
BAB 17
Lili sudah selesai bersiap-siap dan sekarang ia sudah menunggu sang kekasih pujaan hati di depan rumahnya. Sambil memainkan benda pipih yang baru saja dia ambil dari dalam tas selempang yang di bawa gadis itu.
Tak lama setelah itu Gilang datang dengan motor ninja kesayangannya. Lili yang melihat kedatangan Gilang langsung saja menghampirinya.
"Ayo naik Sayang," suruh Gilang kepada sang kekasih.
"Iya Sayang, tunggu sebentar ya, aku akan kirim alamat untuk Cici agar kita bisa perginya barengan ke pantai," ujar Lili dan di balas anggukan oleh Gilang.
Via chat on
{"Ci, kita ketemu di taman tempat biasa kita ketemuan ya?"}Lili mengirim pesan tersebut. Kebetulan saat itu Cici tengah online di aplikasi hijau itu.
{"Baiklah Li, tunggu aku di sana yah?"}balas Cici tak lama kemudian.
{"Ok,"}balas singkat dari Lili.
Via chat off
Sekarang Lili sudah naik ke atas motor Gilang, dan ia memeluk pinggang Gilang agar tak jatuh bila Gilang mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi.
Sepuluh menit berlalu, Lili dan Gilang sudah sampai di taman. Sedangkan Putra dan Cici, mereka belum juga sampai. Mungkin karena rumah mereka sangat jauh dari taman tersebut.
Selama lima menit Gilang dan Lili menunggu kehadiran mereka, akhirnya Gilang pun melihat kehadiran sang guru bersama seorang gadis. Ya siapa lagi kalau bukan Cici. Jelas terlihat di indra penglihatan Gilang jika Cici memeluk erat pinggang putra. Layaknya pasangan kekasih, seperti yang dilakukan Lili pada dirinya. Bingung, jelas Gilang sangat bingung.
"Sayang, kok Cici sama Pak Putra ya?" tanya Gilang menatap Lili dengan tatapan penuh tanda tanya, dan ya Gilang memang belum tau bahwa Putra dan Cici sudah menikah.
"Ya ngak apa-apa lah Sayang, lagian mereka juga serasi 'kan?" tanya Lili dan di balas anggukan dari Gilang.
Putra dan Cici sudah sampai di depan mereka. Saat sampai di sana Cici tak juga melepaskan pelukannya terhadap Putra, dan itu membuat Gilang merasa sangat heran terhadap pasangan tersebut. Apalagi kekasihnya tidak mengatakan apa-apa kepada dirinya. Membuat pemuda itu semakin kebingungan.
__ADS_1
'Kenapa Cici meluk Pak Putra ya? Yaudah lah nanti aja aku tanyain sama Lili di pantai.' batin Gilang yang penuh tanda tanya.
"Ayo berangkat," ajak Putra lalu, di angguki oleh Gilang.
Kedua pasangat tersebut sudah mulai melajukan motor mereka dengan kecepatan yang lumayan tinggi agar mereka cepat sampai di pantai. Gilang mendahului motornya dari motor Putra.
***
Pantai
Gilang dan Putra memarkirkan motor mereka di dekat jalan raya yang di sana juga terdapat tukang parkir yang akan menjaga motor mereka selama berada di pantai tersebut. Mereka berjalan secara berdampingan dengan pasangan masing-masing.
Putra dan Cici berpisah dengan Lili dan Gilang saat mereka sudah hampir sampai di dekat tepi pantai.
"Sayang kita duduk di sana yuk?" ajak Putra yang menunjuk ke arah tempat duduk yang di sana sudah terdapat kelapa segar di atas mejanya.
"Iya Mas ayo," jawab Cici yang langsung menarik tangan Putra menuju arah yang baru saja di tunjuk sang suami.
Putra yang melihat seorang wanita membawa berbagai macam bunga di tangannya langsung menghampiri wanita tersebut. Cici yang melihat Suaminya berbicara dengan ramah kepada wanita tersebut langsung membuat Cici merasa kesal karena ia sangat cemburu melihat Suaminya berbicara sangat serius dengan wanita itu. Meski nganga seorang pedagang bunga, tapi cukup membuat Cici cemburu. Memang tidak masuk akal. Tapi itulah kalau cinta sudah cinta apa saja akan membuat diri cemburu. Bahkan dengan anak kecil sekalipun.
