MENIKAH DENGAN GURUKU

MENIKAH DENGAN GURUKU
BAB 19


__ADS_3

BAB 19


Putra kembali berbaring setelah meletakkan amplop yang baru saja dia ambil. Mengembangkan senyum manis yang tak akan berhenti. Bahkan pikirannya saat ini melayang jauh. Aahhhh sudahlah, nanti lagi dipikirkan sesuatu yang akan membuat hubungan mereka semakin erat.


Sekitar lima belas menit, Cici keluar dari dalam kamar mandi dengan rambut yang basah. Karena gadis itu baru saja keramas. Berjalan menuju meja rias untuk memoles wajahnya seperti yang biasa gadis itu lakukan setiap selesai mandi.


"Sayang," Putra memanggil yang istri yang tengah asik memoleskan bedak pada pipinya.


"Iya Mas," Tanpa menatap ke arah suaminya, Cici menjawab panggilan itu. Melanjutkan memoles wajahnya yang masih tinggal sedikit lagi.


"Selamat Sayang. akhirnya sekarang kamu udah lulus," ucap Putra tersenyum manis kepada sang istri.


"Iya Mas, makasih ya Mas," jawab Cici yang juga tersenyum manis ke arah suaminya. Setelah sebelumnya memutar tubuhnya agar bisa menghadap suaminya yang kini masih berbaring di atas tempat tidur.


"Oh ya Sayang, kamu ingat ngak dengan ucapan aku sebelum kita pergi ke pantai beberapa bulan yang lalu?" tanya Putra yang mulai mengingatkan sang istri.


"Yang mana Mas, aku lupa," jawab Cici yang memang lupa dengan perkataan Putra. Yang di ingat jelas gadis itu, pernyataan cinta dari suaminya.


"Waktu itu kan aku pernah bilang sama kamu, bahwa saat kamu sudah lulus nanti kita akan pergi jalan-jalan, dan langsung honeymoon." ujar Putra kembali mengingatkan sang istri yang tampak bingung. Mungkin saja istrinya itu kembali mengali memori beberapa bulan lalu.


"Ehhh yang itu ya Mas. Besok-besok aja deh Mas. Lagian sekarang Mas belum ada jadwal libur 'kan?" tanya Cici sambil mengusap rambutnya dengan handuk kecil.


Putra membalas ucapan Cici dengan menganggukkan kepalanya. Laki-laki itu lalu duduk dari baringnya.


"Iya Sayang, tapi kalau bisa izin nanti, Mas akan izin beberapa hari untuk melaungkan hari untuk kita," jelas Putra dengan senyum manis.


"Emmm, apa kita tidak usah saja honeymoon Mas?" pinta Cici menatap lekat wajah suaminya yang kini juga tengah menatap dirinya.


"Nggak bisa Sayang. Mas mau honeymoon," jawab Putra yang sepertinya tidak bisa di bantah.


"Iya deh Mas, terserah kamu saja," balas Cici akhirnya.




Kediaman Lili



Saat ini Lili sedang duduk di sofa kamarnya sambil memainkan gawainya. Membuka aplikasi hijau di dalam gawainya.



Via chat on



{"Sayang, assalamu'alaikum,"} Lili mengirim pesan tersebut kepada sang kekasih. Tak lupa gadis itu memberi emoticon love pada akhirnya pesannya.


__ADS_1


{"Iya Sayang, waalaikumsalam. Ketemuan sekarang yuk Sayang di tempat biasa. Aku mau ngomong serius sama kamu,"}Tak menunggu lama, akhirnya pesan yang dikirim Lili centang dua warna biru dan langsung mendapat balasan dari pujaan hatinya. Bahkan tanpa basa-basi pemuda itu langsung saja berbicara keintinya



{"Baiklah Sayang, emang kamu mau bicara apa?"} Lili kembali mengirim pesan kepada pemuda yang merupakan kekasihnya. Dia sangat bingung, emang mau bicara apa kekasihnya itu.



{"Nanti saja aku beritahu kamu, Sayang. Aku tunggu di taman tempat biasa,"} Setelah melihat pesan yang dikirim Gilang, Lili tak lagi membalasnya. Gadis itu menyimpang gawainya di dalam tas selempang yang dia ambil di gantungan lemari.



Via chat off



Lili bersiap-siap untuk bertemu dengan Gilang, di taman tempat mereka sering bertemu. Sebelum pergi Lili hanya memoles wajahnya dengan sedikit bedak dan juga sedikit lipstik.



Lili sedang menunggu taksi on-line yang ia pesan. Tak lama setelah itu, taksi pun datang, dan Lili langsung menaiki taksi tersebut. Memberitahu kepada sang supir kemana arah tujuan mereka.



Hanya butuh waktu lima belas menit, Lili akhirnya sampai di taman. Lili keluar dari taksi dan memberikan uang sepuluh puluh ribu kepada supir taksi itu. Sedangkan Gilang ia sudah menunggu Lili di kursi tempat dimana mereka sering duduk berdua.



