
Melihat Monika yang terus bersikap dingin membuat Ara merasa tidak nyaman,ingin tau penyebab perubahan sikapnya.Kebetulan hari ini mereka tidak ada janji keluar tapi Ara tau jika Monika pasti akan datang jadi Ara akan mencoba bicara pada Monika.Mumpung Mirza tidak ada di rumah karena ada urusan kantor yang mendadak.
Sesuai prediksi,tidak lama terdengar suara Monika sementara Ara masih diam membiarkan Monika dengan keluarga Mirza setelah ada kesempatan baru dia akan bicara berdua bersama Monika.
Sementara menunggu Ara hanya sibuk bermain bersama Ardan tanpa di sadari Monika memperhatikan mereka,merasa iri pada Ara yang begitu mudah mengambil hati Ardan dan Mirza sementara dia sendiri begitu sulit bahkan saat mendekat Ardan malah terus menjauh.”Kenapa ya Ara begitu mudah dekat dengan Ardan padahal anak itu begitu sulit aku dekati,Mirza juga begitu cepat menyukai dia padahal Mirza tipe laki-laki yang tidak mudah tertarik pada perempuan ??? andai saja aku yang di posisi itu pasti aku sangat bahagia berada di antara keluarga baik seperti mereka.”Batin Monika.
“Monika...monika.”Panggil Ara yang tidak di sadari Monika sejak tadi.
“Eh...Ara.”Monika bergeser membiarkan Ara duduk.
“Kenapa diam ? lagi mikirin apa ?” Ara duduk di samping Monika.
“Nggak apa-apa.”Monika masih menyembunyikannya pada Ara.
“Oh gitu...hmm boleh nggak kita bicara berdua di taman belakang ???” Ajak Ara yang tidak ingin ada yang tau tentang pembicaraan mereka nantinya.
“Kenapa nggak di sini aja Ra.”Monika terlihat bingung.
“Hhm aku nggak mau aja ada yang dengar tentang ini.”Jelas Ara.
“Ok,kita ke belakang.” Monika berlalu bersama Ara meninggalkan Ardan yang masih asyik bermain.
Mereka duduk di sebuah kursi panjang, menunggu Monika tenang,”Monika....”Ucap Ara membuka percakapan.
“Iya,ada apa Ra.”Jawab Monika dengan wajah datar.
“Aku minta Maaf kalau ada salah sama kamu.”Ara menunduk bersalah.
“Minta maaf karena apa Ra,kamu kan nggak salah.”masih dengan ekspresi yang sama.
“Untuk semuanya Monika,jujur aku merasa belakangan ini kamu beda dan terasa dingin sama aku seakan aku punya salah sama kamu tapi aku juga nggak tau itu apa makanya aku ajak kamu ke sini untuk bicara.”Ara masih menunduk dengan ekspresi wajah sedih.
Monika menoleh pada Ara,merasa tidak tega melihat Ara yang merasa bersalah padahal itu bukan salahnya melainkan karena rasa cemburunya saja pada Ara sehingga sikapnya tiba-tiba berubah.”hmmm nggak gitu Ra,kamu nggak salah kok mungkin akunya aja yang terlalu terbawa perasaan jadi seperti ini.”Ucap Monika lembut memegang kedua pundak Ara.
“Terus kamu kenapa ??? jujur aja Monika karena aku pun tau penyebab kamu seperti ini dan aku hanya ingin memastikan itu sama kamu tanpa menebak-nebak lagi.”Tanya Ara.
__ADS_1
“Jujur tentang apa Ra,aku nggak ngerti.” Monika masih mengelak.
“Hmmm kamu suka kan sama kak Mirza ?” Ara tidak membiarkan Monika mengelak lagi.
“Suka sama kak Mirza,ya tidak lah Ra kan kamu calonnya lagian selama ini kita sahabat jadi mana mungkin aku suka sama kak Mirza.”Monika terlihat kikuk tapi berusaha tenang.
“Kamu jujur aja,sebagai sesama perempuan aku bisa melihat itu Mon dan aku rasa itu wajar saja.”Ara memancing monika untuk jujur.
Monika memperbaiki posisi duduknya menghadap Ara,”Emang kelihatan ya Ra.”Tatap Ara meminta jawaban.
“Iya.”Ara hanya menaikkan ke dua alisnya.
“Yah...padahal aku sudah berusaha terlihat biasa tapi ternyata ketahuan juga.”Monika mulai terbuka.
“Kalau suka,kenapa nggak bilang sama orangnya langsung biar kamu tau sendiri perasaannya.”Ucap Ara tenang agar Monika merasa nyaman.
“Hhmm itu nggak mungkin lah Ra,kan Mirza udah memilih kamu.Biarkan seperti ini saja Ra lagian seperti ini juga sudah buat aku bahagia meski tidak bisa memilikinya.”Curhat Monika.
“Tapi kamu bersikap dingin sama aku,sama aja kan Mon.”Senyum Ara.
“Atau bagaimana kalau aku bantu kamu bicara dengan Kak Mirza .”Usul Ara.
