
"Aku dulu memiliki kehidupan yang sangat bahagia, ada ibu, ayah, dan seorang kakak. Aku hidup dengan limpahan kasih sayang yang luar biasa. Tapi ... semenjak kehadiran Paman Simon, semua kebahagiaan itu lenyap satu per satu."
"Aku tahu dia sengaja merusak rem mobil ayah, hingga mobil yang dikemudikan ayah, ibu, dan aku waktu itu menabrak pembatas jalan dan berguling. Aku pikir kami masih memiliki kesempatan hidup saat menyadari kedua orang tuaku masih bernapas, tapi ...." Bulan kembali terisak sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.
"Kedatangan Marcel yang kembali memukuli kepala mereka dengan besi berhasil membuat napas mereka terhenti tepat di depan mataku. Saking mengerikannya pemandangan itu, aku sempat melupakan potongan kejadian itu selama beberapa tahun. Hanya ada mimpi yang selalu menghantuiku, tapi tanpa wajah Marcel, dan hanya suaranya saja yang terdengar, potongan kejadian di mana dia memukuli kedua orang tuaku juga belum ada." Bulan menyeka air matanya sejenak.
"Lalu, kapan kamu mengingat semuanya?" tanya psikiater yang saat ini sedang duduk di depan Bulan.
"Tepatnya saat aku diculik kembali ke kota ini setelah beberapa hari aku kabur. Bayangan wajah Marcel semakin jelas dalam ingatanku, itu sebabnya aku memberanikan diri untuk bersaksi, karena aku tidak tahu, sampai kapan tekanan batinku mampu membuat akalku tetap waras."
"Apa rasa takut itu akibat kematian orang tuamu saja?"
"Tidak, aku memiliki ketakutan lain karena kekerasan. Setiap kali aku hendak ke kantor polisi untuk meminta polisi menyelidiki kasus kedua orang tuaku, aku akan disekap oleh pamanku dan di siksa. Bahkan setelah aku menikah dengan Marcel, tak pernah sekali pun aku merasakan manisnya sentuhan suami. Yang ada hanya rasa sakit, akibat kekerasan fisik yang selalu ia berikan kepadaku tiap kali dia pulang dalam keadaan mabuk atau karena hasutan mertuaku."
Bulan lagi-lagi menyeka air matanya yang masih saja mengalir tanpa henti bagaikan aliran sungai. Menceritakan semua kejadian buruk yang menimpanya, sama saja mengorek luka lama yang berusaha ia redam agar tak semakin melukai batinnya.
Sudah satu bulan berlalu sejak penangkapan Marcel, Simon, para anak buahnya, serta Trim, selaku oknum polisi yang merupakan teman Simon. Baik kasus pembunuhan orang tua Bulan, hingga kasus yang menimpa Bintang dan Aura pun telah selesai di tangani. Sidang keputusan cerai antara Bulan dan Marcel pun telah di sahkan, sehingga kini status wanita itu telah resmi menjada.
Walau semuanya sudah berakhir, Bulan masih sering melakukan pemeriksaan rawat jalan di rumah sakit. Luka masa lalu yang ia derita selama ini rupanya tidak bisa pergi dengan begitu mudah. Ia masih saja sering mengalami mimpi buruk dan menangis seorang diri.
Baik Nizam, Boy, bahkan Khaira dan Nizwa sering bolak-balik antara kota A dan kota B untuk melihat keadaan Bulan di rumah kontrakannya. Meski wanita itu sudah meminta agar mereka tidak perlu menjenguknya lagi, tapi mereka tetap saja melakukannya.
☘☘☘
"Setelah melihat kondisi Bulan, dokter telah menyimpulkan bahwa Bulan mengalami PTSD (Post Traumatic Stress Disorder), PTSD ini semacam gangguan psikis yang dapat mencakup kilatan kenangan traumatis yang mengganggu, mimpi buruk, kecemasan yang berlebihan, perubahan mood yang tiba-tiba, reaksi yang kuat terhadap situasi yang mengingatkan pada trauma, perubahan dalam respons fisik, dan lebih sulit berkonsentrasi."
Khaira menjelaskan keadaan Bulan sebagaimana informasi yang ia dapatkan dari temannya yang menangani Bulan di rumah sakit kota A kepada Nizam. Keduanya saat ini sedang dalam perjalanan menuju rumah kontrakan Bulan untuk menjenguk wanita itu, sementara Boy dan Nizwa memiliki kegiatan di kota B sehingga kali ini mereka tidak dapat ikut.
"Apa Bulan masih bisa sembuh?" tanya Nizam.
