MENIKAH DENGAN GURUKU

MENIKAH DENGAN GURUKU
BAB 32


__ADS_3

BAB 32


Lili dan Gilang sedang duduk di sofa kamar mereka. Lili terlihat sangat manja selama ia mengandung bahkan, ia tak segan-segan meminta apa yang ia inginkan kepada Suaminya. Meskipun saat Gilang merasa kelelahan tapi, Gilang selalu menuruti apa yang diinginkan oleh Lili, demi sang buah hati yang di kandung oleh sang istri tercinta.


"Mas, besok ke rumah Cici yuk, udah lama ngak kesana?" ajak Lili dengan menyenderkan kepalanya kepada bahu sang istri.


"Iya Sayang, buat kamu apapun akan aku lakukan asalkan kamu bahagia," jawab Gilang sambil mencubit pipi tembem sang istri. Semenjak Lili hamil tubuhnya semakin berisi. Bahkan Gilang sangat suka dengan perubahan tubuh istrinya saat ini. Tampak lebih menggoda.


"Aihh, sakit tau Mas," Rengek Lili sambil memegang pipinya yang terlihat agak memerah karena di cubit oleh Gilang dengan keras.


"Heheh, maaf Sayang. Habisnya kamu bikin Mas gemas," ujar Gilang sambil tersenyum manis.


"Ya nggak terlalu kuat juga lah Mas. Kan sakit pipi aku," Lili tampak mengembungkan pipinya membuat Gilang merasa gemas.


Laki-laki itu mendaratkam ciuman pada pipi sang istri. Bahkan berulang kali tanpa henti.


Esok hari


Sesuai rencana Lili kemaren, akhirnya kini dia dan suaminya pergi kerumah Cici. Tak akan lama lagi mobil yang dikendarai Gilang sampai di halaman luas rumah yang ditinggali teman semasa sekolahnya itu.


"Mas kok banyak orang di rumah Cici, ya? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Lili pada Suaminya dan Gilang hanya menaikkan bahunya, tanda laki-laki itu juga tidak tahu.


Gilang dan Lili terus berjalan hingga sampai jenjang untuk menaiki rumah Mewah itu. Mereka berpapasan dengan seorang ibu-ibu yang baru keluar dari dalam rumah Cici.


"Maaf Bu, ada acara apa di rumah ini ya Bu? Kok rame banget?" tanya Lili kepada salah satu ibu-ibu itu.


"Oh itu Neng, sekarang ada acara sukuran kehamilan menantu rumah ini," jelas salah satu ibu-ibu itu, dan membuat Lili maupun Gilang melongo mendengar ucapan Ibu tersebut.


"Ohh iya Bu, terima kasih," ujar Lili yang masih kurang percaya dengan ucapan ibu itu. Pasalnya baru seminggu yang lalu Lili nanya kepada Cici tentang kehamilannya lewat chat wassap tapi, Cici bilang belum ada tanda-tanda kehamilan untuk dirinya.


Gilang dan Lili berjalan masuk ke dalam rumah Putra dengan langkah yang sangat bersemangat. Kenapa tidak! Sudah lama rasanya mereka tidak berkunjung ke rumah sang sahabat tercinta.


Dalam rumah


"Hai Cici, aku kangen bangat sama kamu tau?" panggil Lili yang langsung berhamburan ke pelukan Cici. Memeluk sahabatnya itu dengan erat.


"Iya Li, aku juga kangen sama kamu," jawab Cici di dalam pelukan sang sahabat. Wanita itu juga membalas pelukan sahabatnya tak kalah eratnya.

__ADS_1


Lili melepaskan pelukannya. Membawa Cici untuk duduk di kursi yang sudah tersedia di dalam rumah besar itu yang diikuti oleh Gilang.


"Ehh, ada acara apa nih Ci? Kok rame di rumah?" tanya Lili disela-sela mereka duduk untuk memastikan ucapan ibu-ibu tadi.


"Acara sukuran atas kehamilan Cici," jawab Putra yang baru datang dari kamarnya. Laki-laki itu langsung saja duduk di samping istrinya.


Yaa, sehabis Cici di periksa dokter mereka langsung memberi tahu kepada kedua keluarga mereka tentang kehamilan Cici. Dengan antusias kedua keluarga itu menyambut kehamilan anak dan menantu mereka dengan senang hati. Bahkan acara syukuran ini juga atas permintaan kedua keluarga itu.


Lili yang mendengarkan jawaban Putra langsung membulatkan mulutnya beserta netranya, dan begitupun dengan Gilang.


"Kamu benaran hamil Ci? Aku ngak salah denger kan? Wahh, kalau gitu selamat yah sahabatku yang paling cantik ini," goda Lili panjang lebar. Kembali wanita itu memeluk Cici dengan sangat erat, karena ia merasa sangat bahagia atas kehamilan sahabatnya.


"Iya Li, makasih ya," ujar Cici dengan senyuman setelah melepaskan pelukan Lili.


Gilang dan Lili berada di rumah Cici hingga sore hari karena, begitu banyak perbincangan yang mereka katakan, mulai dari masalah kandungan, siapa nama anak mereka yang akan lahir nantinya dan masih banyak lagi.


***


Hari sudah berganti minggu dan minggu pun sudah berganti dengan bulan. Sekarang usia kandungan Cici sudah menginjak enam bulan, dan hanya dalam waktu tiga bulan lebih lagi Cici akan melahirkan. Sedangkan usia kandungan Lili sudah menginjak sembilan bulan dan hanya menghitung hari buat lahiran bayi yang sudah mereka tunggu-tunggu beberapa bulan ini.