“Percuma Ra,Kak Mirza juga akan tetap pilih kamu.”Tolak Monika.
“Kalau tidak mencoba kamu tidak akan tau Mon,biar kamu lega setelah mendengar jawaban dari Kak Mirza langsung.Mana tau Kak Mirza juga ada perasaan tapi nggak bilang.”Ucap Ara.
“Ra...jangan sembarangan deh nanti kak Mirza dengar malah marah.Kalau kak Mirza udah memilih,itu artinya dia sudah yakin dan itu sudah jelas jadi nggak mungkin dia suka sama aku juga karena kak Mirza itu orangnya tegas.” Ucap Monika.
“Maaf Mon,aku hanya merasa kalian lebih cocok bersama di banding kak Mirza sama aku.apalagi kalian itu sudah kenal sudah lama jadi akan lebih mudah saling mengerti sementara aku baru dia kenal beberapa bulan.” Ucap Ara.
“Baiklah,aku akan jujur dengan kak Mirza tentang perasaan aku tapi kamu temani aku ya.Hmmm walaupun aku tau nanti jawaban kak Mirza akan seperti apa tapi setidaknya aku lega jika sudah mengatakan itu seperti yang kamu bilang tadi.”Monika tersenyum memandang Ara terlihat kembali bersemangat.
“Iya...nanti aku temani.”Senyum Ara memberi semangat pada Monika.
“Terima kasih ya Ra,sekarang aku paham kenapa kak Mirza bisa yakin sama kamu karena ternyata kamu memang pantas untuk itu dan pasti kak Mirza akan beruntung jika memiliki istri seperti kamu kelak.”Ucap Monika.
__ADS_1
“Ah...nggak juga Mon,aku biasa aja.”Ara merendah merasa Monika berlebihan.
“Ih itu benar Ra,aku aja sebagai perempuan merasa tersentuh dengan kebaikan kamu apalagi dengan Kak Mirza pasti makin cinta deh.”Goda Monika seakan telah melupakan sikap dinginnya pada Ara.
Ara pun terlihat senang melihat Monika yang sudah bisa tertawa di depannya seperti awal bertemu,”Aku senang Mon,kamu sudah kembali ceria seperti awal kita ketemu.”Tatap Ara.
“Iya Ra,itu juga berkat kamu.Tapi... aku bingung deh kok kamu kayak nggak ada cemburunya tau aku suka sama kak Mirza,bukannya kamu calon istrinya.”Tanya Monika penasaran.
“Masih pura-pura Mon,itu semua karena kak Mirza tidak ingin di tanya terus sama keluarganya jadi memperkenalkan aku sebagai calon istri pura-pura nya.”Jelas Ara.
“Apa ? kok Bisa.”Monika kaget.
“Aku juga nggak tau,saat kamu tiba-tiba memeluk aku saat itu dan mengatakan calon istinya kak Mirza.aku sendiri bingung dan bertanya-tanya pada saat itu tapi kak Mirza sudah menjelaskannya.”Jelas Ara.
“Terus kak Mirza bilang apa ? “Tanya Monika penasaran.
“Aku belum bisa menyimpulkannya Mon untuk saat ini,aku bingung.”Jujur Ara.
“Tentang perasaan kak Mirza sama kamu dan kamu juga memikirkan perasaan aku yang suka sama Kak Mirza,benar kan Ra?” Tanya Monika.
Lagi-lagi Ara hanya bisa diam dan mengangguk karena yang di katakan Monika itu memang benar.
“Kamu nggak perlu memikirkan tentang aku,sekalipun nanti aku jujur pada kak Mirza tentang perasaan aku tetap tidak akan merubah ke adaan dimana kak Mirza akan tetap memilih kamu jadi kalau kamu memang ada perasaan pada kak Mirza lebih baik kamu jujur juga.”Kini Monika yang meminta Ara untuk jujur.
“Aku belum tau Mon tentang itu,sepertinya butuh waktu untuk memikirkan semuanya.”Ucap Ara.
“Ya udah Ra,apapun keputusan kamu nanti aku harap itu yang terbaik dan satu hal yang perlu kamu tau,Kak Mirza itu laki-laki yang paling baik yang pernah aku kenal jadi menurut aku jika kalian bersama pasti akan bahagia.”Ucap Monika.
“Hmmm kita lihat nanti ya.”Senyum Ara.
“Iya Ra.”Balas monika.
“Jadi...kita ke dalam lagi,siapa tau kak Mirza udah datang biar kamu bisa bilang sama kak Mirza.”Goda Ara yang beranjak dari kursi.
“Ya...nggak sekarang juga kali Ra,tunggu waktu yang tepat.”Monika mengikuti Ara dari belakang.
__ADS_1
Baru beberapa langkah tiba-tiba Ara menghentikan langkahnya di ikuti oleh Monika yang sama-sama kaget melihat Mirza sudah berdiri di depannya,entah sudah berapa lama dia di sana mendengarkan percakapan Ara dan Monika.