"Maaf Sayang aku telat. Soalnya tadi di jalan sangat macet." ujar Lili tak enak hati kepada kekasihnya. Lili yakin kekasihnya itu sudah lama menunggu kehadiran dirinya di taman ini.




"Oh ya, kamu mau ngomong apa Sayang? Kayak serius amat sih?" tanya Lili yang memang sangat penasaran dengan kekasihnya.



Gilang yang tadinya menatap ke arah Lili, sekarang beralih mengambil kedua tangan gadis itu. Menatap setiap inci wajah cantik gadis itu dengan sangat dalam.



Lili yang merasa di perhatikan seperti itu hanya bisa menahan rasa penasaran, dan juga jantung Lili saat ini terasa berdetak sangat cepat.



"Sayang, lebih baik hubungan kita ini kita akhiri saja ya?" ujar Gilang yang menatap wajah Lili dengan sangat serius.



Lili yang mendengar ucapan Gilang, langsung terkejut, dan tubuhnya pun seketika langsung mematung. Bahkan hati Lili rasanya saat ini sangat sakit dan hancur dengan penuturan Gilang. Meskipun Lili belum tau apa masalah sebenarnya.

__ADS_1



"Ka... kamu becanda kan Sayang?" tanya Lili dengan terbata-bata, dan air mata sudah mulai mengalir di pipi Lili. Rasanha sangat sakit, laki-laki yang sudah lebih dari setengah tahun ini menemani dirinya mengakhiri hubungan meraka tanpa sebab.



Apa salahnya sehingga pemuda itu seenaknya mengambil keputusan seperti ini. Tak ingatlah laki-laki itu perjuangan mereka selama ini? Bagaimana mereka menjalani hubungan ini dengan susah payah. Banyak godaan yang datang dari luar, namun mereka tetap bertahan. Yakin akan komitmen yang telah mereka sepakati.



Mempertahankan komitmen yang katanya ingin sampai mereka menikah. Namun apa ini, laki-laki itu mengucapkan kata-kata yang bahkan tak pernah terbayangkan oleh gadis itu. Dadanya terasa sesak. Sangat sakit akan penuturan pemuda yang mengisi hatinya terlalu dalam.



"Tidak Sayang. Aku serius." balas Gilang yang tetap fokus pada wajah cantik gadis yang kini tengah menangis di depannya. ingin rasanya pemuda itu langsung memeluk erat gadis itu. Tapi itu semua dia tahan.



"Ta--tapi kenapa Sayang? Sa--salah aku apa?" tanya Lili dengan sesegukan. Sungguh hatinya kini tengah terluka akan ucapan kekasihnya.



Gilang menghapus setiap air mata yang keluar dari mata Lili dengan tangan kanannya, dan ia tersenyum melihat sang kekasih yang sangat ia cintai menangis dengan sangat tulus. Dapat dilihat pemuda itu, jika sang kekasih memang takut kehilangan dirinya. Bahkan air mata itu terus saja merembes dari pelupuk mata indahnya.



Seketika Lili menghentikan tangisannya. Menatap ke arah Gilang dengan tatapan bingung. Kenapa kekasihnya itu malah tersenyum, di saat dia memberi luka pada hatinya.



"Kenapa kamu tersenyum Lang?" tanya Lili sambil sesegukan. Yakinlah hatinya saat ini tidaklah baik-baik saja.



"Ngak apa-apa kok Sayang. Maaf tadi aku cuman ngetes kamu aja kok. Akun ngetes kamu karena aku pengin liat gimana reaksi kamu terhadap aku," ujar Gilang sambil tersenyum dan menghapus sisa-sisa air mata Lili.



"Kamu jahat sama aku, Lang. Aku nggak nyangka kamu akan melakukan hal itu sama aku.kamu tau, betapa sakitnya hati aku saat kamu mengatakan hal itu. Sesuatu yang sangat tak ingin aku dengan seumur hidup aku," ugkap Lili sambil memukul-mukul dada bidang Gilang dengan kedua tangannya.



"Aihh, sakit Sayang. Maaf Sayang, maaf. Yaudah aku ngajakin kamu ketemuan karena, aku mau bilang kalau aku mau nikah sama kamu minggu depan, dan aku akan bawa orang tua aku besok ke rumah kamu, Sayang," jelas Gilang dan langsung memeluk tubuh mungil kekasihnya dengan erat. Tak lupa pemuda itu mendaratkan ciuman pada dahi kekasihnya. Lili membalas pelukan pemuda itu tak kalah eratnya.



"Kamu serius Sayang?" Lili melepaskan pelukannya.



"Iya Sayang," jawab Gilang menyakinkan sang kekasih dengan apa yang dia katakan.

__ADS_1



TBC


__ADS_2