam."
Pria itu mengangkat wajahnya kembali menatap sang ibu lalu mulai berbicara walau sedikit ragu. Ia mulai menceritakan bagaimana pertemuan pertamanya dengan Bulan di Kota A, lalu pertemuan selanjutnya di Bandara Incheon, Korea, lalu restoran, dan terakhir di jalan pinggir hutan Kota A tanpa ada yang ditutupi.
"Tunggu dulu, berarti setelah dari Korea, kamu dan Nizwa ke kota A dulu?" Nizam mengangguk pelan masih dalam posisi menunduk. "Kenapa?" lanjut wanita itu bertanya.
"Maaf, Bunda karena sudah tidak jujur selama ini. Sebenarnya, Nizam dan Nizwa di Korea hanya beberapa jam saja, setelah itu kami langsung kembali ke Indonesia tepatnya di Kota A karena Diki menelepon Nizam jika pelaku yang menyebabkan Aura kecelakaan sudah berhasil ditangkap."
Mulut Khaira terbuka dengan tatapan tak percaya kepada sang putra. Di detik berikutnya ia memijit pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. "Bunda kira kasus itu sudah di tutup karena murni kecelakaan, Zam," lanjutnya dengan suara pelan.
"Tidak, Bunda. Mereka berbohong. Kecelakaan itu ada yang sengaja merencanakan, dan pelaku utamanya masih bebas berkeliaran. Makanya Nizam ingin mencari tahu agar pelakunya mendapatkan hukuman yang setimpal."
"Nizam, jangan lalukan itu! Biarkan polisi yang mengurusnya!"
"Maaf, Bunda. Nizam tidak akan turun tangan jika saja polisi mau mengurusnya. Sayangnya, mereka justru ngotot ingin menutup kasus itu meskipun pun Nizam telah memperlihatkan bukti kejanggalan dari kecelakaan Aura.
"Tapi, Nak ...." Perkataan Khaira terputus saat Nizam langsung duduk berlutut di hadapan wanita itu sambil mencium tangannya.
Khaira kembali terdiam dalam pikirannya. Cukup lama ia menimbang keputusan sang putra sulung, hingga akhirnya ia kembali berbicara, "Baiklah tapi kamu harus janji, jangan sampai kamu terluka sedikit pun."
Nizam mengangguk yakin sambil tersenyum, lalu memeluk sang ibu. "Tolong rahasikan semua ini dari ayah, Nizam mohon," pinta pria itu masih dalam pelukan sang ibu.
"Bunda tidak bisa berjanji akan hal itu karena bunda tidak bisa berbohong pada ayahmu, Nak. Jadi jangan pernah membuat ayahmu curiga agar dia tak menanyakan apa pun pada Bunda."
Nizam kembali mengangguk lalu mepelas pelukannya. "Terima kasih, Bunda."
Khaira mengangguk pelan. "Oh iya, mengenai Bulan. Keadaannya sudah membaik, kamu bisa membawanya keluar dari rumah ini. Bukannya Bunda tidak ingin membantu, tapi dia tidak bisa tinggal di rumah ini lebih lama lagi. Bagaimana pun, keberadaannya di rumah ini bisa menjadi fitnah untukmu."
"Iya, Bunda. Nizam akan mencarikan dia tempat lain yang aman. Nizam mau melihatnya dulu." Pria itu kemudian beranjak menuju kamar tamu di mana Bulan dan Nizwa berada.
__ADS_1
Tidak lupa ia mengetuk pintu terlebih dahulu hingga Nizwa membukanya. Kini terlihat jelas bagaimana keadaan Bulan saat ini. Wanita itu tampak tersenyum saat mendapati Nizam berada di pintu, walau tidak sejalan dengan pancaran dari sorot matanya.
"Terima kasih banyak, Mas Nizam dan Nizwa. Aku tidak tahu jika ternyata kalian bersaudara," ucap Bulan begitu ramah, seolah keadaannya benar-benar baik tanpa ada masalah sama sekali.
Nizam memberikan kode kepada Nizwa agar memberinya waktu untuk berbicara dengan Bulan sejenak. Nizwa yang paham akhirnya keluar menemui sang ibu, sementara Nizam tetap memilih berdiri di ambang pintu untuk berbicara dengan Bulan yang masih duduk bersandar di tempat tidur.
"Apa kamu sudah merasa baikan?"
"Iya, alhamdulillah, Mas."
"Apa mereka yang melakukan ini padamu? Mereka yang mengejarmu saat di rumah sakit," tanya Nizam.
Bulan tertunduk sambil mengangguk pelan. "Mereka tahu kamu berbohong waktu itu, Mas."
"Ck, mereka benar-benar keterlaluan," decak Nizam kesal. "Sekarang kamu ada di kota B. Apa kamu masih memiliki urusan di kota A? Aku akan mengantarmu kesana, kamu juga bisa melapor ke polisi mengenai kejahatan mereka," lanjutnya.
Bulan menggeleng cepat. "Aku mohon, biarkan aku tinggal di kota ini, aku terlalu takut untuk kembali ke sana. Melapor ke polisi juga percuma, mereka bahkan bekerja sama dengan oknum polisi di sana."
"Apa maksudmu?" tanya Nizam dengan alis yang hampir bertautan.
"Sudah berapa kali aku melapor ke polisi, tapi bukannya ditangkap, aku justru dibilang tidak waras dan setelah itu aku kembali disiksa oleh mereka karena ketahuan telah melapor."
Nizam mengerutkan dahinya. "Sebenarnya siapa mereka sampai memiliki koneksi di kantor polisi?"
Bulan tertunduk dengan tangan yang meremas selimut yang ia gunakan. "Mereka orang jahat, Mas. Jangan melibatkan dirimu dengan mereka."
Baru saja Nizam hendak kembali bertanya, ponselnya tiba-tiba berdering dan membuat Nizam terpaksa menjauh.
"Halo, Revan. Ada apa?"
__ADS_1
"Langit, kau di mana? Bos mencarimu, sepertinya dia ingin kau membantuku mencari istrinya," ujar Revan dari seberang telepon.
-Bersambung-