MENIKAH DENGAN GURUKU

MENIKAH DENGAN GURUKU
BAB 20


__ADS_3

BAB 20


Hari ini, hari dimana Gilang berjanji akan datang ke rumah kekasihnya, untuk melamar gadis itu. Dengan membawa ke-dua orang-tuanya. Tepat pukul delapan malam, Gilang serta Ayah dan Ibunya sampai di depan rumah Lili.


Tok... Tok... Tok...


Pintu rumah Lili di ketuk oleh Gilangda. Keluar seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik. Gilang yakin itu adalah ibu dari kekasihnya.


"Assalamu'alaikum," sapa Gilang beserta keluarganya.


"Wa'alaikumsalam, ehh Nak Gilang. Ada apa malam-malam kesini?" tanya Ibu Lili dan mempersilahkan tamunya untuk masuk. Wanita itu tampak bingung, kenapa pemuda itu datang malam-malam, apalagi ini dengan ke-dua orang tuanya.


Gilang beserta keluarganya masuk, dan duduk di ruang tamu. Sedangkan Maya, pergi ke dapur untuk mengambil air serta cemilan untuk tamunya. Ya nama Ibu dari Lili adalah Maya.


Tak butuh waktu lama, Maya pun sudah kembali ke ruang tamu. Menghidangkan air beserta cemilan tersebut untuk tamunya.


"Maaf Mbak, kedatangan kami kesini menganggu waktu istirahat Mbak," ujar Fadhil Papa dari Gilang.


"Ohh ngak kok Pak. Emang ada acara apa Bapak, dan keluarga datang kesini?" tanya Maya dengan serius. Dia tidak tau jika keluarga itu akan melamar putrinya, karena sang putri tidak memberi tahu dirinya.


Tak... Tak... Tak...


Suara langkah kaki membuat Fadhil tidak menjawab ucapan Maya. Laki-laki paruh baya itu melirik ke arah pemilik suara langkah kaki tersebut yang tak lain adalah Lili.


Sekarang Lili sudah sampai di ruang tamu, dan ia duduk di samping Ibunya. Seketika ia melirik ke arah Gilang dan menatap Gilang dengan senyuman.


"Yasudah sekarang saya lanjut lagi ya Mbak. Kedatangan kami kesini sebenarnya ingin menjadikan anak Mbak sebagai menantu kami. Apakah Mbak setuju kalau anak kita menikah?" ungkap Fadhil dan di angguki oleh Istrinya.


"Gimana ya Pak, saya tergantung pada anak saya saja, kalau dia setuju ya saya akan nurut saja." Awalnya Maya tampak terkejut dengan ucapan laki-laki itu. Tapi melihat anaknya yang tengah menatap lekat Gilang dengan tatapan yang bisa di tembak Maya.


Sekarang Fadhil beralih menatap ke arah Lili, dan Lili menganggukkan kepalanya pertanda ia menyetujui lamaran dari papa Gilang.

__ADS_1


Hanya butuh waktu dua jam untuk mereka mendiskusikan tentang masalah pernikahan Lili dan Gilang. Sekarang hari pernikahan mereka pun sudah di tetapkan. Gilang dan Lili akan menikah tiga hari lagi karena orang tua Gilang akan pergi keluar kota, jadi pernikahan mereka semakin di percepat.


Tepat pukul sepuluh malam, Gilang beserta keluarganya kembali ke rumah mereka.


***


Tiga hari kemudian


Hari ini Gilang dan Lili akan menikah, dan mereka sudah menyebarkan undangan kepada teman-teman mereka dan juga untuk sebagian Guru di sekolah yang pernah mereka tempuh dulu. Undangan itu mereka bagikan satu hari yang lalu.


Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Acara pernikahan Gilang dan Lili pun juga sudah selesai. Sekarang mereka akan menunggu tamu yang mereka undang kemaren.


Putra dan Cici datang ke pesta pernikahan Lili jam tujuh malam. Cici menggunakan gaun yang senada dengan jas yang di kenakan oleh Putra yaitu warna biru langit. Cici dan Putra menghampiri Lili yang sedang duduk bersama Gilang di kursi pelaminan.


"Selamat buat kalian berdua. Semoga kalian bisa menjadi keluarga yang Samawa, aamiin," ucap Cici kepada sepasang pengantin itu, dan memberikan sebuah kado besar kepada Lili


"Iya aamiin Ci, makasih ya doamyai," ucap Lili yang langsung memeluk sahabatnya itu dengan erat.


"Hehehe, iya Pak makasih," jawab Gilang sambil tersenyum.


