
Pagi hari di sebuah apartemen yang berada di tengah kota B, dua orang wanita tengah berjalan memasuki salah satu unit apartemen sambil salah satunya menarik sebuah koper berukuran besar.
"Ini adalah apartemen Kak Nizam. Terakhir kali dia menginap di sini satu tahun lalu saat ada kegiatan kantor yang berlangsung berhari-hari, kebetulan jarak apartemen ini dengan kantor kak Nizam sangat dekat. Kamu bisa tinggal di sini untuk sementara," jelas Nizwa saat mereka tiba di ruang tamu.
"Di dapur, Kak Nizam sudah menyediakan segala keperluan sehari-hari untukmu, semoga kamu betah di sini," lanjut Nizwa.
Bulan hanya diam dengan tatapan takjub mengamati seluruh sudut ruangan yang terkesan simpel tapi begitu elegan dan nyaman. Sangat berbeda dengan rumah suaminya yang dulu ia tempati, mewah tapi sangat menakutkan di matanya.
"Nizwa, aku tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikan kalian, suatu saat nanti aku akan membalasnya," ucap Bulan dengan suara bergetar lalu meraih tangan Nizwa dan menyalaminya.
"Santai saja. Anggap kami keluargamu. Jadi jika kamu mempunyai masalah, katakan saja pada kami," balas Nizwa lalu memeluk Bulan sejenak.
"Oh iya, aku ingin meminta tolong sekali lagi padamu," ujar Bulan dengan suara pelan.
"Apa itu? Katakan saja."
"Apa kamu tahu pengacara keluarga yang bisa dipercaya di kota ini?"
Nizwa mengerutkan dahinya sejenak lalu mulai bertanya, "Untuk apa, Bulan?"
Bulan terdiam, ia sedikit ragu untuk mengatakan tujuan sesungguhnya saat ini bahwa ia ingin menggugat cerai sang suami. Bagaimana pun juga, masalah rumah tangganya ingin ia selesaikan tanpa membuat orang lain mengetahui atau pun ikut campur.
"Aku ... aku ingin melaporkan kejahatan yang menimpaku," jawab Bulan kemudian.
"Oh, begitu. Memang sebaiknya kamu melaporkan mereka yang telah menyakitimu. Aku kenal seseorang yang bekerja di firma hukum terkenal di kota ini, dia adalah teman Kak Nizam. Di firma hukum itu kamu juga bisa memilih pengacara dari berbagai spesialis hukum lainnya." Nizwa merogoh tas kecilnya untuk mencari sesuatu.
"Ah, ini adalah kartu namanya, kamu bisa menghubunginya saat kamu memerlukan bantuan." Nizwa memberikan kartu nama itu kepada Bulan.
"Terima kasih banyak, Nizwa."
"Sama-sama, aku pamit dulu, takut telat ke kampus. Jika ada apa-apa kamu bisa menghubungiku atau kak Nizam, nomor kami sudah kumasukkan ke dalam koper itu. Assaalamu 'alaikum."
"Wa'alaikum salam, tunggu Nizwa!"
Nizwa menghentikan langkahnya lalu berbalik kembali ke arah Bulan. "Kamu melupakan koper ini. Bukankah ini kopermu?" kata Bulan sambil membawa koper besar itu kepada Nizwa.
Nizwa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan. "Itu milikmu. Saat kami menemukanmu waktu itu, kamu tidak memiliki apa pun selain ponsel, makanya Kak Nizam dan aku menyiapkan semuanya."
__ADS_1
Mata Bulan kini mulai kabur oleh air mata yang perlahan berkumpul di pelupuk matanya. Ia berjalan mendekati Nizwa lalu memeluk gadis itu. "Terima kasih banyak, yah, aku kini percaya masih ada orang baik di dunia ini setelah bertemu kalian."
Nizwa lagi-lagi tersenyum dan melepas pelukan Bulan dengan lembut. "Maka dari itu, anggaplah kami keluargamu, berbagilah bersama kami jika kamu merasa memiliki masalah, setidaknya dengan berbagi cerita, hatimu akan merasa sedikit lega."
Usai berbicara sejenak, Nizwa akhirnya kembali pamit dan pergi meninggalkan unit apartemen tersebut. Gadis itu menaiki mobil menuju kampus setelah sebelumnya ia mengirimkan pesan kepada Nizam.
[Kak Nizam. Tugasmu sudah kulaksanakan dengan baik. Oh iya, sepertinya hati kakak mulai terbuka yah, buktinya kakak begitu perhatian kepada Bulan 🤭🤭]
..
Sementara itu, Bulan kini berjalan menuju salah satu kamar yang ditunjuk Nizwa sebelum pulang tadi untuk ia tempati beristirahat. Perlahan ia membuka koper itu untuk melihat pakaian yang telah disiapkan Nizwa dan Nizam.
Di dalam koper itu sudah ada pakaian piyama, pakaian gamis untuk ia pakai sehari-hari, dan juga pakaian dalam. Wajah Bulan sedikit memerah saat melihat beberapa pasang pakaian dalam itu yang sepertinya pas untuk ia pakai.
"Nizwa begitu pandai memilih, semoga saja saat memilih ini, dia sendirian dan tidak bersama Mas Nizam."
Bulan segera menggelengkan kepalanya saat menyadari apa yang baru saja ia katakan. "Astaghfirullah, apa yang kupikirkan?" gumamnya pelan sambil memukul pelan jidatnya.
