
BAB 38
Sekarang hari demi hari sudah berganti dengan minggu. Keromantisan yang dulu sangat Putra inginkan sekarang sudah kembali. Bahkan semenjak Cici siuman Putra semakin manja terhadap istri tercintanya. Kemanjaan yang sudah dari dulu dia impikan. Akhirnya kini terbalas sudah.
"Sayang, kamu tau tidak pas--"
"Ngak Mas, emang apa?" tanya Cici yang memotong ucapan Putra.
"Aihh, 'kan aku belum selesai ngomong Sayang," ujar Putra dengan kesal kepada istrinya.
"Hehehe, ya sudah emang apa Mas? Aku mau denger?" tanya Cici sambil cengegesan, tak lupa wanita itu memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Dulu, saat kamu koma rasanya aku tidam mau lagi hidup Sayang. Sungguh sakit rasanya saat kamu tidak ada di dekatku," ujar Putra yang mengingat kejadian satu tahun yang lalu, dan tanpa ia sadari setetes embun keluar dari pelupuk matanya.
Cici yang melihat air mata sang suami, langsung menghapus dengan telapak tangannya. "Jangan nangis lagi ya Mas? sekarang aku sudah kembali untukmu selamanya," jawab Cici yang langsung mencium kening suami dengan lembut.
"Iya Sayang, terima kasih," jawab Putra, dan mencium punggung tangan Cici berkali-kali.
Tok ... Tok ...
Klek ...
"Bula, oleh Ifa macuk?"(Bunda, boleh Ifa masuk?)tanya Latifah di ambang pintu.
"Iya Sayang, masuklah," jawab Cici dengan lembut. Putra yang tadinya tidur di pangkuan sang istri, kini sudah beralih duduk di sebelahnya.
Lathifah berjalan ke arah ranjang sang bunda dengan senyuman yang menghiasi bibir mungilnya. Semenjak Bundanya sadar, ia tak henti-hentinya masuk ke dalam kamar sang bunda meskipun kadang di larang oleh Putra, tapi Lathifah tidak menggubris ucapan sang ayah.
"Bula, ita aim lual uk?" (Bunda, kitaain keluar yk?)ajak Lathifah dengan menatap wajah cantik Bundanya.
"Sayang, nanti main sama Bunda ya? Ayah masih ada perlu sama Bunda," ucap Putra berharap putri cerewetnya ini mematuhi ucapannya kali ini.
"Lak Alah, Ifa au ain cama Bula" (Tidak Ayah, Ifa mau main sama Bunda) kekeh Lathifah tak mau dibantah.
"Emang ngak bisa bikin orang tua bahagia sebentar ni anak," batin Putra yang tak Terima dengan ucapan putrinya.
Putra menghela nafasnya dengan kasar, lalu keluar dari kamar menuju ruang tamu. Cici hanya menggelengkan kepalanya melihat ekspresi wajah Suaminya.
"Lok Bula, ita ain lual?" (Ayol Bunda, kita main keluar) ajak Lathifah dengan menarik tangan sang bunda.
Cici menuruti kemana gadis kecilnya akan membawa dirinya. Lathifah membawa Cici untuk menelusuri sekeliling rumah nan megah tersebut.
"Bula ... Bula ..., ami au icut cama Bula,"(Bunda ... Bunda ..., kamu mau ikut sama Bunda)
panggil Karim dan Hamid serentak, dan langsung berlari ke arah Cici dan juga Lathifah.
Cici tersenyum bahagia melihat kedua jagoan kecilnya. Bahagia? Tentu ia sangat bahagia, siapa yang tidak akan bahagia memiliki buah cinta dari orang yang di sayang.
Karim dan Hamid sudah sampai di dekat sang bunda. Mereka langsung memeluk erat paha bundanya. Ya memang paha yang bisa mereka peluk karena mereka masih sangat pendek.
Ruang tamu
"Ahhhh, bikin kesal saja! Baru saja mau mesra-mesraan malah di ganggu!" rutuk Putra sambil *******-***** bantal sofa dengan kuat.
Putra merasa sangat kesal. Hatinya tak henti-hentinya merutuki. Baru saja akan bermesraan dengan sang istri malah di ganggu oleh putri cantik dan mungilnya.
Padahal hampir setiap hari ia tidak bisa bermesraan dengan istri tercintanya. Palingan dalam sehari pada saat akan tidur, dan selebihnya sudah di ganggu oleh sang jagoan dan putri cantiknya.
