
BAB 6
Hari ini adalah hari ke-lima Putra dan Cici berada di Jepang dan tinggal satu hari lagi mereka akan kembali ke Indonesia, kota kelahiran mereka. Selama berasa disini tak pernah sekalipun mereka melakukan apa yang seharusnya dilakukan pasang suami-istri. Mereka hanya untuk berlibur saja. Lantaran hubungan mereka baru saja dimulai. Bukan tak mungkin Putra ingin meminta haknya, hanya saja Putra berfikir istrinya masih menduduki bangku SMA. Jika saja dia sampai hamil, tak akan menampik jika istrinya itu akan hamil. Dan otomatis akan keluar dari sekolah.
"Sayang jalan-jalan yuk? Kan hari ini hari terahir kita bisa jalan-jalan di sini Sayang," ajak Putra sambil merangkul pundak Istrinya.
"Iya Mas, padahal aku masih ingin di sini." balas Cici sambil menundukkan kepalanya. Rasanya dia engan untuk meninggalkan negara ini. Negara yang baru sekali ini dia pijaki. Ntah suatu saat tak akan mungkin lagi dia balik ke sini.
"Iya Sayang, Mas ngerti kok. Lain kali kita akan kesini lagi jika kita punya rezki," ucap Putra sambil menangkup pipi Istrinya dengan kedua tangannya.
Sekarang Putra dan Cici sudah keluar dari hotel, dan mereka akan pergi ke taman yang paling indah yang ada di Jepang.
Mereka pergi hanya berjalan kaki karena di sana orang jarang menggunakan kendaraan. Palingan sebagian orang hanya menggunakan sepeda untuk bepergian.
Tepat jam sepuluh pagi, mereka sudah sampai di taman yang sangat indah. Cici melihat ke sekeliling taman itu, dan ia berdacak kagum melihat taman yang sudah di penuhi dengan bunga sakura yang terpelihara dengan rapi.
"Sayang, duduk di sana yuk?" ajak Putra sambil menunjuk kursi yang kosong di tengah-tengah taman.
"Baiklah Pak," balas Cici dengan senyuman.
"Aihh, kemaren saya sudah bilang jangan panggil saya Bapak!" ujar Putra dengan sinis. Dia kesal istrinya masih saja memanggilnya dengan sebutan Bapak. Padahal sudah enak kemaren dia memanggilnya Mas.
"Hehehe maaf Mas, aku lupa." balas Cici dengan cengengesan.
"Yaudah yuk?" ajak Putra, dan di angguki istrinya.
Sekarang mereka sudah duduk di kursi taman, dan Cici menyandarkan kepalanya ke bahu Putra.
Putra yang menyadari Cici meletakkan kepalanya di bahunya, hanya menatap ke arah Cici dengan senyuman yang sangat indah.
Sekitar satu jam mereka duduk di kursi taman, akhirnya Cici mengajak Putra untuk berfoto bersama.
"Mas, foto yuk?" ajak Cici dengan senyuman, dan di angguki suaminya.
Mereka memilih berfoto di bagian bunga sakura yang sangat lebat, dengan warna yang cantik yaitu putih dan pink.
Selesai berfoto mereka akan melanjutkan jalan-jalannya ke sebuah mall terkenal di Jepang.
Sampai di mall, Cici memilih berbagai macam cemilan untuk dibawanya ke Indonesia esok hari. Tak mungkin dia hanya membawa tangan kosong saat balik ke tanah kelahirannya. Percuma rasanya jika tidak membawakan oleh-oleh untuk keluarga mereka.
Putra yang melihat tingkah Istrinya hanya menggelengkan kepalanya, dan membantu Cici membawakan belanjaan.
Selamat dua jam mereka berada di mall akhirnya, Cici mengajak Putra untuk kembali ke hotel karena, sudah sangat capek. Rasanya sangat lelah, makanya Cici ingin cepat pulang dan mengistirahatkan tubuhnya.
"Mas, pulang yuk?" ajak Cici dan di angguki oleh Putra. Putra menatap wajah istrinya yang sudah tampak lelah. Dia kasihan dengan istrinya, maka dari itu dia langsung saja menganggukkan kepalanya.
Tak butuh waktu lama mereka telah sampai di hotel. Cici memasukkan ke dalam koper barang belanjaannya. Karena besok dia tak perlu lagi menyiapkan apa yang akan dia bawa.
***
Jam delapan malam, Putra dan Cici duduk di balkon kamar, sambil memakan cemilan yang mereka beli tadi siang, dengan menikmati hembusan angin malam yang sangat sejuk. Serta pemandangan malam yang sangat indah dari lampu yang bermacam warna.
