
BAB 8
Tak... Tak... Tak...
Bunyi langkah kaki yang terdengar sangat keras sudah mulai mendekat ke arah kelas Cici dan semua murid langsung duduk dengan rapi. Tanpa ada yang membuat suara.
"Assalamu'alaikum," Salam guru tersebut dengan suara lantangnya seperti biasa. Guru yang tak lain adalah Putra. Kebetulan pagi ini dia akan mengajar di kelas yang diduduki sang istri.
"Wa'alaikumsalam," jawab serentak seluruh siswa-siswi.
Putra masuk ke dalam kelas, dan meletakkan tas beserta laptop yang ia bawa di atas meja, dan duduk di atas kursi.
Salah satu dari murid Putra menyiapkan agar berdo'a sebelum mengikuti pelajaran pagi ini, menurut kepercayaan masing-masing. Selesai berdo'a salah satu dari murid perempuan bertanya kepada Putra.
"Pak, saya boleh nanya tidak?" tanya Salwa sambil mengangkat salah satu tangannya.
"Iya boleh, silahkan." jawab Putra menatap siswinga tersebut.
"Bapak satu minggu kebelakang kenapa tidak masuk, Pak?" tanya Salwa dan seluruh murid menatap ke arah Putra dengan penuh tanda tanya. Pasalnya mereka juga penasaran dengan guru yang satu ini. Selama mereka mengenal guru itu, tak pernah sekalipun dia cuti, meski cuti itu pasti karena sakit atau hal lainnya, itupun satu atau dua hari saja. Tak sampai seminggu seperti ini.
"Oh itu, Bapak lagi pergi jalan-jalan ke Jepang." balas Putra yang di sertai dengan senyuman dan di balas anggukan kecil dari semua murid kecuali Lili dan Cici.
"Oh ya Pak, Cici bilang sama saya kalau dia juga pergi ke Jepang selama satu minggu. Apa Bapak pergi sama Cici?" tanya Lili dengan penuh keheranan, dan seluruh murid menatap Putra dan Cici secara bergantian. Mereka semua terkejut dengan ucapan Lili. Ya mereka belum mendengar jika Cici juga pergi ke Jepang, maka dari itu mereka cukup terkejut dengan ucapan Lili barusan.
Putra bingung mau menjawab apa, dan ia juga ngak tau kalau Istrinya sudah ngomong sama temannya jika dia pergi ke Jepang.
Sedangkan seluruh muridnya tetap menatap Putra dengan tatapan penuh tanda tanya. Menunggu jawaban yang akan di sampaikan Putra kepada mereka semua.
Tok... Tol... Tok...
Pintu kelas Putra di ketuk oleh seseorang, dan orang itu langsung membuka pintu lalu masuk ke dalam kelas Putra.
__ADS_1
"Maaf, saya menganggu Pak, Bapak di panggil sama Kepsek," ujar Bu Anggi.
"Iya terima kasih informasinya Buk Anggi? saya akan segera kesana," balas Putra dan merasa lega karena tidak jadi menjawab pertayaan dari seluruh siswanya. Anggi mengangguk, laku izin pergi dari kelas yang saat ini akan di ajar Putra.
"Baiklah semuanya, berhubung bapak sedang dipanggil Kepsek, jadi kalian buat tugas halaman empat belas latihan dua," Putra menatap seluruh siswanya, lalu setelah itu dia melangkah meninggalkan kelas tersbut.
Putra keluar dari ruang kelasnya menuju ruang Kepsek, dan ia menyusuri setiap koridor sekolah agar sampai di ruang Kepsek.
Tak butuh waktu lama, akhirnya Putra sampai di ruang Kepsek. Sebelum itu Putra tak lupa mengetuk pintu dan langsung masuk, karena sudah terdengar sahutan dari dalam ruangan tersebut.
Sedangkan di dalam kelas, Cici yang masih mendengarkan berbagai lontaran pertanyaan dari semua temannya.
"Aku pergi ke Jepang sama keluargaku, kalau masalah Pak Putra, aku ngak tau sama siapa dia pergi." jawab Cici yang sudah mulai berkeringat. Karena dia takut jika saja ketahuan pergi bersama Putra. Meski tak ada satupun dari mereka yang tau jika saat ini dia telah menikah namun rasa takut itu pasti ada.
Seluruh siswa yang mendengar jawaban Cici hanya menganggukkan kepalanya petanda mereka mengerti. Tetapi ini semua berbeda dengan Lili, ia kurang yakin atas jawaban dari Cici. Pasalnya mereka sama-sama satu minggu tidak masuk sekolah. Suatu hal yang ganjil menurut Lili. Jika Cici satu minggu, bisa jadi Putra hanya 4 atau 5 hari saja. Tapi ini sungguh persamaan yang tidak bisa di hilangkan begitu saja.
Lima belas menit berlalu, akhirnya kehebohan di dalam kelas pun terhenti, karena Putra sudah kembali dari ruang Kepsek.