Keberadaan Cici
Cici beserta ketiga anaknya sedang menelusuri setiap ruangan yang ada di rumah tersebut. Hamid, Karim dan Lathifah sangat menikmati jalan-jalan ini. .eskipun hanya di sekitar rumah mereka. Wajah ceria itu tampak dari ketiga buah hati Cici.
"Bula, ita luluk li can luk?"(Bunda, kita duduk di sana yuk)ajak karim menunjuk tempat duduk yang ada di taman belakang rumah.
__ADS_1
"Ila Bula, Ifa pek lalan elus," (Iya Bunda, Ifa capek jalan terus) ujar Lathifah dengan nada memelas.
Cici merespon dengan anggukan kepala. Mereka duduk di kursi tersebut dengan menikmati hembusan angin yang menerpa wajah. Sangat sejuk.
"Bula, Aim au eli ec lim,"(Bunda, Aim mau beli es krim) ujar Karim yang menginginkan es krim.
"Ila Bula, Am ga au ec lim,"(Iya Bunda, Am juga mau es krim) tambah Hamid.
"Yaudah, Bunda beli dulu ya? Jangan pergi dari sini, Ifa mau es krim juga?" ujar Cici, dan bertanya kepada Putri kecilnya.
"Ifa lak au ec lim, Bula,"(Ifa tidak mau es krim, Bunda)jawab Lathifah yang memang tidak menginginkan es krim.
Cici pergi dari hadapan ketiga buah hatinya. Berjalan menuju penjual es krim yang memang setiap hari menjual di seberang jalan rumah mereka.
Cici melewati ruang tamu untuk keluar dari rumah megah tersebut.
"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Putra yang berdiri menghampiri Cici.
"Mau beli es krim buat anak-anak, Mas," jawab Cici sambil tersenyum.
Putra hanya membalas dengan anggukan kecil, dan kembali duduk di sofa tempat ia duduk semula.
Dua potong es krim sudah berada di tangan Cici, sekarang ia akan memberikan kepada kedua jagoan kecilnya yang sedang menunggu di taman belakang rumah.
"Sayang, temanin aku di sini sebentar yah?" Mohon Putra saat Cici sudah sampai di ruang tamu.
"Anak-anak lagi nungguin aku di belakang Mas," jawab Cici jujur.
Putra tidak menggubris ucapan Istrinya, tapi Putra malah membawa Cici duduk di sofa. Cici hanya menurut pasrah dengan apa yang diinginkan suaminya. Dia tahu apa yang di rasakan suaminya selama ini, bahkan untuk bermesraan saja sangat jarang mereka lakukan. Lantaran ketiga buah hati mereka datang pada saat yang tidak tepat.
"Sayang, biarkan Mas seperti ini untuk beberapa saat yah, Mas rindu semuanya," ujar Putra yang tidur di atas paha Cici sambil memejamkan netranya.
Cici meletakkan es yang ia beli dia tas meja. Beralih mengusap kepala suaminya dengan lembut.
Keberadaan si kembar
"Mulin nyak lang lan li ec lim Lek,"(Mungkin banyak orang yang beli es krim, Dek?) jawab Hamid yang mengusap punggung kembarannya.
Sudah hampir sepuluh menit mereka menunggu kedatangan sang bunda, tapi ia tak juga datang-datang hingga saat ini. Ada terbesit rasa curiga di hati Lathifah akan kehadiran Bundanya. Ia berfikir pasti Bundanya sedang berduaan dengan sang ayah.
Bisa di pastikan hal itu semua, pasalnya sang ayah mengatakan kepadanya, bahwa untuk tidak mengganggu Ayah dan Bundanya karena ada hal yang penting.
"Lalak, ita cucul Buka luk?"(Kaka, kita susul Bunda yuk) rengek Lathifah sambil menarik-narik tangan Hamid.
"Ila Lalak, lok?" (Iya Kakak, ayok) ujar Karim yang setuju dengan ajakan sang kakak.
Hamid menyetujui ucapan kembarannya, dan sekarang mereka sedang berjalan menuju ke dalam rumah. Setiap sisi rumah sudah mereka telusuri, sekarang tinggal menuju ke ruang tamu.
"Bula,"(Bunda) panggil Karim saat melihat bundanya sedang duduk di ruang tamu.
Putra yang dari tadi tidur di paha sang istri, sekarang beralih untuk duduk di samping Cici sambil mengucek-ngucek netranya.
"Iya Sayang," jawab Cici yang menghadap ke arah anak kembarnya.
"Mala ec lim ami Bula?" (Mana es krim kamu, Bunda) tanya Hamid yang menyodorkan tangan mungilnya kepada Cici.
