
BAB 25
Rumah sakit
Tok ... Tok ... Tok ...
Ruang inap Cici diketuk oleh seseorang. Putra yang mendengar ketukan pintu langsung terbangun dari tidurnya. Putra tertidur saat menunggu sang istri yang belum terbangun dari tidurnya.
"Permisi Pak, saya mau memeriksa keadaan pasien," ujar dokter itu saat melihat Putra yang masih linglung.
"Iya Dok, silahkan!" jawab Putra yang langsung berdiri. Mendekat ke arah sang istri yang masih berbaring di atas kasurnya.
Dokter pun memeriksa keadaan Cici, dan ia tersenyum ke arah Cici lalu, dibalas juga dengan senyuman pula oleh gadis itu.
"Gimana keadaan Istri saya, Dok?" tanya Putra dengan pasti.
"Alhamdulillah, istri Bapak sudah mulai membaik." jawab dokter dengan senyuman, membalas ucapan Putra.
"Apakah saya boleh pulang besok Dok?" tanya Cici penuh dengan harap.
Dokter itu menatap ke arah Cici dan tersenyum. "Boleh," Dokter itu mengangguk seketika.
"Serius Dok?" Cici tampak mengembangkan senyumnya saat mendengar ucapan dokter itu.
"Iya," singkatnya.
Setelah tak ada lagi yang mau ditanyakan. Dokter itu akhirnya undur diri dari dalam ruang rawat Cici. Tak henti-hentinya gadis itu tersenyum. Tak sabar menunggu hari esok akan datang. Hari dimana dirinya akan meninggalkan tempat yang penuh dengan bau obat.
***
Hari ini wajah Cici terlihat sangat bahagia begitupun dengan Putra yang tampak tak melepaskan senyuman dari bibir tipisnya. Keluarga Cici maupun Putra tidak jadi datang ke rumah sakit karena, Putra mengabari mereka selesai sholat subuh tadi bahwa mereka hari ini akan pulang.
Tepat jam sembilan pagi, Putra dan Cici sudah berada di perjalanan menuju kediaman mereka. Dalam waktu setengah jam, mereka sudah sampai di rumah. Putra memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya yang terlihat sangat luas.
Putra membantu Cici untuk keluar dari dalam mobil. Saat Cici ingin berjalan tiba-tiba tubuhnya terasa lemas, dan ia langsung berpegangan kepada Putra.
"Sayang, kamu ngak apa-apakan?" tanya Putra khawatir kepada sang istri. Pasalnya tiba-tiba saja istrinya memegang dirinya dengan erat. Takut akan terjatuh.
"Tubuh aku terasa lemas bangat Mas," ujar Cici dengan memgedip-ngedipkan matanya.
__ADS_1
Putra langsung menggendong tubuh mungil sang istri untuk dibawanya ke dalam rumah. Sampai di dalam rumah, Putra mendudukan Istrinya di atas sofa ruang tamu. Disana sudah terdapat kedua orang tua Putra dan juga Cici.
"Gimana keadaan kamu sekarang Sayang?" tanya Mila dengan nada cemas.
"Alhamdulillah Bun, sudah mulai membaik," jawab Cici menampilkan senyum manisnya. Tak mungkin rasanya Cici mengatakan tubuhnya masih lemas. Yang ada sang bunda malah semakin khawatir akan dirinya.
"Oh ya Yah, apakah pelakunya sudah ketemu?" tanya Putra kepada Miko yang duduk di hadapannya. Menatap ayah mertuanya itu dengan penuh harap.
Miko mengangguk. "Sudah Sayang, dan kamu pasti mengenal dia," ujar Miko membuat putra menautkan alisnya.
"Emang siapa Yah?" tanya Putra dengan mengernyitkan keningnya karena bingung.
"Dia adalah Bella, teman se-pengajaran kamu," jawab Miko membuat Putra maupun Cici membulatkan mulut mereka. Tak menyangka Bella pelaku dari kejahatan yang dialaminya.
Tak pernah terbayangkan oleh Cici jika guru yang dia kenal baik, tega mencelakai dirinya tanpa dasar yang jelas. Bahkan dia tak memiliki salah apapun kepada guru itu. Lalu, apa yang membuat Bella mencelakai dirinya.
Flashback on
Lima bulan yang lalu
Tok ... Tok ... Tok ...
Pintu ruangan Putra di ketuk oleh seseorang dan Putra langsung menyuruh orang itu untuk masuk. Orang tersebut yang tak lain adalah Bella. Guru muda yang memiliki umur dua tahun lebih muda dari Putra.
"Tidak apa-apa, emang ada apa?" tanya Putra yang berhenti mengerjakan kertas yang bertumpuk di atas mejanya.
Bella terlihat ragu untuk mengatakan sesuatu kepada Putra. Mulutnya terasa berat untuk mengucapkan sesuatu, seakan-akan mulutnya sudah tekunci sangat rapat.
"Kenapa diam?" tanya Putra menatap Bella dengan mengernyitkan keningnya. Bingung melihat tingkah wanita itu. Padahal dia mau mengatakan sesuatu, namun setelah sekian lama wanita itu masih saja terdiam.
"Oh, i--itu sa--saya mau ngo-ngomong se-sesuatu--"
"Emang kamu mau ngomong apa? Kenapa harus gugup begitu?" tanya Putra yang mulai kesal dan langsung menyambar ucapan Bella.
Bella menghembuskan nafasnya dengan perlahan agar nafasnya kembali teratur seperti semula. Takut terulang lagi ucapannya yang gagal seperti tadi.
