
BAB 37
Pagi hari
Putra terbangun dari tidur lelapnya yang hanya beberapa jam. Laki-laki tidur dengan memeluk tubuh sang istri yang tetap belum sadarkan diri. Semalam Putra tertidur di atas ranjang yang ditiduri Cici, dan karena itu sekarang ia terbangun di atas ranjang nan empuk ini.
Putra turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sekarang adalah hari minggu, hari dimana setiap pegawai akan libur dari pekerjaannya.
Kamar si kembar
Nini sedang mengenakan baju untuk ketiga cucunya yang baru selesai mandi. Lathifah dan Hamid sudah rapi. Sedangkan Karim, ia sangat susah untuk di kenalan pakaian. Bayi laki-laki itu sangat aktif. Karim hanya memakai celana tanpa ada atasannya. Tubuh mungil tersebut sangat putih oleh bedak yang di taburi Nini di badannya.
"Sayang, pakai dulu bajunya yuk? Nanti Aim sakit gimana? Mau?" tanya Nini kepada sang cucu yang kini menatap dirinya.
"Nak Mma," jawab Karim yang langsung merangkak ke arah Nini.
Nini langsung mengenakan baju untuk Karim. Bayi laki-laki tidak rewel lagi seperti tadi.
Nini memasukkan ketiga Cucunya ke dalam kereta dorong yang di belikan Putra satu bulan yang lalu. Nini membawa mereka ke lantai bawah untuk berjalan-jalan mengelilingi rumah besar tersebut.
***
Hari demi hari sudah di lewati oleh Putra dengan kesendirian tanpa adanya dukungan dari seorang istri. Rasanya ingin ia mengakhiri hidupnya tanpa istri di sisi-nya. Meskipun ia tahu Cici pasti akan siuman ketika waktunya sudah datang.
Tak terasa sudah lebih satu tahun Cici terbaring koma di atas ranjang rumahnya. Rasa harap Putra terhadap Istri tercintanya semakin tinggi, bahkan Putra tak segan-segan untuk mengambil cuti di sekolahnya untuk menemani sang istri yang terbaring lemah di ranjang.
"Sayang, cepat bangun, lihatlah anak-anak kita udah pada besar, Sayang," ucap Putra sambil mencium berkali-kali punggung tangan sang istri. Berharap istrinya itu lekas bangun dari komanya.
"Alah, cenala Alah gis?" (Ayah, kenapa ayah nangis) tanya Lathifah yang masuk karena, pintu kamar Putra terbuka.
"Ehh, ngak apa-apa kok Sayang, Ayah ngak nangis kok," jawab Putra sambil tersenyum ke arah putri kecilnya.
"Belalan Alah lak gis?" (Benaran Ayah tidak nangis)tanya Lathifah memastikan sang Ayah.
"Iya Sayang, Ayah ngak nangis kok," jawab Putra sambil mencium pipi sang putri. Putrinya itu sangat lucu dan juga cantik. Kecantikan wajah Cici menurun kepada sang putri.
"Oh ya, kakak sama adek mana Sayang?" tanya Putra kepada Lathifah.
"Tatak lan ale lagi mamam di cuapin Oma Alah,")(kakak dan adek lagi mama di suapin Oma Ayah)jawab Lathifah yang menatap ke arah Bundanya yang masih terbaring koma.
Putra hanya menganggukkan kepalanya petanda mengerti dengan ucapan putri kecilnya. "Emang Ifa udah mamam, hmmm?" tanya Putra sambil menggesekkan hidungnya ke wajah mulus putri kecilnya.
"Ifa dah mamam tot Alah," (Ifa sudah mamam kok Ayah) jawab Lathifah, dan mencium pipi Putra berkali-kali. Gadis kecil itu memang suka menciumi wajah Ayahnya.
Lathifah naik ke atas ranjang, dan duduk di samping sang bunda yang masih dalam keadaan koma. Ia sangat senang menatap wajah Bundanya meskipun ia tidak tahu bahwa Cici sedang koma. Lathifah mengira bahwa Cici masih tertidur, mungkin itu karena capek.
"Ifa, Ayah sarapan dulu ya? Ifa mau ikut ngak?" tanya Putra sambil menoel pipi putri kecilnya.
"Lak Alah, Ifa di cini aja cama Bula," (Tidak Ayah, Ifa di sini saja sama Bunda) jawab Lathifah yang langsung di angguki oleh Putra.
Putra keluar dari kamar untuk menuju meja makan. Di meja makan, Hamid dan Karim masih di suapin Nini. Makanan mereka masih tinggal separo untuk mereka habiskan.
Hamid dan Karim memang susah saat di ajak makan. Karena, mereka lebih memilih bermain mobil-mobilan ketimbang mengisi perut mereka.
