MENIKAH DENGAN GURUKU

MENIKAH DENGAN GURUKU
BAB 45


__ADS_3

BAB 45


Hamid membalas pelukan gadis kecilnya. Hamid mengangkat Aulia untuk duduk di atas pangkuanya, dan kembali memeluk sang gadis kecil dengan sangat erat.


Rasanya hanya gadis kecil ini yang bisa memberinya kehangatan saat ini. Yang biasanya selalu ada Karim dan Lathifah yang ikut memberinya kehangatan.


Inilah kehidupan yang harus dijalani dengan ikhlas. Tidak hanya dalam hubungan pertemanan masalah sepele bisa jadi panjang. Namun, juga dalam hubungan kekeluargaan.


Karim dan Lathifah duduk di taman belakang rumah sambil menatap langit cerah yang menghiasi bumi. Tidak ada pembicaraan dari mereka sejak pertama mereka duduk di sana. Hanya kesunyian yang tercipta di antara mereka berdua.


Yang biasanya selalu saja ada pembicaraan hangat di pagi hari saat mereka libur, tapi sekarang semuanya sudah berubah.


Karim menatap langit nan cerah itu dengan netra coklat milik dirinya. Netra tersebut tidak lepas dari pandangan langit cerah ini. Malas rasanya untuk membuka pembicaraan, tanpa adanya sang kakak.


"Dek, gimana kalau kita terima saja permintaan maaf Kak Hamid?" Lathifah membuka pembicaraan tanpa mengalihkan pandangannya dari langit cerah ini.


"Iya Kak, aku setuju!" jawab Karim yang mulai menoleh ke arah Lathifah yang tetap setia pada langit biru.


"Tapi, Kakak gengsi buat nyapa Kak Hamid, Dek," ujar Lathifah yang beralih menatap wajah tampan Karim.


"Iya Kak, aku juga gitu. Tapi ini semua salah kita Kak, kenapa coba kita ngak maafin Kak Hamid. Padahal sudah berulang kali dia minta maaf sama kita, Kak," Karim merasa bersalah dengan apa yang sudah terjadi.


"Iya, Kakak juga tau Dek, tapi Kakak gengsi buat nyapa Kak Hamid duluan, Dek," ujar Lathifah lembut, dan menundukkan pandangannya.


Karim hanya menganggukkan kepalanya, tanda ia juga gengsi seperti apa yang diucapkan Lathifah barusan. Rasa gengsi itu muncul secara tiba-tiba. Padahal di hati mereka sangat ingin untuk menyapa sang kakak.


Karim dah Lathifah kembali dengan fikiran masing-masing tanpa ada pembicaraan lagi. Mereka kembali menatap langit pagi nan cerah itu. Pagi ini sangat lah cerah tanpa adanya awan hitam yang akan muncul secara tiba-tiba.


"Abang ... Abang ngak nagic lagi 'kan?" Aulia melepaskan pelukannya dari sang abang lalu, mencium pipi Hamid lama.


"Hmm-hmm, ngak kok, Dek," Senyum Hamid sambil membelai lembut rambut sang gadis kecil. Senyum yang diberikan Hamid bukanlah senyum kebahagiaan, tapi sebuah senyum yang dipaksakan. Di luar ia tersenyum, tapi di dalam lubuk hatinya yang terdalam ia menangis.


Sejenak keheningan terjadi di antara Hamid dan Aulia. Mereka saling memandang tanpa ada pembicaraan yang terjadi.


"Dek, kalau Abang pergi Adek rela ngak?" Hamid berbicara dengan netra yang hampir tertutup, dan dengan pikiran kosong ia melontarkan ucapan yang tidak seharusnya didengar oleh sang gadis kecil.


"Kenapa Abang ngomong gitu cama Lia?" tanya Aulia yang merasa heran dengan ucapan sang abang.


Hamid menatap lekat wajah mungil sang gadis kecil. "Au rela 'kan kalau Abang pergi?" tanya Hamid untuk yang kedua kalinya.


"Ngak! Abang ngak boleh pelgi kemana-mana! Abang cuman milik Lia, titik!" lirih Aulia dengan menekan kata titik, dan dengan netra membulat ke arah sang abang.


Hamid tertegun mendengar ucapan gadis kecil itu. Ntah kenapa ia dengan nekat mengucapkan ucapan tersebut kepada Aulia tanpa memikirkan kepada siapa ia sedang berbicara.


