
"Arfan, di mana Bulan?" tanya Nizam tepat setelah ia dan Nizwa tiba di lantai lima.
"Dia aman di dalam, Bos," jawab Arfan.
Nizam menganggukkan kepala lalu beralih menatap Nizwa. "Dek, masuklah dan bantu Bulan membereskan barangnya. Aku akan membawanya pindah ke vila, insya Allah di sana lebih aman."
Nizwa perlahan mulai memahami maksud sang kakak membawanya. Gadis itu segera berjalan dan menekan bel unit apartemen itu beberapa kali. Namun, hingga beberapa menit berlalu, tak ada tanda-tanda Bulan akan keluar.
"Tak ada jawaban, Kak."
Nizam mengerutkan dahinya lalu mendekat ke arah pintu. Pria itu mulai memasukkan kode pada keylock yang menjadi cara terakhir untuk membuka pintu itu. Kedua kakak beradik itu akhirnya bisa masuk bersama, sementara Arfan tetap di luar untuk berjaga-jaga.
"Di mana dia?" lirih Nizam saat mendapati ruang tamunya kosong dan terasa hening.
"Aku akan memeriksanya di kamar, Kak." Nizwa berjalan meninggalkan sang kakak menuju kamar yang menjadi tempat tidur Bulan, sesekali ia akan memanggilnya agar wanita itu tahu bahwa dirinyalah yang datang dan bukan orang lain.
Kamar yang menjadi tempat Bulan pun kosong. Nizwa mulai merasa sedikit khawatir akan keadaan wanita itu. Tak berhenti sampai di situ, ia kini melanjutkan pencariannya ke dalam kamar mandi.
Mata gadis itu membulat sempurna saat menemukan Bulan dalam keadaan tidak sadarkan diri tergeletak di lantai kamar mandi.
"Astaghfirullah, Bulan!" Nizwa segera memangku kepala Bulan. Wajah wanita itu tampak sangat pucat.
"Kak Nizam, tolong ke sini!" teriak Nizwa dari dalam kamar mandi.
Tak menunggu lama, Nizam datang tergopoh-gopoh ke dalam kamar mandi. Beruntung Bulan masih belum mengganti pakaian yang tadi sempat ia kenakan berserta kerudungnya, sehingga Nizam tak melihat aurat wanita itu.
"Bulan kenapa?" tanya Nizam dengan rasa khawatir yang tak bisa ia sembunyikan lagi.
"Pingsan, Kak. Ayo bawa ke rumah sakit."
"Jangan, bahaya!" Nizam terdiam sejenak sambil memikirkan cara yang lebih aman menurutnya. "Kalau kita bawa ke rumah, apa bunda mau memeriksanya?" tanya Nizam dan hanya mendapat kedikan bahu dari Nizwa.
Nizam menyugar kepalanya dengan kasar. "Bagaimana kalau kita bawa ke vila saja?"
"Jangan dulu, Kak. Itu terlalu jauh, Bulan butuh penanganan segera."
Nizam terdiam lagi sambil berpikir keras. "Kalau begitu kita ke rumah saja!"
__ADS_1
"Bagaimana dengan ayah dan bunda? Ini sudah malam."
"Aku akan bicara dengan ayah dan bunda."
Nizam tak memiliki pilihan lain, bagaimana pun juga menjaga Bulan harus ia lakukan, dan memastikan keadaannya baik-baik saja adalah hal yang lebih utama saat ini. Apakah sebuah pukulan atau pun tamparan yang akan ia terima nantinya? ia sudah siap.
☘☘☘
Nizam dan Nizwa kini berdiri sambil tertunduk dalam di hadapan Khaira dan Boy, layaknya dua anak kecil yang tengah mengakui kesalahan di depan kedua orang tuanya karena baru saja ketahuan mencuri mangga. Sementara Bulan yang belum sadarkan diri sudah dimasukkan ke dalam kamar tamu.
