MENIKAH DENGAN GURUKU

MENIKAH DENGAN GURUKU
BAB 43


__ADS_3

BAB 43


"Kakak, Abang ... kecana yuk?" ajak Aulia yang menarik tangan ke-dua Kakanya.


Karim dan Lathifah hanya pasrah dengan apa yang di lakukan sang gadis kecil kepada mereka. Aulia dengan senang hati menarik tangan Kakaknya menuju bibir pantai dengan senyuman yang menghiasi bibir mungilnya, serta lesung pipi yang menghiasi pipi gembulnya.


Aulia mengajak ke-dua Kakanya duduk di bibir pantai sambil memandang ombak yang terlihat sangat indah.


"Abang, kita macuk ke dalam ailnya yuk?" ajak Aulia yang terlihat sangat gemas dengan ombak yang terus menerjang lautan yang cerah tersebut.


"Kita ngak boleh masuk ke sana Au, emang Au mau di bawa ombak itu, hmmm? Setelah Au di bawa ombaknya Au ngak bisa lagi ketemu Bunda, Au mau gitu hmm?" tanya Karim yang setia mengesekkan hidung mancungnya di pipi sang gadis kecil.


Dengan sigap, Aulia langsung mengelengkan kepalanya. Dia tak mau jika harus berpisah dengan sang bunda yang sangat dia cintai, dan juga dengan lelaki jagoan yang selama ini selalu ia usili. Siapa lagi kalau bukan Putra.


Aulia berdiri dari duduknya, lalu berlari-lari di atas hamparan pasir yang memenuhi bibir pantai nan indah itu. Terpancar raut kebahagiaan yang menghiasi wajah mungil sang gadis kecil.


Lesung pipi yang selalu menemani ke-dua pipi gembulnya membuat orang yang melihatnya merasa gemas.


Brukkk


Aulia menabrak seseorang, dan itu menyebabkan ia terjatuh di atas pasir putih tersebut.


"Ada yang sakit Dek?" tanya wanita itu sambil berjongkok di hadapan Aulia.


"Ngak, Kakak," jawab Aulia yang langsung berdiri.


"Uhhhh, pipi kamu gembul banget!" ujar wanita itu dengan gemas, dan mencubit pipi Aulia dengan sesikit keras. Pipi yang tadinya terlihat putih kini berubah menjadi sangat merah akibat cubitan wanita itu.


"Huaaaa, cakit Kakak," ujar Aulia dengan tangis yang sangat keras, dan membuat wanita itu merasa bingun plus ketakutan.


"Adek jangan nangis yah? Nanti kakak kena marah loh sama orang-tuanya," ujar wanita itu dengan lembut.


"Huaaa huaaaa huaaa, Abang, Kakak ..., pipi Lia cakit!" Adu Aulia dengan tangisan sambil berlari ke arah Karim dan Lathifah yang sedang menikmati hembusan angin sepoi yang menerpa wajah mereka.


"Kenapa nangis Au?" tanya Lathifah sambil menghapus air mata di pipi sang gadis kecil.


"Ta-tadi ada olang yang nyubit pipi Lia, hiks hiks," ujar Aulia dengan nada sesegukan.


"Emang siapa yang nyubit Au, hmmm?" tanya Karim.


"Maaf Mbak, saya tidak bermaksud membuat adek Mbak nangis, habisnya pipi adik Mbak membuat saya gemas," Permintaan maaf dari wanita tersebut.


"Ooh iya, ngak apa-apa kok, Mbak," jawab Karim, dan wanita itu menganggukkan kepalanya, lalu berlalu dari hadapan mereka.


"Sudah! Jangan nangis lagi ya?" bujuk Karim yang langsung di balas anggukan oleh sang gadis kecil.


***


Putra dan Cici terus menaiki anak tangga untuk menuju kamar mereka. Sebuah senyuman menghiasi bibir tipis Putra. Cici yang melihat senyuman itu hanya mengernyitkan keningnya tanda tak mengerti maksud dari senyuman suaminya.


"Mas, emang ngapain sih kita ke kamar?" tanya Cici yang masih menaiki tangga.


"Sabar dulu Sayang, ntar kamu juga tau," jawab Putra dengan mengedipkan matanya.


