
BAB 18
"Sayang, aku mau nanya sesuatu boleh ngak?" tanya Gilang menatap kekasihnya itu dengan intens.
"Iya sayang, emang kamu mau nanya apa?" tanya Lili dengan mengernyitkan keningnya. Seperti ada hal yang penting yang mau ditanyakan kekasihnya lantaran mimik wajahnya tampak serius.
"Tadi aku lihat Cici meluk Pak Putra pas kita nungguin mereka di taman. Tapi kok bisa Cici meluk guru kita ya? Kamu tau sesuatu ngak Sayang?" tanya Gilang yang memang sangat penasaran ada apa antara Putra dan Cici.
"Hmm, gimana ya Sayang, tapi kamu janji ngak akan ngasih tau siapa-siapa ya Sayang," lirih Lili yang merasa ragu untuk memberitahu Gilang. Dia takut jika saja suatu hari Gilang akan membocorkan hubungan Putra dan Lili. Jika mereka sudah tamat sekolah tidak mengapa. Tapi jika mereka masih sekolah yang ada Lili akan mendapat masalah.
"Iya aku janji Sayang. Emang mereka ada hubungan apa?" desak Gilang yang sangat ingin tahu hubungan murid dan guru itu.
Lili menatap ke arah lautan yang terbentang luas. Sambil mengambil nafas agar saat ia mengatakan yang sebenarnya pada sang kekasih tidak ada yang salah. Berharap Gilang akan menyimpan rahasia besar sahabatnya. Sesuai janji yang laki-laki itu katakan.
Gilang tetap menatap wajah kekasihnya dengan sangat dalam, dan tetap menunggu jawaban dari kekasihnya tersebut.
Hufff, Lili mengambil nafas sekali lagi, dan menghembuskannya dengan perlahan. Lalu kembali menatap wajah sang kekasih.
"Sebenarnya Cici sama Pak Putra sudah menikah beberapa bulan yang lalu, Sayang," ucao Lili dengan satu tarikan nafas. Sudah seperti seorang lelaki yang membaca ijab qobul.
"Haaaah, serius Sayang? Kamu ngak bohong kan? Nggak lagi bercanda bukan?" tanya Gilang yang nyaris tak percaya dengan ucapan kekasihnya.
"Iya aku serius. Lagian buat apa aku bohong sama kamu," Lili kembali menatap lautan dengan ombak yang tidak terlalu kencang. "Kamu harus janji sama aku Sayang. Kamu harus menjaga rahasia besar ini dari siapapun. Karena aku tidak mau jika akhirnya aku bermasalah karena kamu membocorkan rahasia Cici, apalagi saat kita masih sekolah." Lili menghadap kekasihnya. Menatap laki-laki itu dengan serius.
"Iya Sayang, aku janji tidak akan memberitahu siapapun
"Yasudah Sayang, kita ke tempat Cici yuk?" ajak Lili kepada Gilang lalu, di balas anggukan dari pemuda itu.
Sekarang Gilang dan Lili sudah berjalan menuju temoat dimana Putra dan Cici. Sampai di tempat Cici, Lili langsung duduk di samping sahabatnya, sedangkan Gilang ia duduk di samping sang guru.
Cici yang terus-terusan memperhatikan wajah tampan Suaminya tak menyadari kedatangan sahabatnya. Sama seperti Putra ia juga terus-terusan memperhatikan wajah cantik Istrinya, dan ia juga tak menyadari bahwa Gilang sudah duduk di sampingnya.
Putra dan Cici duduk berhadapan, dan saling memandang satu sama lain. Mereka berdua saling mengukir sebuah senyuman di bibir mereka masing-masing.
__ADS_1
Lili menatap ke arah Gilang dengan mengernyitkan keningnya, dan di balas dengan mengangkat bahunya oleh Gilang.
Lili yang melihat mereka saling menatap tanpa menyadari kehadiran mereka hanya berdehem berkali-kali, begitupun dengan Gilang.
Putra dan Cici tersadar dari tatapan mereka, dan sekarang beralih menghadap kesamping mereka masing masing.
"Ehh, sejak kapan kamu datang Li?" tanya Cici sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sungguh dia merasa malu, karena tak menyadari keberadaan Lili.
"Udah dari tadi, lagian kamu sih terus-terusan menatap Pak Putra. Sampai-sampai kehadiran kita berdua ngak di sadari. Iya kan sayang?" ucap Lili, dan di balas anggukan kecil dari Gilang.
"Hehehe, maaf deh, lagian kalian sih ganggu kita saja, ya kan Mas?" tanya Cici pada Putra, dan tak menyadari ucapannya. Cici juga belum tau bahwa Lili sudah memberitahu tahu semuanya pada Gilang.
"Oooo, jadi kita berdua gangguin kalian ya? Oh ya aku lupa selamat ya Pak dan juga buat kamu, Ci," lirih Gilang yang menatap Putra dan Cici secara bergantian.
"Selamat buat apa?" tanya Putra yang bingung dengan ucapan Gilang.