"Maaf kalau ucapan saya lantang kepada Bapak, saya ingin mengatakan kepada Bapak sebenarnya saya memiliki rasa kepada Bapak sejak awal saya melihat Bapak. Saya merasa Bapak adalah sosok seorang lelaki yang selama ini saya cari," jelas Bella dengan suara lantang. Bahkan tampak wanita itu memejamkan matanya saat mengatakan kata-kata yang keluar dari mulutnya.
Putra langsung terkejut dengan penuturan dari Bella. Laki-laki itu tidak menyangka kalau Bella selama ini mencintainya dalam diam. Sudah berulang kali Putra melihat Bella memperhatikannya secara diam-diam. Bahkan Putra hanya menganggap hal itu biasa. Lantaran dia tak memiliki perasaan kepada wanita itu.
__ADS_1
Putra tidak pernah salting saat di perhatikan oleh Bella. Putra bukan tipe seorang laki-laki yang mudah terpengaruh oleh tatapan mata seorang wanita.
"Kenapa diam Pak, apa Bapak juga memiliki rasa yang sama seperti saya?" tanya Bella dengan pedenya. Membuat Putra tersadar dari lamunannya.
"Maaf ya Bel, bukannya saya ingin membuat kamu kecewa atau apa. Tapi, kalau saya boleh jujur saya tidak punya rasa sedikit pun sama kamu," ujar Putra dengan jujur. Lagian buat apa dirinya harus berbohong perkara hati. Hati tak bisa di paksakan untuk seseorang.
"Kenapa Pak? Saya ingin Bapak menjadi pendamping hidup saya," ujar Bella yang sudah mulai berlinang air mata. Tak menyangka jika laki-laki di depannya ini malah tak memiliki perasaan kepadanya. Bahkan dengan pedenya dia berkata seperti itu.
"Sekali lagi saya minta maaf Bella. Jangan pernah berharap sama saya karena, itu akan menyakiti dirimu sendiri," ucap Putra yang menatap serius ke arah Bella.
"Maksud Bapak apaan? Kenapa saya tidak boleh berharap sama Bapak?" tanya Bella dan air matanya sudah mulai berjatuhan. Bahkan hidung wanita itu sudah tampak memerah.
"Karena saya sudah memiliki istri, dan saya sangat mencintai istri saya," ucap Putra dengan tegas.
Seketika tubuh Bella terasa sangat lemas mendengar penuturan Putra. Bella tidak tahu kalau selama ini ia sudah mempunyai istri. Air mata Bella semakin deras keluar dari pelupuk matanya karena, hatinya sangat teriris mendengar ucapan Putra. Bella tidak terima dengan takdir yang ia dapatkan. Baru saja rasanya dia menikmati rasa cinta yang kembali tumbuh di hatinya, setelah sekian lama hilang. Namun kini, rasa itu hanya semu yang bahkan tak akan bisa dia gapai. Sungguh, kehidupan yang tak adil menurut Bella.
Setelah itu Bella langsung berlari keluar dari ruangan Putra dengan tangisan yang tidak bisa lagi ia bendung. Bella menumpahkan tangisannya di kamar mandi yang ada di dalam ruangannya sendiri.
"Aku harus cari siapa sebenarnya istri, Putra, dan jika aku tau, aku ngak akan pernah rela ia bahagia di atas penderitaan yang sedang aku alami," ujar Bella yang menghapus air matanya dan tersenyum sinis.
Dua hari kemudian.
Bella melihat Cici keluar dari dalam mobil Putra dengan penuh senyuman. Bella merasa aneh kenapa siswinya itu bisa berangkat bersamaan dengan Putra.
Bella membuang firasat buruknya terhadap sang murid, ia berfikir mungkin saja Putra bertemu Cici di jalan. Dan Putra memberi tumpangan kepada Cici.
Hari ke-dua pun Bella masih melihat Cici berangkat bersama Putra, dan ia masih berfikiran yang sama terhadap Cici. Hingga akhirnya Bella semakin curiga kenapa Cici setiap hari berangkat ke sekolah bersama dengan Putra.
Di hari berikutnya Bella membayar seseorang untuk mengetahui ada hubungan apa Putra dengan Cici. Orang suruhan Bella berhasil mengetahui hubungan Cici dengan Putra. Bella merasa shock dengan ucapan orang suruhannya karena, istri dari Putra adalah muridnya sendiri yang tak lain adalah Cici.
Semenjak saat itu Bella sangat benci dengan Cici. Jangankan untuk menengur, melihatnya saja Bella merasa enggan bahkan muak. Suatu ketika Bella berniat untuk mencelakai Cici yang sedang berada di dalam kamar mandi, tapi usahanya gagal karena kehadiran Lili sahabat Cici.
Bella merasa geram dengan kedatangan Lili. Bella kembali ke ruangannya karena bel masuk sudah berbunyi.
Hingga pada akhirnya Cici sudah selesai melaksanakan Ujian Nasional. Usaha Bella tidak pernah berhasil untuk mencelakai muridnya itu.
Semenjak Cici sudah libur, ia tak pernah melihat Cici lagi. Pada saat Bella mendapatkan undangan dari Gilang, di sana kesempatan besar bagi Bella untuk mencelakai Cici. Bella yakin Cici pasti akan menghadiri pernikahan sahabatnya. Memang benar dugaan Bella menjadi nyata.
Flasback of
__ADS_1
Kini Putra tau apa alasan Bella melakukan ini semua kepada istrinya. Putra tak habis fikir kenapa harus Cici yang menerima imbasannya bukan dirinya sendiri.
TBC