
BAB 41
"Huaaa ... huaaa ..., Abang Lia ngak bica naik?" tangis Aulia yang terus berusaha untuk naik ke atas ranjang Hamid.
Ketiga Kakaknya seperti orang tuli yang tak bisa mendengarkan ucapan adik bungsunya yang terus meminta tolong untuk di naikkan ke atas ranjang.
"Huaaa ... Huaaa ... Huaaa ... Huaaa ...," tangis Aulia yang semakin kencang, dan itu membuat ketiga anak kembar itu tersadar dari pelukan mereka.
"Hehehe, jangan nangis lagi yah Sayang, sini kakak bantuin," ucap Lathifah yang berjalan ke arah Aulia. Lalu, membantu Aulia untuk naik ke atas ranjang nan empuk tersebut.
"Makacih Kakak," ucap Aulia sambil mendaratkan ciuman pada pipi Kakaknya.
"Iya sama-sama Au," balas Lathifah dan mencium pipi kiri dan kanan Aulia.
"Abang ngak mau di cium nih?" tanya Karim yang melirik gadis kecilnya yang tengah asik mencium pipi sang kakak tanpa hentinya.
Aulia melirik ke arah Karim, lalu berjalan menuju tempat Karim berada, dan
Cup ...
Satu kecupan hangat di berikan Aulia kepada sang kakak, dan setelah itu kepada Hamid yang duduk di samping Karim.
"Ahhh, terima kasih Sayang," ujar Karim yang mencubit sedikit keras pipi Aulia.
"Abang, cakit! Huaaa ... huaaa ...huaaa ...," tangis Aulia pecah di dalam kamar besar tersebut. Karim merasa cemas dengan kondisi gadis kecilnya yang tak mau berhenti dari tangisnya. Meski sudah di bujuk dengan berbagai cara oleh Karim. Usaha Karim tak juga berhasil.
Lathifah dan Hamid hanya duduk menyaksikan kembaran mereka yang tengah panik untuk membujuk gadis kecil di depan dirinya.
"Kakak, Abang tolongin aku dong?" ujar Karim meminta tolong kepada sang kembaran yang tengah asik menonton dirinya.
"Ngak bisa!! Sekarang giliran kamu yang akan di marahi sama Ayah," ucap Hamid yang tetap tak mau menolong sang kembaran. Begitu pula dengan Lathifah, dia tetap diam sambil menyenderkan kepalanya di bahu Hamid.
"Huaaa huaaa huaaa," tangis Aulia yang semakin keras.
"Sayang, jangan nangis lagi yah? Nanti Bunda sama Ayah datang kesini buat marahin Abang. Emang Au mau lihat Abang di marahi Ayah hmm? Engak 'kan? Jadi diam yah Sayang. Besok Abang beliin buat Au permen gulali," bujuk Karim dengan berbagai cara agar gadis kecil nan mungil di depannya mau diam. Usaha Karim tak sia-sia untuk membujuk sang adik. Gadis kecil di depannya malah diam dengan sendirinya, dan langsung memeluk Karim dengan sangat erat.
Hamid dan Lathifah membulatkan netranya melihat Aulia yang diam seketika dari bujukan sang kembaran. Padahal saat itu Hamid juga membujuk gadis kecil itu seperti apa yang di lakukan Karim, tapi hasilnya tidak mempan sama sekali.
"Abang, celiuc 'kan? Abang ngak boong cama Lia?" tanya Aulia dengan nada sesegukan, dan tetap memeluk leher sang kakak dengan sangat erat.
"Iya Sayang, Abang serius. Besok Abang beliin ya?" jawab Karim yang mengusap punggung gadis kecil itu dengan lembut.
Hanya dalam waktu lima menit, gadis kecil nan mungil tersebut tertidur di dalam pelukan Karim. Karim membawa gadis kecil itu menuju kamar Lathifah. Ya, Lathifah dan Aulia tidur sekamar semenjak usianya satu tahun.
__ADS_1
***
Pagi hari
Semua buah hati Cici dan Putra sedang menikmati sarapan pagi mereka. Hari ini mereka akan kembali ke sekolah setelah satu hari libur tenang tanpa ada tugas yang di berikan oleh sang guru.
"Abang, cekalang kita beli pelmen ulali yuk?" ajak Aulia kepada Karim degan senyuman yang menghiasi bibir mungilnya. Serta lesung pipi yang menambah kecantikan wajah Aulia.
"Nanti Abang beliin yah? Sekarang Abang akan sekolah, Sayang," jawab Karim yang juga sudah selesai sarapan, dan mencium gemas pipi gembul yang dihiasi lesung pipi itu.
"Benalan ya, Abang," ujar Aulia dengan memasang wajah imutnya.
Karim hanya menganggukkan kepalanya menjawab ucapan sang gadis kecil. "Ya sudah, Abang berangkat dulu ya?" ujar Karim lalu, mencium lama pipi gembul sang gadis kecil, dan dibalas anggukan oleh Aulia.
"Ayah, Bunda, kita berangkat dulu ya?" ucap ketiga buah hati mereka setelah bersalaman, dan mencium pipi Cici dan Putra secara bergantian. Tak lupa juga mereka mencium pipi gembul sang gadis kecil yang tetap setia berdiri di samping sang bunda.
