
BAB 36
"Sayang, main sama tante, yuk?" ajak Lili yang merentangkan tangannya ke arah Karim.
Karim tak menggubris ucapan Lili, tapi ia terus asik dengan mainan yang setia di dekatnya. Karim bermain mobil-mobil bersama dengan Hamid. Mereka begitu mengemaskan bila di pandang. Kenapa tidak! Kedua jagoan Cici ini memiliki pipi yang tembem yang membuat orang ingin mencubit pipinya sampai membekas. Saking gemasnya dengan bayi itu.
Lathifah yang di gendong oleh Nini langsung merentangkan kedua tangannya ke arah Lili. Sungguh bayi kecil itu sangat senang jika ada yang ingin menggendong. Meskipun orang yang merentang tangannya bukan untuk menggendong dirinya. Namun, begitulah bayi perempuan itu yang selalu ingin di gendong. Karana, Karim tak mengubrisnya karena asik bermain dengan Hamid, sodara kembarnya.
"Aaaaa ... Te," panggil Lathifah kepada Lili yang sedang berjongkok di lantai kamar mereka.
"Ehh, iya Sayang. Kamu mau tante gendong hmmm?" tanya Lili yang langsung mendapat tawaan lucu dari bibir kecil Lathifah.
Lili menggendong putri Cici sambil sesekali menciumi setiap sisi wajah tembemnya. Yaa, ke-tiga buah hati Cici memiliki pipi yang sangat tembem. Hal ini berbeda dengan Lisa, meskipun ia sudah di beri asi yang lebih oleh Lili tapi ia tetap saja kurus. Bukan berarti anaknya kurang gizi hanya saja emang tubuhnya yang mau bertambah.
Lili membawa Lathifah mengelilingi rumah Putra. Wajah Lathifah sangat bahagai saat di bawa jalan-jalan oleh wanita itu. Wajahnya terlihat begitu mengharapkan dekapan sang ibu yang sudah hampir satu tahunan tidak ia rasakan.
Lili duduk di kursi yang berada di belakang rumah Putra dengan di atasnya terdapat Lathifah yang menduduki pahanya.
"Sayang, tante harap Bunda kamu cepat siuman ya?" ujar Lili yang sesekali mengusap rambut Lathifah dengan sangat tulus. Tak terasa air mata Lili luruh saat melihat anak dari sahabatnya begitu sangat bahagia ketika ia gendong. Meskipun Lathifah masih kecil Lili tau pasti ia sangat merindukan dekapan dan kasih sayang seorang ibu.
***
Jam di dinding rumah Putra sudah menunjukkan pukul empat sore. Gilang, Lili beserta Lisa sudah masuk ke dalam mobil mereka setelah berpamitan kepada Putra beserta keluarganya.
__ADS_1
Perjalanan menuju rumah Gilang sangat macet, hingga satu setengah jam mereka baru sampai di rumah bak istana tersebut.
Lili membawa Lisa ke dalam rumah, yang diikuti oleh Gilang. Mereka duduk di ruang tamu sambil melepaskan rasa lelah seharian ini. Padahal mereka hanya duduk, dan bermain bersama buah hati Cici tapi, rasanya begitu melelah kalau sudah sampai di rumah.
"Mas, kamu lapar ngak?" tanya Lili sambil melirik ke arah Suaminya.
"Iya Sayang, buatin aku makanan yah?" jawab Gilang mengelus perutnya menatap ke arah sang istri.
Lili berjalan ke arah dapur, dan meninggalkan sang suami beserta buah hatinya di ruang tamu. Sepuluh menit Lili berperang dengan alat-alat dapur, akhirnya nasi goreng yang ia buat pun sudah matang. Tak lupa telur mata sapi bertengger indah di atasnya.
Lili membawa dua piring nasi goreng beserta dua gelas air putih ke ruang tamu. Tak lupa ia membawa satu dot susu buat si kecil. Lili malas makan di dapur maka dari itu ia membawa nasi goreng tersebut ke ruang tamu. Apa lagi jika sambil menonton rasanya semakin enak.
