
BAB 14
Saat ini putrra sudah sampai di kediamannya. Memarkirkan mobilnya di garasi mobil, setelahnya langsung saja kaki panjang itu melangkah dengan cepat menuju dalam rumah dan ke kamar dirinya dan sang istri.
Sampai di dalam kamar laki-laki itu tidak mendapati sang istri di atas ranjang. Bahkan selimut yang tadi pagi menutupi tubuh istrinya sudah terlipat dengan rapi. Melirik setiap penjuru kamar yang nyatanya memang tidak ada keberadaan istrinya disana. Akhirnya Putra melangkahkan kakinya menuju balkom kamar berharap sang istri tengah duduk disana.
"Barrrr," Saat sampai didekat balkon, Putra melihat istrinya yang tengah menghadap ke arah langit yang tampak cerah. Lalu mengejutkan sang istri.
"Astagfirullah!" Cici langsung saja memegang dadanya sangking terkejutnya. "ihhh, Mas bikin aku jantungan saja, bisa-bisa karena ulah ini aku bisa mati." Cicin sangat kesal dengan kelakuan suaminya. Tanpa sadar kata-kata yang tak seharusnya meluncur mulus dari mulut mungil itu.
"Suuuutt, jangan ngomong gitu, emang kamu mau apa ninggalin Mas sendirian," ucap Putra dengan nada sedikit menunduk. Mensejajarkan kepalamu dengan leher sang istri. Mengendus wanginya tubuh istrinya yang sangat menyenangkan.
"Ngak lah Mas, lagian aku juga mau bahagia sampai tua dulu sama kamu, Mas," ujar Cici sambil menangkup ke-dua pipi Putra setelah dia menghadap sempurna ke arah suaminya.
"Oh ya, apa keadaan kamu sudah mulai membaik Sayang?" tanya Putra lalu duduk di samping Istrinya.
"Alhamdulillah Mas, sekarang udah. Aku juga sudah rindu mau sekolah. Yaa, walaupun liburnya cuman satu hari." Jujur Cici dan menyadarkan kepalanya ke dada bidang suaminya.
***
Pagi hari, Cici dan Putra sudah selesai bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Mereka menuruni anak tangga dengan bergandengan tangan menuju meja makan.
"Udah sehat Sayang?" tanya Nini sambil melirik ke arah Cici dan Putra.
"Alhamdulillah udah kok Ma," balas Cici dan duduk di samping Nini.
Tepat jam tujuh lewat, Putra dan Cici sudah berada di perjalanan menuju ke sekolah.
Lima belas menit berlalu, mereka pun sampai di sekolah. Seperti biasa Cici selalu melakukan retunitasnya yaitu mencium punggung tangan Suaminya lalu keluar dari dalam mobil.
Cici menelusuri lorong-lorong sekolah, hingga sampai di dalam kelasnya.
Kelas
Cici menghampiri Lili yang sedang duduk di kursi tempat biasa ia duduk.
"Good morning My Friend," ucap Cici dengan lembut. Langsung saja gadis itu mendudukkan tubuhnya di samping sahabatnya itu.
"Iya pagi," jawab Lili dengan jutek.
__ADS_1
"Ihh, kok jutek amat sih?" tanya Cici dengan bingung.
"Yaa, habisnya kamu kok ngak jujur sama aku sih?" ujar Lili dengan ambigu yang memang tak akan di mengerti Cici.
"Maksud kamu apaan Li? aku ngak ngerti." tanya Cici yang benar-benar ngak ngerti dengan arah pembicaraan Lili.
"Kamu ngak usah pura-pura ngak tau Ci, aku tau kok kamu pasti ngerti apa yang aku maksud," Kekeh Lili yang sangat yakin Cici tau kemana arah bicaranya.
"Serius loh Li, aku ngak ngerti apa yang kamu maksud," jawab Cici yang masih ngak ngerti dengan ucapan Lili. Sungguh dia bingung apa yang dimaksud Lili kepadanya. Jika saja tau maka dia tidak akan menanyakan hal itu balik.
Hufff, Lili menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu, menatap wajah Cici dengan serius.
"Kenapa kamu ngak cerita sama aku kalau kamu udah nikah sama Pak Putra?" tanya Lili yang langsung pada intinya.
Deg...
Ucapan Lili membuat Cici serasa di sambar petir di pagi hari, dan bahkan jantung Lili mulai berdetak sangat kencang. Takut, ya dia sangat takut sekarang ini. Bahkan dia tidak tau Lili mendapatkan informasi itu dari siapa.
"Mak... sud kamu apaan Li?" tanya Cici dengan wajah yang sudah memucat.
"Aku sudah tau semuanya kok Ci, jadi kamu ngak usah nutupinnya lagi dari aku," jelas Lili yang tetap menatap wajah Cici yang masih saja memucat.
"Ngak usah nunduk gitu, aku akan tetap jadi sahabat terbaik kamu Ci," ucap Lili yang seakan tau dengan perasaan Cici. "lagian nggak mungkin hanya gara-gara ini aku akan menjauh dari kamu," ujar Lili sekarang tau isi hati sahabatnya.