"Sayang, pergi jalan-jalan yuk? Mumpung Aulia lagi sama Hamid," Putra melirik ke arah istrinya yang sedang duduk sambil memakan cemilan yang berada di tangannya.


"Malas, Mas," jawab Cici yang tetap memakan cemilan yang berada di tangannya.


Hufff, Putra menghela nafasnya dengan kasar, lalu berlari menuju kamarnya. Cici hanya mengernyitkan keningnya melihat tingkah Suaminya. Biasanya ia selalu memaksa agar ia harus pergi, tapi sekarang apa? Ia malah pergi ke kamar tanpa berbicara sepatah katapun kepadanya.

__ADS_1


"Dasar!" umpat Cici dengan mulut yang dipenuhi dengan cemilan.


Cici terus saja memakan cemilan yang ada di tangannya hingga cemilan itu hanya tertinggal sebagian.


Sudah lima belas menit Cici duduk di sofa ruang tamu, tapi Suaminya tak juga kunjung turun dari kamarnya. Ntah sekarang ia sedang marah ntah apa? Yang jelas Cici tidak tau.


Menit berikutnya Putra turun dari lantai dua dengan memakai pakaian yang sangat rapi. Mungkin ia akan pergi jalan-jalan.


Cici melirik ke arah tangga yang mana sudah terdapat Suaminya dengan pakaian yang sangat rapi. "Ehh, bukannya aku nolak ajakannya, ya? Dia pergi sama siapa? Apa sama aku? Atau sama selingkuhannya? Ahhh, tidak-tidak, Mas Putra 'kan setia," batin Cici yang merasa binggung dengan situasi saat ini.


Putra terus saja menuruni anak tangga hingga akhirnya ia sampai di depan sang istri yang tetap setia dengan cemilannya.


"Kamu mau ikut ngak, Sayang?" Putra membuka pembicaraan, dan memperhatikan expresi yang akan dikeluarkan sang istri.


"Ngak! Aku ngak akan ikut Mas!" jawab Cici dengan judes.


"Beneran kamu ngak itu nih? Kalau aku pergi sama wanita lain boleh dong?" Goda Putra dengan sebuah senyuman terlukis di bibir indahnya.


"Oooo, jadi Mas mau pergi sama wanita lain yah?" selidik Cici sambil menaikkan satu bibirnya ke atas.


"Yaa, kalau kamu mengizinkan aku, ya aku mau dong, Sayang!" ujar Putra yang bergaya seperti anak muda layaknya. Ehh, btw Putra 'kan belum tua-tua amat yah?


Huhhhhhhh. "Mas ngak boleh pergi sama wanita lain, selain aku!" ujar Cici dengan menekan setiap kata-katanya, lalu meletakkan cemilan itu ke atas meja dengan kasar, dan berlari menuju kamarnya.


Putra hanya tersenyum manis melihat expresi mengemaskan dari sang istri. Ngak mungkin juga ia akan selingkuh dari wanita yang sangat ia cintai. Wanita yang sudah memberikan kebahagiaan yang tiada duanya di dunia ini.


"Yuk, kita berangkat, Mas?" ajak Cici sambil menarik mesra lengan Putra.


Putra tersenyum kemenagan. Ia sangat bahagia akhirnya sekarang mereka bisa pergi jalan-jalan berdua tanpa ada yang akan mengganggu.


Perjalanan mereka begitu macet hari ini. Mungkin karena sekarang kalender merah jadi banyak orang yang akan pergi jalan-jalan. Baik itu bersama keluarga mereka maupun dengan pasangan mereka masing-masing.


Putra memecah perjalanan yang macet ini dengan menyelip-nyelipkan mobil tercintanya pada kendaraan lain. Tapi tidak sampai mengenai kendaraan orang lain. Jika sampai, pasti sang empunya akan marah besar kepada Putra.


Putra memarkirkan mobil tercintanya di sebuah restoran ternama di kota ini. Ya, tujuan awal Putra yaitu makan romantis bersama sang istri.


Putra dan Cici masuk ke dalam restoran sambil bergandengan seperti sepasang pengantin baru. Mereka berjalan dengan sangat santai, dan pada akhirnya memilih duduk di pojok restoran, karena di sana bisa melihat air mancur yang di sekelilingnya dihiasi dengan bunga-bunga yang sangat cantik.


Cici memesan makanan yang sama dengan Putra. Tak berselang lama, pesanan mereka pun sudah sampai.


Putra memakan pesanannya dengan sangat santai, begitupun dengan Cici.


