
BAB 39
Cici beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi, untuk membersihkan dirinya. Begitupun dengan Putra. Tak butuh waktu berjam-jam mereka pun sudah selesai mandi, dan juga memakai baju keseharian mereka.
Cici menyiapkan sarapan pagi untuknya, dan untuk suami tercinta. Hidangan pagi ini hanya nasi goreng dengan telur ceplok, karena sarapan pagi ini lah yang paling mudah untuk di buat.
Cici dan Putra makan sepiring berdua, ini adalah permintaan dari Putra biar bisa romantis-romantisan bersama sang istri. Semenjak kehadiran anak kembar mereka, mereka tidak pernah makan sepiring berdua. Bahkan untuk melakukan hal romantis saja sangat jarang.
Kediaman Miko
"ma, Paa celalang lita elgi lalan-lalan luk?" (Oma, Opa sekarang kita pergi jalan-jalan yuk?)ajak Karim kepada Miko dan Mila.
"Emang Aim maunya kemana?" tanya Miko yang berjongkok di hadapan sang cucu.
"elcelah Pa cala," (Terserah Opa saja) jawab Karim sambil memegang pipi Miko dengan kedua tangan mungilnya.
"Ya sudah, gimana kalau kita pergi ke kebun binatang?" tawar Miko sambil tersenyum manis ke arah cucunya.
"Ila O--"
"Ila Pa, lami letulu," (Iya Opa, kamu setuju)jawab Hamid dan Lathifah serentak, dan memotong ucapan Karim.
*
Kini mereka sedang di perjalanan menuju kebun binatang yang tak jauh dari rumah mereka. Hanya butuh waktu satu jam mereka pun sampai di tempat wisata tersebut.
Miko membeli tiket untuk masuk ke dalam lokasi kebun binatang. Lima tiket sudah berada di tangan Miko, sekarang mereka hanya memberikan kepada petugas yang menjaga pintu masuk kebun binatang. Tiket tersebut di sobek bagian depannya lalu, di berikan lagi kepada sang pemilik. Jika tak di sobek bisa jadi orang yang mendapatkan tiket tersebut bisa masuk tanpa harus membayar.
"Ma ilu maya ala?"(Oma iu namanya apa?)tanya Lathifah sambil melihat binatang yang memiliki leher panjang.
"Itu namanya jerapah Sayang," jawab Mila sambil menoel hidung mungil Lathifah. Sangat gemas mendengar suara lucu cucunya.
"Ooo jelapah," ujar Lathifah mengulang ucapan Mila.
Sudah setengah jam mereka berada di lokasi kebun binatang. Banyak binatang-binatang yang sudah mereka ketahui dari Oma maupun Opa mereka. Baik itu kura-kura, angsa, gajah, dan masih banyak lagi.
"Pa, Am mau eli men tu?" (Opa, am mau beli permen itu) tunjuk Hamid kepada seorang anak kecil yang memakan permen lolipop.
Miko menuruti ucapan sang cucu, dan ia menyuruh ketiga cucunya untuk menunggu di kursi yang sudah tersedia di area kebun binatang bersama Mila.
Miko membeli tiga permen lolipop yang sama. Miko memberikan permen tersebut kepada ketiga cucunya.
Mereka tampak sangat senang bisa pergi jalan-jalan bersama Miko dan Mila. Raut ceria itu terpampang di wajah mungil mereka.
Kediaman Putra
Putra dan Cici sedang bersantai di balkon kamar sambil meminum secangkir teh hangat. Udara pagi ini sangat lah sejuk, dan dapat menambah sensasi ke romantisan bagi mereka.
Angin sepoi-sepoi dengan setianya menerpa wajah kedua insan yang tengah menikmati pagi mereka. Terdapat raut kebahagiaan di wajah insan itu. Ntah itu karena tidak ada yang menganggu atau karena hal semalam, hanya mereka lah yang tau.
