
BAB 16
Hubungan antara Lili dan Gilang sudah menginjak lima bulan, dan hubungan mereka hanya baik-baik saja, bahkan hubungan mereka tak kalah romantisnya dengan hubungan Cici dan Putra.
Bahkan Lili dan Gilang sudah membuat komitmen untuk melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius yaitu jenjang pernikahan. Meskipun sekarang mereka masih kelas tiga SMA tapi, pemikirkan mereka sudah sampai ke sana. Tak mungkin mereka hanya menjalani hubungan yang tidak ada ujungnya. Putus lalu cari lagi yang baru. Rasanya tidak akan mungkin apalagi untuk mengenal yang baru, pasti akan butuh proses juga. Tak mungkin baru kenal langsung jadian. Setidaknya kenal satu bulan dulu untuk masa perkenalan. Tapi untuk menaruh hati tidak akan pernah secepat yang di bayangkan. Maka dari itu mereka memilih untuk melanjutkan hubungan mereka hingga ke jenjang yang serius.
Sekarang seluruh murid kelas tiga sudah mulai ujian-ujian dan ujian. Bahkan hari-hari mereka sudah di penuhi dengan ujian. Hari-hari mereka tidak ada lagi untuk bermain karena kurang lebih dua bulan lagi mereka akan melaksanakan ujian Nasional.
Cici dan Lili sudah sibuk untuk belajar kelompok agar nanti hasil nilai mereka sangat baik, dan juga bisa mereka bawa ke Universitas yang mereka impikan.
"Ci besok kan hari minggu nih, gimana kalau kita pergi ke pantai? Ngitung-ngitung buat refresing gitu?" ajak Lili dengan penuh semangat. Pasalnya sudah lama rasanya dia tidak pergi refresing semenjak menduduki bangku kelas tiga.
"Hmmm, gimana ya Li, aku bingung mau ngasih kamu jawaban iya atau tidak. Soalnya nanti kalau Pak Putra ngak ngizinin aku gimana?" tanya Cici sambil menatap Lili. Lagian segelas sesuatunya pasti Cici harus izin dulu sama suaminya. Tidak mungkin dia akan langsung mengiyakan tanpa tau suaminya. Yang ada dia bisa di cap sebagai istri durhaka. Sebuah nama yang tak akan pernah Cici inginkan.
"Nah gini aja, kita pergi saja bersama. Kamu sama Pak Putra dan aku sama Gilang, gimana kamu setuju ngak?" tawar Lili dengan senyuman. Membayangkan jika mereka pergi berpasangan. Pasti ada sensasi baru nantinya.
"Iya udah deh, nanti coba aku tanya sama Pak Putra," jawab Cici kepada sahabatnya. Lili hanya mengangguk, mendengar jawaban Cici.
Akhirnya Cici dan Lili sudah kembali ke rumah mereka masing-masing, karena tadi mereka belajar kelompok di taman yang tak jauh dari rumah Lili.
Tepat jam delapan malam, Cici sudah selesai makan, begitupun dengan Putra. Tapi saat ini Putra belum kembali ke dalam kamar mereka. Sedangkan Cici sudah duduk di atas ranjang sambil memainkan gawainya.
Klek...
Pintu kamar di buka oleh seseorang yang tak lain adalah Putra. Putra berjalan mendekati sang istri yang sibuk dengan gawainya. Mendekat dan duduk di samping istrinya. Sesekali mengintip apa yang sedang dilakukan gadisnya itu. Ya dia masih gadis, karena dia belum melakukan apa yang seharusnya dilakukan pasangan suami istri
Putra menatap sang istri, lalu menyenderkan kepalanya di bahu gadis itu. Dia tak terusik sama sekali. Bahkan Cici tampak tak peduli dengan apa yang dilakukan suaminya.
"Sayang kok sibuk amat sih? Emang apa yang kamu lihat?" tanya Putra yang langsung mengambil gawai milik Cici.
__ADS_1
"Aihhh, Mas ganggu aku aja deh, lagian aku hanya liat-liat contoh soal ujian doang," jawab Cici sambil menatap kesal ke arah Suaminya.
Putra merasa gemas dengan tingkah istrinya yang sedang marah tersebut. Saat marah wajah Cici terlihat mengemaskan bagi Putra. Rasanya ia ingin tertawa tetapi ia tahan takut Istrinya akan semakin marah.
Sekarang Putra melirik ke layar gawai Cici, dan memang benar kalau Cici melihat contoh-contoh soal ujian. Akhirnya Putra mengembalikan gawai Cici. Cici menerima gawai tersebut dengan senang hati. Kembali melihat-lihat beberapa contoh soal yang dirasa akan keluar saat ujian nanti. Meski dengan kata yang berbeda namun dengan makna yang sama.
Tak terasa sekarang jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Saat mau tidur Cici teringat dengan ucapan Lili tadi siang.
"Mas, besok jalan-jalan ke pantai yuk? Tapi kita perginya ngak berdua kok Mas, sama Lili dan juga Gilang," ajak Cici dengan senang mengatakan itu kepada suaminya. Sungguh dia sangat berharap suaminya itu mau menerima ajakannya.