Setelah selesai menyimpan semua pakaiannya, pandangan Bulan kini tertuju pada sebuah ponsel jadul yang diberikan Marcel kepadanya waktu itu. Di dekat ponsel itu ada catatan nomor Nizam dan Nizwa.
Jujur saja, ada rasa bersalah karena telah kabur dari sang suami, tapi baginya itu lebih baik daripada terus saja mendapat kekerasan dari pria itu. Mencari perlindungan dan keamanan itulah yang ia inginkan demi menjaga kewarasannya yang terasa semakin menipis.
[Dokter Aura, saya ingin berkonsultasi mengenai penyakit lambung saya. Jika tidak keberatan, bisakah saya konsul di luar rumah sakit, kebetulan rumah saya jauh dari rumah sakit dan saya tidak bisa kesana karena perut saya yang sakit sejak tadi. Kalau boleh di rumah makan Maiwa kita bertemu, tempat itu sangat dekat dengan tempat saya 🙏].
☘☘☘
"Kenapa kau baru datang sekarang? Aku memanggilmu kemarin, Langit," tanya Marcel saat Langit datang menghadap kepadanya sore itu di ruang pribadinya.
"Maaf, Bos. Aku sedang di luar kota kemarin, jadi sangat tidak memungkinkan untuk memenuhi panggilanmu malam itu juga," jawab Langit sedikit tertunduk.
"Urusan apa itu sampai kau mengesampingkan panggilanku?"
Langit memilih bergeming, tak ingin menjawab pertanyaan Mercel, hingga membuat pria berjambang itu berjalan mendekat ke arahnya.
"Kau tahu, aku paling tidak suka anak buah yang bebal, menomorduakan aku, dan pengkhianat." Marcel menepuk keras pundak Langit hingga membuat pria itu sesekali memejamkan mata menahan sakit.
Sudah beberapa hari ini Marcel menaruh rasa kesal dan juga curiga kepada Langit karena sering melewatkan kebersamaan saat malam dengan berbagai alasan. Semua kegiatan balapan liarnya pun tak pernah lagi berjalan mulus semenjak masuknya Langit, padahal dulu ia selalu memenangkan balapan, dan puncaknya saat Langit tidak langsung memenuhi panggilannya malam kemarin.
__ADS_1
"Aku ingin memberimu tugas bersama Revan." Marcel berdiri tepat di hadapan Langit sambil menghisap rokoknya, lalu membuang asapnya tepat di wajah Langit. "Cari istriku, aku memberikan tambahan waktu satu minggu untuk kalian. Buktikan kesetiaanmu padaku melalui tugas ini," titah Marcel tegas lalu kembali duduk di sofa bersama Simon.
"Baik, Bos." Langit langsung keluar dari ruang pribadi Marcel.
"Apa kau yakin dia bisa dipercaya?" tanya Simon yang sedikit meragukan Langit.
"Kita lihat saja nanti, aku memberinya tugas ini agar tahu bagaimana keputusan yang harus dia ambil saat berhadapan dengan wanita lemah seperti Bulan. Apakah dia akan melindunginya? Atau dia memilih menjalankan tugasnya dengan baik."
"Kau benar, Bos. Kesetiaan pria itu akan diuji oleh tiga hal, wanita, harta, dan tahta."
Kedua pria itu saling memandang dan melempar senyuman miring satu sama lain.
☘☘☘
Langit meninggalkan ruang pribadi Marcel dan langsung menghampiri Revan yang sedang duduk di pojok ruangan sambil menatap layar ponselnya.
"Kau benar, tugasku kali ini adalah membantumu," ujar Langit sambil mendudukkan bokongnya di kursi yang berhadapan dengan Revan.
"Yap, dugaanku memang tak pernah meleset," sahut Revan tanpa mengalihkan perhatian dari benda pipih miliknya.
"Tapi ngomong-ngomong, kenapa istri bos kabur?"
"Kau pasti tahu jawabannya." Revan menatap ke segala arah lalu mulai berbicara pelan di dekat langit. "Palingan KDRT, kita saja yang jelas-jelas pria kuat, sering mendapat pukulannya, apalagi wanita itu."
Langit menganggukkan kepalanya, ia menyadari hal itu karena sudah pernah mendengar sendiri bagaimana kasarnya Marcel kepada sang istri malam itu.
"Apa kau memiliki foto istrinya?"
Revan menggelengkan kepala. "Istri bos itu sangat sangat tertutup, dia tidak memiliki satu pun foto, dia bahkan tidak memiliki media sosial. Tapi aku pernah melihatnya, dia sangat cantik dan masih muda, dia juga memakai hijab. Orang tak akan percaya jika dia adalah istri dari seorang bos geng motor."
Langit mengerutkan keningnya mendengar penuturan Revan. "Lalu bagaimana kau akan mencarinya? Masa ia hanya bermodalkan ciri-ciri yang kau ingat."
Revan tersenyum lalu menunjuk ponselnya. "Dengan ini."
Langit penasaran dan langsung berpindah posisi di samping Revan. "Apa itu?"
"Ini sinyal posisi istri Bos, berasal dari ponsel yang bos berikan kepadanya sebelum dia menghilang. Pantas saja aku kesulitan menemukannya di kota ini ternyata dia sedang berada di kota B."
__ADS_1
-Bersambung-