
Bab 40
Enam belas tahun sudah berlalu. Kini ketiga buah hati Cici dan Putra sudah menginjak umur tujuh belas tahun, dan mereka sudah menduduki bangku kelas tiga SMA.
Mereka sudah tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik, dan pemuda tampan yang mewarisi ketampanan sang ayah.
"Pagi Bunda, Ayah," sapa si kembar secara serentak. Mencium pipi kedua orang tua mereka secara bergantian, dan terahir mencium gadis mungil yang duduk di samping sang bunda. Gadis itu masih berumur tiga tahun.
Gadis kecil ini lahir dengan jarak yang sangat jauh dari ketiga Kakaknya.
Flashback on
Dulu ketika si kembar masih berumur lima tahun, Cici sempat hamil, tapi dengan usia kandungan yang masih menginjak tiga bulan, ia mengalami keguguran akibat terjatuh di dalam kamar mandi.
Rasanya sangat sakit kehilangan sang cabang bayi yang dinanti meski masih tinggal enam bulan lagi, tapi sang kuasa berkehendak lain. Allah lebih dulu mengambil calon bayi dari Putra dan Cici. Rasanya sangat terpukul saat Cici harus kehilangan sang bayi yang berada di dalam kandungannya. Begitupun dengan Putra, ia juga ikut merasakan penderitaan tersebut.
Dengan seiringnya waktu, mereka mengikhlaskan bayi mereka yang keguguran. Mereka yakin rencana Allah lebih indah dari apa yang mereka bayangkan.
Bertahun-tahun mereka menantikan sang calon bayi yang akan datang dalam ke hidupan mereka. Tapi, hasilnya tetap nihil meskipun Cici sudah berkonsultasi ke dokter kandungan.
Dokter menjelaskan bahwa kandungan Cici baik-baik saja tanpa ada masalah di dalam rahimnya.
Ada sebuah rasa kecewa yang menghampiri wajah kedua pasangan ini. Bayi yang mereka inginkan semenjak keguguran yang terjadi lima bulan setelah keguguran tidak juga kunjung ada.
Berbagai macam cara yang mereka lakukan agar mendapatkan seorang bayi yang akan tumbuh di rahim Cici untuk yang ketiga kalinya. Mereka selalau berdo'a pada sang Pencipta agar di kasih amanah lagi untuk mereka.
***
Tanpa mereka sadari, di saat anak kembar mereka sedang menduduki bangku kelas delapan SMP, Cici di nyatakan hamil oleh dokter. Saat itu kepala Cici terasa sangat sakit, dan perutnya bergejolak sangat kuat.
Putra membawa Cici ke dokter, dan dokter mengatakan Cici sedang hamil, dan usia kandungannya sudah menginjak usia empat minggu.
Sembilan bulan sudah berlalu, Cici melahirkan gadis kecil yang di beri nama Aulia Fitri Zahidah yang berarti kekasih Allah yang suci dan zuhud. Gadis mungil yang terlahir dengan lesung pipi yang menambah kecantikannya.
Flashback off
"Sekarang ngak sekolah Sayang?" tanya Cici yang meliril ketiga anaknya yang tidak memakai seragam sekolah. Padahal sekarang hari rabu, dan tidak ada tanggal merah yang menghiasi kalender di rumah mereka.
"Ngak Bun, sekarang semua guru mengadakan rapat dengan kepala sekolah," jawab Lathifah sambil memakan sarapannya.
"Hmm-hmmm," Cici hanya bergumam menanggapi jawaban dari anak gadisnya.
Selama mereka sarapan tidak ada dari mereka yang berbicara. Hanya dentingan sendok dan garpu yang memecah kesunyian saat mereka sarapan.
"Bunda, naci Lia cudah habic," ujar Aulia yang melirik ke arah Cici yang sedang melahap sarapan paginya.
__ADS_1
"Lia mau nambah lagi, Sayang?" tanya Cici yang tersenyum ke arah gadis kecilnya.
"Tidak Bunda, Lia cudah kenyang," jawab Aulia yang berusaha turun dari kursi yang ia duduki. Aulia di bantu turun oleh sang bunda yang duduk di sampingnya.
Aulia berjalan ke arah Hamid yang sedang memakan sarapan pagi di samping Latifah. Dengan susah payah, ia menarik baju Kakanya yang tidak sampai ia tarik. Aulia menjinjitkan kakinya untuk menarik baju sang kakak.
"Abang, kita pelgi main yuk?" ajak Aulia yang menarik-narik pingiran baju Hamid.
"Au mau main kemana?" tanya Hamid dengan mulut yang masih di penuhi nasi.
"Jalan-jalan ke taman, Abang," ujar Aulia yang masih setia menarik-narik baju Hamid.
"Iya Sayang, Abang habisin dulu sarapan Abang ya?" ucap Hamid dengan lembut kepada adik bungsunya.
***
Taman
Hamid bersama sang adik sedang duduk di kursi taman sambil memandang bunga-bunga yang tersusun rapi di sekitar perkarangan taman.
Gadis mungil yang sedang duduk di samping Hamid memeluk tubuh kekar sang kakak dengan sangat erat. Seperti seseorang yang takut di tinggal sendirian.
"Au mau jajan ngak?" tawar Hamid sambil melirik wajah cantik sang adik. Wajah cantik itu terlihat sangat bahagia di kala ia memeluk sang kakak dengan sangat eratnya.
"Ya sudah, yuk kita beli," ajak Hamid yang langsung menggendong gadis kecilnya.