Putra yang tadinya duduk di depan Cici pindah ke samping Cici dan ia tidur di pangkuan Sang Istri.
Putra melihat dengan teliti setiap inci wajah Istrinya, dan Putra memegang wajah Cici dengan penuh dengan kelembutan.
__ADS_1
'Andaikan kita sudah saling mencintai Sayang,' ucap Putra di dalam hatinya.
"Uhhhh, kamu bikin gemes aja Mas," ucap Cici memegang pipi suaminya yang di tumbuhi brewok yang tertata dengan rapi.
Putra yang merasakan Cici memegang pipinya dengan kedua tangannya, merasakan sesuatu yang aneh mengelitik dalam dadanya. Ntah kenapa saat Cici memegang pipinya jantungnya berdetak dua kali lebih kencang dari yang sebelumnya.
"Hmm, i... ya Say... ang," balas Putra dengan gugup. Dia sanggar gugup diperlakukan seperti itu oleh istrinya.
"Kenapa gugup sih Mas?" tanya Cici dengan menaikan satu alisnya ke atas. Padahal dia hanya mengelus pipi suaminya itu, namun reaksi suaminya malah berbeda jauh.
"Heee, ngak apa-apa kok Sayang," balas Putra dan langsung duduk seperti semula.
Cici hanya mengangguk kan kepalanya dan melihat keara Putra dengan senyuman termanisnya.
Sekarang jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Tak terasa mereka sudah duduk di balkon kamar selama lima jam kurang. Akhirnya mereka memutuskan untuk masuk ke dalam kamar untuk mengistirahatkan tubuh.
***
Mentari pagi sudah memperlihatkan cahayanya, dan membuat kedua sejoli yang sedang tertidur pulas itu terbangun dari alam mimpinya. Rasa panas sangat terasa di wajah mereka lantaran pancaran sinar surya itu sudah tampak warna jingga yang agak pekat
Putra langsung duduk dari tidurnya, dan langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya serta bersiap-siap untuk kembali ke Indonesia karena, pesawat mereka akan berangkat jam sepuluh pagi. Tak lama setelah itu, Putra keluar dari kamar mandi, dan kini giliran Cici yang akan membersihkan dirinya.
Jam sembilan pagi mereka sudah siap untuk berangkat ke bandara. Dan tak lupa mereka membeli tambahan cemilan selama menunggu penerbangan. Mereka membeli makanan itu disebabkan makanan yang mereka beli kemaren sudah masuk ke dalam koper Cici dan tak memungkinkan mereka untuk membukanya di bandara nanti.
Saat di bandara Cici membeli es krim kesukaannya, dan ia juga membeli untuk Sang Suami. Cici menyuapi Putra es krim yang ia makan, dan dengan senang hati Putra menerimanya. Sekarang giliran Putra yang menyuapi Cici dengan es krim yang ada di tangannya, dan dengan senang hati juga Cici menerima suapan dari Suaminya.
Selesai memakan es krim Putra maupun Cici masuk ke dalam pesawat, mereka sm duduk di kursi paling belakang lantaran mereka dapat di urutan tersebut.
Lima menit mereka duduk, akhrinya pesawat pun sudah mulai naik, dan itu membuat Cici kembali merasa takut seperti ia pergi beberapa hari yang lalu. Putra yang melihat Cici takut langsung menggenggam erat kedua tangan Sang Istri, dan menguatkan Cici agar tak takut dengan ketinggian.
"Sekarang kamu tidur saja di bahu Mas ya? Dan nanti kalau kita sudah sampai maka Mas akan membangunkan kamu," ujar Putra sambil meletakkan kepala Cici pada bahunya. Berharap istrinya itu tak lagi takut serta waktu akan cepat berlalu karena ketiduran.
Putra menatap setiap inci wajah mulus Istrinya dengan sangat dekat. Ntah kenapa saat itu juga jantung Putra mulai tak karuan, dan akhirnya dia memalingkan wajahnya dari wajah Cici.
'Kenapa dengan hati aku ya? Kok dekat dengan Cici gini udah mau copot banget nih jantung' bantin Putra.
Putra menghembuskan nafasnya dengan kasar, lalu melihat ke arah luar jendela pesawat sambil memandangi betapa indahnya ciptaan Allah SWT.
Penerbangan sudah berjalan sekitar enam jam lebih, yang artinya sekitar lebih kurang satu jam lagi mereka pesawat akan mendarat di bandara Soekarno-Hatta.
Cici yang sudah tertidur selama enam jam kurang itu sudah mulai membuka kedua netranya, dan memandang ke arah Putra yang tengah memejamkan matanya.
