
BAB 15
Hanya lima menit mereka berbincang-bincang, akhirnya Putra merasa lapar, dan ia mengajak mereka untuk makan di restoran di samping mall tersebut.
"Cari makan yuk, saya merasa lapar nih?" ajak Putra sambil memegang perutnya yang tampak sudah mulai berbunyi minta diisi.
Sebenarnya Lili maupun Gilang merasa sungkan ikut makan bareng Putra. Apalagi itu adalah guru yang mengajar mereka di sekolah. Namun, melihat Cici yang menganggukkan kepalanya membuat mereka mengikutinya meski ada rasa segan maupun canggung.
"Yaudah yuk, kami juga lapar Pak," jawab Cici dengan antusias. Lagian kapan lagi mereka makan bareng guru seperti ini. Meski bagi Cici sudah biasa, namun bagi kedua teman baru kali ini. Pasti akan ada rasa canggung yang mereka alami.
Gilang dan Lili melangkah di depan Cici maupun Putra. Berjalan sedikit tergesa agar cepat sampai di restoran di samping mall itu. Gilang menggamit tangan Lili untuk digandengnya. Sedangkan Cici yang menangkap tangan sahabatnya di gandeng seperti itu mengernyitkan dahinya. Pasalnya selama mereka berteman tak pernah sekalipun Cici melihat ada seorang laki-laki menggandeng tangan sahabatnya itu terang-terangan. Jika pun ada dibelakang Cici, itu hanya Lili yang tau.
Akhirnya mereka sampai di dalam restoran. Memilih duduk di bagian pojok restoran yang mana di luar itu terdapat kolam ikan kecil. Dengan air bersih yang memperlihatkan beberapa ekor ikan yang muncul kepermukaan.
Saat mereka semua sudah menduduki bangku yang ada di sana, seorang pelayan menghampiri mereka. Menanyakan apa yang akan mereka pesan. Tapi semuanya memilih untuk memesan pesanan yang sama, dengan air minum yang berbeda. Lili dan Gilang memesan jus jeruk sedangkan Cici dan putra memesan es teh.
Lama menunggu akhirnya pesanan mereka sampai. Menikmati makanan itu tanpa ada yang membuka pembicaraan. Suasana hening membuat meja mereka sunyi. Meski di dalam restoran itu ramai, tapi dibagian agak pojok seperti meja yang sekarang dihuni empat orang itu agak hening. Lantaran kebanyakan orang memilih makan di bagian tengah. Dalam waktu sepuluh menit, akhirnya makanan mereka tandas tania sisa.
"Pak, kita duluan ya?" ujar Gilang pada Putra, lalu mengeluarkan uang dari dalam saku celananya untuk membayar tagihan makanan dirinya serta Lili.
"Simpan saja kembali uang kamu, biar saya yang traktir makan kalian," Putra menghentikan tangan Gilang yang hendak meletakkan uang di atas meja. Kebetulan di restoran itu tagihannya diletakkan diatas meja sesuai dengan harga yang sudah di sebutkan. Tapi jika uangnya ada kembaliannya, makan bisa di bayar pada pelayan. Tidak akan ada yang bisa mengambil uang tersebut, karena di setiap sudut di pasang CCTV.
"Terimakasih Pak. Yasudah saya duluan bareng Lili ya Pak, Ci," pamit Gilang di angguki Putra. Jangan lupakan sedikit senyuman.
__ADS_1
"Aku duluan ya Ci, Pak," pamit Lili setelahnya.
"Hati-hati Li, Lang," jawab Cici dengan senyuman, sedangkan Putra hanya mengangguk saja tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Gilang dan Lili sudah keluar dari restoran, sekarang hanya tinggal Putra dan Cici. Cici menatap kepergian sahabatnya tersebut tanpa mengedipkan matanya dan itu membuat Putra menatap bingung ke arah istrinya.
"Heii, kok natapnya gitu amat sih?" tanya Putra sambil mengibaskan tangannya di depan wajah sang istri.
"Hehehe, ngak apa-apa kok Mas," jawab Cici yang langsung tersadar dari tatapannya. Tak mungkin juga dia akan mengatakan kepada Putra bukan. Lagian ntar juga dia yang kena ceramah.
