MENIKAH DENGAN GURUKU

MENIKAH DENGAN GURUKU
BAB 9


__ADS_3

BAB 9


Saat ini Putra dan Cici sudah berada di dalam mobil. Tak lupa sebelum menjalankan mobil, Putra dan Cici terlebih dahulu memasang sabuk pengaman. Dirasa semuanya sudah selesai, langsung saja Putra menjalankan mobilnya menuju keluar gerbang sekolah.


Sedangkan Lili yang tadinya bersembunyi, langsung saja keluar saat mobil yang dikendarai Putra sudah keluar dari gerbang sekolah. Yang artinya mereka tidak akan tahu jika Lili telah mendengar apa yang mereka katakan.


Pikiran gadis itu masih saja berkecamuk karena, mendengar lontaran perkataan dari guru serta sahabatnya. Ingin sekali tadi dirinya menghampiri sahabat serta gurunya, agar dia tau apa hubungan antara sahabatnya serta Putra. Namun Lili urungkan karena tak mau gegabah saat ini. Lagian ini sekolah bukan tempat lain. Jika saja itu terjadi di taman bisa saja Lili menghampiri mereka untuk menanyakan kebenarannya.


Dirasa apa yang kini tengah dia pikiran tidak akan mendapatkan hasil, Lili memilih untuk keluar dari gerbang sekolah menuju jalan raya untuk menyetop taksi yang akan membawanya pulang. Lagian tak mungkin dia akan disini sampai malam. Yang ada dia akan ketakukan, apalagi banyak yang mengatakan sekolah itu banyak angkernya.



"Mas, cari makan yuk? aku lapar nih," ajak Cici mengusap perutnya, yang sedari tadi terasa berbunyi. Meski tidak terlalu keras, tapi Cici bisa merasakan seperti ada gelombang di dalam perutnya.



"Hmm, yaudah kita makannya di mana?" tanya Putra mengiyakan ucapan istrinya. Lagian dia juga merasa lapar.



"Terserah Mas aja deh. Di manapun aku nurut aja," balas Cici sambil tersenyum manis, dan di balas anggukan kecil dari Putra.



Lima belas menit berlalu, mereka akhirnya sampai di sebuah tempat wisata yang sangat indah dengan berbagai macam bunga yang tertata sangat rapi, dan dahan-dahan pohon yang di bentuk seperti gambar love, dan juga terdapat rumah pohon yang di cat semenarik mungkin mungkin oleh pemiliknya. Sebelum masuk ke dalam tempat wisata, Putra memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang sudah tersedia.



"Ayo turun Sayang, kita makan di sini saja ya?" ajak Putra, dan di angguki oleh Sang Istri. Cici melihat ke sekeliling yang membuat matanya berbinar, masalahnya dia baru kali ini berkunjung kesini



Mereka masuk ke dalam perkarangan tempat wisata untuk mencari tempat makan. Putra celingak-celinguk mencari tempat makan yang paling indah di sana, dan akhirnya ia melihat tempat makan yang berada di dekat rumah pohon yang di hias sangat menarik.



"Sayang, kita makan di situ yuk? tempatnya sangat bangus buat kita Sayang," ajak Putra sambil menunjuk ke arah rumah pohon tersebut. Tak lupa laki-laki itu menarik lembut tangan istrinya, agar saat berjalan tidak ketinggalan. Karena langkah Putra yang lebar sedangkan langkah istrinya hanya kecil. Satu langkah bagi putra, namun bisa dua langkah untuk Cici.

__ADS_1



"Iya Mas, kita di sana saja. Lagian juga sangat bagus," balas Cici sambil tersenyum. Matanya melirik sana-sini, lokasi yang sangat strategis.



Sekarang mereka sudah sampai di dekat rumah pohon tersebut, lalu Putra langsung memesan mie telur agar mereka tak lama menunggu makanan itu karena perut mereka sudah sangat lapar.