"Mas, nih makanannya," ujar Lili menyodorkan nasi goreng, dan air putih ke arah Gilang. Gilang dengan senang hari menerima nasi goreng tersebut.
Lisa langsung meminum susu yang di berikan oleh Mamanya. Sedangkan Lili beranjak ke tempat Gilang sedang makan.
Kediaman Putra
Putra sedang membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi. Tubuhnya terasa sangat lengket setelah lama bermain bersama ketiga buah hatinya. Hamid, Karim dan juga Latifah sudah tertidur setelah di mandikan oleh sang oma.
Klek ...
Pintu kamar mandi di buka seseorang siapa lagi kalau bukan Putra. Ia keluar hanya mengenakan handuk sepinggang. Rambutnya masih sangat basah hingga air yang berada di rambutnya berjatuhan ke lantai kamar. Tubuhnya masih saja kurus. Belum ada sedikitpun bertambah.
__ADS_1
Putra menuju lemari, dan membukanya untuk mengambil pakaian. Selesai memakai baju, Putra pergi ke dapur untuk mengambil makanan karena, sedari tadi ia belum sempat makan.
Dapur
Nini dan Mila sedang makan malam bersama. Putra yang baru datang langsung bergabung dengan Mama dan juga mertuanya.
Hanya butuh waktu sepuluh menit, Putra pun sudah selesai makan, dan sekarang ia akan menuju ke kamarnya, dan juga sang istri.
Putra memang tidur sekamar dengan istrinya yang terbaring koma. selama Cici koma, Putra tidur di atas sofa kamar. Ingin rasanya ia tidur di dekat sang istri tapi, itu semua ia urungkan karena tak sanggup bila harus di samping istrinya untuk tidur, maka dari itu ia lebih memilih tidur di atas sofa.
"Sayang, kapan kamu akan bangun haa? Aku rindu sama senyuman kamu Sayang, sungguh! Aku rindu dengan semuanya," ucap Putra yang diiringi dengan air mata.
Putra menatap lekat wajah pucat pasi itu dengan sangat intens. Ia berharap saat ini juga akan datang keajaiban untuk istri yang telah lama ia inginkan untuk sadar dari komanya. Tapi, hasilnya nihil, ia tak juga sadar dari komanya meskipun Putra menangis darah sekalipun ia tidak akan sadar sebelum waktunya tiba.
"Sayang, ayo bangun hiks hiks. Apa kamu tidak sayang lagi sama aku haa? Atau kamu ingin aku seperti ini terus haa? Kenapa kamu harus diemin aku selama ini Sayang? Apa kamu tidak rindu dengan anak-anak kita haa? Mereka rindu sosok seorang ibu Sayang hiks hiks, bangunlah," ucap Putra sambil memegang tangan Cici, dan sesekali menciumnya dengan sangat tulus. Air mata Putra juga tidak dapat lagi ia bendung, ia sangat rindu dengan keceriaan sang istri yang selama ini tak lagi dia lihat.
Malam ini Putra tak kunjung untuk tidur. Rasa rindu yang selama satu tahun ini dia tahan semakin menjadi. Rasa rindu itu seakan membuat ia tak sanggup untuk menerima kenyataan yang membuatnya setiap hari terluka dengan harapan yang tak pasti datangnya kapan.
Rasanya sangat ingin ia membenci takdir yang ia memiliki, tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Ini semua sudah takdir dari yang Maha Kuasa.
Dentingan jarum jam yang menghiasi malam yang sunyi ini. Malam di mana Putra sangat susah untuk terlelap ke alam mimpinya. Jam juga sudah menunjukkan pukul satu dini hari, tapi ia tak juga kunjung terlap.
Menit sudah berganti dengan jam, dan tepat pukul dua dini hari Putra baru terlelap ke alam mimpinya. Air mata yang tadinya tak sempat ia hapus masih berada di sekitaran pelupuk mata yang tegas itu.
__ADS_1
TBC