
"Nizwa, Adikku sayang, tolong kabulkan keinginan kakakmu kali ini, jika aku berhasil menjalankan misiku, aku akan membawamu jalan-jalan kemana pun kamu mau."
Akibat perubahan jadwal mendadak yang dibuat oleh Nizam, mau tidak mau ia harus rela menerima beberapa pukulan kecil dari sang adik yang merajuk.
"Iya kalau berhasil, kalau tidak?" ucap Nizwa dengan bibir yang mengerucut dan dahi yang berkerut.
"Mulutmu, Dek." Nizam mencubit kedua bibir sang adik dengan empat jari, "perkataan adalah doa. Makanya doakan kakakmu ini," lanjut Nizam sedikit memelas.
Nizwa melepas tangan Nizam masih dengan perasaan kesal. "Ck, padahal aku udah buat list jalan-jalan. Eh, tahu-tahunya cuma numpang pipis doang. Kakak ngeselin!" gerutunya, air mata pun tak urung ikut mengalir membasahi pipi wanita itu karena kecewa.
"Dek, tolong pahami aku, sampai kapan pun aku tidak tenang jika orang yang telah membuat Aura celaka itu bebas tanpa hukuman. Jika aku berhasil, insya Allah aku bisa lebih mengikhlaskan Aura, setidaknya keadilan sudah ditegakkan," ucap Nizam meyakinkan sang adik.
Nizwa terdiam sejenak memandangi wajah sendu Nizam. Ia mengerti betapa tersiksanya perasaan sang kakak saat ini, dan sebagai adik, ia juga ikut bersedih. Tak ada pilihan lain, Nizwa kini hanya bisa memberi anggukan kecil, berharap kerelaannya untuk mengalah kali ini bisa meringankan beban pikiran dan hati pria itu.
Seutas senyuman terukir di wajah Nizam. "Terima kasih, Dek. Kamu memang adik terbaikku." Nizam tersenyum lega sambil memeluk Nizwa, tangannya tak luput mengusap kepala sang adik yang tertutupi kerudung.
Sebelum menaiki pesawat, Nizam mengirimkan pesan kepada Arfan mengenai data dan foto orang yang ditangkap Diki. Ia meminta kepada sang asisten untuk mencari tahu seluruh informasi tentang pria itu, termasuk keluarga dan tempat tinggalnya
Beberapa jam menempuh perjalanan, kini Nizam dan Nizwa tiba di kota A, di mana Diki telah menanti kedatangan mereka di sana.
"Selamat datang kembali, Zam dan adik Nizwa. Kamu sudah besar yah ternyata," sapa Diki.
"Memangnya aku tuyul yang kecil terus," seloroh Nizwa dan hampir mendapat cubitan hidung oleh pria itu, tapi dengan cepat ia mengelak, "Eits, bukan mahram. Ingat, aku udah dewasa, loh!"
"Iya iya yang udah dewasa," kata Diki terkekeh. Pria itu kemudian mengalihkan pandangannya pada Nizam.
"Apa adikmu akan ikut ke kantorku?" tanya Diki.
"Tidak, dia akan tinggal di hotel untuk beberapa saat," balas Nizam dan diangguki oleh Diki.
Mereka memasuki mobil lalu pergi meninggalkan kawasan bandara. Sebelum menuju ke daerah tempat kantor Diki, Nizam membawa Nizwa untuk tinggal di hotel selama beberapa hari. Hal itu ia lakukan agar sang ayah tidak menaruh curiga padanya.
Nizam terpaksa melakukannya, karena ia tahu Boy tak akan pernah setuju dengan apa yang akan ia lakukan kali ini.
☘☘☘
"Di mana orang itu?" tanya Nizam saat ia dan Diki telah tiba di kantor polisi tempat Diki bekerja.
"Ikuti aku." Diki berjalan lebih dulu menuju ke sebuah ruangan di mana seorang polisi yang tidak lain adalah teman Diki sedang berjaga di sana.
Diki membuka kunci dan mempersilahkan Nizam masuk bersamanya. Keduanya kini duduk di hadapan seorang pria muda dengan tangan dan kaki yang di borgol.
"Aku sudah berusaha menginterogasinya sejak tadi, tapi dia selalu saja mengunci mulutnya," lirih Diki di dekat Nizam.
Nizam tidak langsung berbicara, ia menatap tajam pria di hadapannya lalu mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana yang ia kenakan.