Tak lama setelah itu, Putra sudah kembali ketempat Cici. Laki-laki itu kembali duduk di samping sang istri yang sedang memanyunkan bibirnya.
"Kenapa bibirnya di manyunin gitu sih, Sayang?" tanya Putra yang langsung memegang tangan Cici.
"Tau ah Mas. Pikir aja sendiri!" jawab Cici jutek sambil menepis tangan Putra.
"Haaa, Mas tau pasti kamu cemburu liat Mas sama wanita tadi kan? Hayo ngaku?" tebak Putra pada sang istri. Membuat gadis itu memalingkan wajahnya. Takut suaminya tau bagaimana raut wajahnya saat ini.
"Aihh, kamu sok tau banget sih Mas," ujar Cici yang tetap memalingkan wajahnya dari suaminya.
Putra tak lagi menggubris ucapan dari Cici. Putra langsung berdiri dan jongkok di hadapan Cici. Cici yang melihat suaminya di depannya hanya mengernyitkan keningnya karena, tidak mengerti suaminya itu akan melakukan apa.
__ADS_1
"Mau ngapain Mas?" tanya Cici yang terlihat binggung.
Putra mengambil tangan kanan Cici yang semula berada di samping bajunya, dan mencium punggung tangan itu dengan lembut penuh rasa Cinta.
"Sayang, sebe--narnya Mas cinta sama kamu, apakah kamu juga merasa seperti apa yang Mas rasakan?" Putra mengutarakan isi hatinya kepada sang istri. Dia sangat grogi, bahkan berbicara saja sudah tergagap seperti itu.
Yakinlah, bahwa Putra saat ini tengah dilanda rasa cemas. Cemas jika istrinya tidak memiliki rasa meski hanya secuil saja.
Deg...
Cici yang mendengarkan ucapan dari Putra, jantungnya langsung deg degan, dan wajahnya pun langsung memerah seperti kepiting rebus. Benarkah apa yang dikatakan suaminya. Benarkan suaminya jatuh cinta kepada dirinya. Bahagia? jelas Cici sangat bahagia. Nyatanya perasaannya dengan suaminya sama. Cinta yang dia kira hanya sepihak nyatanya terbalaskan.
"Ka--kamu nggak lagi bercanda bukan, Mas?" Cici tergagap. Ada rasa ragu dalam dirinya atas ucapan yang dikatakan suaminya.
Putra mengangguk. "Mas serius Sayang. Mas nggak lagi bercanda." jawab Putra.
"A--aku juga cinta sama kamu Mas," jawab Cici dengan nada sedikit gugup. Jangan lupakan wajahnya sudah memerah menahan malu.
Putra yang tadinya jongkok di depan Cici langsung berdiri dan memeluk tubuh Istrinya dengan erat. Karena, ia tak menyangka cintanya akan terbalaskan seperti ini.
"Terima kasih Sayang," ujar Putra sambil mengusap rambut istrinya yang ada di dalam pelukannya. Cici hanya menganggukkan kepalanya, sebagai balasan dari ucapan Putra.
"Yaudah, sekarang lepaskan pelukannya dong Mas. Liat tuh banyak orang yang menatap ke arah kita, Mas," Cici merasa risih saat banyak orang yang menatap ke arah mereka. Seperti tidak pernah melihat orang yang tengah kasmaran saja.
"Mas terlalu bahagia Sayang. Jika sekarang kita di rumah, Mas nggak akan lepasin kamu," uang Putra mengusap pipi istrinya dengan lembut.
"Iss, mana bisa gitu Mas," ujar Cici.
"Bisa dong Sayang. Kan nggak ada yang lihat kita.lagian hanya kita berdua saja di rumah. Nggak kayak disini, terlalu ramai," jujur Putra. Jika saja memang dia mengutarakan perasaan di rumah, dia tidak akan melepaskan pelukannya kepada istri kecilnya itu. Dia akan memeluknya hingga mata itu terpejam.
TBC
__ADS_1