"Apa? Kamu kan sebentar lagi mau ujian Sayang. Masak masih mau pergi main-main?" tanya Putra yang kurang setuju dengan ucapan Cici.
"Iya aku tau Mas, tapi cuman sekali ini aja kok Mas. Mau ya Mas," ujar Cici dengan raut wajah memelas kepada suaminya.
"Aihhh, ngak mau Mas," jawab Cici.
"Kenapa ngak mau? Aku juga ingin punya keturunan dari kamu, emang itu salah?" tanya Putra menatap setiap inci wajah Istrinya.
"I... ya ngak salah kok Mas, ahhh sudah lah Mas aku mau tidur udah ngantuk banget nih. Oh ya Mas jangan lupa besok kita perginya jam delapan pagi." jelas Cici pada Putra dan di balas anggukan oleh Putra. Dia malas kalau sudah membahas soal anak, lagian sekarang dia tak mau berfikir tentang hal itu dulu. Karena dia akan ujian, jika terus berfikir masalah anak yang ada Cici tidak akan fokus jika ujian nantinya. Maka dari itu untuk sementara dia mengenyahkan pikirannya.
\*\*\*\*
Sinar surya sudah memperlihatkan wujudnya. Kedua insan tersebut masih tertidur pulas di atas ranjang mereka meski cahaya matahari sudah menembus ventilasi kamar tersebut.
Putra yang merasakan punggungnya kepanasan lagsung saja terbangun, karena cahaya sinar surya itu sangat menyegat dan panasnya pun sangat terasa di punggung Putra.
__ADS_1
Putra langsung duduk dari tidurnya. Ia melihat lekat wajah Cici yang masih tertidur pulas tersebut. Putra berusaha membangunkan Cici. Tak lama setelah itu Cici pun terbangun dari tidurnya.
Cici melirik ke arah jam yang terletak di atas nakas samping ranjangnya. Ia langsung berdiri dari tidurnya dan lagsung masuk ke dalam kamar mandi, dan meninggalkan Putra yang sudah membangunkannya sendirian di atas ranjang tanpa berpamitan, Karena jam sudah menunjukkan pukul tujuh tiga puluh pagi. Hanya tiga puluh menit lagi waktu mereka untuk bersiap-siap untuk pergi ke pantai.
Hanya butuh waktu sepuluh menit, Cici sudah keluar dari kamar mandi. Sekarang giliran Putra yang akan mandi. Dan tak butuh waktu lama Putra pun juga sudah selesai mandi dan memakai pakaian yang sudah di sediakan oleh Cici di atas ranjang mereka.
Tepat jam delapan pagi, mereka sudah turun dari kamar menuju motor Putra yang sudah terparkir di garasi samping mobil Putra. Ya Putra memang tidak pernah membawa motor ke sekolah melainkan mobilnya. Putra hanya akan membawa motor saat ia pergi jalan-jalan sendirian ke puncak. Tapi sekarang motor itu akan membawa dirinya serta sang istri untuk pergi ke pantai.
"Ayo naik Sayang," ajak Putra yang melihat ke tempat duduk di belakangnya.
"Iya Mas," jawab Cici yang langsung naik. Tak lupa sebelum itu Cici memakai helmnya terlebih dahulu.
"Pegangan yang erat Sayang, nanti kamu jatoh." suruh Putra pada istrinya. Lagian dia akan membawa motor itu dengan sedikit kencang.
Cici memegang bahu Putra dengan erat, karena ia tak tau harus memegang apa. Maklumlah orang yang ngak pernah pacaran mah gini.
"Aihh, kok bahu aku yang kamu pegang sih Sayang?" protes Putra yang merasa kesal. Meskipun Putra tidak pernah pacaran tapi ia tau jika naik motor sama perempuan itu harus pegan apa?
"Lah kan Mas yang nyuruh aku pegang Mas. Kan sudah aku pegang nih bahunya Mas. Emang salah, apa?" tanya Cici yang memang tak mengerti. Menurutnya Apapaun yang dia pegang asalkan sudah diri Putra sudah cukup. Dan tak mungkin kan Putra nyuruh dirinya untuk memegang bagian belakang motor, yang ada di malah akan terjungkal kebelakang.
"Huuuf, maksud Mas itu kamu peluk tubuh Mas agar kamu ngak jatuh. Bukan seperti ini," jelas Putra dengan lembut pada Cici, dan di balas anggukan oleh Cici.
Cici memeluk tubuh Putra dengan sangat grogi. Pasalnya baru sekali ini ia memeluk laki-laki di atas motor. Meski pun Putra suaminya, namanya juga grogi pasti tidak akan bisa hilang seketika.
"U... dah Mas," ujar Cici yang mulai gugup. Rasanya aneh jika memeluk seseorang seperti ini. Apalagi jika tidak terbiasa, pasti akan ada gelenyar aneh yang dirasakan. Rasa tak nyaman yang sangat kentara.
Akhirnya Putra melajukan motornya dengan perlahan untuk keluar dari perkarangan rumah.
__ADS_1
TBC