
Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di restoran yang sudah di booking oleh Mirza sebelumnya,sengaja memesan ruangan VIP agar mereka bisa bebas bicara tanpa ada yang mendengar.
Dari sejak sampai dan duduk,Mirza terlihat banyak diam.”Ada apa kak ? jika belum siap nggak apa-apa.”Ucap Ara menenangkan Mirza.
“Nggak kok Ra,aku sudah siap untuk cerita bahkan untuk setiap konsekuensi setelah ini pun sudah aku pertimbangkan semuanya.”Ucap Mirza yakin.
“Aku hanya ingin tau kak agar tidak ada rahasia lagi di antara kita dan setelah itu kita bahas setelah kakak cerita.”Tatap Ara,meyakinkan Mirza.
Mirza menarik nafas panjang lalu sejenak terdiam,”Sebenarnya aku di vonis kanker dan sudah stadium 4.”Mirza tidak lagi melanjutkan ucapannya,tatapannya kini tertuju pada Ara yang kini berbalik diam,”Kenapa diam Ra ???” Tanya Mirza.
“Ehm aku nggak tau mau bilang apa kak,bingung tapi jujur aku kecewa dengan cara kakak menyembunyikan penyakit kakak yang seserius ini.Dengan cara kakak menyembunyikan semuanya sama aku,membuat aku berpikir bahwa aku ini bukanlah orang terpenting di hidup kakak.”Ara lalu terdiam.
“Bukan begitu sayang,aku hanya butuh waktu dan keberanian untuk cerita sama kamu karena ini juga tidak mudah buat aku.Yang di pikiranku saat itu,kehadiranmu adalah semangat buat aku untuk tetap berjuang agar bisa sembuh dan belum siap jika kamu pergi meninggalkan aku di saat aku butuh kamu tapi ternyata karena kebodohan ku sendiri kamu pun pergi.”
“Itu tidak akan terjadi jika sejak awal kakak jujur.”Ucap Ara.
“Iya Ra,aku tau itu karena semua ini memang kesalahan aku yang begitu takut kehilangan kamu tapi sekarang aku pasrah Ra jika setelah tau ini kamu akan pergi.”Mirza hanya diam menunduk.
“Jadi itu alasannya kakak nggak pernah jujur karena berpikir setelah tau penyakit kakak aku akn pergi meninggalkan kakak,aku makin kecewa kak.aku pikir kakak mengenal aku tapi ternyata hanya sebatas itu kakak mengenal aku yang berpikir bahwa aku ini perempuan yang tidak bisa menerima kekurangan kakak dengan penyakit kakak itu.” Ara tidak sanggup melanjutkan ucapannya lagi tapi mataya sudah berkaca-kaca seakan mewakili perasaannya.
“Aku minta maaf Ra.”Mirza menatap tunangannya itu yang hanya terdiam dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
“Aku nggak tau kak,jujur aku menghargai kejujuran kakak tapi aku kecewa kenapa baru sekarang dan karena hal itu aku nggak bisa selalu ada di samping kakak di saat kakak butuh aku.”Ucap Ara terisak yang sudah tidak bisa membendung air matanya.
Mirza lalu beralih ke samping Ara untuk menenangkannya,mencoba mengahapus air matanya,”Jangan menangis sayang,aku minta maaf.”
Replek Ara memeluk Mirza membuat Mirza hanya terdiam mematung,”Aku sayang sama kak Mirza,tidak peduli keadaan kak Mirza saat ini perasaan aku masih sama kak.jika kemarin aku pergi itu karena aku ingin kak Mirza berpikir dan menenangkan diri tapi bukan berarti aku melupakan kakak karena setiap saat aku pun terbebani kak,selalu ingin tau ke adaan kakak tapi aku sudah memutuskan untuk kita sendiri-sendiri dulu,jadi aku harus menahan itu dan hanya kak Maya yang selalu memberitahu kabar kakak secara diam-diam.”
Mata Mirza membulat melepaskan pelukan Ara,”Jadi selama ini...kamu selalu cari tau tentang kakak dan kak Maya menyembunyikan itu.”Tatap Mirza.
Ara hanya mengangguk,lalu mengambil bendah pipih yang ada di dalam tasnya memperlihatkan semua foto dan vidio singkat yang selama ini di kirim oleh kak Maya.Sementara Mirza hanya tersenyum memperhatikan satu persatu fotonya,”Nggak adil ya,diam-diam kamu dapat foto aku sementara aku selama beberapa bulan ini aku sibuk mencari kamu ternyata kak Maya sudah tau.”Tatap Mirza.
“Yaa,anggap aja itu hukuman untuk kakak yang nggak mau jujur dan untungnya kak maya mau di ajak kompromi.”Tawa kecil Ara.