Kediaman Gilang


"Belum tau Sayang. Nanti saja kita pikirin, yang jelas sekarang kita tungguin aja dia lahir dulu, dan yang terakhir jenis kelaminnya biar jadi kejutan buat kita," jelas Gilang yang memang Lili tidak di perbolehkan di USG oleh Gilang.


"Hmm, iya deh Mas. Aku nurut saja dengan apa yang kamu mau," jawab Lili sambil mengelus-elus perut buncitnya.


"Yasudah Sayang, aku ke bawah sebentar ya mau ngambil cemilan," ujar Gilang yang turun dari ranjang dan di angguki oleh Lili.


Gilang berjalan ke dapur dengan langkah cepat. Gilang mengambil cemilan yang berada di lemari dekat kulkas.


Di dalam kamar, tiba-tiba Lili meringis kesakitan pada bagian perutnya. Wanita itu tidak tahu apakah ini saatnya ia akan melahirkan atau tidak.


Gilang yang baru datang langsung menghampiri Istrinya yang terus memegang perutnya. Sesekali wanita itu tampak meringis.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Gilang yang langsung meletakkan cemilan tersebut di atas nakas di samping ranjangnya.


"Ngak tau Mas, perut aku sakit bangat," ujar Lili yang terus meringis kesakitan.

__ADS_1


"Jangan-jangan kamu mau melahirkan Sayang. Mendingan kita ke rumah sakit sekarang ya?" ujar Gilang yang langsung menggendong Lili untuk di bawa ke dalam mobil menuju umah sakit.


Dalam waktu dua puluh menit, mereka pun sampai di sebuah rumah sakit yang agak jauh dari rumah mereka karena, Gilang mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Selama di dalam mobil Lili tak henti-hentinya menahan rasa sakit yang sangat dahsyat di bagian pinggang serta perutnya.


"Dokter!!! Dokter!!!" panggil Gilang dengan suara keras sambil menggendong tubuh sang istri yang sudah kelihatan sangat lelah menahan rasa sakit itu.


Dua orang suster pun datang dengan membawa tempat tidur dorong. Gilang menidurkan Lili di atasnya lalu, suster tersebut membawa Lili ke ruang persalinan yang diikuti oleh Gilang.


Sebelum masuk, Gilang mengabari orang tua Lili tapi, tidak dengan orang tuanya karena, orang tua Gilang sedang mengurus bisnis-bisnis yang sangat penting di luar kota. Jika ia menelpon pun orang tuanya tidak akan mengangkat karena, ia sudah memberi tahu akan hal tersebut kepada Gilang sebelum ia berangkat ke luar kota beberapa bulan yang lalu.


Di dalam ruang persalinan


Gilang duduk di samping sang istri untuk memberinya semangat agar kelahiran bayi mereka berjalan dengan lancar.


"Mas, aku ngak kuat lagi Mas," adu Lili yang sudah banyak mengeluarkan keringat serta air matanya. Bahkan wajah wanita itu tampak sedikit pucat.


"Sayang kamu harus kuat! Aku yakin kamu pasti bisa melahirkan buah hati kita, Sayang," ucap Gilang yang juga menitikkan air matanya melihat sang istri yang berjuang untuk buah hati mereka. Kenapa tidak! Serasa dua puluh tujuh tulang yang dipatahkan secara bersamaan. Sungguh!! Ini sangat sakit dari apapun.


"Ayo Bu, tarik nafasnya dengan perlahan dan keluarkan dengan perlahan lalu, Ibu baru mengejan," suruh sang dokter kepada Lili. (Maaf ya kalau salah, soalnya kurang tau)


Lili mengikuti instruksi dari dokter. Lili mencoba menarik nafasnya dengan perlahan lalu, membuangnya dengan perlahan. Setelah itu baru wanita itu mengejan dengan sangat kuat.


"Ayo Bu, dikit lagi bayinya akan keluar," ujar dokter lagi karena, kepala bayinya sudah kelihatan.


Lili mencobanya sekali lagi dengan satu tarikan nafas serta dengan satu ejanan bayi itupun keluar.


"Owekk owekk owekk,"


Suara tangisan bayi tersebut membuat rasa sakit yang dirasakan Lili menghilang. Bahkan sudah dua ganti dengan senyum kebahagiaan yang terpancar di raut wajah Lili, begitupun dengan Gilang yang tak kalah bahagianya. Akhirnya buah cinta yang selama ini mereka tunggu sudah lahir ke dunia. Lengkap sudah keluarga Gilang saat ini.


"Selamat Bu, Pak, bayinya perempuan. Alhamdulillah bayinya sehat tanpa ada kurang satupun," jelas sang dokter kepada Gilang dan Lili disertai senyuman.


"Iya alhamdulillah ya Allah. Terimakasih Dok," ujar Gilang dengan penuh kebahagiaan yang tiada taranya.


Dokter memberikan bayi merah itu kepada suster yang membantu persalinan Lili. Membawa bayi tersebut ke kamar mandi untuk di bersihkan.


Gilang sangat bahagia dengan kelahiran Putri mungilnya. Gilang menatap ke arah Lili dengan tatapan sangat bahagia. "Terima kasih Sayang, kamu sudah memberikan ku hadiah paling indah di dunia ini," ujar Gilang dan mencium kening Lili dengan lembut yang di balas anggukan kecil oleh Lili.

__ADS_1


Hanya butuh waktu sepuluh menit, bayi Lili pun sudah selesai di bersihkan. Suster memberikan bayi tersebut kepada Gilang untuk khomatkan.


Gilang mengiqamahkan putrinya di samping sang istri yang sudah selesai di bersihkan oleh suster. Setelah itu Gilang meletakkan putri cantiknya di sebelah Lili, dan Lili mengukir senyum di bibir tipisnya.


__ADS_2