
Sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan yang masih sepi di pagi buta. Suhu udara yang cukup dingin tak lantas membuat Revan, pria berambut ikal itu melambatkan laju mobilnya. Pria itu cukup bersemangat menepuh perjalanan yang jauh karena ia ingin secepatnya menuntaskan tugas yang diberikan sang bos.
Sementara Langit yang duduk di samping hanya menatap pemandangan di luar jendela dengan ponsel yang tak lepas dari genggaman. Perasaannya gelisah selama menemani Revan menuju kota B melalui jalur darat. Entah kenapa, tapi kata hatinya menolak tugas sang bos. Walau bagaimana pun, seorang istri yang baik tidak akan mau meninggalkan rumah suami, kecuali nyawa atau kewarasannya terancam di dalan rumah itu, begitu pikirnya.
Demi mengurangi rasa gelisah di hatinya, Langit memutuskan untuk mengirimkan pesan kepada sang adik.
[Kamu di mana, Dek?]
[Di rumah, kenapa, Kak?]
[Apa hari ini kamu akan ke apartemenku lagi?]
[Tidak, aku ada kuliah pagi ini. Ada apa, Kak? Apa Kakak memgkhawatirkan keadaan Bulan?]
[Ck, apaan sih? Jangan tanggapi berlebihan. Kalau aku terlihat peduli, itu hanya simpati. Oh iya, untuk alasan apa pun, jangan menghubungiku hari ini, jika aku menghubungimu jangan pernah angkat, kecuali jika aku mengirimi pesan kepadamu terlebih dahulu.]
[Memangnya kenapa, Kak?]
[Udah, nurut aja!]
Langit mengakhiri saling bertukar pesannya sebelum ia menghapus semua riwayat di ponselnya untuk berjaga-jaga.
Setelah menempuh perjalanan selama dua hari dua malam, Langit dan Revan yang sering bergantian mengemudikan mobil kini memasuki kota B tepat saat matahari mulai terbenam di ufuk Barat.
"Hey, Langit! Arahkan aku menuju ke titik ini di maps," pinta Revan seraya menyerahkan ponselnya kepada Langit.
Langit sejenak mengamati titik yang di maksud oleh Revan, beberapa kali ia perbesar untuk memperjelas lokasinya, dan semakin lama dahinya semakin berkerut.
"Woy! Malah bengong, cepetan arahin! Waktu pencarian kita tinggal sedikit lagi, kau mau digantung sama bos kita?"
Langit sedikit terperanjat, hatinya semakin gelisah tidak menentu. Namun, Pada akhirnya ia tetap melakukan apa yang diminta Revan, bagaimana pun juga ia tetap harus sabar agar bisa memecahkan kasus yang sedang ia cari tahu.
__ADS_1
Hasil interogasi yang sudah ia lakukan pada pria yang ditangkap Diki beberapa hari lalu, membuatnya penasaran akan sosok keponakan Simon sekaligus istri dari Marcel. Ia berharap bisa menemukan petunjuk dari wanita itu.
Tak berselang lama, Revan dan Langit kini tiba di sebuah apartemen yang menjadi titik istri dari bosnya saat ini. Jumlah lantai apartemen yang cukup tinggi, membuat Revan sedikit kesulitan untuk mencari satu titik itu.
Dari lantai satu hingga lantai tiga ia mengunjungi kamar yang berada dibawah satu titik itu, tapi tak kunjung mendapatkan titik terang. Saat mereka tiba di lantai lima, lagi-lagi rasa gelisah menghampiri Langit karena titik itu sejajar dengan unitnya.
"Ck, apakah pemilik unit apartemen ini sedang keluar?" gerutu Revan setelah beberapa kali membunyikan bel unit apartemen itu, tapi tak ada sama sekali tanda-tanda orang di dalam sana. Pria itu tampak menahan lelah setelah menempuh perjalanan panjang dari kota A.
"Entahlah, bagaimana kalau kita mencari tempat istirahat dulu, sepertinya kau sangat lelah. Kita bisa melanjutkan pencarian kita besok," kata Langit mencoba menawarkan.
Revan membuang napas kasar, lalu berkata, "Kau benar, Langit. Walau bagaimana pun kita ini bukan robot. Kita butuh istirahat."
Langit tersenyum tipis dengan rasa lega. Ia kemudian merangkul pundak Revan lalu memaksa tubuh pria itu untuk berbalik meninggalkan unit apartemen tersebut. Dua pria itu berjalan menuju tempat parkir mobil mereka. Keduanya memasuki mobil dengan Langit yang duduk di balik kemudi.
