MENIKAH DENGAN GURUKU

MENIKAH DENGAN GURUKU
BAB 23


__ADS_3

BAB 23


Sudah hampir tiga hari Cici tidak sadarkan diri dari komanya. Membuat Putra semakin kesepian tanpa adanya suara sang istri yang selalu membuat dirinya bahagia setiap harinya. Namun kini, raut bahagia tidak tampak di wajah tegas itu. Yang ada raut wajah kesedihan akan istrinya.


"Sayang, cepat bangun ya. Aku kesepian tanpa kam, Sayang," ucap Putra sambil mencium tangan Cici. Tanpa disadari laki-laki itu, air mata kembali merembes dari pelupuk matanya.


Klek


Putra yang tengah memegang tangan sang istri, langsung saja menghapus air mata yang sudah sampai pada dagunya, saat mendengar suara pintu di buka dari luar. Musuk seirang wanita yang kini berstatus sebagi ibu mertua Putra. Wanita itu melangkah mendekati sang menantu.


"Sayang, makan dulu gih. Sudah dua hari bunda ngak liat kamu makan tidak teratur," suruh Mila pada sang menantu.


"Ngak Bun! Sebelum Cici sadar, aku tidak akan berselera untuk makan. Bagaimana bisa aku makan seperti biasa, jika istri ku saja belum juga sadar hingga kini," balas Putra yang tetap kekeh akan pendiriannya.


"Sayang, jika Cici tau kamu ngak mau makan, pasti dia bakal sedih. Mendingan kamu makan dulu meski hanya beberapa suap saja," bujuk Mila kepada menantunya. Lagian keadaan menantunya itu juga tampak tak baik-baik saja. Bahkan bajunya sudah hampir dua hari tidak diganti.


"Ngak Bun! Aku tetap ngak akan makan sebelum Cici sadar. Cici saja belum makan dari kemaren Bun, gimana aku bisa makan Bun?" ucap Putra dengan linangan air mata menatap wajah pucat sang istri yang terbaring lemah. Bahkan untuk menyantap makanan saja rasanya Putra tidak minat sama sekali.


Mila tak lagi merespon ucapan menantunya. Wanita itu juga merasakan apa yang dirasakan oleh Menantunya. Kenapa tidak? Dia yang mengandung selama sembilan bulan sepuluh hari. Membesarkannya dengan telapak tangannya sendiri. Dan sekarang, putri yang di kandungnya malah terbaring lemah karena, perbuatan manusia yang tidak memiliki hati nurani.


****


Sudah satu minggu Cici berada di rumah sakit, tapi sampai sekarang ia juga belum sadarkan diri dari masa komanya. Putra beserta yang lainnya selalu memanjatkan do'a kepada Sang Pencipta agar Cici terbebas dari masa komanya. Rasa sedih masih saja menghampiri keluarga itu.


"Sayang, aku mohon bangun lah?" ujar Putra sambil menciumi tangan sang istri berulang kali, dan ia juga tak henti-hentinya menangisi wanita yang sangat ia cintai. Bahkan tubuh laki-laki itu sudah tampak agak kurus dari biasanya. Makan tidak teratur, serta selalu begadang menanti istrinya sadar.


Saat Putra sedang memegangi tangan Cici dengan sangat erat tiba-tiba, jari-jemari Cici mulai bergerak dengan perlahan. Walapun hanya beberapa kali, tapi itu suksea membuat Putra sangat bahagia. Langsung saja laki-laki itu menekan bel yang ada di kepala ranjang, untuk memanggil dokter untuk masuk ke dalam ruang inap istrinya.


Tak butuh waktu lama, akhirnya dokter tiba di ruang rawat Cici. Memeriksa keadaan pasiennya yang sudah mulai menampakkan tanda-tanda akan sadar dari komanya.

__ADS_1


"Dok, bagaimana keadaan istri saya? Apa dia akan lekas sadar Dok?" tanya Putra dengan mata berbinar.


"Ini memang suatu keajaiban Pak. Alhamdulillah istri anda tak lama lagi akan sadar dari komanya," ujar dokter dengan senyuman


"Be--benarkah Dokter?" Putra sungguh tak percaya, apa yang dikatakan dokter itu. Suatu kabar yang sangat membahagiakan untuk dirinya dan juga keluarganya tentunya.


Dokter itu mengangguk. "Iya Pak. Karena dirasa sudah tidak ada lagi yang mau saya periksa, saya undur diri dulu Pak. Mau meriksa pasien lain," pamit sang dokter yang di angguki Putra


Sepeninggal dokter tersebut. Putra melangkah ke dekat ranjang sang istri. Memegang tangan lemah itu dengan sangat erat. Menyalurkan rasa bahagia kepada sang istri. Agar istrinya itu tahu jika dirinya tengah menantikan kesadaran gadis itu.


