Menggapai Rembulan

Menggapai Rembulan
Bab 44


__ADS_3

"Pasien wanita, mengalami luka ringan pada bagian kepala akibat ledakan, tekanan darah dan saturasi udara rendah."


"Bawa ke UGD sekarang!"


Suara para tenaga medis diikuti suara brangkar yang di dorong terdengar begitu bising di telinga Bulan. Lampu di langit-langit rumah sakit membuat matanya yang terpejam sedikit merasa silau. Bajunya dipenuhi bercak darah, dan sobekan, ingin sekali rasanya ia bangkit dari tempat itu dan melihat keadaan sang suami. Namun, tubuhnya begitu lemah dan sakit.


Ia bisa merasakan tindakan yang dilakukan para tim medis padanya kali ini. Bahkan ia bisa merasakan sakit dari jahitan di kepalanya. Ia sadar, tapi untuk membuka mata ia tak sanggup. Bayangan ledakan yang sangat mengerikan itu membuatnya takut ..., sangat takut.


Apalagi ketika mengingat sang suami yang tersenyum sambil menahan sakit dengan mulut yang mengeluarkan darah tepat di hadapannya karena melindunginya, sungguh ia merasa hancur kala itu karena tak bisa melakukan apa pun.


"Bu, apa Anda bisa mendengar kami?" panggil salah satu dokter wanita sambil menepuk pelan pipinya membuat Bulan segera kembali dalam kesadarannya.


"Suamiku! Di mana suamiku!" Bulan memaksa tubuhnya untuk bangkit, tak peduli rasa sakit yang menusuk di kepalanya dan nyerinya tangan yang baru saja diinfus.


"Bu, ada apa?" tanya dokter itu.


"Suamiku, kami sama-sama korban ledakan, apa ambulans yang membawanya sudah datang?" tanya Bulan dengan raut wajah yang begitu panik.


"Ambulans?" lirih dokter itu sedikit bingung, lalu segera pergi ke perawat yang berada di ruang UGD itu. Terlihat mereka tengah berbicara sejenak, entah apa yang mereka bicarakan.


Dokter itu kini kembali menghampiri Bulan, lalu berkata, "Maaf, Bu. Hanya ada satu ambulans yang datang baru-baru ini."


"Apa? tidak, suamiku juga terluka, panggilkan ambulans untuk dia, dialah yang terluka parah, Dok. Dia yang terluka parah, Dokter!" teriak Bulan histeris. Wanita itu bahkan sampai berlari meninggalkan tempat tidurnya hingga cairan infusnya terjatuh dan tertarik di lantai, tangannya yang berdarah karena itu pun sama sekali tak ia pedulikan.


Para dokter dan perawat yang ada di sana berusaha menahan, tapi Bulan terus berusaha lari mencari ambulans tersebut, hingga akhirnya ia runtuh ke lantai ketika dokter menyuntikkan obat penenang kepadanya.


...


Bulan membuka mata ketika mendengar suara yang tak asing di indera pendengarannya. Perlahan ia membuka mata, dan benar saja ada keluarga Nizam bersamanya saat ini. Perasaan lega dalam hati pun mulai menghampiri ketika melihat mereka. Itu berarti sang suami sudah ada bersamanya, begitulah pikir wanita itu.


"Alhamdulillah, kamu sadar juga, Nak," ucap Khaira begitu lega.


"Alhamdulillah Bulan, apa kamu baik-baik saja?" tanya Nizwa dan hanya mendapat anggukan dari Bulan.


"Mas Nizam mana, Bunda? Nizwa?" tanya Bulan kemudian sambil menatap kedua wanita itu secara bergantian.


Khaira dan Nizwa kini saling memandang dengan tatapan sendu, seolah ada sesuatu yang membuat mereka sedih. Keduanya kemudian kembali menatap Bulan dengan senyuman yang sangat jelas sedang dipaksa.

__ADS_1


"Nizam sedang dirawat di ruangan lain, Sayang," jawab Khaira.


"Alhamdulillah kalau Mas Nizam sudah ada. Boleh Bulan melihatnya?" tanya wanita itu lagi.


"Tidak, jangan dulu, kamu masih harus istirahat total. Nizam juga masih belum bisa dijenguk, makanya kami semua berada di sini," cegah Khaira.


"Benar, Bulan. Lihatlah tanganmu itu, bengkak gara-gara tadi kamu tarik, kepalamu juga masih sakit, 'kan?" Nizwa menunjuk tangan yang kini tak lagi diinfus karena sudah dipindahkan ke tangan yang lain.


"Tapi aku mau lihat keadaan Mas Nizam."


"Nizam udah baik-baik saja jadi kamu tak perlu khawatir, oke!" tegas Khaira dengan suara bergetar, lalu segera keluar dari ruangan Bulan.


"Bunda kenapa, Nizwa? Mas Nizam benar-benar baik, 'kan?" Kalian tidak bohong, 'kan? Nizwa, tolong jawab dengan jujur," cecar Bulan dengan suara bergetar, matanya mulai berkaca-kaca menatap Nizwa. Hatinya mendadak tidak tenang, meskipun tadi sempat lega.


"Dia baik, Bulan, istirahatlah. Aku akan memanggil dokter untuk memeriksamu." Nizwa segera berjalan keluar dari ruangan Bulan.


...


Nizwa berjalan sedikit menjauh dari kamar Bulan dan mendapati sang ibu sedang menangis. "Bunda, apa sudah ada kabar mengenai Kak Nizam?" tanya wanita hamil itu dengan suara serak.