Sekarang jam menunjukkan pukul sembilan malam. Seluruh tamu undangan yang datang berkumpul karena imc sedang mengumumkan bahwa sebentar lagi akan di adakan pesta dansa.


Sekarang imc sudah selesai memeberikan pengumuman. Seluruh tamu sudah mulai berdansa karena suara musik sudah mulai berbunyi.


Putra dan Cici berdansa dengan sangat romantis. Sedangkan Lili hanya menatap semua tamunya dengan tatapan sangat bahagia. Gilang yang menyaksikan pemandangan tersebut merasa iri, dan ia langsung menghampiri Lili. Mengaja wanita itu untuk berdansa seperti yang tahu mereka lakukan.


Saat seluruh tamu sedang asik berdansa ternyata di sudut ruangan rumah Gilang terdapat seorang wanita yang terus menatap tajam ke arah Cici. Ia tak henti-hentinya menatap Cici yang berdansa sangat romantis dengan Suaminya. Hal itu membuat wanita itu terbakar api cemburu.


Sekitar lima menit Cici mencari kamar mandi, dan akhirnya ia pun mendapati kamar mandi di dekat dapur Gilang.


Cici masuk ke dalam kamar mandi lalu, menutup pintunya dengan rapat. Wanita yang menatap iri pada Cici mengikutinya. Wanita itu melihat kunci yang tergantung di pintu kamar mandi. Dengan liciknya wanita itu mengunci Cicj dari luar.

__ADS_1


Setelah itu, Wanita itu pergi dari sana dengan senyum mengembang dari bibirnya. Senyum kepuasan karena targetnya sudah dalam perangkapnya saat ini. Wanita itu kembali ketempat dansa diadakan.


Disisi lain, Putra duduk di kursi yang tak jauh dari kursi pelaminan Lili sambil memainkan gawainya. Menunggu kehadiran sang istri.


Wanita itu melirik ke arah Putra dengan tatapan yang tidak bisa ditebak. Wanita itu tersenyum manis ke arah Putra yang tengah asik dengan gawainya lalu, ia pun pergi dari sana.


Cici masih berada di dalam kamar mandi, dan menatap tubuhnya melalui pantulan cermin. Cici tersenyum melihat berapa cantiknya ia malam ini.


"Hmm, ternyata aku sangat cantik dengan gaun ini?" lirih Cici kepada dirinya sendiri sambil tersenyum bahagia. Memang benar apa yang dikatakan Cici, wanita itu tampak lebih cantik dari biasanya. Dengan polesan make-up tipis di wajahnya.


Cici beranjak menuju pintu keluar kamar mandi. Cici membuka pintu tersebut dengan senyuman yang sumringah. Saat ia membuka pintu, ternyata pintunya tidak bisa di buka alias sudah di kunci dari luar.


"Ehhh, kok pintunya ngak bisa di buka sih? Padahal tadi aku ngak ngunci pintunya," ucap Cici berdialog kepada dirinya sendiri.


"Tolong ... Tolong ... Tolong ..." teriak Cici dengan suara keras dari dalam kamar mandi.


Cici terus saja meminta tolong agar ada yang mendengar suaranya dari luar kamar mandi tapi, hasilnya nihil di luar kamar mandi tidak ada seorang pun yang lewat.


Keberadaan Putra


Sekitar sepuluh menit Putra menunggu kehadiran sang istri yang tak juga datang-datang, dan itu membuat Putra merasa kesal. Kenapa tidak, ia menyaksikan setiap pasangan yang berdansa dengan sangat romantisnya. Sedangkan dia hanya menyaksikan keromantisan mereka semua dengan tatapan sangat iri.


"Issssh, kok lama amat Cici di kamar mandi ya? Apa Cici masih mencari di mana kamar mandi di rumah Gilang? Ahh, sudahlah aku tunggu aja lima menit lagi," ujar Putra yang sudah sangat kesal itu.


Di kamar mandi Cici tetap berusaha minta tolong agar ia bisa keluar. Tetapi, sudah delapan menit ia minta tolong tetap saja tidak ada yang menolongnya.


Wanita yang mengunci Cici saat ini sedang berjalan menuju ke arah kamar mandi yang ia kuci dengan membawa kabel yang lumayan panjang. Ntah dari mana wanita itu mendapatkan kabel tersebut.


Wanita itu sudah sampai di depan kamar mandi. Ia sedang mencari di mana tempat untuk mencolokkan kabel tersebut. Dan akhirnya ia menemukan tempat colokan yang berada di tembok samping pintu kamar mandi.


TBC

__ADS_1


__ADS_2