"Yaudah, sekarang kita pulang yuk?" ajak Putra setelah meletakkan uang pecahan seratus ribu dua lembar di atas meja.
"Yuk Mas," Cici berdiri dari duduknya. Tangan Putra tiba-tiba saja mengambil tangannya Cici uang sebelumnya berasa di samping roknya. Mengamit tangan sang istri dengan sedikit erat. Seperti takut akan di tinggal.
Putra dan Cici sedang di perjalanan pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan mereka menghabiskam waktu dengan bercerita. Putra yang melihat sebuah senyuman terukir di bibir **** gadis itu hanya tersenyum bahagia.
Esok hari
Cici dan Putra datang ke sekolah sangat pagi, karena hari ini semua guru akan mengadakan rapat penting bersama dengan Kepsek.
Cici yang sudah sampai di sekolah langsung berjalan ke arah kelasnya. Sampai di kelas ia hanya duduk sendirian, pasalnya belum ada satupun dari teman-teman Cici yang datang. Bahkan adik kelasnya pun belum ada yang datang satupun. Maklum saja, karena waktu masih menunjukkan pukul setengah tujuh. Biasanya orang banyak datang pada pukul 07:40 menit, tinggal 20 menit lagi maka akan banyak yang hadis.
Tak... Tak... Tak...
__ADS_1
Suara langkah kaki membuat Cici melirik ke arah sumber suara karena, ia sedari tadi hanya melihat ke arah luar jendela, dan tampaklah seorang wanita cantik bersama seorang laki-laki berparas tampan yang tak lain adalah Lili dan Gilang. Datang dengan bergandeng tangan sambil melempar senyum satu sama lain.
"Assalamu'alaikum," Salam Lili dan Gilang saat sepasang anak manusia itu masuk ke dalam kelas.
"Wa'alaikumsalam," jawab Cici yang kembali fokus keluar jendela kelas. Bukan tak menghargai hanya saja ada sedikit rasa iri melihat mereka seperti itu. Lagian dia juga mau seperti mereka, hanya saja ini ranah sekolah. Yang tak akan mungkin bagi Cici melakukan hal yang sama. Apalagi ini dengan gurunya sendiri.
"Sayang, aku pergi dulu ya?" pamit Gilang pada Lili saat gadis itu sudah duduk di bangkunya. Lili hanya membalas dengan anggukan serta senyuman di bibirnya untuk sang kekasih.
Cici yang tadinya melihat ke arah luar jendela langsung menghadap ke arah Lili dan Gilang. Cici membulatkan mulutnya mendengar ucapan dari Gilang. Gilang memang tidak sekelas dengan mereka, tetapi Gilang pernah sekelas dengan Lili saat mereka masih kelas sebelas.
"Haii, kenapa tuh mulut di bulatin gitu? mau nungguin nyamuk buat masuk dulu ya?" ledek Lili sambil menutup rapat bibir Cici dengan tangannya.
"Aihh, ya ngak lah. Ini mulut buat nampung banyak makanan." jawab Cici dengan sedikit judes.
"Hehe, iya deh iya. Kan memang itu fungsinya," jawab Lili.
"Aku mau nanya sama kamu nih Li, kok Gilang manggil kamu Sayang ya?" tanya Cici yang sangat penasaran pada sahabatnya itu.
"Ya ngak apa-apa lah Ci, lagian kita kan pacaran." jawab Lili dengan senyuman. Teringat lagi kisahnya saat laki-laki itu mengajaknya menjadi sepasang kekasih. Apalagi raut kecewa saat dia dengan jahilnya menolak waktu itu. Ingin rasanya Lili tertawa, namun dia tahan.
"Ehh, tapi kok bisa? Kenapa kamu ngak bilang sama aku?" tanya Cici sambil merajuk.
Hufff, Lili menghembuskan nafasnya dengan pelan, dan menjelaskan semuanya sama Cici tanpa ada yang ketinggalan.
__ADS_1
Sekarang Cici sudah mengerti dengan semunya, dan ia hanya menanggapi ucapan sahabatnya dengan menganggukkan kepala.
TBC