Cici memberikan es krim tersebut kepada jagoan kecilnya. Sedangkan Lathifah duduk di tengah-tengah Ayah dan Bundanya.
Karim dan Hamid menjilati es krim yang berada di tangan mungil mereka.
***
Dua hari sudah berlalu, hari ini ketiga buah hati Cici akan menginap di rumah Oma Mila. Cici dan Putra mengantar mereka ke rumah Mila menggunakan mobil kesayangan Putra.
__ADS_1
Satu jam perjalanan mereka untuk sampai di kediaman Mila. Sebelum sampai mereka singgah ke mall untuk membelikan cemilan buat si kembar selama berada di rumah Mila.
"Bula dul di lumah Oma lak?"(Bunda tidur di rumah Oma tidak? tanya Karim.
"Ngak Sayang, Bunda akan tidur di rumah kita bersama Ayah. Jangan bandel selama di rumah Oma ya? Bunda pulang dulu," jawab Cici sambil mengelus ketiga kepala buah hatinya.
"Ila Bula, ati-ati,"(Iya Bunda, hati-hati)ucap ketiga buah hati Cici dan mencium pipi sang Bunda dan Ayah mereka secara bergantian.
Cici dan Putra sedang berada di perjalanan menuju kediaman mereka. Tidak ada yang angkat bicara di antara mereka. Hanya keheningan yang tercipta di dalam mobil tersebut.
Tiga puluh menit berlalu, mereka pun sudah sampai di rumah. Putra memarkirkan mobilnya di tempat biasa ia parkirkan.
*
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam. Kedua insan ini masih setia dengan layar TV yang menyala. Malam ini merupakan malam kebebasan bagi mereka berdua. Biasanya sekitar jam segini mereka selalu di ganggu oleh ketiga buah hati mereka.
"Sayang, ke kamar yuk?" ajak Putra sambil mencium punggung tangan Cici.
"Masih jam delapan lewat Mas, bentar lagi yah?" jawab Cici sambil melirik jam di dinding rumah.
"Iya deh Sayang, tapi jam delapan tiga puluh kita ke kamar yah?" ujar Putra, dan kembali fokus ke layar TV.
Tiga puluh menit berlalu, Putra langsung mematikan TV, dan membawa Cici ke dalam kamar yang berada di lantai dua.
Kamar
"Sayang, sekarang aku sangat bahagia," ujar Putra dengan senyum sumringah.
"Kenapa Mas?" tanya Cici bingung.
"Ya, ngak ada yang ganggu malam kita seperti hari-hari sebelumnya, Sayang," jawab Putra yang tetap tersenyum manis.
"Hmm, pasti karena ngak ada anak-anak 'kan Mas?" tanya Cici, dan Putra menganggukkan kepalanya.
*
Lima menit tidak ada pembicaraan di antara keduanya. Keheningan yang tercipta di dalam kamar yang luas tersebut. Mereka hanya berada di dalam pikiran masing-masing tanpa ada yang mau berbicara.
"Sayang, Mas boleh nanya ngak?" tanya Putra memecah keheningan.
"Iya Mas, boleh." jawab Cici.
"Kapan kita ngasih si kembar adik?" tanya Putra sambil menatao intens istrinya.
"Aihh, mereka masih kecil Mas," jawab Cici sambil menatap wajah suaminya dengan sorot mata tak suka.
"Ya ngak apa-apa dong Sayang, biar keluarga kita semakin ramai," ucap Putra dan memeluk pinggang ramping sang istri.
"Iya sudah ayok, jika Mas mau," jawab Cici menampilkan senyumnya. Dia tau apa maksud dari yang diucapkan suaminya.
Malam ini adalah malam yang bersejarah bagi Putra dan Cici, semenjak kehadiran sang buah hati. Malam yang selalu di tunggu-tunggu oleh Putra selama ini akhirnya terwujud pada saat sang buah hati menginap di rumah Oma mereka.
*
Matahari sudah menampakkan wujudnya di permukaan bumi. Cahaya yang terik menusuk ke wajah kedua insan yang sedang tertidur pulas setelah menghabiskan malam indah mereka.
Cici terbangun dari alam mimpinya, dan begitupun dengan Putra. Mereka sama-sama terbangun di waktu yang sama.
"Sayang," panggil Putra dengan suara parau.
"Iya Mas, ada apa?" tanya Cici degan suara khas bangun tidur.
"Terima untuk yang semalam," ucap Putra, yang langsung mengecup lama kening sang istri.
__ADS_1
"Iya Mas, itu sudah tugas ku," balas Cici.
TBC