Putra dan Cici menaiki rumah pohon itu Setelah sebelumya Putra memesan makanan. Dari atas rumah pohon itu kita dapat melihat betapa luasnya tempat ini. Bahkan pemandangannya juga sangat indah serta asri dengan banyaknya pohon-pohon yang tumbuh dengan berjajar rapi. Terawat dan juga sangat bersih. Bahkan ada pula burung-burung yang tengah memakan biji-bijian pohon yang tampak tengah berbuga dan ada pula yang sudah tampak berbuah kecil.



Saat tengah menikmati suasana disana, datang seorang pelayan membawakan pesanan mereka. Meletakkan diatas meja yang memang disediakan di atas rumah pohon tersebut. Selanjutnya pelayanan itu kembali menuruni rumah pohon dan mempersilahkan mereka untuk makan.



Putra yang melihat Cici makan berlepotan langsung saja mengambil tisu yang sudah tersedia di atas meja dan mengelapkannya pada bibir Cici yang tampak berlepotan karena minyak dari mie yang dia makan.




Cici yang menerima perlakuan tersebut dari Putra langsung saja jantungnya berdetak dua kali lebih kencang dari yang sebelumnya. Bahkan rona merah tampak dari wajahnya yang putih.



'Ya Tuhan, kenapa dengan jantung hamba, kok berdetak sekencang ini?' batin Cici yang tak tau dengan perasaannya sekarang, dan tetap menatap ke arah Putra dengan intens.



"Yaudah, lanjut gih makannya." ujar Putra yang membuat Cici tersadar dari lamunannya.



"I... ya Mas," balas Cici sambil mengangguk beberapa kali.

__ADS_1



\*\*\*



Sekarang mereka sudah selesai makan, dan mereka akan kembali ke rumah, karena sekarang jam sudah menunjukkan pukul enam belas tiga puluh sore. Tak mungkin mereka akan menunggu hingga malam untuk pulang. Karena pasti orang tua Putra akan sangat khawatir karena anak serta menantunya belum juga pulang.



Sampai di rumah, Putra dan Cici langsung masuk dan menuju kamar mereka untuk mengganti pakaian mereka masing-masing.



Lili yang sedang duduk sambil memainkan gawainya langsung teringat akan perkataan Putra di sekolah siang tadi.


"Aku harus nanya sama Cici besok deh, kenapa Pak Putra manggil dia degan sebutan Sayang," monolog Lili sambil menatap gawainya yang masih hidup. "Lebih baik sekarang aku chat dia dulu saja," kata Lili dan membuka aplikasi wassap untuk mengirim pesan pada sahabatnya.


Via chat on


("Hai Ci, lagi apa?") tanya Lili pada Cici yang tampak online di aplikasi tersebut.


("Hai juga Li, aku lagi nonton Li. Tumben chat aku?") tanya Cici mengerutkan keningnya, padahal mereka sangat jarang komunikasi melalui HP kecuali menanyakan masalah tugas sekolah.


("Hehehe, lagi rindu saja sama kamu Ci,") balas Lili tak lupa memberi emoticon ketawa di akhir pesannya.


("Hmm, gitu ya Li,") balas Cici dan mengirim emotikon senyuman pada Lili.


("Iya Ci. Oh ya aku mau curhat sama kamu nih Ci,") balasnya lagi.


Tok... Tok... Tok...


Pintu kamar Lili diketuk oleh Mamanya, karena terdengar suara wanita itu dari luar kamarnya. Langsung saja membuat Lili bangkit dari duduknya menuju pintu kamar. Sebelum membuka pintu kamar, Lili mengirimi Cici pesan terlebih dahulu.


("Ci maaf ya aku nggak jadi curhat. Mama aku manggil-manggil aku dari tadi, mungkin saja ada hal yang penting,") Lili mengirim pesan tersebut hingga terdapat centang dua abu-abu, lalu gadis itu langsung saja mematikan data selulernya.


Via chat off

__ADS_1


TBC


__ADS_2