Cici langsung menegakkan kepalanya, dan memeluk erat sahabat tercintanya itu, dan di balas juga oleh Lili.
"Makasih ya Li, kamu memang sahabat aku yang selalu pengertian sama aku," kata Cici dalam pelukan sahabatnya. Lili hanya membalas dengan anggukan kecil. Tak lupa pula gadis itu memeluk tubuh sahabatnya tak kalah erat dari yang Cici lakukan.
***
Cici dan Lili keluar dari kelas dengan bersamaan seperti biasa. Cici langsung pergi ke mobil suaminya sedangkan Lili dipanggil seseorang yang membuat gadis itu terpisah dari Cici. Orang yang memanggil Lili membawa gadis itu kebelakang sekolah.
Sekarang Cici dan Putra sudah berada di dalam mobil mereka. Sebelum pulang mereka akan pergi ke Mall untuk membeli cemilan untuk di bawa pulang karena, stok cemilan di rumah sudah habis semua. Yaa, Cici memang suka ngemil, dan bahkan sekarang tubuhnya sudah mulai agak berisi dari sebelumya.
Belakang sekolah
Lili dan pria tersebut sedang berbincang-bincang di kursi belakang sekolah.
"Li, aku mau ngomong sesuatu sama kamu, tapi aku takut kamu akan menolaknya," ujar pria tersebut sambil berjongkok di depan Lili.
__ADS_1
"Emang kamu mau ngomong apa Lang? lagian ngapain kamu jongkok-jongkok segala di depan aku?" tanya Lili yang tampak bingun dengan apa yang dilakukan laki-laki itu. Laki-laki itu memiliki nama Gilang.
"Sebe... narnya aku cinta sama kamu Li. Kamu mau kan jadi kekasih aku?" tanya Gilang dengan nada sedikit gugup. Pasalnya baru sekali ini ia mengatakan perasaannya sama seorang wanita.
Deg..
Mendengar penuturan dari Gilang membuat Lili tak berkedip sedikitpun dari Gilang, meskipun jantunganya sudah berdetak dengan kencang. Tak seperti tadi lagi yang masih aman tentram.
Lili memang juga mencintai Gilang, tapi ia juga bimbang mau menjawab pertanyaan dari Gilang. Lili selama ini juga belum pernah pacaran, dan bahkan baru sekali ini ada laki-laki yang mengajak dirinya untuk menjalin hubungan asmara.
"Hmmm, maaf ya Lang, aku ngak bisa," jawab Lili dengan serius.
"Tapi ke--kenapa?" Yakinlah saat ini Gilang sungguh kecewa dengan jawaban yang baru saja diberikan Lili. Sungguh serasa ada yang memberikan luka di ulu hatinya. Sangat sakit.
"Ngak bisa nolak maksdunya Lang, hehehe," jawab Lili akhirnya dengan terkekeh. Dia tidak menyangka dengan reaksi Gilang saat ini. Bahkan jika saja itu beneran terjadi ntah bagaiamana reaksi laki-laki itu.
"Be-beneran Li," tanya Gilang dengan antusias. Bahkan dia sangat senang dengan jawaban gadis itu. Sebelumnya dia sempat kecewa, namun jawaban akhirnya nyatanya membuat pemuda itu mengembangkan senyum manisnya.
Gilang langsung berdiri lalu duduk di samping Lili dengan sangat bahagia. Siapa yang tidak bahagia cobak, cinta yang ia rasakan tidak bertepuk sebelah tangan.
Sekitar dua puluh menit mereka berada di belakang sekolah, akhirnya Gilang mengajak Lili untuk pulang. Sebelum pulang Lili di ajak oleh Gilang ke Mall untuk membeli berbagai macam coklat. Padahal baru pacaran udah ngajak beli coklat gimana untuk selanjutnya ya?
***
Mall
Sampai di mall Gilang dan Lili langsung masuk dan pergi ke tempat di mana tertata berbagai macam jenis coklat yang sangat lezat.
Saat sedang memilih coklat, Gilang mengambil sebuah coklat yang terlihat sangat enak, dan bersamaan dengan itu tangan seorang wanita juga meraih di coklat tersebut.
Gilang langsung mendonggakkan kepalanya, dan terlihatlah Cici dengan seorang guru di sampingnya yang tak lain adalah Putra.
"Ehhh kamu Ci? kamu sama siapa kesini?" tanya Gilang yang mulai basa-basi terhadap Cici sahabat dari Lili.
"Sama Ma... ehh, maksudnya sama Pak Putra, kalau kamu sama siapa?" tanya Cici yang hampir keceplosan.
Lili yang mendengar suara Cici dari rak sebelah langsung menghampiri mereka semua.
"Oh, kamu kesini bareng Lili ya?" tanya Putra yang sok Kerr dengan muridnya tersebut. Dan di balas anggukan oleh sang murid.
__ADS_1
Bersambung...