
BAB 30
Rumah Nenek
Sekarang jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Sepasangs kami istri itu belum tidur juga. Mereka tengah berbaring di atas ranjang sambil melempar senyum satu sama lain.
Tidak ada yang angkat bicara di antara mereka, hanya dentingan jarum jam yang terdengar keras. Mereka melempar senyuman yang penuh arti. Sesaat kemudian Putra angkat bicara.
"Sayang," panggil Putra dengan suara lembut kepada sang istri yang terus menatap wajah tampannya.
"Iya Mas, ada apa?" tanya Cici yang tak kalah lembutnya.
"Aku boleh nanya sesuatu ngak Sayang?" tanya Putra dengan menatap wajah cantik istrinya.
"Iya Mas, boleh," jawab Cici yang terus memperhatikan wajah tampan Suaminya. Tak lupa senyum manis menghiasi wajah cantiknya.
"Kapan kita akan melakukan kewajiban sebagai suami istri, Sayang?" tanya putra. Yakinlah jika saat ini dia tengah menahan gejolak dalam dirinya. Selama ini laki-laki itu sudah memhannya mati-matian.
Cici yang tadinya memperhatikan wajah tampan suaminya sambil berbaring, kini beralih untuk duduk dan diikuti oleh Putra. Mereka duduk saling berhadapan satu sama lain.
"Yaudah Mas, In sya Allah sekarang aku siap," jawab Cici sambil tersenyum manis ke arah sang suami. Dia paham, jika selama ini suaminya menahan gejolak dalam dirinya. Bayangkan saja, waktu satu tahun itu tidaklah sebentar. Bahkan sangatlah panjang jika dihitung, detik, menit bahkan jamnya.
"Benaran Sayang?" tanya Putra dehgan masa antusias. Akhirnya apa yang selama ini dia inginkan akan tercapai sebentar lagi. Ahhh, rasanya Putra sudah tidak sabar akan hal itu.
Cici mengangguk. "Iya Mas," jawabnya dengan tersenyum. Cici sadar jika selama ini dia telah berdosa. Seharusnya dia memberikan hal itu kepada suaminya semenjak pertama mereka menikah. Namun lantaran masih sekolah hal itu tidak dilakukan. Takut dirinya akan hamil.
"Maaf ya Mas. Jika selama ini aku sudah berdosa sama kamu. Bahkan apa yang menjadi hak kamu belum aku berikan sampai saat ini," Cici menunduk merasa bersalah pada suaminya.
"Tidak apa-apa Sayang. Lagian selama ini kamu masih sekolah. Dan mas nggak akan ingin melakukan itu saat kamu masih sekolah. Jika Allah menitipkannya dengan cepat maka, kamu bisa saja di DO dari sekolah. Tidak usah lagi kamu pikirkan yang sudah berlalu itu Sayang. Yang terpenting untuk kini dan kedepannya tidak ada lagi yang akan menganggu," Putra berkata dengan lembut kepada istrinya. Dia sadar jika istrinya saat ini tengah sedih.
"Terimakasih ya Mas,"
"sama-sama, Sayang," balas Putra dengan senyuman.
Selanjutnya Putra menggeser tubuhnya ke dekat Cici. Mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri. Mencium lembut seluruh wajah sang istri tanpa terkecuali. Selanjutnya..... (Bayangin sendiri ya Mak)
Pagi hari sekitar jam enam pagi, kedua insan ini sudah terbangun dari alam mimpi. Mendengar suara kicauan burung yang sangat ramai. Di sekeliling rumah Nenek terdapat banyak pohon-pohon yang rindang, dan karena itu di sana banyak tedapat rumah dari burung-burung tersebut.
Cici mengucek-ngucek kedua netranya menggunakan punggung tangannya. Sedangkan Putra terus saja memperhatikan tingkah Istrinya yang sangat lucu dan mengemaskan.
"Sayang, makasih ya soal semalam," ucap Putra di saat Cici masih mengucek netranya. Tak lupa laki-laki itu memberikan senyum manis kepada sang istri.
__ADS_1
Seketika Cici langsung menghentikan aktifitasnya. Menatap wajah tampan Suaminya. "Iya Mas sama-sama, itu sudah kewajiban aku Mas," jawab Cici sambil tersenyum.
\*\*\*
Hari ini adalah hari terakhir Putra dan Cici berada di rumah Nenek, dan besok mereka akan kembali lagi ke rumah mereka yang berada di kota.
"Mas jalan-jalan yuk? Mumpung hari terahir kita disini Mas," ajak Cici yang langsung mendapat anggukan dari sang suami.
