
BAB 10
Pagi ini Cici maupun Putra sudah sampai di sekolah. Dimana tempat Cici menimba ilmu, sedangkan Putra si pemberi ilmu untuk semua siswa-siswinya. Sebelum turun dari mobil, gadis itu mengambil tangan Putra lalu, mengecupnya dengan takzim. Tapi sekarang sudah berbeda, jika biasanya Cici langsung keluar, tapi kini wanita itu menerima kecupan pada dahinya dari bibir hangat milik suaminya.
Cici keluar dari dalam mobil, dengan wajah memerah mendapat kecupan hangat dari suaminya. Saat ini Cici sedang berjalan sambil menelusuri lorong-lorong sekolah untuk menuju kelasnya.
Sampai di kelas Cici langsung menghampiri Lili yang sedang duduk sambil membaca sebuah novel yang tampak dari sampulnya seperti novel romantis, yang emang banyak digemari kalangan remaja, bukan hanya itu bahkan orang dewasa pun juga banyak menyukai novel tersebut.
"Barrrr,"
Suara Cici mengagetkan sahabatnya tersebut, dan membuat Lili terperanjat dari duduknya. Langsung saja Lili menatap tajam ke arah Cici yang tengah cengengesan tidak jelas.
"Ihhh, kamu ngangetin aku Ci," ujar Lili dengan sinis kepada sahabatnya itu.
"Hehe, maaf deh Li. Habisnya kamu baca novelnya serius amat. Sampai-sampai aku yang masuk saja tidak kamu hiraukan," protes Cici dengan cemberut. Namun gadis itu langsung saja mendudukkan pantatnya pada kursi yang ada di sampingan sahabatnya.
"Oh ya Li, kemaren kamu mau curhat kan? Emang curhat tentang apa?" tanya Cici sambil menaikkan salah satu alisnya. Dia teringat dengan isi pesan sahabatnya itu.
"Hmm, ngak jadi deh Ci, maaf ya? aku nanya yang lain aja deh sama kamu, boleh?" tanya Lili sambil menatap wajah Cici dengan serius.
"Yaudah, emang kamu mau nanya apa Li, kek serius amat. Sampai-sampai kamu ngeliatin aku seperti itu segala," tanya Cici yang juga penasaran. Seperti halnya ini sangat serius, maka dari itu Lili menatap dirinya dengan begitu intens, itulah pikir Cici saat ini.
Lili berfikir sejenak, dan menarik tangan Cici keluar dari kelas menuju taman belakang sekolah. Karena tak mungkin dia menanyakan hal itu di kelas, lantaran sudah ada beberapa orang di dalam kelas itu.Cici yang melihat sahabatnya menarik tangannya, hanya merasa heran. Kenapa sahabatnya tidak menanyakan langsung di dalam kelas saja. Apalah hak ini sebegitu pentingnya.
Sekarang mereka sudah sampai di taman belakang sekolah, dan Lili menyuruh Cici duduk di bangku taman sedangkan ia berdiri tepat di depan Cici dengan aura mengidentifikasi.
"Emang kamu mau nanya apa sih Li? Kok bawa aku kesini segala?" tanya Cici yang sangat heran dengan tingkah sahabatnya. Apa susahnya nanya di kelas saja. Nggak perlu pergi ke sini segala.
"Gini ya Ci, aku to the point saja. Kemaren aku denger Pak Putra manggil kamu itu dengan sebutan Sayang. Emang kamu ada hubungan apa dengan Pak Putra?" tanya Lili yang sudah sangat penasaran. Jangan lupakan tatapan matanya yang begitu dalam menatap Cici.
Deg...
Jantung Cici langsung saja berdetak dengan kencang. Ini sungguh berita yang sangat-sangat membuat Cici mati kutu. Seperti disambar petir di pagi hari kalau gini mah ceritanya. Apa yang mau dikatakan Cici jika sudah begini.
"Ma... ma... sud ka... mu apa Li?" tanya Cici dengan gemetar. Sungguh dia tidak tau mau ngomong apa sama sahabatnya itu, lidahnya terasa kelu.
"Ya kan aku udah jelasin sama kamu Ci, kamu jawab saja pertanyaan aku. Gampang kan?" ujar Lili sambil menaikkan salah satu alisnya. Dia sangat penasaran saat ini. Rasa penasaran itu sudah sampai ke ubun-ubun.
"Aa... ku ngak..."
