
BAB 24
Rumah sakit
Putra dan Cici menghabiskan waktu dengan bercerita sambil tertawa agar Cici tidak merasa bosan bila berada di rumah sakit. Lagian Cici juga belum diizinkan untuk pulang ke rumah.
Klek
Pintu ruang inap Cici di buka oleh seorang suster dengan membawakan makanan di atas nampan coklat. Diatas itu terdapat nasi serta lauknya. Jangan lupakan ada buah dan segelas susu serta segelas air putih.
Sepeninggal suster, Putra menyuapi Istrinya dengan hati-hati. Cici yang mendapat suapan dari sang suami menerimanya dengan senang hati. Kenapa tidak, sorang suami yang sangat ia cintai sekarang menyuapinya dengan penuh kasih sayang, senyuman dan pasti setiap orang menginginkan suami seperti Putra 'kan?
Hanya dalam waktu sepuluh menit Cici pun sudah selesai makan. Putra yang dari tadi belum sempat makan sekarang, dia minta izin kepada sang istri untuk membeli makanan keluar.
Sepuluh menit kemudian, Putra sudah kembali ke ruangan Cici dengan membawa satu plastik kantong kresek yang berisi makanan.
Putra membuka kantong itu, dan ia langsung memakan nasi goreng yang ia beli di luar rumah sakit. Selesai menghabiskan nasi gorengnya, Putra kembali bercerita bersama sang istri yang sedang tersenyum bahagia kearahnya.
"Mas, kapan aku bisa pulang? Aku ngak tahan lagi mencium aroma yang penuh dengan bau obat ini Mas," ujar Cici yang sudah kelihatan suntuk berada di rumah sakit.
"Ya kita tunggu saja kapan kamu di bolehin pulang sama dokter Sayang," jawab Putra.
"Ngak Mas, aku mau besok harus sudah berada rumah!" ujar Cici memutuskan. Karena rasanya sudah tida enak berlama-lama di rumah sakit.
"Hufff, yaudah nanti coba Mas bilang sama dokternya ya Sayang," jawab Putra akhirnya. Dia tidak tega melihat wajah istrinya yang memelas seperti itu. Tampak jika sang istri sudah tidak senang berasa disini. Apalagi ini sudah satu mingguan.
Rumah Gilang
Sekarang mereka semua sudah berada di dalam ruang kerja milik Papa Gilang. Mereka semua memperhatikan apa saja yang terjadi di saat malam pernikahan Gilang dan Lili. Rumah Gilang memang di penuhi dengan CCTV di setiap ruangannya.
Mata Lili tertuju pada seorang wanita yang yang mengikuti Cici dari ruang tempat pesta dansa berlangsung.
"Lihat wanita yang memakai gaun coklat itu," ujar Lili yang menunjukkan layar komputer tempat mereka melihat tangkapan layar CCTV.
__ADS_1
Mereka semua melihat wanita yang di tunjuk Lili. Hingga akhirnya wajah wanita itu terlihat sangat jelas saat ia berada di dalam dapur saat mengambil ember yang berada di dekat tempat cuci piring.
"Buk Bella!!" kejut Gilang dan Lili serentak saat mata mereka menangkap pasti wajah wanita itu.
Miko dan Farhan yang melihat expresi Gilang dan Lili langsung mengernyitkan.
"Kalian kenal sama wanita itu?" tanya Miko dengan menatap pasti pasutri baru itu.
"Iya Om, kami kenal dengan wanita itu," ujar Gilang dengan pasti kepada Miko.
"Siapa dia?" tanya Farhan dan menatap Gilang dengan serius.
"Dia guru kami waktu SMA Om, tapi kok dia ngecelakain Cici ya?" ujar Gilang, dan berfikir tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Gurunya itu. Apa salah Cici sehingga wanita itu berniat mencelakai Cici. Setahunya Cici tidak memiliki masalah dengan wanita yang dulu merupakan gurunya saat menduduki bangku SMa.
"Ini semua tidak boleh di biarkan. Wanita itu harus mendapatkan ganjaran dari apa yang dia perbuat kepada putriku. Wamita itu harus masuk penjara dan menerima sanksi yang seberat-beratnya karena mencelakai putri kesayangan saya," tekan Miko dengan penuh emosi. Gara-gara wanita itu anaknya mengalami koma berhari-hari. Untung saja Allah masih memberinya kesempatan untuk menikmati hidup ini. Jika saja tidak, ntah apa yang akan di alami keluarganya atas kehilangan putri kesayangan mereka.