"Belum, Sayang. Ayah dan suamimu sedang mencarinya, semoga dia baik-baik saja." Khaira. tak kuasa menahan tangisnya, ia harus menjauh dari ruangan Bulan agar sang menantu tak mendengar pembicaraan mereka.


"Tadi, dokter yang menangani Bulan bilang kalau dia sempat histeris. Bulan memiliki PTSD, kata Nizam keadaannya sudah semakin membaik. Bunda tidak ingin karena tahu yang sebenarnya keadaan Bulan kembali parah. Bulan saat ini hanya memiliki Nizam yang menjadi tempatnya bergantung, bisa kamu bayangkan bagaimana psikis wanita itu jika dia tahu yang sebenarnya?" Khaira menjelaskan semuanya dengan hati yang hancur.


Bukan hanya keadaan Bulan yang membuat Khaira terluka, tapi kabar tentang sang putra yang tak kunjung ditemukan. Inilah alasannya ia tak begitu mengizinkan Nizam turun tangan dalam misi penyelamatan Bulan siang itu karena ia tahu hal itu sangat berbahaya, lagi pula sudah ada tim khusus yang akan menyelamatkannya. Namun, pria itu benar-benar tak bisa ditahan jika sudah menyangkut keselamatan sang istri.


Jika sudah seperti ini, tak ada yang bisa disalahkan. Hanya kepada Allah mereka berserah diri, Dia-lah yang mengetahui rahasia ajal, rezeki, dan jodoh tiap hambaNya.


☘️☘️☘️


Boy dan Arfan saat ini sedang berada di kantor. polisi. Kedua pria itu diperlihatkan rekaman CCTV di mana kecelakaan terjadi. Benar ada dua ambulans yang datang menjemput Nizam dan Bulan. Namun, di tengah jalan, ambulans yang membawa Nizam berbelok arah ke rumah sakit lain.


"Ada apa dengan ambulans itu? Kenapa dia malah berbelok?" tanya Boy pada polisi.


"Itu bisa saja terjadi, Pak. Ketika ada yang menghubungi 118, operator darurat akan merespons panggilan tersebut dan mengirimkan ambulans sesuai yang dibutuhkan ke lokasi. Mengenai kemana mereka akan membawa pasien, itu tergantung dari keputusan tim medis yang ada di ambulans itu setelah mempertimbangkan tingkat keparahan pasien dan kelengkapan fasilitas di sebuah rumah sakit," kata polisi itu menjelaskan.


"Lalu, kemana ambulans itu membawa putraku?" tanya Boy tidak sabar.

__ADS_1


"Tenanglah, Pak. Kami akan membantu Anda mencari keberadaan putra Anda. Untuk saat ini berikan kami waktu untuk mencari tahu lagi karena kebetulan CCTV di jalan yang dilalui ambulans itu sedang tahap perbaikan," ujar polisi itu.


Boy dan Arfan kini keluar dari kantor polisi dengan perasaan bercampur aduk. Namun, rasa khawatirnya jauh lebih besar ketika mengingat kelompok ter0ris itu sempat mengincar putranya.


"Apa kau tahu berita terkini mengenai ter0ris itu, Fan?" tanya Boy penasaran.


"Semuanya telah ditangkap, Ayah, termasuk yang meledakkan mobilnya di jalan," jawab Arfan.


"Semoga saja Nizam baik-baik saja dan tidak berurusan lagi dengan mereka," ucap pria paruh baya itu.


☘️☘️☘️


Sudah tiga hari berlalu, tapi kabar Nizam belum di temukan hingga saat ini. Beberapa rumah sakit yang searah dengan arah ambulans Nizam waktu itu pun sudah didatangi satu per satu, mulai dari rumah sakit kecil, hingga rumah sakit besar. Namun, tak ada satu pun yang mengaku memiliki pasien atas nama Nizam. Tak hanya Boy dan Arfan yang mencarinya, bahkan polisi pun sudah turun tangan membantu mereka.


"Bagaimana hasil pencariannya?" tanya Khaira yang menunggu kedatangan sang suami di depan kamar Bulan sejak tadi.


Boy menggeleng dalam sendu. "Belum ada titik terang. Semua rumah sakit sudah di datangi, tapi Nizam tidak ada di sana."


"Astaghfirullah, di mana Nizam sebenarnya?" Tubuh Khaira luruh ke lantai sambil menangis pilu.


"Sayang, tenanglah. Jangan seperti ini, Bulan bisa mendengarmu. Kita harus kuat, ada Bulan yang membutuhkan kita, dia pasti akan sangat tertekan jika mengetahui semuanya." Boy membantu Khaira kembali berdiri dan menenangkannya.


Sekilas Boy terlihat tenang dan baik-baik saja, tetapi percayalah, sebagai ayah, ada hati rapuh yang sedang ia sembunyikan demi tetap terlihat kuat. Jika bukan dirinya, lalu siapa yang akan menguatkan keluarganya yang lain?


"Bagaimana keadaan Bulan?" tanya Boy kemudian mengalihkan pembicaraan seraya menghapus air mata Khaira dengan begitu lembut.


"Dia di dalam," jawab Khaira dengan suara serak.


"Sekarang, bersikaplah seperti biasa, Sayang. Ayo kita masuk!" Boy mengecup dahi sang istri lalu merangkul pundaknya. Mereka berjalan bersama memasuki kamar Bulan.


Akan tetapi, ketika membuka pintu, wajah seorang wanita dengan deraian air mata yang justru menjadi pemandangan pertama mereka.


"Bu-bulan."


-Bersambung-


Kira-kira Nizam kemana, yah?

__ADS_1


Maaf, othor baru update lagi. Jangan lupa like dan komen, yah. 🥰


__ADS_2