Cici dan Putra pergi ke pantai yang terletak di kota Padang tepatnya yaitu pantai "aia manih" tempat dimana terdapat sebuah cerita sejarah yang berjudul Malin Kundang. Malin Kundang merupakan seorang anak yang durhaka kepada ibunya. Bahkan dia tidak mau mengakui orang yang bertaruh nyawa untuk melahirkannya ke dunia sebagai ibunya. Lantaran dia sangat miskin.
Hanya dalam waktu setengah jam mereka sudah sampai di pantai. Mereka berjalan menuju bibir pantai. Cici merentangkan kedua tangannya untuk menikmati hembusan angin yang terasa sangat sejuk. Cuaca hari ini sangat mendukung untuk mereka berdua. Kenapa tidak! Sinar matahari tidak terlalu menyegat, dan ditambah lagi dengan hembusan angin yang sangat menyejukkan.
Sudah dua jam lebih mereka berada di pantai, dan sekarang mereka akan menuju ke transmart untuk membeli oleh-oleh untuk mereka bawa pulang besok pagi. Penerbangan mereka akan berangkat jam sembilan pagi.
Perjalanan menuju transmart tidak terlalu jauh dan tidak memakan waktu. Mereka pergi hanya menggunakan angkot. Maklum di rumah nenek tidak terdapat mobil pribadi dan juga tidak terdapat motor yang bisa mereka bawa kemana-mana jadi, mereka hanya bisa pergi menggunakan angkutan umum.
Tiga puluh menit sudah berlalu, Cici dan Putra kembali pulang ke rumah mereka untuk beristirahat dan mengemaskan semua barang-barang yang akan mereka bawa besok.
\*\*\*
Semua barang-barang mereka sudah tersusun rapi di samping lemari, dan besok mereka hanya membawanya saja tanpa harus mengemasi barang-barang tersebut terlebih dahulu.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Mereka memutuskan untuk tidur agar besok pagi tidak telat untuk bangun seperti hari-hari sebelumnya.
Jam terus saja berputar, tanpa terasa sekarang jam sudah menunjukkan pukul enam pagi. Kedua insan itu terbangun secara bersamaan. Putra turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya. Sedangkan Cici pergi menuju lemari untuk mengambil baju ganti Putra maupun miliknya. Mereka menyisihkan satu stel baju untuk mereka pakai sebelum kembali ke kota. Tidak mungkin juga mereka akan memakai baju tidur mereka untuk pulang, bisa-bisa mereka akan di tertawakan oleh semua orang yang ada di bandara nantinya. Bahkan juga dengan keluarga mereka nantinya di rumah.
__ADS_1
Dalam waktu lebih kurang sepuluh menit, Putra sudah selesai membersihkan badannya dan ia keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk sepinggang. Sekarang giliran Cici yang membersihkan tubuhnya, dan tak butuh waktu lama Cici pun selesai mandi.
Setelah semua yang mereka lakukan selesai, mereka pun turun ke lantai dua, dengan menenteng semua barang-barang mereka.
Cici dan Putra meletakkan barang-barang mereka di sudut dinding rumah nenek sambil menunggu travel yang mereka naiki beberapa hari yang lalu.
Sambil menunggu, mereka memilih untuk menghidupkan TV untuk menonton film yang biasa mereka tonton.
20
My\_Teacher\_Is\_My\_Husband
\#Part\_51
Sekarang semua barang-barang mereka sudah tersusun rapi di samping lemari, dan besok mereka hanya membawanya saja tanpa harus mengemasi barang-barang tersebut terlebih dahulu.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Mereka memutuskan untuk tidur agar besok pagi tidak telat untuk bangun seperti hari-hari sebelumnya.
Jam terus saja berputar, tanpa terasa sekarang jam sudah menunjukkan pukul enam pagi, Kedua insan ini terbangun secara bersamaan. Putra turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya, sedangkan Cici pergi menuju lemari untuk mengambil baju ganti Putra maupun miliknya. Mereka menyisihkan satu stel baju untuk mereka pakai sebelum kembali ke kota, dan ngak mungkin juga mereka akan memakai baju tidur mereka untuk pulang, bisa-bisa mereka akan di tertawakan oleh semua orang yang ada di bandara nantinya, dan bahkan juga dengan keluarga mereka nantinya di rumah.
Dalam waktu lebih kurang sepuluh menit, putra sudah selesai membersihkan badannya dan ia keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk sepinggang. Sekarang giliran Cici yang membersihkan tubuhnya, dan tak butuh waktu lama Cici pun selesai mandi.
Setelah semua yang mereka lakukan selesai, mereka pun turun dari kamar dengan menenteng semua barang-barang mereka menuju lantai bawah.
Cici dan putra meletakkan barang-barang mereka di sudut dinding rumah nenek sambil menunggu travel yang mereka naiki beberapa hari yang lalu.
Sambil menunggu, mereka memilih untuk menghidupkan TV, sambil menunggu travel sampai di rumah.
__ADS_1
TBC