Putra duduk di kursi mengajarnya, sambil menunggu anak muridnya selesai mengerjakan tugas yang dia berikan tadi. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu untuk dua jam pelajaran, akhirnya bel untuk istirahat pun telah berbunyi.
Cici dan Lili pergi ke belakang sekolah untuk menikmati angin yang sejuk di bawah pohon lindung yang sudah sangat tinggi, dan di bawahnya juga terdapat kursi panjang yang memuat empat orang untuk mendudukinya.
Saat sedang duduk sambil bercerita tentang pengalaman Cici selama di Jepang, teryata Putra memanggil Cici dari jarak yang lumayan jauh. Putra mendekat ke arah mereka berdua. Sekarang Putra sudah berada di samping Cici, sedangkan Lili hanya mengernyitkan keningnya karena tumben - tumbennya Putra memanggil Cici. Padahal selama ini ia tidak pernah mendekat seperti ini kepada Cici. Lili di buat bingung dengan ini semua. Sebenarnya ada hubungan apa antara guru itu dengan sahabatnya. Lili masih saja bergelut dengan pikirannya sendiri.
"Iya, ada apa Ma... maksudnya Pak?" tanya Cici yang hampir menyebut kata Mas kepada suaminya itu.
"Nanti pulang sekolah tunggu saya di tempat parkiran, karena saya mau ngomong sesuatu sama kamu," ujar Putra yang mulai bersandiwara agar Lili tak curiga terhadap dirinya begitupun dengan Cici.
"Baiklah Pak," jawab Cici di sertai senyum termanisnya, dan membuat jantung Putra kembali berdetak dua kali lebih kencang dari yang sebelumnya.
"Yasudah, saya cuma ngoming itu saja. Saya pamit dulu," ucap Putra diangguki Cici. Sedangkan Lili tampak termenung dengan apa yang kini tengah terjadi dihadapannya.
__ADS_1
Putra kembali ke ruang guru untuk makan siang. Ia belum sempat untuk makan, karena mencari Cici yang tak kunjung ia temui.
Perjalanan menuju ruang guru
"Kenapa jantung aku selalu berdetak kencang ya, saat melihat Cici tersenyum sangat manis? Argh, sudah lah aku ngak ngerti ntah perasaan apa ini?" batin Putra sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangannya sedikit kasar.
Lili yang dari tadi menatap ke arah Cici yang senyum-senyum ngak jelas hanya mengernyitkan keningnya. Ntah apa yang ia fikirkan saat ini hingga sahabatnya ini sangat dekat dengan guru yang banyak di sukai oleh teman-teman lainnya kecuali dirinya sendiri.
Meskipun Putra memiliki paras yang sangat tampan tapi Lili tak memiliki perasaan sedikitpun kepada Sang Guru.
***
Jam pelajaran terahir pun sudah selesai, semua murid keluar dari kelas untuk menuju rumah mereka masing-masing.
"Ci, aku bareng kamu pulang ya?" pinta Lili.
"Aku sekarang ngak bawa mobil Li," jawab Cici sambil mengaruk kepalanya yang tak gatal karena hari ini, hari pertama ia tak membawa mobil kesayangannya.
"Oh ya udah, ngak apa-apa kok Ci," jawab Lili yang di sertai dengan senyuman. Meski ingin menanyakan sesuatu, tapi Lili urung akan semua itu.
"Hmm, Li aku duluan ya? Aku sudah di tunggu sama Pak Putra di parkiran." ujar Cici dan langsung pergi dari hadapan Lili. Bahkan Cici tidak menunggu jawaban dari sahabatnya itu.
Lili yang melihat Cici bersemangat untuk menemui Sang Guru langsung mengikuti Cici dari belakang tanpa sepengetahuan dari Cici.
Sampai di parkiran Cici belum melihat tanda-tanda keberadaan dari Suaminya. Tak lama setelah itu Putra mengejutkan Cici, dan Cici langsung terperanjat karena sangat terkejut.
"Uhhh, untung jantung aku ngak copot Mas," ujar Cici dengan cemberut kepada suaminya itu. Untung saja dia tidak memiliki riwayat penyakit jantung, jika saja mungkin Cici sudah memegang jantungnya saat ini yang merasa sakit.
"Hehhe, maaf deh Sayang," balas Putra sambil memcubit kedua pipi Cici dengan gemas. Putra berani memegang pipi Cici, karena di tempat parkiran tidak ada satupun murid dan bahkan di sana juga tidak terdapat CCTV.
Tanpa sepengetahuan mereka berdua, Lili sudah mendengar ucapan mereka tanpa ada yang terlewatkan.
__ADS_1
"Pak Putra kok manggil Cici dengan sebutan Sayang ya? sebenarnya apa hubungan ala antara mereka berdua?" batin Lili dengan penuh tanda tanya.
Bersambung....