"Mas," panggil Cici.
"Eeeh iya, kamu udah bangun Sayang, Ada apa?" tanya Putra dengan spontan membuka matanya. Lalu menghadap ke arah Cici.
"Apa masih lama pesawatnya mendarat Mas? Aku takut nih?" ujar Cici yang menggenggam lengan Putra dengan erat.
"Tidak kok Sayang, lebih kurang satu jam lagi udah mendarat kok. Mendingan kamu lihat ke arah luas gih,pemandanganmya sangat bagus." kata Putra sambil menaikkan satu alisnya.
"Engak Mas, aku takut." balas Cici yang tetap memegang lengan Putra.
"Yaudah deh Sayang jika kamu takut, Mas nggak masak kok," ujar Putra denga mengusap lembut tangan istrinya yang kini tengah memegang erat tangannya.
Akhirnya satu jam sudah berlalu, pesawat yang mereka naiki pun sudah mendarat, dan semua penumpang sudah mulai berangsur turun. Mereka turun paling awal, karena koper mereka terletak paling atas dari koper-koper penumpang lainnya.
__ADS_1
"Huhhhh, alhamdulillah kita udah sampai di negara tercinta kita ya Mas, aku udah ngak sabar ketemu sama Bunda, Ayah, Mama, Papa, dan juga teman-teman aku di sekolah. Uhhh, aku sangat rindu Mas," cakap Cici panjang lebar pada Putra. Putra tersenyum melihat istrinya itu berbicara panjang lebar.
"Iya Sayang, Mas juga sangat rindu sama mereka." balas Putra.
"Yaudah yuk kita duduk di sana, dan Mas akan memesan taksi buat kita pulang." ajak Putra sambil menarik tangan Istrinya, dan di balas anggukan kecil dari Cici.
Tak berselang lama, taksi yang Putra pesan pun datang, dan Cici langsung masuk taksi. Sedangkan Putra memasukkan koper mereka ke dalam bagasi taksi.
Selesai memasukkan koper, Putra langsung masuk dan duduk di samping Cici. Supir taksi mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, karena Putra yang memintanya agar bisa lebih lama berdekatan dengan Cici.
Kalau dengan kecepatan kencang supir taksi membawa mobilnya pasti mereka akan cepat sampai di rumah dan itu pasti akan membuat Cici tak dekat seperti ini lagi dengan dirinya, karena Cici pastinya akan menghabiskan waktu untuk melepaskan rindu pada Ayah dan Bundanya dan juga pada kedua mertuanya.
Putra terus-terusan memandangi wajah cantik Cici yang terus menghadap ke arah luar jendela mobil.
Cici yang merasa di perhatikan Putra langsung menoleh ke arah Putra, melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Putra.
"Mas... Mas... Mas, kok ngelamun gitu sih?" tanya Cici yang terus melambaikan tangannya di depan wajah suaminya.
"Ehh iya, ada apa?" tanya Putra dengan tersentak.
"Mas kok ngeliatin aku kayak gitu amat sih?" tanya Cici sambil menatap setiap manik wajah Suaminya.
"Ng...ak apa...apa kok Say... ang," balas Putra dengan gugup.
"Oh, yaudah deh Mas," jawab Cici.
Sekitar tiga puluh menitan, mereka di dalam taksi, dan akhirnya sampai juga di rumah yang mewah bak istana. Cici langsung keluar dari taksi, dan menghamburkan tubuhnya ke pelukan sang Bunda yang sudah menunggu di depan rumah Putra bersama Ayah dan kedua mertuanya.
"Apakah kamu bahagia sayang, hmm?"tanya Mila pada putri tercintanya, dan melepaskan pelukannya.
" Iya Bunda, aku senang banget. Malahan aku belum mau pulang ke Indonesia, tapi karena besok aku sekolah ya harus pulang sekarang deh Bun," lirih Cici dengan bibir di manyunin ke depan.
"Uhhhh, anak Bunda... Lucu amat kalau lagi manyun gini?" ujar Mila sambil memegang kedua pipi putrinya. Tak lupa wanita itu memberikan kecupan lembut pada dahi putrinya.
Selesai melepas rindu pada Bundanya sekarang ia memeluk Ayah-nya dan terahir memeluk Ayah mertuanya.
Setelah itu mereka masuk ke dalam rumah, dan duduk di ruang tamu sambil berbincang-bincang sama Putra dan juga Cici tentang pengalaman mereka di Jepang.
"Sayang, pesanan Mama udah ada belom?" tanya Nini dengan senyuman kepada sang Menantu.
__ADS_1
TBC