Putra membawa Cici duduk di atas ranjang nan empuk tersebut. Mereka duduk saling berhadapan, bahkan jarak mereka sangat dekat.

__ADS_1


Putra mengeser tubuhnya ke arah tubuhnya sang istri, lalu mencium pipi serta kening Cici lama.


Cici yang mendapatkan perlakuan itu hanya membulatkan nertranya dengan sempurna. Ia tak habis pikir, apa yang akan di lakukan suami manjanya hari ini.


"Sayang, kita nambah adik buat buah hati kita yuk?" ajak Putra dengan senyuman jahil.


"Apa? Ngak Mas! Anak-anak udah pada besar," tolak Cici dengan suara tegas. Yang benar saja suaminya itu mau nambah anak lagi.


"Yaelah Yang, mereka pasti akan senang jika kamu hamil lagi!" tutur Putra dengan halus, dan berharap sang istri akan menuruti kemauannya.


"Ngak!" jawab Cici lalu beranjak dari duduknya.


Putra langsung menarik tangan sang istri dengan kasar, hingga Cici jatuh kepangkuan Putra. Putra mengeratkan tangannya pada pinggang sang istri biar tidak lepas dari dekapannya.


"Sama Suami itu harus nurut!" ujar Putra dengan suara tegas, dan Cici hanya membulatkan netranya.


"Issh, lepasin Mas, aku mau memasak!" lirih Cici mencari alasan agar bisa terlepas dari pelukan sang suami.


"Ngak bisa!! Kamu harus ladeni aku," ujar Putra, lalu kembali mencium pipi istrinya.


***


"Cari makan yuk, Lis?" ajak Hamid sambil memandang wajah cantik milik Lisa, dan Lisa hanya menganggukkan kepalanya menyetujui ajakan sang pemilik hati.


Mereka berdua pergi ke restoran yang tak jauh dari taman. Hamid memesan dua porsi nasi goreng serta dua gelas jus mangga.


Pesanan mereka pun datang. Hamid dan Lisa memakan pesanan mereka, dan sesekali menyuapi satu sama lain. Meski Lisa merasa malu, tapi ia tepis itu semua demi sang pujaan hati yang berada di depannya.


Sudah tiga jam mereka menghabiskan waktu, akhirnya Hamid mengantarkan Lisa pulang ke rumahnya.


Tok ... tok ... tok ...


"Assalamu'alaikum," salam Lisa dan Hamid serentak.


"Wa'alaikumsalam, Nak," jawab Lii, lalu mempersilahkan Hamid dan Lisa untuk masuk.


Hamid dan Lili duduk di ruang tamu, sedangkan Lisa pergi ke dapur untuk membuatkan minuman untuk Hamid.


"Silahkan minum Sa ..., ehh, maksudnya Ham," ujar Lisa yang hampir menyebutkan kaya sayang.


Hamid tertawa kecil melihat expresi Lisa yang mengemaskan. Rasanya dia ingin sekali mencubit pipi Lisa, tapi di sini tidak hanya mereka berdua, tapi ada Lili.


"Iya, terima kasih Lis." Lisa hanya menganggukkan kepalanya.


***


Putra dan Cici masih berada di dalam kamar. Cici hanya bisa pasrah dengan apa yang di lakukan oleh sang suami kepadanya. Tidak ada gunanya ia harus membantah ucapan sang suami. Bukannya ia mendapat pahala, malah mendapat dosa jika tidak menuruti kemauan sang suami.


"Udah Mas! Aku capek," keluh Cici yang langsung turun dari ranjang untuk menuju kamar mandi.


"Terima kasih, Sayang," ucap Putra saat sang istri sudah sampai di bibir pintu.


Cici melirik ke arah Putra. "Iya Mas, sama-sama," jawab Cici yang dihiasi senyuman di bibir tipisnya.


***

__ADS_1


Karim, Lathifah dan Aulia sudah sampai di rumah. Aulia langsung berlari masuk ke dalam setelah pintu di bukakan oleh Lathifah.


Aulia meninggalkan sang kakak yang sudah meluangkan waktunya demi dirinya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Aulia berlari menaiki tangga untuk menuju kamar sang bunda.