"Jujur pada ayah, siapa wanita ini sebenarnya?" tanya Boy dengan nada tegas, dan tatapan tajam yang sewaktu-waktu siap menghunus kakak beradik itu.
"Dia Bulan, Ayah ...."
"Ayah tahu namanya Bulan. Yang ayah tanyakan, siapa Bulan sebenarnya? Kenapa kalian begitu peduli padanya?" selidik Boy.
"Sebenarnya kami bertemu pertama kali ...." Nizam mulai menceritakan bagaimana pertemuan pertamanya dengan Bulan dengan jujur. Mulai dari ia yang hampir menabraknya, hingga saat gadis itu meminta Nizam untuk menikahinya di rumah sakit.
Tak hanya itu, ia juga menceritakan bagaimana pertemuan selanjutnya di Korea dan di dekat hutan kota B yang pada akhirnya membuat Nizam memutuskan untuk membawanya ke rumah demi alasan keamanan. Nizam juga menyampaikan dengam jujur bahwa hari ini ia baru tahu jika Bulan adalah istri dari bos geng motor yang sedang ia cari.
Tentu saja fakta itu berhasil membuat ketiga orang di ruang itu selain dirinya terkejut bukan main. Boy bahkan sampai tertunduk sembari memijit kepalanya yang terasa sedikit sakit usai mendengar cerita Nizam.
"Dia di kota A, sepertinya dia kabur karena beberapa alasan."
Boy mengerutkan dahinya mendengar alasan yang dilontarkan Nizam, lalu mulai berkata, "Kabur dari suami itu menunjukkan tidak loyalnya seorang istri, untuk apa kamu membawanya ke sini? Justru kamu yang akan kena fitnah karena ini. Mau kamu dituduh sebagai pebinor?"
Nizam menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak, Ayah. Nizam tahu Bulan wanita yang baik. Dia_."
"Seberapa kenal kamu sama dia sampai yakin jika dia wanita yang baik?"
Nizam terdiam sejenak mendapat serangan pertanyaan dari sang ayah yang terasa begitu mengintimidasi dan menyudutkannya. "Nizam memang tidak mengenal Bulan dengan baik, tapi Nizam mengenal suaminya, dia orang yang keras dan tidak segan-segan menghajar siapa pun yang salah di matanya. Nizam bahkan pernah mendengar Bulan disakiti di rumahnya saat suaminya itu mabuk."
"Tetap saja, Nizam. Apapun alasanmu, apapun alasannya, jika kau membawa Bulan, wanita yang telah memiliki suami pergi, nama baikmu akan tercemar. Zaman sekarang, orang lebih cenderung menelan berita yang disajikan di depan matanya tanpa mau mencari tahu kebenaranannya lebih dulu. Kamu tahu itu, Nizam!"
Pria paruh baya itu berkali-kali menarik napas dalam dan membuangnya perlahan agar bisa berpikir jernih dan tidak termakan emosi.
"Jika tidak bisa di rawat di sini, Nizam akan menyewakan rumah untuknya."
__ADS_1
"NIZAM!"
Suara Boy yang penuh amarah kini menggelegar memenuhi ruangan itu. Bukannya keras kepala, ia hanya ingin memastikan Bulan aman, meski ia sadar apa yang dikatakan sang ayah itu benar. Namun, ia masih memiliki misi, ia butuh kesaksian dari wanita itu, dan ia tidak ingin kehilangan kesempatan berharga. Sayangnya, Nizam tak bisa menjelaskan tujuanya itu karena sudah pasti sang ayah tak akan mengizinkan.
Nizam kini tak bersuara, ia memilih berlutut di hadapan Boy dan Khaira guna meminta izinnya, membuat kedua orang tuanya semakin merasa gusar.
"Maaf, Om, Tante, jika kehadiran saya di sini membuat kalian tidak tenang."
Semua pandangan orang di ruangan itu kini beralih ke arah sumber suara di mana Bulan berdiri.
"Bulan, bagaimana keadaanmu?" tanya Nizwa langsung menghampirinya.