__ADS_1
"Insya Allah bisa, asal dia menjalani terapinya dengan baik, dan memiliki support system yang selalu memberinya rasa nyaman dan aman. Berhubung dia tidak lagi memiliki keluarga, kita bisa menjadi keluarganya," jawab Khaira.
Nizam menganggukkan kepalanya pelan. Pria itu menggigit bibirnya sambil sesekali melirik ke arah sang ibu yang duduk di sampingnya.
"Apa ada yang ingin kamu katakan, Nak? Dari caramu melirik bunda, sepertinya ada sesuatu yang mengganjal di hatimu."
"Kok Bunda bisa tahu?"
Khaira tertawa pelan, lalu mulai berbicara, "Kamu itu lahir dan besar dalam pengawasan dan pengasuhan bunda, sudah pasti bunda tahu semuanya tentang kamu, Nak."
Nizam hanya tersenyum malu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Memang benar ada yang mengganjal di hatinya saat ini, tapi untuk mengatakannya pun rasanya ia begitu malu.
"Emm, Bunda."
"Iya?"
"Bagaimana menurut Bunda jika Nizam ... Nizam menikahi Bulan?"
"Iya, Bunda. Sepertinya jika Nizam menikahi Bulan, Nizam bisa membantunya untuk sembuh."
Khaira terdiam sejenak sambil menatap keluar jendela mobil. Kali ini ia tidak memberikan respon apa pun kepada sang putra.
"Bunda, bagaimana ...."
"Nanti saja kita bicarakan, yah."
Nizam kembali terdiam menatap Khaira, ia tak ingin lagi membahas hal itu kepada sang ibu. Dari responnya, sepertinya dia tidak begitu setuju dengan penawarannya kali ini. Meski begitu, ia tak ingin mempermasalahkannya walau rasanya ingin sekali ia lakukan.
Beberapa saat kemudian, mobil yang dikemudikan Nizam kini telah tiba di depan sebuah rumah yang cukup sederhana. Keduanya berjalan menuju pintu depan rumah dan mengetuk pintunya beberapa kali seraya mengucapkan salam.
__ADS_1
Beberapa kali mereka memanggil nama Bulan, tapi wanita itu tak kunjung keluar dari dalam rumah. Hingga seorang wanita paruh baya yang merupakan tetangga Bulan datang menghampiri mereka.
"Bapak dan Ibu cari Mbak Bukan, yah? Sayang sekali, Mbak Bulan sudah pindah sejak dua hari lalu."
"Apa? Pindah kemana, Bu?" tanya Nizam.
"Maaf, Pak. Saya juga tidak tahu, waktu itu Mbak Bulan datang hanya pamit saja dan menitipkan surat ini kepada saya, katanya tolong di berikan kepada Pak Nizam jika nanti datang." Wanita paruh baya itu kini memberikan sebuah amplop putih kepada Nizam lalu segera pergi.
Nizam memejamkan matanya sejenak seraya menenangkan diri sebelum akhirnya ia membaca surat itu.
Untuk Mas Nizam dan keluarga
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Sebelumnya, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kalian semua karena selama ini telah menemani, melindungi, dan membantu saya menghadapi dan menyelesaikan masalah saya yang sangat rumit ini.
Jika Allah tidak mengirimkan kalian dalam hidup saya, mungkin saat ini saya sudah gila, atau bahkan sudah tiada. Kehadiran kalian benar-benar bagai cahaya yang menerangi hidup saya. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas semuanya, semoga Allah membalas kebaikan kalian semua dengan kebaikan yang lebih banyak lagi.
Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya karena harus pergi dengan cara seperti ini. Bukannya tidak tahu balas budi dan tidak tahu adab, saya hanya tidak ingin merepotkan kalian lagi. Sudah cukup saya merepotkan kalian selama ini, kini saya ingin berikhtiar sendiri untuk kesembuhan saya dan ketenangan batin saya.
Saya pamit. Jika suatu saat nanti Allah memepertemukan kita kembali, insya Allah saya akan sangat bersyukur.
Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam hangat dari saya
Bulan
Nizam mengusap wajahnya dengan kasar lalu menatap ke langit. Matanya berkaca-kaca dan dadanya terasa perih. Ia tak punya pilihan kali ini selain berusaha ikhlas dan menenangkan hatinya yang lagi-lagi harus merasakan pahitnya perpisahan.
__ADS_1
'Ya Allah, takdirMu benar-benar menguji hatiku. Aku mengira lukaku akan segera sembuh, tapi lagi-lagi aku harus ditampar dengan pahitnya perpisahan dan pahitnya kehilangan.'
-Bersambung-