MENIKAH DENGAN GURUKU

MENIKAH DENGAN GURUKU
BAB 29


__ADS_3

BAB 29


Jam di dinding rumah Nenek sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Putra dan Cici masih berada di ruang tamu sambil menonton film kesukaan mereka. Menikmati secangkir teh panas serta kacang telur yang mereka beli tadi sore di minimarket yang berada di sebelah rumah Nenek.


Cici sangat menikmati film yang sedang tertera di layar TV, begitupun dengan Putra yang asik menonton sambil memakan kacang telur yang di pegang istrinya.


Malam semakin larut namun, sepasang suami istri itu tidak juga tidur. Bahkan mata mereka tidak mau di ajak kompromi untuk tidur karena, film yang mereka tonton sangat menarik, dan bahkan membuat mereka baper dengan film-nya.


"Huuuuaahh, Sayang tidur yuk?" ajak Putra sambil menguap. Melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul satu dini hari.


"Bentar lagi Mas, filmnya lagi seru ih," balas Cici yang tidak mau melewatkan film yang sedang tayang. Terasa nangung jika tidak diselesaikan.


"Mas duluan ya Sayang, ngantuk banget nih," ujar Putra yang berdiri dari duduknya untuk menuju kamar mereka.


Cici tak mengubbris ucapan dari Putra melainkan ia terus menonton film itu. Tak terasa sekarang jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Film yang Cici tonton baru saja selesai.


Cici beranjak dari duduknya untuk memastikan TV. Setelah itu ia berjalan dengan sempoyongan menuju kamarnya untuk tidur karena, matanya sudah sangat berat dari setengah jam yang lalu. Tapi, cici tetap kekeh menahannya hingga film itu habis.


Sampai di kamar Cici langsung merebahkan tubuhnya di samping sang suami yang sudah tertidur pulas di atas ranjang.


"Udah kelar filmnya, Sayang?" tanya Putra yang tersadar saat Cici menaiki ranjang dan menghempaskan bobot tubuhnya di samping Putra.


"Udah Mas," balas Cici beberapa kali menguap.


***


Pagi hari


Sinar surya sudah menampakan wujudnya ke muka bumi. Kedua insan itu belum juga bangun dari tidurnya. Malah mereka tertidur seperti orang yang tidak tidur selama dua hari penuh. Kenapa tidak! Cahaya matahari sudah menyegat masuk ke dalam celah-celah ventilasi kamar mereka. Bahkan cahaya matahari saat ini sangat terang, dan tentunya terasa sangat panas bila mengenai kulit.


Tepat jam sembilan pagi, Putra terbangun dari alam sadarnya. Melihat ke arah luar jendela kamar yang sudah terlihat sangat terang dengan cahaya matahari.


Putra melirik ke arah Istrinya yang masih tertidur sangat pulas. Laki-laki itu ersenyum kala melihat wajah sang istri yang sangat damai saat tertidur. Bahkan wajah Cici terlihat sangat mengemaskan bagi Putra.


Putra membangunkan Cici dengan menggoyang-goyang kan tubuhnya. Tak butuh waktu lama, Cici pun terbangun dan langsung duduk berhadapan dengan Putra.


"Mas, kok akunya di bangunin sih?!" tanya Cici dengan nada kesal.


"Aihh, lihat noh jamnya Sayang," suruh Putra yang menunjuk jam yang tertera di dinding kamar.

__ADS_1


Cici melirik jam tersebut, dan betapa terkejutnya dia kala melihat jam yang sudah menunjukkan pukul sembilan lewat.


Cici bergegas turun dari ranjangnya menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sedangkan Putra hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah lucu sang istri.


Sepuluh menit berlalu Cici sudah selesai membersihkan badannya. Sekarang giliran Putra yang akan membersihkan badannya.


Kediaman Gilang


"Mas, ke rumah Cici yuk? Aku pengen bercerita banyak sama Cici, Mas," ajak Lili kepada suaminya yang sedang duduk sambil memainkan gawainya.


Sejak Lili menikah dengan Gilang, maka sejak itulah Lili tidak memanggil nama Gilang dengan sebutan Gilang tetapi, dengan sebutan Mas atau Sayang. Sebagai mana mestinya seorang istri harus menghormati suaminya. Baik itu suaminya kecil dari dirinya, sama besar atau lebih dari dirinya. Maka sudah kewajiban seorang istri menghargainya.


"Iya Sayang," balas Gilang dengan senyuman. Lagian tak mungkin Gilang menolak, apalagi sekarang istrinya tengah mengandung anaknya. Yang mana hormonnya naik-turun.


"Yeeeeeeii," sorak Lili kegirangan seperti anak kecil yang mendapatkan permen dari sang ayah.


Gilang hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah lucu sang istri. Gilang mendekat ke arah istrinya yang sedang duduk di depan meja rias sambil menyisir rambutnya sebelum pergi ke rumah Cici. Tak lupa ia mengenakan jilbab yang senada dengan baju yang ia kenakan.


"Sudah siap, Sayang?" tanya Gilang dan dibalas anggukan kecil oleh Lili.


Kini Gilang dan Lili sudah berada di perjalanan menuju ke rumah Cici. Hanya dalam waktu dua puluh menit mereka pun sampai di kediaman Cici.