"Mas, nanti jam sebelas ke rumah Lili yuk?" ajak Cici sambil membelai rambut Suaminya. Yang tepat berada di pangkuannya.
"Ok Sayang," balas Putra menampilkan senyumannya.
*
Putra dan Cici sedang di perjalanan menuju kediaman Gilang. Mereka serasa sebagai seorang pengantin baru. Kenapa tidak! Hanya mereka berdua yang ada di dalam mobil yang biasanya selalu berlima di dalam mobil kesayangan Putra.
Tak butuh waktu lama, mereka pun sudah sampai di kediaman Gilang. Putra memarkirkan mobilnya di halaman depan rumah Gilang.
Tok ... Tok ... Tok ...
Klek ...
Pintu rumah nan megah itu terbuka dan keluarlah seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah pembantu di rumah Lili.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Bik," sapa Cici dan Putra berbarengan.
"Wa'alaikumsalam, Den, Non," jawab pembantu Gilang, dan mempersilahkan Cici dan Putra untuk masuk.
Putra dan Cici duduk di ruang tamu, sedangkan Bibik memanggil tuan rumah serta membuatkan air buat sang tamu.
Lima menit mereka duduk di ruang tamu, akhirnya tuan rumah beserta istri dan anaknya datang. Duduk di depan Cici dan Putra.
"Maaf Pak, lama nunggu," ujar Gilang yang hanya di balas anggukan kecil oleh Putra.
"Ehh Ci, si kembar mana?" tanya Lili yang terlihat bingung. Biasanya mereka selalu bawa anak kembar mereka saat ke rumah Gilang.
"Lagi nginap di rumah Bunda, Li," jawab Cici dengan senyuman.
Bibik datang dengan membawakan empat gelas jus beserta cemilan ringan di atas nampan tersebut.
"Silahkan minum Den, Non," suruh Bibik dengan senyuman dan berlalu dari hadapan mereka semua.
Putra dan Gilang menyeruput jus mangga tersebut, sedangkan Cici dan Lili sedang asik bercerita ria sambil sesekali tertawa yang membuat perut mereka terasa sakit. Gilang dan Putra hanya menyaksikan film yang lagi tayang di samping mereka masing-masing. Tanpa adanya kabel yang akan menghubungkan siaran ini. Ya, TV mereka adalah Cici dan Lili.
Putra mengerutkan keningnya mendengar perbincangan istri dan sahabatnya. Mereka tampak sangat bahagia seperti seseorang yang tidak ketemu selama satu tahun.
Kediaman Miko
Miko, Mila beserta ketiga cucu mereka baru sampai di rumah. Tiga jam lebih mereka menghabiskan waktu bersenang-senang bersama dengan cucu kesayangan mereka.
Lelah? Tentu saja mereka sangat lelah. Meskipun sudah berdua mereka mengasuh ketiga cucunya tetap saja rasa lelah itu datang. Ketiga cucu mereka sangatlah aktif. Membuat Mila dan Miko sedikit kerepotan. Apalagi Latifah, ia merupakan seorang gadis kecil yang sangat cerewet, dan gampang merajuk saat keinginannya tidak di penuhi.
Ya keinginannya bukanlah tentang belanjaan, beli ini itu, tapi hanya ingin bermanja-manja dengan sang Oma dan juga Opa.
"Pa lek la?" (Opa capek ya?)tanya Karim yang melihat wajah lesu sang opa. Meskipun ia masih kecil tapi ia juga bisa melihat rasa lelah yang menghampiri Opanya.
"Hehehe, ngk kok Aim," jawab Miko sambil tersenyum.
"Ma ... Ma Ifa lapal," (Oma ... Oma Ifa lapar)ujar Lathifah yang merasa sangat lapar.
Di tangan Mila sudah terdapat satu piring nasi beserta satu gelas air minum. Mila menyuapi cucu kecilnya dengan sangat telaten.
