
BAB 48
Ending
Sekitar lima jam mereka di sana, bahkan sungai tersebut sudah ditelusuri hingga ujung tapi, hasilnya nihil. Mereka tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Hamid maupun Aulia.
Pencarian itu berhenti beberapa jam, dan akan di lanjutkan nanti pukul satu siang. Keluarga Putra maupun keluarga Gilang kembali ke rumah mereka dan akan kembali nanti siang ke tempat kejadian.
Air mata Cici terus saja keluar dari pelupuk mata indahnya. Ia tak menyangka akan kehilangan putri kecil beserta putra sulungnya secepat ini.
Sepanjang jalan menuju mobil mereka yang terparkir, Cici tak juga berhenti dari tangisnya. Lathifah dan Karim yang melihat keadaan itu semakin di buat bersalah atas apa yang menimpa kembaran beserta gadis kecil mereka.
"Bunda, jangan nangis lagi yah? ifa ngak kuat liat Bunda nangis terus," ujar Lathifah yang juga ikut menitikkan air matanya.
Cici menghapus air mata yang membasahi ke-dua pipi mulus sang putri. "Hmm, iya Sayang, bunda ngak akan nangis lagi kok," Senyum Cici yang menghapus air mata yang sempat membasahi pipinya.
Mereka semua masuk ke dalam mobil, dan putra mengendarai mobil dengan fikiran yang tetap tertuju pada ke-dua buah hatinya. Ada rasa bersalah yang juga dirasakan Putra kepada buah hatinya. Ntah lah, rasa itu hanya Putra lah yang tau.
Mobil yang di kendarai Putra memecah jalanan yang luas yang terdapat banyak mobil serta kendaraan roda dua yang ikut berlalu lalang di samping mobil Putra.
Mereka tidak jadi pulang ke rumah, karena jika pulang, maka mereka tidak akan sampai tepat waktu ke tempat lokasi. Mereka lebih memilih ke tempat yang tak jauh dari lokasi tersebut.
Sekarang jam di pergelangan tangan Putra sudah menunjukkan pukul setengah satu siang, mereka semua kembali masuk ke dalam mobil, dan kembali ke tempat kejadian.
Sampai di sana sudah terdapat polisi yang baru saja naik dari bawah sungai menuju jalan raya.
"Pak, gimana dengan anak kami? Apa mereka sudah ditemukan?" tanya Putra dengan raut wajah yang sangat sedih.
"Maaf, Pak, berkemungkinan anak Bapak sudah ditemukan oleh warga setempat atau mungkin anak Bapak hanyut sangat jauh dari sungai ini, karena di bagian akhir sungai ini terdapat dua arah aliran sungai yang sama besarnya, dan kami sudah berusaha untuk mencari buah hati Bapak sampai ke ujung sungai tersebut," jelas polisi itu dengan raut wajah meyakinkan.
"Tidak Pak, anak saya pasti bisa ditemukan!" kekeh Cici dengan suara keras dan menekan setiap ucapannya.
"Maaf Buk, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi kami tidak menemukannya," jelas polisi yang lainnya dengan raut wajah yang juga terlihat sedih.
"Mas, ini ngak bener 'kan, Mas?" ujar Cici sambil memeluk erat Suaminya dengan deraian air mata.
Putra mengelus punggung Cici dengan halus. Ia tidak mau memperlihatkan rasa sedihnya kepada sang istri. Meskipun di mata Putra tidak menangis, tapi ketahuilah di hatinya ia sangat menagis dan terpukul dengan semua ini.
"Yaudah Sayang, kita pulang sekarang yah?" ajak Putra dengan halus.
"Ngak Mas! Aku yakin Aulia sama Hamid masih hidup!" ujar Cici dengan tangisan yang tetap menemaninya saat ini.
"Sayang, jangan nangis terus ya? Lebih baik kita pulang dan berdo'a pada sang Kuasa," ajak Putra yang berusaha memapah sang istri masuk ke dalam mobilnya.
Seluruh polisi yang ada di sana pun juga sudah berangsur pulang. Pencarian tersebut tidak dilanjutkan lagi, karena sungai tersebut sudah mereka telusuri. Dan jika mereka akan menelusuri sungai pada bagian bawahnya pasti tetap saja tidak akan di temukan. Aliran paling bawah sangat lah panjang bahkan bagian itu akan sampai ke daerah lain.