"Stop, Langit!"
Langit dengan cepat menginjak rem mobil saat Revan tiba-tiba memekik sambil menatap lurus ke arah depan.
"Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Lihatlah!" Revan menunjuk ke depan dan membuat Langit mengikuti arah tunjuknya. "Itu dia istri bos yang kita cari," sambung Revan tersenyum senang.
Langit mengerutkan dahinya tidak mengerti. Pasalnya wanita yang ia lihat berada di depan sana saat ini hanyalah Bulan yang sepertinya baru pulang kerja sore itu.
"Yang mana, Revan?"
"Astaga, di mana kau letakkan matamu? Di sana hanya ada satu wanita, lihatlah wanita berhijab hitam itu, cantik dan muda, dialah istri bos kita."
Degh
Langit membulatkan matanya tidak percaya. Wanita yang selama ini berusaha ia lindungi ternyata adalah wanita berstatus istri dari bos geng motornya sendiri. Pun wanita yang selama ini berusaha ia lindungi, kini malah dia yang membuatnya berada dalam bahaya.
Langit masih diam dalam lamunan saat Revan sudah berlari keluar lebih dulu. Tak ingin Bulan tertangkap, ia dengan cepat berlari menyusul temannya itu.
__ADS_1
"Revan!" panggil Langit, tapi tak mendapat sahutan apa pun dari pria yang berjalan cepat di depannya saat ini.
"Revan, tunggu!" Langit kini berjalan lebih dulu dan menghadang jalan Revan. "Kau jangan mengikutinya dulu, dia bisa saja bersembunyi kembali jika dia tahu kamu mengincarnya," kata Langit berusaha mencegah Revan melancarkan aksinya. Di saat yang sama, ia juga memastikan Bulan telah masuk lebih dulu ke dalam lift tanpa dilihat oleh pria berambut ikal itu.
"Justru karena itu, kita harus segera menangkapnya, Langit. Jangan sia-siakan kesempatan yang sudah ada di depan mata, minggir kau, Langit!" titah Revan, tapi Langit sama sekali tidak mengindahkan perkataannya.
"Ada apa denganmu, Langit? Oh atau jangan-jangan kau sengaja ingin membiarkan wanita itu pergi lagi? Atau kau memang sengaja ingin melindunginya?" selidik Revan dengan mata yang memicing.
Langit terdiam, ia bingung harus menjawab apa kali ini. Sepertinya apa yang ia lakukan saat ini sudah memancing bibit kecurigaan dari Revan.
"Jangan bilang kau telah mengkhianati bos kita?" Revan semakin gencar melayangkan pertanyaan memancing kepada Langit.
"Bukan begitu, hanya saja ...." Perkataan Langit terhenti saat Revan tak menunggunya menjawab, pria itu bahkan langsung berlari ke dalam lift setelah memastikan di lantai berapa lift yang dinaiki Bulan berhenti.
"Revan!"
Langit berlari mengejar Revan, tapi saat ia ikut memasuki lift, sebuah pukulan langsung ia rasakan mengenai wajahnya hingga kepalanya terbentur di dinding lift.
"Langit, jika kau ingin kita berdua selamat, jangan berkhianat dan jangan gagalkan usaha kita ini!" gertak Revan seraya menarik kerah baju Langit.
"Tidak, aku tetap akan mencegahmu membawa dia kepada bos, kau bilang dia kabur karena KDRT, 'kan? Jadi jangan membawanya kembali ke dalam nerakanya."
"Alah, tahu apa kau!" Revan kembali melayangkan pukulannya ke wajah Langit, tapi kali ini Langit menahan tangannya. Langit bahkan ikut melayangkan pukulannya kepada Revan hingga perkelahian di dalam lift pun tak dapat dihindari.
Revan memberikan serangan bertubi-tubi kepada Langit, tapi serangan itu bisa di tahan oleh Langit. Langit kini memberikan tendangan tepat mengenai perut Revan hingga membuat Revan tersungkur di lantai.
Melihat Revan yang tersungkur, Langit dengan cepat menekan tombol buka berkali-kali. Namun, belum sempat pintu lift terbuka, Revan menyerangnya dengan stun gun yang kini ia arahkan di leher Langit, hingga membuat pria itu langsung terkulai lemas di lantai.
"Ingat, Langit! Setelah ini, kau tidak akan selamat," ucap Revan lalu segera keluar dari lift.
-Bersambung-
__ADS_1