MENIKAH DENGAN GURUKU

MENIKAH DENGAN GURUKU
BAB 33


__ADS_3

BAB 33


Sudah tiga hari Lili berada di rumah sakit. Sekarang wanita itu sudah di perbolehkan oleh dokter untuk pulang ke rumahnya. Lili juga sudah memberi tahu kabar gembira ini kepada Cici dan juga Putra. Mereka sudah datang kemaren. Tak lupa mereka membawakan kado untuk putri mungil Lili.


Gilang sudah selesai mengemasi barang-barang istri dan juga anaknya.


Di perjalanan pulang, Lili maupun Gilang terlihat sangat bahagia. Mereka akan megenalkan kepada putri kecil mereka bagaimana bentuk rumah serta kamar yang akan ia tempati saat sudah besar nantinya. Ya, mereka sudah mempersiapkan kamar untuk anak mereka satu bulan sebelum kelahirannya.


Sampai di rumah, Lili dan Gilang dibantu oleh pembantu untuk membawakan barang-barang mereka.


Gilang menggendong putrinya untuk masuk ke dalam rumah. Sedangkan Lili berpegangan kepada lengan Gilang sambil berjalan dengan hati-hati.


Kamar


Gilang menidurkan putrinya kecilnya di atas ranjang nan empuk tersebut yang disusul oleh Lili yang duduk di sisi kanan dan Gilang di sisi kiri sang putri.


"Sayang, kamu mau kasih nama apa untuk putri kita?" tanya Lili kepada suaminya yang sedang duduk di samping putrinya.


"Hmm, gimana kalau Lisa Giani Putri?" ucap Gilang dengan terus memperhatikan wajah cantik Putrinya.


"Iya Mas, aku setuju. Namanya juga bagus Mas," Lili menyetujui nama yang diberikan suaminya untuk sang putri. Putri merah yang masih terlelap dalam tidurnya.


Kediaman Putra


Cici dan Putra sedang duduk berdampingan di balkon kamar sambil menikmati cuaca sore yang sangat cerah, dengan menikmati secangkir teh panas.


"Mas, aku boleh nanya ngak?" tanya Cici di sela-sela mereka menikmati udara sore yang sejuk sambil melihat wajah tampan Suaminya.


"Iya Sayang. Emang kamu mau nanya apa?" tanya Putra yang juga melihat wajah cantik istrinya.


"Hmm, gimana kalau kita USG saja kandungan aku Mas? Biar kita tahu apa jenis kelamin bayi kita," ujar Cici sambil mengelus perut buncitnya.


"Ngak perlu Sayang, biar kelahirannya nanti jadi kejutan buat kita. Oh ya semoga nanti anak kita kembar ya, Sayang," Putra ikut mengelus perut buncit Istrinya. Terasa beberapa kali. Tendangan yang diberikan buah hatinya.


"Emang Mas mau kembar berapa?" tanya Cici dengan senyuman. Sepertinya Cici memang sedang mengandung anak kembar karena dilihat dari perutnya yang sangat buncit. Bukan seperti seorang ibu yang mengandung satu anak.

__ADS_1


"Kembar lima, huahahahhaha," jawab Putra yang diikuti dengan tawaan yang membuatnya sakit perut.


"Aihhh, kalau itu ngak sanggup aku buat ngelahirin nya Mas, bisa-bisa aku mat--"


"Suuuttt, ngak boleh ngomong gitu karena, kalau itu sudah kehendak Allah maka kita tidak boleh menolaknya, Sayang," ujar Putra yang memotong ucapan istrinya. Dia tak ingin mendengar kata terakhir yang hampir saja terucap dari mulut istrinya. Bahkan sampai kapanpun Putra tidak akan pernah mau mendengarkan satu kata itu.


"Iya Mas, maaf," lirih Cici sambil menundukkan kepalanya, karena sangat bersalah dengan ucapannya tadi.


Putra yang melihat Istrinya menunduk, langsung mengangkat kepala Cici menggunakan tangannya untuk menatap wajahnya.


"Iya Sayang, Mas udah maafin kamu jadi, besok-besok jangan diulangin lagi ya Sayang," ujar Putra sambil mencium pipi tembem Istrinya. Selama Cici hamil tubuhnya semakin berisi.


Mereka berada di balkon kamar hingga jam enam sore, mereka sangat menikmati cuaca yang sangat mendukung hari ini.


"Mas, aku ke bawah sebentar ya?" ucap Cici yang dibalas anggukan oleh Putra.


Cici berjalan dengan sangat lambat karena, perutnya terasa sangat berat saat berjalan. Sampai-sampai ia sangat susah untuk melangkah karena perutnya yang sangat buncit dan juga besar.


Cici berjalan menuruni anak tangga dengan sangat hati-hati takutnya ia nanti akan terjatuh dari lantai dua sampai ke lantai satu.