__ADS_1
"Kakak dan Adek kok main terus? Kapan mau habis nasinya, hmm?" tanya Putra kepada kedua jagoan tercintanya.
"Alah, tatak cudah keyang," (Ayah, kakak sudah kenyang) jawab Hamid dengan nasi yang memenuhi mulut mungilnya.
"Ila alah, alek cuga cudah keyang," (Iya Ayah, adek juga sudah kenyang) jawab Karim yang mengikuti ucapan sang kakak.
"Ayah yakin jagoan Ayah pasti belum kenyang 'kan? Habisin dulu nasinya, mubazir ngak baik Sayang," ujar Putra sambil tersenyum ke arah kedua jagoan kecilnya.
"Iya cudah Alah, ami alan labisan nacinya Alah," (Iya sudah Ayah, kami akan habiskan nasinya Ayah) jawab Hamid dan Karim serentak.
"Nah, itu baru jagoan Ayah," ucap Putra, dan mencubit gemas pipi sang jagoan. Pipi gembul ke-dua anak laki-lakinya itu membuat Putra gemas.
Putra menyendokkan nasi ke dalam piring yang berada di depannya. Putra hanya mengambil dua sendok nasi, yang biasanya tiga ataupun empat. Tapi, sekarang sudah berkurang menjadi dua sendok.
Putra menyantap nasi yang ada di piringnya dengan hati-hati. Ia sangat bahagia melihat sang buah hati yang sudah mulai tumbuh besar dengan sehat. Tapi, kadang kebahagiaan itu memudar saat ia mengingat sang istri yang masih belum sadarkan diri dari komanya.
Kamar
"Bula, capan Bula alan bayun? Bula lak cangen cama Ifa?" (Bunda, kapan Bunda akan bangun?Bunda tidak kangen sama Ifa?) tanya Lathifah sambil mencium pipi sang Bunda. Sungguh gadis kecil itu rindu kasih sayang dari bundanya. Kasih sayang tak tak pernah dia dapatkan dari lahir.
Lathifah terus menciumi pipi sang Bunda tanpa hentinya. Seluruh wajah Cici sudah agak memerah akibat ciuman yang terlalu banyak di lakukan sang buah hati.
Menit berikutnya, tangan Cici mulai bergerak bahkan bola mata Cici juga sudah mulai bergerak. Lathifah yang melihat reaksi dari sang Bunda hanya bisa menatapnya dengan sangat intens tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari bibir mungilnya.
"Bulaa, ala Bula culah balun? Ifa lindu cama Bula," (Bunda, apa Bunda sudah bangun?ifa rindu sama Bunda) ujar Lathifah sambil memeluk tubuh Cici.
Mata Cici sudah mulai terbuka sedikit demi sedikit. Penglihatannya masih belum sempurna. Cici berusaha agar bisa melihat sekarang ia ada dimana. Sungguh penglihatannya masih buram. Mungkin saja karena netra itu sudah lama tidak terbuka, maka agak sulit penglihatannya stabil.
"Bula, Bula culah balun?" (Bunda, Bunda sudah bangun?) tanya Lathifah untuk yang kedua kalinya.
Penglihatan Cici sudah mulai normal, dan ia melihat ada seorang gadis kecil yang sedang memeluknya dengan sangat erat.
"Sayang, kamu siapa?" tanya Cici dengan lemah kepada gadis kecil yang kini tengah memeluk dirinya dengan erat.
"Ifa alak Alah dan Bula," (Ifa anak Ayah dan Bunda) jawab Lathifah dengan polosnya.
"Emang Ayah kamu siapa, Sayang?" tanya Cici memastikan apa ia anak yang ia kandung dulu. Sungguh Cici agak sulit mempercayai itu.
"Mama Alah Pula, Bula," (Nama Ayah Putra, Bunda) jawab Lathifah menatap lucu ke arah Cici.
"Ayah lagi di mana Sayang?" tanya Cici yang masih memegang kepada yang terasa sedikit pusing.
"Alah gi mamam cama tatak, Alek, lan Ma, Bula," (Ayah lagi mamam sama kakak, adek dan Oma, Bunda) jawab Lathifah jujur.
"Kakak? Adek? Siapa dia? Apa mas Putra sudah menikah lagi? Terus anak yang dulu aku kandung di mana? Apa dia sudah pergi meninggalkan aku saat aku terjatuh dari tangga dulu?" batin Cici terus bertanya. Sungguh hatinya sangat sedih memikirkan apa yang kini tengah bersarang di pikirannya.
Air mata Cici luruh dari pelupuk matanya saat memikirkan hal-hal yang negatif tersebut. Lathifah yang melihat langsung menghapus air mata itu dengan kedua tangan mungilnya.