Karim dan Hamid yang melihat itu semua, juga ikut bergabung makan dengan sang kembaran. Mereka memang suka makan sepiring bertiga, Lathifah tidak pernah keberatan dengan itu semua, begitupun dengan Karim dan Hamid.
Tak terasa nasi yang berada di piring sudah habis. Mereka tertawa bersamaan saat Karim masih membuka mulutnya untuk di suapai.
"Aim masih lapar?" tanya Opa yang sedang duduk di sofa.
"Ehehehe, sah bis ya Ma? Aim lain cih ala tuk Aim," (Heheheh, sudah habis ya Oma? Aim kirain masih ada untuk Aim?)ujar Karim cengengesan, dan merasa sedikit malu.
"Hahahah, lek ucu caja, jum lita peli ain bil-bilan di kamal?" (Hahah, adek lucu saja, jum kita pergi main mobil-mobilan di kamar)tawa Hamid dengan keras, dan mengajak kembarannya bermain mobil-mobilan di dalam kamar.
Lathifah bermain dengan sang Opa di ruang tamu. Cucunya yang satu ini memang sangat mengemaskan, bahkan ia tak mau tidur meski sudah larut malam saat bermain dengan Opa kesayangannya.
"Aduh Ifa, Opa capek?" Keluh Miko sambil menutup matanya.
"Paa pek? Cini Ifa pilitin ngan Pa?" (Opa capek? Sini Ifa pijitin tangan Opa) kata Lathifah yang meraih tangan Miko dengan kedua tangan mungilnya.
Lathifah mulai memijit tangan Miko menggunakan kedua tangan mungilnya. Meskipun tidak begitu terasa pijitannya, tapi rasa lelah itu seketika menghilang. Rasa lelah yang amat sangat ia rasakan dari tadi siang kini sudah berangsur menghilang.
Sebuah senyuman terukir di wajah Miko. Senyuman yang penuh dengan arti yang siapapun tidak semua orang bisa mengerti dengan senyuman tersebut.
"Pa, Ifa pek! ngan Pa ngat becal, adi cucah Ifa miliya?"(Opa, Ifa capek! Tangan Opa sangat besar, jadi susah Ifa mijitnya)lirih Lathifah yang sudah mulai mengeluh.
"Opa sudah baikan kok Sayang," balas Miko dan mencium Pipi gembul sang cucu.
Kediaman Gilang
Sudah lima jam lebih Cici maupun Putra berada di rumah Gilang. Sekarang mereka sedang berada di dalam mobil setelah beberapa saat yang lalu berpamitan kepada sang empunya rumah.
__ADS_1
Perjalanan sore ini sangatlah macet, banyak mobil beserta kendaraan beroda dua yang membunyikan klaksonnya berulang kali yang dapat memekakkan telinga.
Putra merasa kesal dengan seseorang di samping mobilnya yang terus-terusan membunyikan klakson motornya.
Putra membuka jendela mobilnya, "Mas jangan brisik terus dong? Lagian masih banyak mobil di depan!" ujar Putra dengan menekan setiap kata-katanya.
"Heh Mas, suka-suka gue dong, emang bapak lu yang punya ni jalan?" ujar orang tersebut yang tidak mau di nasehati.
"Yaudah terserah kamu saja! Saya juga ngingetin kamu doang," balas Putra dan kembali menutup jendela mobilnya.
*
Selama tiga jam perjalanan menuju kediaman mereka. Perjalanan sore ini sangat macet, bahkan kendaraan roda dua saja tidak bisa melewati celah-celah mobil.
Putra maupun Cici langsung menuju kamar mereka untuk membersihkan tubuh yang sudah sangat lengket dengan keringat yang sudah menjalar di seluruh tubuh mereka.
*
Sudah satu minggu si kembar berada di rumah sang oma, sekarang mereka akan kembali ke rumah Putra dan Cici. Mereka akan diantar oleh Miko dan juga Mila.
"Bula ... Bula ... Bula ...,"(Bunda ... Bunda ... Bunda ...,)panggil Lathifah dengan suara keras.