Hahhhhhh haaahhhhhh
__ADS_1
"Eh Li, kamu udah di cariin kemana-mana malah ngak Ketemu-ketemu. Malah asikan ngobrol di sini." ujar salah satu teman kelas Lili yang bernama Lina sambil ngos-ngosan, karena berlari ke tempat Lili dan Cici berada.
Cici menghela nafasnya, dia selamat untuk saat ini. Karena ada yang menyelamatkan dirinya dari pertanyaan Lili yang membuat jantungnya mau copot.
"Emang ada apa kamu cariin aku?" tanya Lili sambil menghadap ke arah Lina dengan penasaran.
"Kamu di panggil sama Pak Putra tuh, katanya kamu di suruh ke ruangannya," jelas Lina dan di angguki oleh Lili.
Lili dan Lina pergi dari hadapan Cici, dan mereka meninggalkan Cici seorang diri di belakang sekokah. Lili pergi ke ruang Putra untuk menemuinya, dan sebelum pergi Lili mengatakan pada Cici kalau dia akan mendengar penjelasan dari Cici selesai menemui Putra.
Lili berjalan menelusuri lorong-lorong sekolah untuk menuju ruangan Putra, dan sampai di ruang Putra Lili langsung masuk, karena ruangannya terbuka lebar.
"Assalamu'alaikum Pak, maaf ada apa Bapak manggil saya?" tanya Lili dan duduk di kursi yang telah tersedia di sana.
"Wa'alaikumsalam, tolong kamu berikan soal ini kepada seluruh teman sekelas kamu untuk di kerjakan di rumah, dan besok pagi harus dikumpul di meja saya." tegas Putra sambil menyodorkan soal tersebut pada Lili dan di balas anggukan kecil dari Lili. Setelah itu tadi itu langsung saja berdiri dari duduknya.
Lili keluar dari ruang Putra menuju kelasnya, dan sampai di dalam kelas ia langsung memberikan soal tersebut kepada teman-temannya yang sudah datang. Dan tidak lupa memberitahu, jika tugas itu harus sudah siap besok pagi dan akan di kumpulkan kepada Putra.
Sedangkan di belakang sekolah, Cici tampak mondar-mandir. Mengigit kukunya dengan raut wajah bingung. Bingung jika saja Lili akan menanyakan hal itu lagi kepada dirinya.
"Aku harus jawab apa sama Lili nih?" ujar Cici pada dirinya sendiri sambil mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Sungguh dia tengah bingung saat ini mau berkata jujur atau malah sebaliknya. Tapi jika dia tidak jujur, alasan apa yang bisa mebuat sahabatnya itu untuk percaya dengan ucapannya. Yang jelas sahabatnya mendengar jika Putra memanggilnya Sayang. Jika berkata jika Putra merupakan Omnya rasanya juga tidak mungkin. Lantaran Lili tau jika Cici tidak mempunyai Om yang mengajar di sekolah ini.
Sampai di dalam kelas, Cici langsung duduk di samping Lili yang sudah standby duduk di kursinya. Lili memberikan soal yang sudah di berikan Putra pada Cici, dan Cici menerima soal tersebut sambil tersenyum kearah Lili.
Sekitar sepuluh menit mereka berada di dalam kelas tidak ada satupun yang mau berbicara. Mereka hanya sibuk dengan fikiran masing-masing.
Lalu, seorang guru cantik datang, dan seluruh siswa laki-laki menatap wajah guru tersebut, karena kecantikan yang ia punya. Guru itu juga banyak di sukai oleh murit laki-laki.
Sekarang pelajaran pagi pun sudah di mulai. Seluruh siswa disuruh membentuk kelompok, karena mereka akan mendiskusikan tentang masalah Kependudukan.
Tak terasa pelajaran pagi pun sudah berakhir, dan seluruh siswa tentunya sudah keluar dari kelas menuju kantin untuk memenuhi rasa lapar mereka masing-masing.
Lili dan Cici masih berada di dalam kelas, dan mereka tetap berada pada fikiran masing-masing. Tanpa ada yang membuka suara diantara keduanya.
Huffttt, Lili menghembuskan napasnya dengan kasar dan menghadap ke arah Cici.
"Ci, jawab dong pertanyaan aku tadi pagi?" tanya Lili dengan kesal. Pasalnya Cici tidak mengerti jika saat ini dia tengah menanti jawaban dari sahabatnya.
"Hmm, gimana ya Li," jawab Cici sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dai juga bingung mau memulai dari mana.