"Iya Om, aku juga setuju dengan pendapat Om," Lili mengangguk, membenarkan ucapan Miko. Tak mungkin melepas wanita itu Setelah apa yang dia lakukan kepada Cici. Yang ada wanita itu malah akan menang banyak. Bahkan hukuman penjara saja rasanya tidak akan setimpal. Apalagi itu menyangkut nyawa seseorang. Andai kata waktu itu mereka tidak mencari Cici, ntah bagaiamana gadis itu paginya.
Rumah sakit
"Sayang, Mas keluar sebentar ya?" izin Putra kepada sang istri yang kini tengah berbaring.
"Iya Mas, jangan lama-lama ya?" pinta Cici dengan wajah seimut mungkin. Membuat Putra ingin sekali mencium wajah itu bertubi-tubi. Hanya saja rasanya tidak mungkin lantaran sang istri masih sakit.
"Iya Sayang," balas Putra dengan menampakkan senyum manis khas laki-laki itu.
Putra keluar dari ruangan Cici menuju ke ruang dokter. Sampai di ruang dokter Putra langsung masuk karena, pintunya terbuka dan memperlihatkan seorang dokter wanita yang masih terlihat muda, meskipun umurnya sudah memasuki usia lima puluh lima tahun. Karena di di dinding ruangan dokter tersebut terdapat biodata lengkapnya.
"Assalamu'alaikum Dok," sapa Putra saat laki-laki itu sudah masuk ke dalam ruangan dimana tempat dokter itu berada.
"Wa'alaikumsalam," jawab dokter dan mempersilahkan Putra untuk duduk.
"Maaf Dok, kedatangan saya menganggu waktu dokter," ujar Putra basa basi kepada sang dokter.
__ADS_1
Takutnya dia menganggu waktu istirahat dokter itu, atau malah waktu kerjanya.
"Iya tidak masalah, emang ada perlu apa Bapak kemari?" tanya dokter dengan halus.
"Gini Dok, apakah Istri saya boleh pulang besok? Soalnya dia ngak tahan mencium aroma rumah sakit terlalu lama dok," eluh Putra yang menatap dokter dengan wajah sedikit sendu. Berharap dokter itu memberi izin istrinya untuk tuk pulang.
"Coba nanti saya lihat dulu bagaimana keadaan pasien ya Pak?" kata Dokter dan di balas anggukan oleh Putra.
"Yasudah Dok, terimakasih. Saya permisi dulu," pamit Putra yang diangguki dokter.
Putra keluar dari ruangan dokter dan kembali menuju ruang inap sang istri. Putra masuk ke dalam ruang Cici dan melihat Cici sudah pulas di atas ranjangnya. Putra tersenyum melihat wajah polos sang istri yang sedang tertidur. Tamoak semakin cantik.
Putra memilih duduk di sofa yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit, agar dia tidak jenuh menunggu istrinya terbangun dari tidrunya. Putra membuka gawainya, dan membuka aplikasi wassap. Melihat-lihat apakah ada pesan masuk ke dalam aplikasi hijau itu.
Rumah Gilang
Miko dan Farhan sedang duduk di ruang tamu rumah Gilang, sambil meminum jus jeruk dan juga cemilan yang sudah di sediakan oleh pembantu.
Miko melirik jam di pergelangan tangannya, dan ternyata jam sudah menunjukkan pukul setengah enam. Miko dan Farhan pamit kepada Gilang dan juga Lili untuk pulang ke rumah mereka. Karena sudah tak mungkin mereka berada di sana hingga malam.
Miko dan Farhan tidak pergi ke rumah sakit untuk melihat Cici hari ini. Mereka akan pergi ke rumah sakit besok pagi karena, Cici sudah ditemani oleh sang suami. Lagian tubuh mereka juga sudah lelah untuk kembali ke rumah sakit, lalu pulang ke rumah.
"Lang, Om pulang dulu ya. Tak lama lagi sudah masuk waktu magrib" ujar Miko.
"Iya Om, hati-hati di jalan," umat Gilang kepada ke-dua laki-laki paruh baya itu.
"Iya Lang, terimakasih untuk semuanya,"
"Sama-sama Om,"
Mereka berdua keluar dari rumah Gilang menuju mobil mereka masing-masing. Gilang dan Farhan memang membawa mobil pribadi. Karena mereka janjian akan bertemu langsung di kediaman Gilang.
TBC
__ADS_1