“Tapi sekarang udah nggak marah kan ?”Tatap Mirza sendu.
__ADS_1
“Aku mau memaafkan kakak tapi kakak janji setelah ini nggak akan ada lagi yang kakak sembunyikan.”Goda Ara.
“Nggak ada sayang.”Mirza mencubit pipi Ara dengan lembut.
“Yakin.” Tatap Ara.
“Iya,tapi untuk masalah penyakit kakak.kamu boleh....”bibir Mirza di bungkam oleh tangan Ara sehingga tidak bisa melanjutkan ucapannya.
“Kak,apa pun yang terjadi.Aku akan tetap berada di samping kakak dan menemani kakak melawan penyakit kakak,kita jalani semuanya sama-sama dan aku yakin kakak bisa.”Ara menggenggam tangan Mirza untuk menenangkannya.
“Kamu yakin Ra dan tidak akan menyesal.”Tanya Mirza ulang.
“Yakin kak.”Ara mengangguk.
“Termasuk mengizinkan kakak menemui orang tua kamu untuk melamar secara resmi.”Tatap Mirza.
“Iya....eh melamar.”Ara baru sadar maksud ucapan Mirza.
“Iya,aku ingin melamar kamu secara resmi makanya aku ingin menemui orang tua kamu secepatnya.”Senyum Mirza.
“Ehm kakak serius.”Tanya Ara lagi.
“Ih kak Mirza,aku kan udah bilang nggak mempermasahkan penyakait kakak tapi kok di ulang terus atau mungkin kakak yang nggak yakin sama aku.”Ara melepaskan tangannya dari genggaman Mirza.
“Aku bercanda sayang,jangan marah dong.”Bujuk Mirza.
“Tau ah kak,mood aku udah nggak enak kalau begini.”Ara masih pura-pura marah.
“Kalau begitu kita berangkat ke sini sekarang.”Mirza memperlihatkan foto rumah Ara di kampung yang pernah di datangi saat mencari Ara.
Ara penasaran lalu melirik,”Loh,ini kan foto rumah Ara di kampung,Kenapa bisa ???”
“Bisa dong,kan aku langsung yang foto.”Mirza tersenyum menyimpan benda pipih itu di meja.
“Kapan???” Tanya Ara penasaran.
__ADS_1
“Saat kamu menghilang tanpa kabar tapi saat itu aku hanya sekedar melihat dari jauh,ingin tau kamu ada di sana atau tidak ternyata tidak ada jadi aku memutuskan pulang tanpa bertemu orang tuamu tapi sepertinya sudah saatnya aku bertemu mereka agar anaknya ini tidak terus kabur dari aku.”Lirik Mirza tersenyum.
“Emang berani.”Tantang Ara.
“Kamu menantang kakak kalau begitu aku hubungi kak Maya dulu biar siap-siap terus kita berangkat.”Mirza mengambil benda pipih yang di simpan di meja mencari kontak Kak Maya.
“Eh jangan kak.”Belum sempat menghubungi kak Maya,tangan Ara sudah mengambil ponsel Mirza.
“Kenapa ? Bukannya tadi kamu nantang kakak ?” Mirza makin suka melihat wajah Ara yang sudah merona dari tadi.
“Kan aku Cuma bercanda kak.”Ucap Ara malu-malu.
“Tapi aku serius Ra.”Mirza kembali merebut ponselnya dari tangan Ara.
“Jangan kak.”Ara mengambilnya kembali.
“Jadi kamu nggak mau nikah sama kakak.”Mirza makin menekan Ara membuat tunangannya itu makin salah tingkah.
“Bu..kan begitu kak tapi ini terlalu cepat.”Ucap Ara gugup.
“Jadi kapan siapnya ? nanti kamu kabur lagi.”Ucap Mirza.
“Ya terserah kakak tapi jangan hari ini juga.”Ucap Ara manja.
“Kalau begitu minggu depan ya.”Ucap mirza.
“Terserah kakak.”Ara hanya tertunduk.
Senyuman di wajah Mirza makin mengembang melihat tingkah Ara yang terlihat tidak mampu berkata-kata lagi,”Kok pasrah gitu.”Goda Mirza.
“Habisnya kak Mirza dari tadi menekan aku terus,kan aku bingung mau jawab apa.” Ucap Ara manja.
Tangan Mirza di dekatkan pada dagu Ara lalu perlahan di angkat agar bisa menatapnya,”Itu karena aku sayang sama kamu Ra dan aku serius ingin menikah sama kamu.”Tatap Mirza.
Ara hanya tersenyum menatap Mirza,”Terima kasih kak.”
__ADS_1
Baru update lagi nik kak,terus dukung karya author ya kak biar makin semangat nulisnya😊😊
SELAMAT MEMBACA