"Alah ... Alah ... Alah ...," (Ayah ... Ayah ... Ayah ...,)panggil Hamid dan Karim serentak.
"Iya Sayang, tunggu sebentar," jawab Putra dari dalam kamar.
Miko, Mila dan juga ketiga cucu mereka sudah duduk di ruang tamu sambil menunggu anak dan menantu mereka.
Putra dan Cici berjalan beriringan menuruni anak-anak tangga.
"Alah, Bula, Ifa lindu cama lian?" (Ayah, Bunda Ifa rindu sama kalian)ucap Lathifah yang yang langsung menghampiri Putra dan Cici, dan langsung memeluk keduanya.
"Ayah dan Bunda juga rindu sama Ifa," balas Putra dan mencium pipi gembul gadis kecilnya dan diikuti oleh Cici.
"Alah, Bula cini luluk cama Am," (Ayah, Bunda sini duduk sama Am)suruh Hamid yang menepuk-nepuk tempat duduk di sebelahnya.
Dengan senang hati mereka menuruti keinginan jagoan kecil yang imut dan mengemaskan itu.
"Aim ngak rindu sama Ayah?" tanya Putra yang melihat raut wajah putranya sedikit sedih.
"Aim lak lindu cama Alah, huaaa huaaa huaaa, tapi--" (Aim tidak rindu sama Ayah, huaa huaaa, tapi--")
"Tapi apa Sayang? Beneran Aim ngak rindu sama Ayah? Ntar Ayah nangis gimana?" tanya Putra yang melihat jagoannya menagis dengan suara keras.
"Pi Alah lahat cama Aim," (Tapi Atah jahat sama Aim)ujar Karim yang tetap menagis.
"Emang salah Ayah sama Aim apa?" tanya Putra yang sedikit kebingungan, karena perasaan ia tidak pernah berbuat salah kepada putri kecil dan juga kedua jagoannya.
"Hehehe, lak ala ok Alah, Aim becala," (Hehej, nggak ada kok Ayah, aim bercanda)jawab Karim sambil cengegesan tapi air matanya sudah memenuhi pelupuk mata nan indah itu.
Hufff, Putra menghela nafasnya dengan kasar. Putranya yang satu ini sudah bisa berbohong.
"Siapa yang ngajarin Aim untuk berbohong?" tanya Putra dengan lembut.
"Alah," (Ayah)jawabnya dengan polos.
Cici yang mendengar penuturan putranya langsung menatap tajam ke arah Putra. Hal ini juga di lakukan oleh kedua mertua Putra.
"Emang kapan Ayah ngajarin Aim berbohong?" tanya Putra yang mengabaikan tatapan tajam dari istri dan kedua mertuanya.
"Watu Alah lang cama Aim nggu ang lu. Alah lang cama Aim lagan lang cama tatak lau Bula cama Alah gak ala di lalam kamal dahal Alah cama Bula gi di lalam kamal," (Waktu Ayah bilang sama Aim minggu yang lalu. Ayah bilang sama Aim jangan bilang sama Kakak kalau Bunda sama Ayah nggak ada di dalam kamar. Padahal Ayah sama Bunda lagi di dalam kamar)jawab Karim dengan polosnya, dan itu membuat Putra tersipu malu dengan ucapan jagoan kecilnya.
"Hehehe, setelah ini jangan di ulangi lagi ya Sayang" kata Putra yang mencubit gemas hidung Karim, dan di balas anggukan oleh Karim.
Rumah nan bak istana ini sudah dihiasi oleh suara bising ketiga buah hati Cici. Rasa rindu yang mereka tahan selama seminggu ini sudah terlepas 'kan.
__ADS_1
Malam ini Mila dan Miko menginap di rumah sang menantu. Mereka memang sering menginap di rumah Putra, karena jika di rumah mereka tidak ada suara anak kecil yang menghiasi malam-malam mereka.
TBC