Kamar


Putra terus menatap gawainya tanpa henti karena, saat ini ia sedang bermain game. Ia tahu bahwa Istrinya pasti akan lama untuk kembali ke dalam kamar, karena Cici berjalan sangat lambat seperti orang sedang mengandung anak kembar lima. Jika dilihat dengan jelas, perut istrinya bisa dikatakan tidak wajar seperti kehamilan biasanya. Tampak sangat buncit.


Keberadaan Cici


Saat ini Cici sudah berada di pertengahan anak tangga. Saat Cici hendak menglakah menuju tangga di bawahnya tiba-tiba kakinya terasa lemas, dan tidak kuat untuk menyeimbangi berat tubuhnya. Mengakibatkan wanita hamil itu terjatuh hingga lantai paling bawah.


"Aaaaa, Ya Allah sakit!" ringis Cici yang sudah terguling dari tengah tangga hingga tangga paling bawah. Sungguh rasanya tidak ada mainnya. Perinya teramat sangat sakit.


Karena, terlalu banyak tangga yang ia lewati saat jatuh mengakibatkan perut Cici terbentur berulang kali ke jenjang rumah. Hal itu juga menyebabkan darah segar keluar dari pahanya.


Putra yang mendengar teriakan sang istri, langsung bergegas keluar menemui istrinya. Matanya membulat melihat keadaan istrinya yang dilumuri darah pada bagian bawahnya. Langsung saja laki-laki itu bergegas menuruni anak tangga agar lekas sampai di dekat sang istri. Jangan luapkan darah sudah banyak keluar dari bagian bawah istrinya, membuat Putra sangat panik.


"Sayang!" Panggil Putra saat dia sudah berada di dekat istrinya.

__ADS_1


Cici terus meringis kesakitan yang tak bisa lagi dia tahan. Bahkan bagian perutnya terasa sangat nyeri akibat benturan tersebut.


Putra bergegas membawa Cici ke dalam mobilnya untuk dibawa ke rumah sakit yang lumayan jauh dari rumahnya.


Dalam waktu dua puluh menit, mereka sudah sampai di rumah sakit. Putra dengan sigap keluar dari dalam mobil lalu, mengendong istrinya yang sudah pingsan sejak dalam perjalanan menuju ruang sakit. Putra sangat khawatir melihat keadaan istrinya saat ini. Rasa takut kehilangan sangat kentara di wajah laki-laki itu.


Putra memanggil-manggil suster untuk menolong sang istri yang sedang ia gendong sekarang. Dua orang suster datang dengan membawakan tempat tidur dorong saat melihat Putra mengendong istrinya yang sudah dilumuri darah pada bagian bawahnya.


"Dok tolong selamatkan istri saya?" mohon Putra dengan deraian air mata karena, saat ini Cici sedang pingsan akibat rasa nyeri yang amat sakit.


"Iya Pak, In sya Allah kami akan berusaha semaksimal mungkin buat istri Bapak," ujar Dokter itu dengan lembut. Lalu membawa Cici masuk ke dalam ruang persalinan.


Putra menunggu di luar ruangan sang istri yang sedang ditangani oleh dokter. Putra meronggoh saku celananya untuk mengambil HP untuk menghubungi orang tuanya serta kedua mertuanya.


Selesai menghubungi semuanya Putra kembali duduk di kursi di depan ruangan tersebut sambil merutuki dirinya sendiri.


"Maaf Sayang, andai saja tadi aku menemanimu untuk ke bawah. Pasti semua ini ngak akan pernah terjadi," ujar Putra yang menyalahi dirinya sendiri. Menyalah jika apa yang dialami istrinya itu adalah salahnya.


"Ahhh, dasar bodoh ... bodoh ... bodoh ..., jelas-jelas istrimu sedang hamil ngapain tidak kamu gandeng dia untuk ke bawah," ujar Putra dengan memukul-mukul kepala serta dadanya dengan cukup keras.


Nini yang melihat putranya memukul-mukul kepalanya langsung berlari yang diikuti oleh sang suami serta kedua besannya.


"Hentikan Nak!" ujar Nini sambil memeluk sang putra. Sungguh dia sangat sedih melihat putra tampak kacau seperti ini. Dia sedih melihat putranya yang tampak terpukul dengan keadaan istrinya.


"Ngak Ma, ini semua salahku. Andai saja tadi aku menemani Cici untuk turun ke bawah, maka ini semua ngak akan pernah terjadi," jawab Putra dengan deraian air mata dan terus memukul-mukul kepalanya tanpa henti meskipun sudah ditahan oleh Nini maupun Farhan.


"Hentikan Putra!" bentak Miko yang melihat menantunya yang seperti tak dirinya.


"Ngak Yah, aku harus melakukan ini semua karena, ini semua salahku sendiri," ujar Putra yang terus menangis dan merutuki dirinya sendiri.


Plak ...


Satu tamparan keras diberikan oleh Nini kepada sang putra. Ia tahu bahwa ini semua tidak ada salah siapapun ini semua sudah takdir dari yang Maha Kuasa.


TBC

__ADS_1


__ADS_2