Dalam waktu tiga jam lebih, Putra beserta keluarganya sudah sampai di kediaman mereka. Rasa sedih itu tetap saja berada di wajah cantik Cici, maupun yang lainnya.
Jika boleh dihitung tidak hanya ini saja ujian yang mereka alami. Mulai dari Cici hamil anak pertama sampai melahirkan Aulia, sudah banyak penderitaan yang mereka alami.
Tapi ketahuilah bahwa rencana sang Kuasa itu lebih indah. Kita hanya sebagai umat-Nya hanya bisa menerima dengan ikhlas. Dan apa bila kita ikhlas yakinlah Allah masih punya rencana terindah untuk kita.
Satu minggu sudah berlalu. Keluarga Putra juga sudah meminta tolong kepada pihak kepolisian untuk mencari ulang keberadaan buah hati mereka. Tapi hasilnya tetap sama. Mereka tidak menemukan jejak Aulia maupun Hamid.
Mereka semua hanya bisa berdo'a setiap sujudnya kepada sang Illahi. Tak henti-hentinya keluarga yang dulunya harmonis meminta kepada sang Kuasa agar anak mereka selamat dari kecelakaan tersebut.
Setiap sarapan pagi, hidangan yang ada di atas meja tidak disentuh sedikit pun oleh mereka semua. Rasa kehilangan itu membuat keluarga harmonis ini menjadi tidak lengkap lagi, karena tidak adanya dua orang buah hati mereka.
Putri kecil yang selalu menganggu momen-momen romantis mereka, sekarang sudah tidak ada lagi. Mungkin tidak akan pernah ada lagi sampai kapanpun. Itulah yang dipikir oleh Putra maupun Cici saat ini. Padahal siapa yang tahu dengan takdir Allah.
__ADS_1
Sekarang waktu semakin cepat berlalu, dan tak terasa sudah dua minggu lebih keberadaan Hamid dan Aulia tidak diketahui. Rasa putus asa keluarga Putra untuk mencari keberadaan buah hati mereka sudah berakhir. Bahkan mereka menyangka bahwa kedua anak mereka itu sudah pergi ke rumah mereka yang sesungguhnya.
Sepasang suami istri yang sudah sangat tua sedang memperhatikan wajah sepasang anak yang sedang terbujur di dalam gubuk mereka. Mereka tidak tau harus dibawa kemana kedua anak ini. Dibawa ke rumah sakit? Uang untuk membayar pengobatan anak itu mereka tidak punya sedikit pun. Jangankan itu, untuk makan sehari-hari saja mereka tidak punya. Kadang mereka makan dalam sehari satu atau dua kali saja. Begitulah hidup yang mereka jalani dengan ikhlas.
Mendapatkan sesuap nasi saja mereka sudah sangat bersyukur atas nikmat Tuhan. Jika pun mereka mencari kerja tidak akan ada orang yang mau menerima mereka. Karena kondisi mereka yang sudah sangat tua.
Mereka sudah menikah berpuluh-puluh tahun, tapi Allah tidak memberikan mereka amanah. Yang membuat raut wajah ke-dua pasangan ini bahagia adalah saat mereka menemukan ke-dua anak ini yang sedang terbujur di tepi sungai saat mereka sedang mencari makanan di sana. Karena di tepi sungai tersebut mereka mendapatkan makanan baik itu berupa sisa-sisa makanan orang lain ataupun buah-buahan yang berjatuhan dari pohonnya.
Setiap hari pasangan ini selalu pergi ke sungai untuk menanti makanan yang dihanyutkan oleh orang-orang. Bahkan mereka rela berada di sungai itu hingga tengah malam.
"Pak, kenapa mereka belum sadar juga ya?" tanya istri dari Bapak tersebut.
"Entah lah Buk, bapak ngak tau juga kapan mereka akan sadar," jawab bapak itu dengan wajah terus menatap sepasang anak yang terbujur itu.
Detik berikutnya seorang gadis kecil membuka matanya dan perlahan duduk dengan tubuh yang sangat lemah.