"Aku baik, Nizwa. Terima kasih," jawab Bulan pelan lalu perlahan mendekat dalam posisi menunduk.
"Maaf, Mas Nizam. Jangan seperti itu hanya untuk menolong saya," ucapnya pelan, membuat Nizam kembali berdiri.
Bulan menatap Boy dan Khaira bergantian. "Maaf karena kehadiran saya sudah menjadi beban untuk semuanya. Sebenarnya saya tidak ingin menceritakan masalah saya, saya sadar bagaimana pun itu adalah aib keluarga saya. Saya juga sadar bahwa sebagai istri, saya adalah baju untuk suami, tidak seharusnya saya menceritakan keburukannya pada siapa pun. Namun, dalam hal ini, demi menghindari fitnah yang bisa saya timbulkan maka saya akan menjelaskan keadaan saya yang sebenarnya hingga saya bisa kabur dari suami saya."
Bulan menghentikan perkataannya sejenak seraya menahan rasa sesak di dada. Menceritakan keadaannya, sama saja mengupas kembali luka, dan itu membuat Bulan sangat tersiksa, seolah rasa benci dan rasa sakit kembali menghantam hatinya hingga mendorong bulir bening menggenangi pelupuk mata wanita itu.
"Saya dinikahi bukan karena cinta, pun bukan sebagai bentuk ibadah sunnah. Yang saya tahu, saya dinikahi untuk tujuan lain, sehingga selama menjadi istri, saya hanya dijadikan pelampiasan emosi, dan sasaran kekuatan fisik suami saya. Kenapa saya kabur? Sebab tekad saya sudah bulat. Lebih baik saya menjanda daripada menjadi gila karena selalu memendam rasa sakit, benci, dan trauma setiap harinya seorang diri."
Semua orang di ruangan itu terdiam mendengar penuturan Bulan yang sangat di luar dugaan mereka.
"Saya sudah mengajukan gugatan cerai saya kepada pengadilan. Saya juga sudah melakukan visum pada bekas luka di tubuh saya sebagai bukti. Mungkin surat gugatan cerai saya sementara diproses saat ini, saya harap semuanya bisa cepat selesai." Bulan lagi-lagi menjeda perkataannya.
"Jika memang kehadiran saya di sini menyebabkan fitnah, saya akan pergi dari sini. Terima kasih karena sudah membantu saya selama ini. Semoga Allah membalas kebaikan kalian. Assalamu 'alaikum."
Bulan mulai berbalik dan melangkahkan kaki menuju pintu keluar dari ruang keluarga. Namun, belum sampai di sana, suara bariton Boy membuat langkah wanita itu terhenti.
"Tunggu! Kamu boleh tinggal di sini untuk sementara," ujar Boy.
"Ayah, terima kasih." Nizam langsung mencium tangan pria paruh baya itu berkali-kali dan hendak memeluknya, tapi dengan cepat Boy menahannya dengan memegangi wajah sang putra.
"Ayah mengizinkan Bulan tinggal di sini hingga dia pulih kembali, tapi dengan catatan, kau tidak boleh lagi bergabung dengan geng motor itu. Satu hal lagi, Bulan tidak bisa tinggal di gedung yang sama dengan kita, dia akan tinggal di paviliun belakang rumah demi menghindari fitnah terutama darimu." Boy berbicara lirih lalu melepas tangannya dari wajah Nizam.
"Sebagai laki-laki, ayah menangkap sesuatu yang aneh di matamu, Nizam. Caramu menatapnya sangat dalam, dan ayah perlu ingatkan bahwa dia itu masih istri orang. Jangan libatkan perasaanmu jika kamu tak ingin patah hati untuk yang kedua kalinya," lanjut Boy berbicara pelan dan langsung pergi dari ruangan itu.
__ADS_1
Khaira dan Nizwa yang masih bisa mendengar perkataan Boy kini kompak menatap Nizam dengan raut wajah terkejut, begitu banyak pertanyaan yang sedang mereka pikirkan, tapi tertahan karena keberadaan Bulan.
-Bersambung-