"Ya selamat buat pernikahan Bapak dan Cici," jawab Gilang dan itu sukses membuat Putra dan Cici terkejut dengan penuturan Gilang.
Putra dan Cici menatap ke arah Lili karena hanya dia yang mengetahui tentang pernikahan mereka.
***
Sekitar dua jam mereka di sana akhirnya mereka mereka memilih untuk mengisi perut yang tampaknya sudah mintak diisi. Cacing-cacing di dalam perut mereka sudah berontak. Gilang dan Putra pergi membeli makanan yang berada di tepi jalan rasa. Tak terlalu jauh dari bibir pantai. Sedangkan Lili dan Cici mereka menunggu kedatangan pujaan hati mereka.
Hanya butuh waktu sepuluh menit, Putra dan Gilang sudah kembali dengan membawa dua piring nasi beserta dua gelas air putih di setiap tangan mereka.
Mereka menikmati makanan di pinggir pantai dengan menikmati hembusan angin yang sangat terasa sangat sejug menerpa wajah keempat orang itu. Tak butuh waktu lama akhirnya mereka telah selesai makan. Mereka beristirahat sekitar sepuluh menit untuk menenangkan perut masing-masing. Tak mungkin rasanya untuk langsung beraktifitas dikala perut masih terasa kekenyangan. Yang ada perut mereka akan terasa sakit, karena tidak adanya istirahat setelah makan.
***
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Mereka berempat bersiap-siap untuk pulang ke rumah, karena sebentar lagi matahari akan tenggelam.
Mereka sudah naik ke atas motor pasangan masing-masing. Putra maupun Gilang melajukan motornya dengan kecepatan yang lumayan tinggi agar mereka tidak kemalaman sampai di rumah.
__ADS_1
Hanya butuh waktu kurang lebih dua jam, Putra dan Cici sudah sampai di rumah. Sedangkan Gilang ia mengantarkan Lili ke rumahnya terlebih dahulu. Setelah itu baru pemuda itu langsung ke rumahnya tanpa singgah kemanapun.
***
Tak terasa dua bulan sudah berlalu, kini adalah hari di mana Cici akan menerima tanda lulusnya begitupun dengan Lili.
Lili dan Cici sedang duduk di dalam kelas, sambil menunggu kedatangan wali kelas. Tak lama setelah itu datanglah seorang wanita paruh baya dengan membawa banyak amplop di tangannya. Di belakang wanita itu terdapat teman satu kelas Cici maupun Lili. Mungkin saja mereka menunggu walas mereka di luar. Karena, bisa jadi teman-temannya itu merasa bosan jika menunggu terlalu lama di dalam ruangannya tempat mereka menimba ilmu selama lebih kurang delapan bulan saat menduduki kelas tiga SMA.
Sebelum itu guru wanita itu mengabsen setiap muridnya. Mana tau dari mereka ada yang tidak hadir. Bisa saja karena sakit, atau bahkan malas untuk datang.
Tak butuh waktu lama, walas memberikan amplop itu kepada seluruh siswa yang berada di dalam kelas tersebut dengan berurutan sesuai dengan nama mereka menurut absen.
Cici dan Lili membuka amplop itu secara bersamaan, dan isi yang tertulis di dalam amplop itu adalah LULUS.
Cici dan Lili langsung berpelukan setelah melihat isi amplop yang di berikan oleh wali kelas mereka. Raut bahagia itu sangat kentara dari wajah kedua gadis itu. Mereka sangat bahagia, akhirnya perjuangan selama menduduki bangku SMA, akhirnya usai sudah.
Sekitar jam empat sore, Cici sudah sampai di rumah, dan ia langsung menuju ke dalam kamarnya. Di dalam kamar sudah terdapat Putra yang berbaring sambil memainkan benda pilih yang tak akan pernah absen dalam seharipun di tangan itu.
Cici tak mengajak sang suami untuk berbicara. Badannya yang lengket membuat gadis itu mengambil handuk yang tergantung di tempat gantungan handuk. Sebelumnya meletakkan amplop yang dia bawa di atas nakas di samping tempat tidur. Selanjutnya gadis itu meninggalkan suaminya yang tampak juga terdiam menuju kamar mandi. Tidak bisa diundur, karena lengketnya keringat pada badannya membuat Cici tidak nyaman sama sekali.
Saat gadis itu sudah masuk ke dalam kamar mandi, Putra langsung saja melirik aplot yang diletakkan istrinya di atas malas. Merangkak menuju ujung tempat tidur, karena Putra berbaring dibagian tembok. Otomatis nakas di tidak berada di sampingnya.
Membuka amplop tersebut, lalu setelahnya senyum mengembang di bibir sedikit tebal itu. Melihat sang istri yang sudah lulus dari sekolahnya. Ada rasa bahagia yang menyeruak dalam diri Putra. Rasa bahagia yang sangat membuat laki-laki itu terus tersenyum tanpa berhenti sedikitpun.
__ADS_1
TBC