
🌸🌸🌸🌸
Mirza melangkah masuk ke rumah sambil senyum-senyum sendiri mengingat kejadian tadi bersama Ara tanpa menyadari Maya sudah memperhatikannya sejak tadi.”Baru pulang dek.”Ucap Maya.
“Eh kak Maya bikin kaget aja.”Mirza menghentikan langkahnya.
“Kaget ya,lagian kamu kayak orang aneh aja senyum sendiri.”Ucap Maya.
“Ah..masa sih,perasaan biasa aja.”Ucap Mirza.
“Kalau kakak perhatikan kayaknya kamu lagi bahagia ya?” Tanya Maya penasaran.
“Ah kak sok tau deh.”Mirza melangkah pergi namun langkahnya terhenti saat Maya menyebut nama Ara.
“Kamu ingin tau sesuatu tentang Ara.”Maya melirik adiknya yang berbalik padanya.
“Tentang apa???” Tanya Mirza yang memang ingin tau banyak tentang Ara.
“Tentang Ara dan Reza yang...”Ucapan Maya di potong oleh Mirza.
“Oh...itu,kalau itu aku sudah tau kak.”Mirza ingin melanjutkan langkahnya tapi di tahan oleh Maya.
“Kok kamu bisa tau kan kakak belum cerita.”Ucap Maya penasaran.
“Ini aku habis keluar sama Ara dan tidak sengaja ketemu Reza sama pacarnya makanya aku tau.”Jelas Mirza.
“Oh...jadi itu yang membuat kamu senyum-senyum sendiri dari tadi.”Ucap Maya.
“Hmmm banyak alasannya tapi mungkin itu salah satunya.”Mirza tersenyum.
“Ih dek,masa kamu bahagia sementara Ara sedang terluka sekarang.”Ucap Maya.
__ADS_1
“Tenang aja kak,mungkin sekarang Ara bersedih tapi aku janji setelah ini akan membuat Ara bahagia.”Ucap Mirza.
“Maksud kamu,ingin menjadi pacar Ara.”Tanya Maya penasaran.
“Bukan pacar tapi lebih dari itu.”Ucap Mirza.
“Jangan bilang kamu ingin melamar Ara.”Maya mulai paham maksud adiknya.
Mirza hanya mengangguk,”Tapi kali ini biar aku yang berusaha,kakak diam saja dan perhatikan usaha aku meluluhkan hati Ara yang masih sulit melupakan Reza tapi aku tidak akan menyerah dan akan menunggu saat Ara bisa membuka hati untuk aku.”Ucap Mirza.
Maya hanya menatap adiknya,”Kakak mendukung kamu sama Ara karena dia memang pantas untuk bahagia bukan dengan Reza yang tidak punya pendirian.”
“Iya juga sih kak,Reza itu tidak punya pendirian.meski aku liat dia memilih Dara tapi aku melihat perasaan Reza itu masih begitu besar untuk Ara.Tapi sudahlah,toh Reza sudah melepaskan Ara dan sekarang giliran aku yang berjuang untuk meluluhkna hati Ara.”Ucap Mirza.
“Reza memang sejak awal begitu,makanya kakak tidak setuju saat tau Ara kembali dekat dengan Reza.”Ucap Maya.
“Yang penting sekarang,kita itu menghibur Ara yang sedang sedih.”Ucap Mirza.
“Ya kak maya pasti tau jawaban aku,jadi kak maya atur saja.”Mirza melangkah menuju kamarnya.
DI RUMAH ARA
Ara kembali teringat saat Mirza memegang pipinya,tanpa sadar dia tersenyum sendiri.”Loh kok aku tiba-tiba memikirkan kak Mirza sih.”Batin Ara.
Belum selesai Ara melamun,dikagetkan oleh suara ponselnya yang berdering terlihat nama Kak Mirza di layar.
“Assalamualaikum.”Ucap Ara.
“Wa’alaikum salam.Kamu belum tidur ?” Ucap Mirza.
“Belum,kan ini lagi bicara sama kak Mirza.”Ara tersenyum di seberang telpon.
__ADS_1
“Kamu bisa aja Ra,kan tadi aku bilang langsung istirahat.Jangan bilang kamu masih sedih memikirkan Reza makanya belum tidur.”Ucap Mirza.
“Ya,nggak lah kak.untuk apa lagi aku memikirkan Reza yang sudah jadi milik Dara.”Ucap Ara.
“Atau jangan-jangan kamu memikirkan aku lagi.”Goda Mirza yang hanya menebak tapi tebakannya itu benar membuat Ara salah tingkah.
“Me...mikirkan kak Mirza,Untuk apa?” Ara terdengar gugup.
“Santai aja Ra,aku hanya bercanda kok.”Mirza tertawa mendengar Ara yang seperti salah tingkah.
“Kalau benar aku memikirkan kak Mirza,gimana.”Ucap Ara membalas Mirza.
“Ya...ya..nggak apa-apa.”Jawab Mirza yang berbalik salah tingkah.
“Aku juga Cuma bercanda kak,jadi santai aja.”Ara tertawa di seberang telpon membuat Mirza ikut tersenyum.
“Aku senang kamu tertawa Ra,berarti kamu nggak sedih lagi.”Kini Mirza terdengar serius.
“Iya kak,ma kasih udah menghibur aku dan memastikan aku baik-baik saja.”Ara pun terdengar serius.
“Sudah seharusnya aku menghibur kamu Ra karena buat aku senyum kamu itu penting.”Ucap Mirza.
“Oh ya,sepenting itu kah kak Mirza.”Ara kembali menggoda Mirza agar tidak terlalu serius.
“Iya,sampai aku nggak bisa tenang melihat kamu menangis tadi makanya aku telpon.”Mirza terdengar kesal tapi lucu seperti anak kecil yang manja.
“Iya deh kak,aku paham.tapi sekarang aku sudah baik-baik saja jadi kakak nggak perlu khawatir lagi.”Ara membujuk Mirza.
“Ya udah,lebih baik kamu tidur sana.”Ucap Mirza.
“Ok kak,aku tutup dulu ya telponnya.”Ara menutup telpon.
__ADS_1