Dua es krim sudah berada di tangan Hamid. Mereka kembali ketempat duduk mereka semula. Hamid memberikan satu es krim kepada sang adik, dan satu lagi untuk dirinya.
"Ummmmm, dingin," ujar Aulia sambil memejamkan netranya. Tampaklah dua lesung pipi yang menghiasi wajah tembemnya.
Hamid tersenyum melihat tingkah lucu adik bungsunya. Tingkah lucunya membuat Hamid menjadi gemas. Rasanya pengen mencubit pipi sang adik sampai babak belur, tapi ia takut nanti malah adiknya menangis seperti satu minggu yang lalu.
Yaa, Hamid mencubit pipi adiknya dengan sangat gemas satu minggu yang lalu. Tangannya tidak mau lepas dari mencubit pipi Aulia. Akibatnya sang adik menangis dengan sangat keras karena, cubitan itu semakin lama semakin keras.
Hamid di marahi habis-habisan oleh sang ayah. Pipi adiknya menjadi sangat merah, dan di pengang pun terasa sangat sakit. Karena itu lah sekarang ia tak berani lagi mencubit pipi Aulia.
"Lia mau pulang ,Abang?" rengek Aulia setelah menghabiskan es krim yang ia makan.
"Ya sudah, yuk," jawab Hamid yang langsung mengendong Aulia menuju mobilnya yang terparkir di sudut sisi taman.
*
Mereka sampai di rumah, langsung di sambut oleh Cici di depan pintu sambil tersenyum manis ke arah kedua buah hatinya yang sedang menuju ke arah dirinya.
Aulia merentangkan tangannya kepada Cici, dan Cici langsung menyambut rentangan tangan gadis kecil yang imut itu. Sedangkan Hamid, ia langsung masuk ke dalam rumah menuju kamarnya di lantai dua.
__ADS_1
Hamid membersihkan tubuhnya yang sudah sangat lengket. Cuaca sangat panas saat ia membawa adik bungsunya jalan-jalan.
"Kakak, aku boleh masuk?" tanya Lathifah di ambang pintu sambil tersenyum manis ke arah Hamid yang sedang bersantai di tempat tidur.
"Iya dek, masuklah," jawab Hamid yang mempersilahkan kembarannya untuk masuk. Lathifah langsung duduk di samping Hamid dengan senyuman yang tak henti-hentinya tercipta dari bibir tipisnya.
"Kenapa senyam-senyum sih Dek?" tanya Hamid dengan penasaran melihat tingkah kembarannya yang satu ini. Biasanya saat masuk pun ia tidak ada senyum-senyum seperti ini, tapi hanya dengan wajah ceria saja tanpa ada senyuman yang menghiasi dibibirnya.
"Hehehe, ngak apa-apa kok Kakak. Aku lagi bahagia saja," jawabnya menyandarkan kepalanya di bahu sang kakak.
"Ada apa hmm? Biasanya ngak pernah tersenyum kayak gini?" tanya Hamid dengan menaikkan salah satu alisnya.
"Mungkin lagi jatuh cinta kali Kak," ujar Karim yang tiba-tiba masuk seperti hantu. Datang tanpa di undang dan pergi tanpa diantar.
"Huahahahahhah," tawa Hamid pecah mendengarkan penjelasan kembarannya. Ia tak menyangka kembarannya yang terkenal sangat cerewet ini akan jatuh cinta pada seorang pria.
Selama ini Lathifah tidak pernah curhat tentang perasaannya kepada sang kakak, tapi ia selalu curhat tentang kebersamaannya dengan sahabatnya Lisa.
Ya Lisa dan Lathifah bersahabat semenjak mereka masih kecil. Mereka pun selalu satu sekolah sejak PAUD sampai sekarang.
"Beneran dmDek?" tanya Hamid dengan menaikkan satu alisnya.
"Kata siapa aku lagi jatuh cinta? Aku bahagia aja kok Kak," jawab Lathifah dengan wajah merah seperti kepiting rebus.
"Liat noh, wajahnya saja merah. Huahahahah," ujar Karim sambil tertawa dan menunjuk wajah kembarannya dengan yang memang sudah terlihat sangat merah.
"Aihhh, kamu kok gitu sih Dek, aku kan udah jujur?" jawab Lathifah sambil menundukkan kepalanya. Dia sangat malu saat ini.
"Hehehe, maaf deh Kak," ujar Karim dan memeluk kembarannya dengan erat. Pelukan tersebut di balas oleh Lathifah dengan sedang hati.
Hamid yang melihat kembarannya berpelukanpu juga ikut. Ketiga kembaran itu sedang berpelukan layaknya seperti seseorang yang sudah lama tak berjumpa.
Lama mereka berpelukan dengan sangat erat. Rasa bahagia yang mungkin orang lain belum tentu mendapatkannya.
"Kakak, Abang boleh Lia macuk?" tanya Aulia yang tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar Hamid.
"Iya dek, masuklah," jawab Karim yang masih setia berpelukan dengan kembarannya.
Aulia berjalan menuju ranjang sang kakak. Dengan susah payah ia naik ke atas ranjang, tapi hasilnya tetap nihil. Ia tidak juga bisa untuk menaiki ranjang yang lumayan tinggi tersebut.
"Huaaa ... huaaa ..., Abang Lia tidak bica naik?" tangis Aulia yang terus berusaha untuk naik ke atas ranjang.
Ketiga kakaknya seperti orang tuli yang tak bisa mendengarkan ucapan adik bungsunya yang terus meminta tolong untuk di naikkan ke atas ranjang.
TBC
__ADS_1