"Aarrgghh," Tiba-tiba saja Cici membuka matanya dengan perlahan. Mengedip-ngedipkan matanya untuk menyesuaikan penerangan yang ada di ruangan tempatnya saat ini berada.


"Sayang, alhamdulillah sekarang kamu udah sadar. Aku sangat bahagia Sayang," ujar Putra yang terus-terusan menciumi tangan Istrinya. Sungguh ini sangat membahagiakan bagi putra. Akhirnya istri yang nyaris satu minggu itu dia tunggu sadar akhirnya sadar juga.


"Ssttt, ini di mana Mas?" tanya Cici dengan suara yang masih sangat lemah.


"Kamu di rumah sakit Sayang. Beberapa waktu lalu, kamu kesetrum dan menyebabkan kamu koma," jawab Putra. Mengingat itu semua membuat wajah laki-laki kembali murung. Sungguh kenyataan yang membuat laki-laki itu merasa bersalah, karena tidak menjaga istrinya dengan hati-hati.


"Sudahlah Mas. Yang terpenting sekarang aku sudah sadar." Cici berusaha membuat Putra tak lagi sedih. Lagian juga sudah berlalu. Tidak bmakan bisa kembali seperti semula. Ibaratkan nasi sudah menjadi lontong.


Rumah Gilang


Saat ini Miko dan juga Farhan tengah berada di kediaman Gilang. Kedua laki-laki paruh baya itu sudah membicarakan hal tersebut kepada kedua orang tua Gilang. Terkait tentang siapa dalang dari kecelakaan anak serta menantu mereka.


Miko dan Farhan sedang berada di daerah dapur rumah Gilang. Mereka melihat apakah ada jejak si pelaku yang tinggal di daerah sekitar dapur tersebut atau tidak. Bisa saja ada sesuatu yang terjatuh, bisa itu berupa anting, atau bahkan yang lainnya.


Miko yang sedang mencari jejak si pelaku, tiba-tiba netranya tersirobok kepada benda bulat yang terpampang di pojok dinding dapur rumah Gilang. Benda tersebut adalah sebuah CCTV. Ada sebuah senyuman mengembang di bibir laki-laki itu. Mereka tidak perlu besusah payah untuk mencari bukti lagi. Karena di dalam benda bulat itu, pasti sudah lengkap semunya.


"Farhan kesini deh," Miko memanggil Farhan yang sedang memeriksa sekeliling kamar mandi yang ada di dapur itu.

__ADS_1


"Iya ada apa?" tanya Farhan yang langsung menatap ke arah besannya


"Coba kamu lihat benda bulat yang terpampang itu?" Tunjuk Miko pada benda bulat yang jelas terpampang di pojok dapur.


"Haaaa, itu sebuah CCTV Mik, lebih baik kita tanya saja sama Gilang apakah CCTV itu aktif atau tidak?" ajak Farhan yang langsung di angguki Miko.


"Yasudah ayok," ajak Miko.


"Gilang!!! Gilang!?!" panggil Miko dengan suara keras. Pasalnya laki-laki itu ada di lantai atas. Jika memanggil dengan suara kecil maka tidak akan sampai pada lantai atas. Gilang memang tidak membantu untuk mecari, lantaran dia ada kerjaan penting.


Gilang yang berada di dalam kamar bersama Istrinya langsung keluar karena mendengar panggilan Miko.


Gilang dan Lili dengan segera menuruni anak tangga, agar sampai ke sumber suara. Sampai di dapur Gilang langsung menghadap ke arah Miko sambil mengernyitkan keningnya.


"Iya Om, ada apa?" tanya Gilang dengan penasaran.


"Kamu lihat benda bulat di pojok sana, apakah benda tersebut aktif?" tanya Miko sambil menunjuk benda tersebut.


"Hmmm, kalau itu saya kurang tau Om. Soalnya saya baru lihat ada CCTV di dapur. Maklum, saya jarang masuk ke dapur Om. Coba saya tanya sama pembantu dulu ya, Om?" ujar Gilang yang membuat ketiga orang itu mengangguk dengan spontan.


"Mbok ... Mbok ...!!" panggil Gilang kepada pembantu yang sedang mengepel lantai ruang tengah.


Dengan tergopoh-gopong si Mbok menghampiri majikannya."Iya Den, ada apa?" tanya pembantu iti degan suara terengah-engah karena berlari ke dapur.


"CCTV itu aktif ngak Mbok?" tanya Gilang, dan dibalas anggukan oleh pembantu tersebut.


"Alhamdulillah," ujar seluruh yang ada di dapur. Mereka merasa lega, karena tidak perlu mencari bukti lagi.


Sekarang mereka semua sedang menuju ke ruang kerja Papa dari Gilang, karena di sana mereka akan tau siapa penyebab dari kecelakaan yang di alami oleh Cici.

__ADS_1


TBC


__ADS_2