"Lia ada dimana? Kenapa di tempat cepelti ini?" tanya Aulia yang sudah sadar dari pingsannya. Ya, gadis yang ditolong oleh sepasang suami istri ini adalah Aulia putri Cici dan Putra.
"Alhamdulillah Nak, kamu sudah sadar," ujar Siti dengan raut wajah gembira. Ya, nama Ibu itu adalah Siti
"Iya Bu, alhamdulillah," jawab Suaminya dengan senyuman kebahagiaan.
"Nenek ciapa? Kenapa Lia ada di cini?" tanya Aulia dengan raut wajah penasaran serta rasa takut yang menghantui fikirannya.
"Minggu yang la--"
"Arghh," ringisan Hamid yang sudah mulai sadar dari pingsannya, dan ibu tersebut tidak jadi melanjutkan ucapannya.
Kedua anak yang terbujur tadi merupakan kedua buah hati Cici yang di selamatkan oleh sepasang suami istri yang sudah tua ini. Dengan susah payah mereka membawa kedua anak ini menuju gubuknya dua minggu yang lalu dengan susah payah.
Siti mengamati Hamid yang sudah mulai sadar dari pingsannya. Matanya tidak henti-henti memandang wajah tampan lelaki yang berada di hadapannya.
"Nak, ayo bangun!" ujar Siti.
Hamid melihat ke-tiga orang yang berada di dekatnya saat ini. Hamid memandang mereka secara bergantian.
"Abang, Lia takut di cini?" ujar Aulia yang langsung memeluk tubuh Hamid dengan sangat erat.
Hamid berusaha dengan susah payah untuk duduk dari tidurnya. "Lia jangan takut ya? Di sini masih ada abang yang akan menemani, Lia," ujar Hamid yang membalas pelukan gadis kecilnya.
"Maaf, Nenek sama Kakek siapa?" tanya Hamid dengan raut wajah penasaran.
"Kami pemilik gubuk ini, Nak. Kami yang sudah menemukan kalian beberapa hari yang lalu di sungai," jelas sang nenek dengan halus.
Hamid mengingat-ingat kejadian beberapa hari yang lalu, dan akhirnya ia mengingat kenapa ia sampai berada di sungai dan berada di gubuk ini.
Hamid merasa sangat bersyukur karena Allah masih memberikan mereka kesempatan untuk hidup atas bantuan dari Nenek dan Kakek ini. Jika tidak ada mereka, ntah ada dimana mereka saat ini.
"Abang, kapan kita pulang?" tanya Aulia dengan suara gemetaran.
"Iya Sayang, kita akan pulang," jawab Hamid dengan senyuman.
Hamid kembali menatap wajah orang yang sudah menyelamatkan dirinya dan juga sang gadis kecil secara bergantian. Hamid mengamati wajah keduanya dengan tatapan yang tidak bisa ditembak.
"Nek, Kek, makasih ya udah nolongin, kita," ujar Hamid yang mencium tangan suami istri ini dengan bergantian. Tidak ada rasa jijik yang dimiliki oleh Hamid saat mencium tangan mereka. Meski dari sebagian orang akan merasa jijik saat mau mencium tangan orang yang tidak dikenal sedikitpun.
"Iya Nak, sama-sama," senyum Nenek dan Kakek dengan tulus.
Sudah hampir satu jam Hamid bercerita dengan sang nenek dan juga suaminya. Baik itu mengenai kehidupan mereka atupun yang lainnya. Dengan senang hati Siti menjawab semua pertanyaan yang sempat dilontarkan Hamid kepada dirinya.
__ADS_1
Cici sedang duduk di atas ranjang sambil memeluk foto keluarga.
"Nak, bunda yakin kalian pasti masih hidup!" Derai air mata Cici yang sudah mulai membasahi bingkai foto yang ia pegang dan sesekali mencium foto itu lama.
Hamid dan Lathifah yang melintasi kamar sang bunda, langsung masuk karena melihat Cici menangis sambil memeluk foto itu dengan erat.
"Bun, ikhlaskan Kakak dan Adek ya, Bun. Jika mereka melihat Bunda menangis pasti mereka sangat sedih," tutur Lathifah yang sudah duduk di ranjang sang bunda bersama dengan Karim.
