
🌸🌸🌸🌸
MAKAN SIANG
Ara masih sibuk di ruangannya menyelesaikan pekerjaan tanpa memikirkan dirinya sendiri yang kini terlihat pucat,tanpa di sadari Reza sudah masuk di ruangannya tapi masih saja sibuk,”Sibuk banget ya Ra sampai aku datang kamu nggak sadar.”Reza tersenyum meletakkan minuman di meja menatap Ara.
“Eh... Reza,kapan kamu datang.Maaf aku lagi sibuk jadi nggak sadar ada kamu.”Ucap Ara.
“Tidak masalah Ra,aku juga paham kalau kamu sibuk tapi boleh nggak kalau aku minta kamu untuk istirahat dulu soalnya muka kamu udah pucat banget,aku khawatir Ra.”Ucap Reza khawatir.
“Masa sih pucat...” Ara menatap Reza.
“Iya Ra,muka kamu pucat tuh.”Tatap Reza balik.
“Hmmmm nggak apa-apa Za,udah biasa.”Ara seakan mengabaikan kesehatannya sendiri.
“Maaf Ra tapi kali ini aku harus maksa.”Reza menarik Ara dari kursinya menuju meja yang sudah ada makanan di sana.
“Loh Za,kamu bawa makan siang untuk aku.”Ucap Ara.
“Bukan untuk kamu tapi kita soalnya aku juga belum makan.”Reza tersenyum lalu membuka makanan yang ada di depannya.
“Za,maaf ya tadi pagi aku kelihatan cuek sama kamu soalnya...”Ucapan Ara yang terpotong.
“Iya,aku paham.Awalnya aku pikir kamu masih marah sama aku jadi kamu cuek makanya aku inisiatif untuk menghibur kamu dengan membawakan makan siang tapi setelah di sini aku baru sadar ternyata kamu lagi nggak enak badan makanya kamu cuek.”Ucap Reza lembut yang begitu paham dengan ke adaan Ara.
“Hmmmm...syukurlah kalau kamu tau jadi aku nggak perlu jelasin.”Ara tertawa kecil,merasa bahagia Reza masih memahaminya.
“Iya...tapi makanannya di habisin dulu biar nggak lemas lagi.”Ucap Reza menyantap makanannya.
“Iya deh...ma kasih ya Za.”
“Iya tapi setelah ini lebih baik kamu istirahat dulu Ra,biar kamu agak enakan soal pekerjaan itu bisa nanti Ra atau kalau perlu nanti aku bantu kamu asal kamu baikan dulu.”Reza terlihat begitu perhatian,tidak ada yang berubah dari sikapnya meski mereka tidak ada kabar selama satu tahun.
“Tapi aku harus meeting setelah ini di luar dengan Mirza jadi aku harus ke sana dulu.”Ucap Ara.
__ADS_1
“Jangan di paksakan Ara,itu kan bisa di tunda.Yang penting sekarang itu kesehatan kamu.”Reza mulai kesal dengan Ara yang keras kepala.
“Aku masih kuat Za,janji deh setelah ini aku langsung pulang istirahat.”Jelas Ara yang bersikap sama seperti Reza.
“Ya udah tapi aku antar ya,untuk memastikan kamu baik-baik saja.”Ucap Reza.
“Iya...hmmm perhatian banget sih sahabatku satu ini.”Goda Ara.
“Kamu ini Ra,masih bisa bercanda di saat ke adaan udah pucat begitu.”Reza senang melihat senyum Ara tapi ada khawatir di wajahnya tentang sahabatnya itu.
“Hehehe...”Ara hanya tertawa kemudian menghabiskan makanannya.
🌸🌸🌸🌸
MEETING
Ara buru-buru masuk ke cafe tempat mereka janjian,meski orang akan dia temui ini sudah dia kenal tapi Ara selalu tepat waktu dan profesional.Dari kejauhan Ara sudah melihat Mirza duduk di meja reservasi,terlihat Mirza yang menatap ke arahnya tersenyum namun senyum itu pudar ketika muncul laki-laki di belakangnya yang dia temui semalam.