"Bula lenala gia? Ala Ifa lalat cama Bula?" (Bunda kenapa nangis? Apa Ifa jahat sama Bunda?) tanya Lathifah yang hendak mengeluarkan air matanya.
"Hmm ngak kok Sayang, mata Bunda hanya perih saja kok," jawab Cici sambil tersenyum.
"Bula, lila mui Alah luk di mela malan?" (Bunda, kita temui Ayah yuk di meja makan?) ajak Lathifah yang langsung di angguki oleh Cici.
__ADS_1
Cici menggendong Lathifah dari dalam kamar hingga ke lantai satu. Meskipun badannya masih lemah, tapi ia berusaha untuk menggendong anak yang menunggunya saat akan sadar.
Dalam perjalanan menuju lantai bawah, fikiran Cici selalu negatif tentang Putra. Wanita itu terus berfikir bahwa Putra sudah menikah lagi, dan anak yang ia gendong adalah anak dari istri keduanya.
"Mas, kamu ngak ngehianatin pernikahan kita 'kan?" batin Cici yang terus saja bertanya, dan ia terus juga menitikkan air matanya.
Sedangan Lathifah terus menghapus air mata yang keluar dari pelupuk mata sang bunda.
"Bila lol gia leyus? Bula lak lindu cama Ifa?" (Bunda kok magis terus? Bunda tidak rindu sama Ifa?) tanya Lathifah yang terus-terusan. Yaa, anaknya yang satu ini memang sangat cerewet. Meski umurnya masih kecil.
"Hmm ngak kok Sayang, Bunda rindu banget sama Ifa," jawab Cici yang menghapus sisa air mata yang masih tersisa.
Dapur
"Alah, nali tatak culah bis," (Ayah, nasi kakak sudah habis?) ujar Hamid dengan senyuman yang menghiasi bibir mungilnya. Sungguh bayi mungil itu sangat lucu.
"Alek lula cudah bis Alah,"(Adek juga sudah habis Ayah) ucap Karim yang juga tersenyum.
"Anak siapa dulu dong, anak Ayah dan Bunda kan?" goda Putra kepada ke-dua jagoan kecilnya.
"Hahahah, ila Alah,"(hahah, iya Ayah) jawab Karim dan Hamid yang lagsung berhamburan ke arah kepelukan Putra.
Mereka memeluk Putra dengan sangat erat, seperti seorang anak yang sangat rindu dengan kehadiran seorang ayah.
Tanpa mereka sadari, dua pasang mata melihat kebersamaan Ayah dan anak itu. Siapa lagi kalau bukan Cici dan Lathifah.
"Bula, lenala lita beleti?" (Bunda,kenapa kita berhenti?) tanya Lathifah.
"Ehh, iya Sayang," jawab Cici dan terus berjalan ke arah sang suami yang sedang di peluk oleh kedua putranya. Sungguh Cici sangat terharu melihat suaminya.
"Alah, ilu ala Bula," (Ayah, itu ada Bunda) tunjuk Karim yang melihat kehadiran Cici di dapur.
"Sayang, jangan becanda, Ayah tidak suka," balas Putra yang tetap menghadap ke arah jagoan kecilnya. Tak mempercayai ucapan anaknya. Putra yakin anaknya itu tengah halusinasi.
"Ila Alah, Bula ala di cini,"(iya Ayah, Bunda ada di sini) ujar Hamid yang juga melihat sang bunda yang berdiri di belakang Putra.
Nini sudah masuk ke dalam kamarnya semenjak Putra datang tadi.
Putra menghadap ke belakang, dan benar apa yang dikatakan oleh kedua jagoan kecilnya. Wanita yang selama ini sangat ia rindukan sekarang sudah berdiri di depan matanya. Tanpa ia undang air matanya luruh dari pelupuk mata Putra.
"Sayang, Mas rindu sama kamu," ujar Putra yang langsung memeluk erat tubuh Istrinya.
"Iya Mas, aku juga rindu sama Mas," jawab Cici yang juga ikut menagis dalam pelukan Suaminya.
***
Setelah beberapa jam semua keluarga Cici melepaskan rindu kepadanya. Akhirnya Cici menanyakan kepada Putra masalah yang mengganjal di hatinya semenjak ia siuman. Saat ini hanya mereka berdua yang berada di dalam kamar, dan Putra menjelaskan semuanya bahwa ketiga anak kecil itu adalah hasil buah cinta mereka berdua.
***
Sekarang hari demi hari sudah berganti dengan minggu. Keromantisan yang dulu sangat Putra inginkan sekarang sudah kembali. Bahkan semenjak Cici siuman Putra semakin manja terhadap istri tercintanya. Kemanjaan yang sudah dari dulu dia impikan. Akhirnya kini terbalas sudah.
TBC
__ADS_1