"Aaaaa, buka mulutnya, Sayang?" suruh Putra sambil menyodorkan sesendok makanannya ke mulut Cici.


Dengan senang hati, Cici menerima suapan suaminya. Siapa yang tidak akan senang disuapin suami sediri. Sudah berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan mereka tidak pergi makan-makan romantis seperti ini. Lantaran Aulia selalu menghalangi keromantisan sang ayah.


Cici juga menyuapi sang suami dengan sangat romantis, hingga makanan mereka pun sudah habis.


Selanjutnya Putra membawa Cici ke sebuah taman yang belum pernah dikunjungi oleh Cici. Ya, taman itu merupakan sebuah taman yang dihias oleh Putra dengan berbagai macam bunga tanpa sepengetahuan sang istri.

__ADS_1


"Mas, bagus banget pemandangannya di sini," lirih Cici sambil memegang bunga mawar kuning yang baru mekar.


"Iya Sayang," jawab Putra sambil merangkul bahu sang istri.


"Siapa yang menghias ini semua Mas?" tanya Cici sambil melirik ke arah sang suami yang tetap fokus melihat keindahan taman buatannya sendiri.


"Aku, Sayang," jawab Putra dengan senyuman yang mengembang di bibirnya, dan mengusap kepala sang istri dengan sangat lembut.


"Wouuu, bagus banget Mas! Ehh, tapi kapan Mas buat ini semua?" Cici menaikkan salah satu alisnya sambil menunggu jawaban sang suami.


"Satu bulan yang lalu, Sayang," jawab Putra dengan senyuman.


Cup ...


Satu kecupan hangat diberikan Cici pada pipi Putra. Putra membalas ciuman sang istri dengan sangat lembut, tapi agak lama dari kecupan sang istri.


Cici tersenyum bahagia ke arah Suami tercintanya. "Makasih ya, Mas, kamu udah bawa aku ke tempat seindah ini," lirih Cici yang tak henti-hentinya memandang keindahan taman dengan senyuman yang tetap menghiasi bibirnya.


Karim dan Lathifah sedang berada di balkon kamar milik Lathifah sambil meminum secangkir teh dingin. Udara pagi menjelang siang ini sangat panas, dan lebih menyenangkan apabila meminum teh dingin yang dapat menyegarkan tenggorokan.


Karim merentangkan kedua tangannya sambil menikmati hembusan angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah tampannya.


"Kakak, rentangkan deh tangannya? Enak loh Kak!" ajak Karim tanpa menatap ke arah sang kakak yang sedang menyesap teh dinginnya.


Lathifah berdiri dari duduknya, dan ikut merentangkan tangannya seperti yang dilakukan sang kembaran.


"Hummmmmm, enak banget Dek," lirih Lathifah sambil tersenyum ke arah sang kembaran.


Karim hanya membalas dengan anggukan kepala. Karim tidak menoleh sedikitpun ke arah sang kakak, melainkan tetap menatap lurus ke depan.


Sudah hampir tiga jam Putra dan Cici berada di taman, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke rumah, karena sekarang jam yang melingkar di pergelangan tangan Putra sudah menunjukkan pukul sebelas siang.


Perjalan saat ini tidaklah macet, jadi Putra bisa membawa mobilnya dengan sangat santai, bahkan udaranya jadi tidak terasa panas. Hal ini berbeda pada saat macet, udara terasa sangat panas, dan juga bau bensin dari mobil lain yang menyeruak menusuk hidung, dan itu dapat membuat perut menjadi mual.


Hamid mengajak Aulia masuk ke dalam kamarnya. Dengan senang hati, Aulia mengikuti sang abang.


"Lia, Abang mau pergi?" ucap Hamid yang berharap sang gadis kecil tidak ikut dengan dirinya.


"Lia ikut ya, Abang," Senyum Aulia yang dengan terpaksa Hamid menganggukkan kepalanya.


Mereka menuruni anak tangga dengan sangat santai menuju mobil yang sedang terparkir di halaman rumah nan megah itu.


Hamid memasukkan Aulia pada kursi penumpang bagian depan, lalu ia berlari kecil pada kursi pengemudi.


Tanpa mereka sadari dua pasang mata melihat mereka pergi. Siapa lagi kalau bukan Lathifah dan Karim. Mereka hanya membiarkan sang kabaran untuk pergi. Mungkun hanya untuk menenangkan fikirannya.


"Abang, kita mau pelgi kemana?" tanya halus Aulia sambil melirik sang abang dengan senyuman yang mengembang di bibir tipisnya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2