Tok ... Tok ... Tok ...


Klek ...


"Assalamu'alaikum, Tante," sapa Gilang dan Lili bersamaan. Tak lupa mereka mencium punggung tangan Nini secara bergantian dengan takzim.


"Wa'alaikumsalam, Nak," jawab Nini lalu, mempersilahkan Gilang dan Lili untuk masuk ke dalam rumah.


Gilang dan Lili duduk di ruang tamu, di mana terdapat Farhan sedang duduk dan menonton berita di TV. Sedangkan Nini, ia pergi ke dapur untuk mengambilkan minuman serta cemilan untuk sang tamu.


Nini berjalan ke arah ruang tamu dengan membawakan empat gelas jus beserta cemilan ringan menggunakan nampan. Nini menghidangkan minuman tersebut.


Lili celingak-celinguk melihat keberadaan Cici tapi, ia tak juga menemukan Cici. Tidak mungkin juga Cici akan pergi jalan-jalan sekarang. Bahkan hari ini adalah hari libur pertama suaminya dari sekolah.


"Tan, Cici mana ya? Kok ngak kelihatan?" tanya Lili yang terus saja melihat ke arah tangga rumah itu berharap sahabatnya itu akan turun dari lantai dua.


"Cici pergi ke kampung asal Bundanya, Nak," balas Nini dengan senyuman.

__ADS_1


"Ohhh, emang ngapain Cici ke sana, Tante?" tanya Lili dengan raut wajah yang sedikit kecewa.


"Mereka hanya ingin berkunjung ke rumah Neneknya yang ada di Padang, Nak," jawab Nini sambil tersenyum manis. Memang itulah yang dikatakan Putra kepada dirinya kemaren sebelum berangkat. Tidak mungkin juga mereka akan ngomong pergi honeymoon ke-dua.


Lili hanya menganggukkan kepalanya petanda mengerti dengan penjelasan dari mertua Cici. Sudah satu jam, Gilang dan Lili berada di rumah Putra, akhirnya mereka pun pamit untuk pulang ke rumah mereka.


"Hmmmm Om, Tante, kita pulang dulu ya. Soalnya ini udah hampir jam dua, assalamu'alaikum," pamit Gilang kepada kedua orang tua Putra.


"Hmmz baiklah Nak, wa'alaikumsalam," balas Nini dan Farhan serentak.


Lili dan Gilang sudah keluar dari rumah Putra, dan sekarang sedang menuju ke arah mobilnya yang sedang terparkir dihalaman rumah itu.


Jalan menuju kediaman mereka sangat macet, dan hal tersebut membuat mereka berdua lama untuk sampai di rumah. Bahkan mereka jam tiga sore baru sampai di rumah akibat kemacetan yang lumayan panjang.


"Huhhhhh, capek banget rasanya hari ini. Padahal ngak ada kerja apapun," lirih Lili sambil duduk di atas sofa ruang tamu.


"Mungkin efek kamu lagi hamil Sayang," balas Gilang sambil mengelus perut lili yang masih kelihatan rata.


"Hmm hmm, Mas beliin aku mangga dong?" ucap Lili dengan manja sambil mengendus-endus bau tubuh suaminya yang sangat menenangkan bagi Lili.


"Aku capek, Sayang," balas Gilang dengan menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.


"Emang Mas mau apa, pas bayi kita lahir nanti trus dia ileran?" tanya Lili dengan raut wajah kecewa serta kesal kepada suaminya.


Huffffff "Ya ngak mau lah Sayang. Yaaudah aku beliin demi buah hati tercinta kita," jawab Gilang lalu, berdiri dari duduknya.


Dengan langkah gontai Gilang keluar dari dalam rumahnya menuju mobil yang terparkir di halaman rumahnya. Untuk membelikan buah mangga demi sangat istri dan juga calon bayi yang sedang berada di dalam perut sang istri.


Hanya dalam waktu sepuluh menit Gilang sudah sampai di rumah dengan membawa berbagai macam jenis buah-buahan.


"Nih buahnya, Sayang," ujar Gilang menyodorkan kresek yang buah-buahan kepada sang istri yang sedang duduk sambil memakan cemilan.


"Lah kok banyak amat sih Mas? Kan aku mintanya cuman buah mangga?" tanya Lili dengan mengernyitkan keningnya.


"Ya buat cadangan Sayang, mana tau kamu mau makan buah yang lain kan? Jadi, kan bisa kamu ambil saja di dalam kulkas," jelas Gilang sembari duduk di samping istrinya.


Lili hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Wanita itu berdiri dan berjalan menuju dapur untuk meletakkan semua buah-buahan tersebut ke dalam kulkas.


Lili berjalan kembali menuju ruang tamu dengan membawa satu buah mangga yang sudah ia cuci, dan juga satu pisau tajam untuk mengupas kulit mangga tersebut. Lili mengupas kulit mangga dengan sangat teliti karena, takutnya pisau itu akan melukai tanggan.

__ADS_1


Lili memakan buah mangga yang ia kupas, dan sesekali menyuapi sang suami yang duduk bersandar di sampingnya. Terasa segar serta manis.


TBC


__ADS_2