"Apa kamu masih mengenalku? Aku yang membawamu ke rumah sakit waktu itu," ucap Nizam, tapi tak mendapat respon sama sekali.
"Kamu tahu, di dunia ini apa yang kamu semai, itu yang kamu tuai. Entah kamu sendiri yang akan merasakan, atau keluargamu nantinya." Nizam memperlihatkan foto adik pria itu yang sempat ia dapatkan dari Arfan saat perjalanan pulang dari Korea.
Pria yang sejak tadi memasang wajah tak acuh itu seketika berubah khawatir bercampur marah. "Jangan macam-macam kau!" desisnya dengan mengeratkan gigi hingga rahang pria itu terlihat jelas.
__ADS_1
"Kenapa? Bukankah adikmu ini sedang sakit? Aku bisa membantu pengobatan adikmu jika kau ingin bekerja sama denganku."
Pria itu diam dengan tatapan tajam. "Bunuh saja aku, aku tidak akan membuka suara."
Nizam menyeringai, "Apa kau yakin? Apa kau bisa memastikan keadaan adikmu akan baik-baik saja jika kau mati?"
Pria itu kembali bergeming dalam tunduknya. Kedua tangannya yang diborgol saling merem4s.
"Aku ... Aku hanya di perintahkan melakukannya, mengenai alasannya, aku juga tidak tahu," ucap pria itu pasrah.
"Kalau begitu katakan siapa yang memerintahkanmu!"
Pria itu menggigit bibirnya, keningnya mengerut, bahkan alisnya hampir bertautan. Jelas sekali jika saat ini dia sedang berpikir keras.
"Aku akan mengirim pengawal untuk menjaga adikmu jika kau mau bekerja sama denganku. Bukankah lebih baik jika kau menceritakan semuanya agar otak kejahatan itu tidak bersenang-senang setelah apa yang dia lakukan?"
Pria itu masih bertahan dalam diam. Namun, lama-kelamaan pria itu menatap Nizam dan mulai berkata, "Apa kau serius akan menjaga adikku dan membantu pengobatannya?"
Nizam mengangguk, "Tentu saja."
Pria itu tertunduk sejenak seraya menarik napas lali mengembuskannya perlahan. "Aku mendapat perintah melalui pesan teks dari dari nomor tak dikenal. Dia mengaku sebagai bagian dari geng motor Black Shadow, aku adalah mantan dari geng motor itu, aku memilih keluar agar bisa fokus mengurus pengobatan adikku, tapi mereka terus mengancamku akan membunuh adikku jika aku menolak permintaan terakhir mereka. Aku tidak memiliki bukti apa pun mengenai siapa orangnya. Hanya pesan teks itu yang menjadi bukti jika aku di perintahkan oleh salah satu dari mereka."
"Kau jangan bohong! Lalu siapa yang memukulimu malam itu? Atas alasan apa?" sanggah Nizam.
"Ah benar, aku ingat malam itu dipukuli karena misiku waktu itu tidak sukses sepenuhnya. Sepertinya dialah yang menyuruhku, tapi aku tahu siapa dia karena wajahnya tertutup helm."
"Apa maksudmu? Apa pria berhelm itu bukan bosmu?"
"Lalu bagaimana caramu meledakkan mobil Aura? Jika kau hanya merusak tangki bensin, mobilnya tidak akan sampai meledak, tapi kenapa mobil Aura meledak? Apa kau menggunakan bahan peledak?" cecar Nizam lagi.
"Kalau itu ...." Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar, "aku memang sengaja menggunakan bahan peledak yang sudah dirakit sedemikian rupa agar meledak beberapa menit ke depan. Mengenai tangki bensin itu, aku sengaja membuatnya bocor agar mobil berhenti di tempat yang sepi ketika meledak."
"Biad*b sekali kau!" Nizam yang begitu emosi langsung menarik kerah baju pria itu hingga terangkat. Sorot matanya begitu tajam, wajahnya memerah dan rahangnya mengeras.
"Zam, tenanglah, jangan mengotori tanganmu yang bisa saja membuatmu berurusan dengan polisi juga," ujar Diki berusaha meredakan emosi sahabatnya itu.
Nizam melepaskan tubuh pria itu dengan kasar, dadanya tampak naik turun dengan napas yang memburu. Beberapa kali ia mengucapkan istighfar agar tak terbawa emosi.