“Maaf ya pak,saya sedikit terlambat.”Ara duduk di depan Mirza.
“Tidak masalah,aku juga baru datang tapi apa kita meeting di temani dengan....”Mirza lalu melirik ke arah Reza yang berdiri di antara kursi Mirza dan Ara.
Reza yang paham maksud Ara lalu pamit,”Oh iya,saya hanya mengantar sampai di sini jadi silahkan di lanjut.saya pamit Ra.”Ucap Reza kemudian berlalu pergi.
“Baik pak,bisa kita mulai meeting hari ini.”Ucap Ara.
“Boleh,silahkan.”Ucap Mirza.
Sekitar 30 menit,meeting sudah selesai.Mirza yang sudah penasaran sejak tadi dengan panggilan Ara yang begitu resmi,”Hmmmm Ra,kalau boleh tau kenapa kamu panggil aku pak kan kita sudah saling kenal.”
“Oh itu...memang kebiasaan saya pak kalau di jam kerja memanggil secara resmi agar terlihat profesional aja tapi kalau di luar pasti bersikap biasa.”Ucap Ara tersenyum.
“Oh begitu soalnya kedengarannya agak...”Ucapan Mirza terpotong.
“Agak terdengar tua ya pak.”Tawa kecil Ara.
__ADS_1
“Emang saya sudah setua itu ya.”Wajah Mirza cemberut.
“Bercanda pak,jangan diambil serius begitu,terus kalau tidak mau di panggil bapak nanti saya panggil kakak aja deh,gimana???” Goda Ara.
“Kakak...kenapa bukan nama aja seperti Reza.”Protes Mirza.
“Aku pengen aja panggil kakak biar sama seperti kak maya kan umur kita juga beda 2 tahun jadi nggak apa-apa kan kalau aku panggil kakak.”Jelas Ara.
“Hmmmm kalau di pikir-pikir bagus juga jadi kesannya sweet gitu di panggil kakak.”Ucap Mirza tersenyum.
“Jadi sekarang aku panggil kakak ya.”Senyum Ara.
“Iya Dek.”Ucap Mirza spontan.
“Dek.”Ara mengulang ucapan Mirza.
“Maaf Ra,aku spontan bilang begitu tapi tidak masalah kan kalau aku panggil dek.”Ucap Mirza harap-harap cemas.
“Iya nggak apa-apa kak tapi di saat kita berdua saja.”Ara mulai terlihat lemas.
“Kamu kenapa Ra,tiba-tiba diam begitu padahal tadi senyum-senyum.”Tanya Mirza yang sudah memperhatikan Ara yang pucat dari tadi.
“Tidak apa-apa kak.” Ara berusaha menutupi keadaannya dari Mirza.
“Kalau lagi tidak sehat lebih baik kamu pulang istirahat Ra soalnya muka kamu udah pucat dari tadi.”Usul Mirza.
“Iya kak,ini juga udah mau pulang.”Ucap Ara yang merapikan berkas-berkasnya.
“Kalau begitu aku antar ya soalnya aku khawatir melihat kamu pucat begitu.”Ucap Mirza.
“Ya udah kalau itu tidak merepotkan kak.”Ucap Ara kali ini tidak menolak karena memang sudah sangat lemah.
“Nggak sama sekali Ra,malah aku senang.”Mirza bangkit dari kursi.
Ara mengikuti Mirza dari belakang,dengan sekuat tenaga menahan diri agar tidak ambruk tapi ternyata usaha itu sia-sia.
__ADS_1
Brakkk....
Ara kini sudah tergeletak di lantai yang membuat Mirza kaget lalu seketika berbalik,”Ara...”Mirza kaget langsung mengangkat Ara langsung membawanya ke rumah sakit.