"Bunda, Ayah ..., Lia cudah pulang!" teriak Aulia di depan pintu kamar kedua orang tuanya.


Putra yang belum turun dari ranjang, langsung berlari ke dalam kamar mandi, dan mengunci pintu kamar mandi. Putra mengisyaratkan kepada Cici agar ia tidak bertanya kenapa dirinya masuk saat ia sedang membersihkan tubuhnya.


"Bunda ...," panggil Aulia yang sudah berada di dalam kamar Putra.


Aulia melirik ke sekeliling kamar Putra. Aulia melihat ke balkon kamar sang ayah, agar mendapati kedua orang tuanya di sana, tapi hasilnya nihil Aulia tidak menemukan siapa-siapa di sana.


Mata Aulia melirik ke arah kamar mandi, ia mengira Bundanya pasti berada di dalam kamar mandi.


"Bunda ..., apa Bunda ada di dalam kamal mandi?" tanya Aulia sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi.


Tidak ada sahutan sedikitpun dari dalam kamar mandi. Aulia merasa bingung, kanapa Ayah dan Bundanya tidak ada di rumah. Padahal sebelum ia pergi bersama sang Kakak, Bundanya masih berada di ruang tamu bersama Ayah.


"Bunda, Ayah ...," panggil Aulia yang masih berada di depan kamar mandi.


Masih tidak ada sahutan dari panggilannya. Akhirnya Aulia memilih untuk keluar dari kamar Putra. Aulia menuruni anak tangga menuju sang kakak yang sedang menonton TV di ruang tamu bersama Abangnya.


"Bunda mana, Au?" tanya Lathifah yang melihat raut sedih dari wajah gadis kecilnya.


"Lia tidak tau kakak, tadi Lia cudah panggil Bunda di kamalnya," jawab Aulia dengan wajah sedihnya.


"Yaudah, jangan sedih gitu ya? Nanti Ayah sama Bunda pasti akan nemuin Lia," bujuk Lathifah dan menyuruh gadis kecilnya untuk duduk bersama dengan dirinya.


***


"Mas, kenapa Mas masuk sih? 'Kan aku belum selesai bersih-bersih!" ketus Cici.


"Aulia sudah pulang! Makanya aku langsung lari ke sini! Kalau tidak, maka dia akan melihat tubuh aku yang kayak gini!" jawab Putra yang tak kalah ketusnya.


"Hahahahahhah, makanya pake bajunya dulu buat jaga-jaga," tawa Cici dengan keras.


"Yeee, mana aku tau cobak!" ketua Putra.


"Yaudah, kita mandi bareng saja!" ujar Putra yang langsung mandi bersama sang istri.


***


"Tante, Lis ..., aku pulang dulu ya?" pamit Hamid dengan sopan, dan dibalas anggukan oleh Lili dan Lisa.


Hamid mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang untuk menuju ke rumahnya. Sepanjang perjalanan, senyuman terus terukir di bibir tipis milik Hamid. Ia tak menyangka hari ini cintanya akan terbalaskan. Hamid menyangka cintanya tidak akan terbalaskan. Tapi, apa boleh buat takdir sudah ditentukan oleh yang maha Kuasa.


Perjalanan Hamid menuju rumahnya sangatlah sepi, bahkan mobil maupun motor pun tidak ada yang lewat. Ntah itu sedang razia saat ini ntah tidak.


Hamid memarkirkan mobilnya di samping mobil sang ayah. Dalam waktu satu jam, akhirnya ia sampai di rumah nan megah ini.


Hamid masuk ke dalam rumah, dan bergabung dengan kedua kembarannya, serta sang gadis kecil yang setia duduk di samping Lathifah.


Karim dan Lathifah tidak melirik sedikitpun ke arah Hamid. Mereka hanya fokus menatap ke layar TV yang sedang menyala. Hamid merasa sendirian dalam keadaan seperti ini. Biasanya ia tidak pernah dicuekin oleh sang kembaran.


"Aim, tadi habis dari mana?" tanya Hamid yang memulai pembicaraan.

__ADS_1


"Pantai." jawab singkat Karim.


TBC


__ADS_2