"Maafkan aku. Peledak itu dikirimkan padaku sebelum beraksi. Aku hanya menjalankan perintah eksekusi di tempat. Sisanya mereka yang melakukan, termasuk memancing Aura agar datang ke rumah makan itu."
"Siapa yang melakukannya?"
"Aku tidak tahu, tapi kau bisa menyelidiki geng motor Black Shadow."
"Kalau begitu, beri aku informasi tentang Black Shadow!"
☘☘☘
Di sebuah klub malam yang, beberapa pria sedang duduk bersama sambil menikmati alunan musik dan minuman mereka dengan didampingi oleh beberapa wanita berpakaian minim, kecuali seorang pria berjambang dengan tato naga di lehernya.
"Bos, apa sekarang kau telah menjelma menjadi pria setia hingga setelah menikah kau tak pernah lagi dekat dengan wanita mana pun?" tanya salah seorang di antara mereka.
__ADS_1
"Tentu saja Bos akan setia, istrinya, 'kan sangat cantik, muda lagi," balas pria di samping sang Bos yang tidak lain adalah Simon.
Marcel membuang asap rokok dengan begitu angkuh sambil tertawa pelan. "Entah kenapa aku tidak tertarik lagi dengan wanita mana pun semenjak menikah. Tak ada yang mampu mengalahkan pesona istriku di rumah. Kwponakanmu itu sangat cantik, Simon."
"Tentu saja cantik, sebab suaminya tampan sepertimu, Bos," balas Simon begitu puas.
"Wah, aku salut padamu, Bos. Kenapa kau tak ajak kesini istrimu itu?"
Wajah Marcel seketika berubah datar. "Kau tahu sendiri istriku berhijab, pendiriannya cukup kuat, bahkan dia rela dipukuli daripada menginjakkan kakinya di sini bersama kalian."
Semua anak buah pria itu tercengang mendengar pengakuan sang bos. Sejenak mereka saling pandang lalu kembali menatap ketua gengnya itu.
"Wow, sepertinya istrimu itu wanita sholehah, sangat sulit mendapatkan wanita seperti itu," ucap salah satu dari mereka guna memecah kecanggungan yang tercipta beberapa detik tadi.
Tak lama setelah itu, seorang pria bertopi datang menghampiri Marcel dan membisikkan sesuatu pada sang bos.
"Siapa?"
"Namanya Langit, dia ingin menemuimu."
"Suruh dia ke sini!"
Pria bertopi itu kemudian pergi keluar. Beberapa saat kemudian, pria itu datang kembali dengan diikuti seorang pria berbaju kaos hitam yang dipadukan dengan jaket kulit hitam dan celana jeans hitam.
Marcel dan semua yang ada di sana menatap ke arah pria itu dari atas ke bawah. Rambut gondrong yang diikat asal, serta sebuah tato yang melekat di bagian leher.
"Namamu Langit?"
"Iya, aku Langit." Pria itu menjawab dengan tegas.
"Katakan padaku apa tujuanmu ingin bergabung dengan kami?" tanya Marcel.
Pria bernama Langit menyeringai. "Tidak ada, hanya ingin bersenang-senang," jawabnya begitu enteng.
"Berani sekali kau berbicara begitu dengan Bos kami!" sentak Simon yang sejak tadi duduk di samping Marcel. Dia begitu kesal dengan sikap Langit yang berani dan sama sekali tidak menunjukkan rasa takut atau pun segan pada sang bos.
"Apa kau pandai bela diri?"
"Tentu saja."
"Balap motor?"
"Itu hal yang mudah bagiku."
"Aku suka keberanian dan ketegasanmu." Marcel menjabat tangan Langit, "Kau bisa bergabung bersama kami, tapi ingat satu hal, aku sangat tidak menyukai pengkhianat!"
"Terima kasih sudah menerimaku."
"Baiklah, mari bersulang untuk menyambut anggota baru kita!" Marcel memberikan minuman alkohol kepada Langit dan mengajaknya bersulang bersama yang lain.
Langit tidak langsung merespon, ia menatap minuman itu sejenak lalu mengambilnya dan ikut bersulang. Di saat semua orang meminum minumannya, pria itu justru membuangnya secara diam-diam ke dalam guci hias yang berada tepat di sampingnya.
__ADS_1
-Bersambung-