"Ya, kamu tinggal bilang saja sama aku Ci, aku janji ngak akan ngasih tau siapa-siapa kok," bujuk Lili dengan senyuman manisnya. Berharap sahabatnya itu mengatakan yang sebenarnya. Ada hubungan apa antara Cici dan Putra.
__ADS_1
"Kamu janji ya Li, sebenarnya aku sama Pak Putra itu--"
"Cici bantu ibuk membawa tugas ini ke ruangan ibuk ya?" pinta guru cantik yang benama Bella, dan di balas anggukan dari Cici.
Argh, Lili mengusap wajahnya dengan kasar karena Lili merasa kesal terhadap guru itu tak kala Cici belum selesai menjawab pertanyaan darinya. Padahal dia sudah menunggu apa kata-kata terakhir yang akan di ucapan Cici kepadanya.
"Li tunggu sebentar ya, aku anterin dulu yang di suruh Bu Bella," pamit Cici yang langsung berdiri setelah mendapat anggukan dari Lili.
Cici menghampiri Bella, dan membantunya membawakan seluruh tugas yang berada di atas meja guru.
Bella keluar dari kelas dan diikuti oleh sang murid di belakangnya. Sampai di ruangan Bella, Cici meletakkan tugas tersebut di atas meja Bella.
Cici keluar dari ruangan Bella, dan di saat ia akan pergi ke kelasnya ia bertemu dengan Putra. Putra mengajak Cici ke ruangannya, dan Putra menutup pintu ruangannya dengan rapat. Saat Putra membawa Cici ke ruangannya tidak ada satupun guru maupun murit yang melihatnya. Karena disana tampak sangat lenggang.
"Ada apa Mas bawa aku kesini? dan ngapain Mas tutup pintunya segala?" tanya Cici sambil mengernyitkan keningnya. Dia bingung tiba-tiba saja suaminya itu menarik tangannya dan dibawa ke ruangannya.
"Ngak apa-apa, aku cuman rindu sama kamu saja," balas Putra dengan santai dan membuat jantung Cici berdetak dua kali lebih kencang dari tadi.
Cici masih bingung dengan perasaannya. Ntah perasaan apa yang ia rasakan sekarang terhadap Putra. Ia benar-benar tidak mengerti akan hal ini.
"Lah kok Mas rindu sih sama aku? Padahal setiap hari kita selalu bersama loh?" lirih Cici sambil menatap setiap inci wajah tampan Putra dengan jantung yang dirasa mau melompat dari sarungnya.
"Ntah lah, aku ngerasa rindu banget sama kamu, dan ntah kenapa dengan hati ini," ucap Putra sambil memegang dadanya. Ia memang benar-benar ngak ngerti dengan perasaannya terhadap Cici saat ini. Yang ia tau ia hanya takut kehilangan Istrinya dan begitupun sebaliknya.
Deg...
Cici juga merasakan hal yang sama seperti apa yang Putra lontarkan sama dirinya, tapi Cici ngak tau harus ngomong apa sama Suaminya. Ntah itu karena malu, segan atau apa.
Tring... Tring... Tring...
Bel masuk untuk pelajaran selanjutnya kembali berbunyi. Cici langsung keluar dari dalam ruangan Putra, dan sebelum keluar Putra memegang dengan lembut wajah cantik Istrinya dengan penuh kasih sayang. Mendaratkan kecupan pada dahi istrinya.
Sekarang Cici sedang berjalan menuju kelasnya. Sampai di di kelas ia melihat Lili yang melamun di kursinya. Ntah apa yang sedang dilamunin sahabatnya itu.
"Haii Li, kok ngelamun sih? Ngelamunin apa hayo?" ujar Cici sambil tersenyum manis dan itu membuat Lili menatapnya malas.
"Kamu kok lama amat sih? padahal cuman ngantar buku doang. Yaudah, jawab pertanyaan aku tadi?" ucap Lili sambil memutar tubuhnya menghadap Cici dengan sempurna. Dia sebenarnya sangat kesal dengan sahabatnya itu. Tapi demi sebuah jawaban dia menahan rasa kesalnya.
"Besok saja deh Li, lagian sekarang orang udah pada masuk semua," balas Cici sambil memperlihatkan deretan Gigi putihnya dan Lili mengangguki ucapan dari Lili dengan malas. Lagian sekarang seluruh siswa di di kelasnya juga sudah masuk.
TBC
__ADS_1