***
Sekolah
Hamid memarkirkan mobilnya di tempat parkir. Mereka keluar dari dalam mobil secara serentak. Di tempat parkir sudah ada Lisa yang menunggu kedatangan sahabat-sahabatnya yang tak lain adalah Lathifah, Hamid dan Karim.
"Haii, udah lama nungguin kita ya Lis?" tanya Hamid dengan senyuman di bibirnya.
Mereka menuju ke dalam kelas yang kebetulan satu kelas. Sejak SMP baru sekarang mereka ditakdirkan untuk satu kelas.
Lathifah dan Karim duduk satu bangku, sedangkan Hamid dan Lisa mereka juga duduk satu bangku. Setiap siswa-siswi di kelas XII IPS 2 ini duduk secara berpasang-pasangan. Berbeda dengan kelas lainnya yang memilih duduk sendiri-sendiri.
Banyak dari siswa perempuan yang melihat iri ke arah Lisa. Siapa yang tidak akan iri melihat itu semua. Lelaki tampan ini terlihat sangat dekat dengan Lisa. Ntah ia memiliki perasaan terhadap Lisa atau tidak. Hanya dialah yang tahu.
"Ihhhh, kenapa cobak harus dia yang duduk bersama pujaan hati gua? Cantik aja kagak tuh cewek," ujar teman satu kelas Lathifah kepada teman sebangkunya. Sebut saja nama wanita itu Laila yang kerap di panggil Lala.
"Lah, 'kan gua selalu ada untuk lo Lala, ngapain lo malah ngejar-ngejar dia sih?" ujar Riko yang terlihat cemburu saat Lala terus memperhatikan wajah tampan Hamid.
"Aihh, lo itu ngak ada tandingannya dari Hamid. Di mata gue hanya dia yang paling ganteng," celoteh Lala yang tak henti-hentinya memandang wajah tampan milik Hamid.
"Yaelah La, lo cari yang tampan buat apa haa? Wajah tampan itu ngak ada tandingannya dengan hati yang setia, yang mau menerima sesorang apa adanya. Buat apa lo berjuang kalau cinta dia bukan untuk lo haaa?" tanya Riko panjang lebar. Menatap setiap inci wajah cantik pujaan hati di depannya.
"Iya ..., lo bener Rik," lirih Lala, dan kembali menghadap ke depan dengan tatapan sayu.
Lala memang sejak kelas sebelas jatuh cinta kepada sosok lelaki tampan yang tak lain adalah Hamid. Ia tak bisa melupakan lelaki itu hingga ia menduduki kelas XII. Tapi, rasa cemburu itu seketika menghilang saat Riko menjelaskan tentang masalah cinta kepada dirinya.
Hufff, "Aku harus lupain Hamid, 'kan masih banyak lelaki di dunia ini," batin Lala menguatkan dirinya.
__ADS_1
*
Dua jam pelajaran sudah berlalu. Sekarang seluruh siswa kelas XII IPS 2 sudah mulai berhamburan keluar kelas untuk memenuhi rasa lapar yang mengganjal di perut mereka masing-masing.
Kantin
"Mau mesan apa Dek?" tanya Hamid kepada Lathifah.
"Nasi goreng sama jus mangga Kak," jawab Lathifah sambil memainkan jarinya.
"Aku samain aja sama Lathifah Ham," ujar Lisa yang mendapat anggukan oleh Hamid.
Hamid memesan empat piring nasi goreng serta empat gelas jus mangga. Hamid memang tidak perlu bertanya kepada Karim tantang apa yang mau ia pesan. Karena, pesanannya selalu sama dengan Kakaknya.
Lima menit menunggu, akhirnya pesanan mereka pun sampai. Mereka melahap nasi goreng tersebut hingga habis.
***
Pelajaran terahir pun sudah selesai. Seluruh siswa berhamburan untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.
Lathifah, Karim, dan Hamid pulang bersamaan. Sedangkan Lisa ia pulang sendirian menggunakan mobil yang sudah di belikan Gilang satu bulan yang lalu.
"Lis, kita duluan ya?" pamit Hamid yang di balas anggukan kecil dari Lisa.
Hamid mengendarai mobil dengan kecepatan sedang menuju supermarket yang berjarak lumayan jauh dari kediaman mereka. Karim akan membeli gulali untuk gadis kecil yang sudah ia janjikan semalam. Jika tidak di belikan maka, gadis kecil itu akan menangis tanpa bisa di hentikan.
Tiga kotak gulali dengan berbagai warna sudah berada di dalam kantong kresek di tangan Karim.
*
Rumah
"Aulia ..., Abang pulang!!!" teriak Karim dengan suara keras karena, tidak melihat sang gadis kecilnya.
"Abang, mana yulali buat Lia?" tanya Aulia yang datang dari arah dapur sambil berlari menuju ke arah sang abang.
"Nih," jawab Karim menyodorkan kantong kresek yang berisi gulali tersebut kepada gadis kecil yang sedang berdiri di hadapannya.
"Macacih Abang," ucap Aulia dengan memperlihatkan kedua lesung pipi yang setia menghiasi pipi gembulnya.
"Iya Sayang, sama-sama," balas Karim lalu, mencium pipi gembul nan mulus itu.
Hamid dan Lathifah sudah dulu naik ke lantai atas untuk menuju kamar mereka. Rasanya tubuh mereka sudah sangat lengket dengan peluh yang membanjiri tubuh. Cuaca hari ini sangatlah panas, berbeda dengan hari-hari yang sebelumnya.
__ADS_1
TBC