Karim membantu menghapus air mata yang telah bercucuran di wajah cantik sang bunda. "Udah Bun, ikhlaskan mereka," ujar Karim dengan senyuman dan dibalas anggukan oleh Cici.
*
Dua hari sudah berlalu, Hamid dan Aulia akan pergi ke rumah mereka dan mengajak sepasang suami istri yang sudah menyelamatkan mereka dua minggu yang lalu.
Sekarang mereka sedang berjalan menuju jalan raya. Dengan susah payah, merekapun akhirnya sudah sampai di tempat tujuan yang tak lain adalah jalan raya.
Hamid menyetop salah satu taksi yang lalu lalang di hadapannya. Dengan senang hati mereka semua menaiki taksi itu menuju tempat yang akan mereka tuju.
Hamid menyebutkan alamat rumah sang ayah. Supir tansi itu hanya mengikuti apa yang diminta oleh penumpangnya.
Empat jam lebih mereka berada di perjalanan menuju rumah Putra karena, jalanan yang sangat macet dengan kendaraan roda empat maupun roda dua.
Taksi tersebut sudah berhenti di halaman rumah nan megah tersebut. Hamid menyuruh sopir taksi untuk menunggu karena Hamid tidak memiliki uang sepeserpun untuk membayarnya, dan sopir itu hanyar ngangguki kepalanya tanda ia setuju.
Tok ... tok ... tok ....
Terdengar suara langkah kaki yang nyaring dari dalam rumah menuju pintu.
Klek...
Pintu rumah dibuka oleh seorang wanita yang sudah agak tua alias pembantu dari di rumah ini.
"D-den," ujar pembantu itu tidak percaya dan langsung berlari masuk ke dalam rumah untuk manggil majikannya atas apa yang sekarang ia lihat.
Beberapa menit berikutnya muncullah Cici beserta suami dan anaknya. Betapa kagetnya Cici dan yang lainnya melihat siapa yang ada di hadapannya saat ini.
"Bunda, Lia kangen cama Bunda," ujar Aulia yang berlari dari arah taksi dengan wajah sumringah.
Dengan senang hati Cici langsung memeluk gadis kecil yang sangat ia rindukan beberapa hari ke belakangan ini.
Cici menciumi setiap sudut wajah mulus gadis kecilnya. Aulia pun juga melakukan hal yang sama dengan apa yang sudah dilakukan sang bunda kepada dirinya.
"Sayang, ini beneran kalian 'kan?" tanya Cici meyakinkan, dan Hamid membalas dengan anggukan kepala.
Selanjutnya Cici beralih menatap sepasang suami istri yang sedang berada di belakang Hamid secara bergantian. Ada raut wajah penasaran yang tampak di wajah Cici dan yang lainnya.
"Mereka siapa, Sayang?" tanya Cici membuka pembicaraan.
"Oh iya Bun, Nenek dan Kakek ini yang sudah menyelamatkan kami dua minggu yang lalu, dan karena itu kami membawa mereka kesini dan tinggal bersama kita. Boleh kan, Bunda, Ayah?" ujar Hamid dengan senyuman dan dibalas anggukan oleh Putra maupun Cici.
Supir taksi yang berada di halaman rumah Putra membunyikan klakson mobilnya dan itu membuat Hamid tersadar akan sesuatu. Putra yang seakan tau akan hal itu langsung berjalan ke arah taksi dan menyodorkan uang kepada sang sopir dengan senyuman.
Mereka semua masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu sambil bercerita. Raut kebahagiaan itu sudah kembali menghiasi wajah keluarga bahagia ini. Atas bantuan suami istri tersebut keluarga mereka kembali untuh seperti sedia kala.
Ke-tiga anak kembar itu sudah kembali bersama dan merasakan hangatnya cinta persaudaraan di antara mereka, dan ditambah lagi dengan gadis kecil yang selalu mengusili ke-tiga kakanya.
Siapa yang tau dengan takdir kita masing-masing bukan? Kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan hanya bisa menjalani skenario yang sudah ditakdirkan untuk kita masing-masing dengan ikhlas, dan lapan dada.
~~~~~~~~~~~
__ADS_1
TAMAT
~~~~~~~~~~~