MENIKAH DENGAN GURUKU

MENIKAH DENGAN GURUKU
BAB 34


__ADS_3

BAB 34


"Cukup!! Jangan pernah menyakiti dirimu sendiri karena, semuanya ngak akan pernah kembali seperti semula!" ujar Nini kepada sang putra yang tengah meneteskan air matanya.


Klek


Suara pintu membuat semua yang ada di sana langsung menghampiri dokter itu.


"Dok, gimana keadaan istri saya? Dia baik-baik saja kan dok? Anak saya juga baik-baik saja kan Dok?" tanya Putra dengan tatapan sendu berharap dokter akan memberikan kabar gembira. Sungguh saat ini hatinya tengah gelisah. Takut sesuatu buruk yang terjadi pada istri.


"Maaf Pak, keadaan istri Bapak semakin parah. Darahnya juga tidak bisa berhenti hingga saat ini. Bahkan sampai sekarang pasien pun juga belum sadarkan diri. Jadi kami meminta izin kepada Bapak, dan keluarga Bapak untuk melakukan operasi persalinan buat istri Bapak," ujar sang dokter.


"Apa tidak ada cara yang lain selain operasi dok?" tanya Mila bunda dari Cici. Sungguh ini merupakan suatu hal yang berat untuk dirinya. Mungkin saja juga untuk keluarganya yang lain.


"Maaf, hanya itu satu-satunya cara buat keselamatan ibu beserta bayinya," jawab dokter tersebut.


Putra menghela nafasnya dengan kasar. Laki-laki itu takut akan terjadi yang tidak-tidak terhadap sang istri maupun bayi yang sedang berada di dalam kandungan Cici.


"Yaudah Dok, lakukan yang terbaik buat istri dan anak saya," ujar Putra yang masih dengan linangan air mata. Berat rasanya jika melepas istri dengan cara operasi seperti ini. Tapi jika itu yang terbaik untuk istrinya maka Putra hanya akan pasrah kepada yang Kuasa.


Dokter hanya balas dengan anggukan kecil, lalu kembali masuk ke dalam ruangan persalinan.


Tak berapa lama kemudian, dua orang suster beserta dokter tadi membawa Cici dengan tempat tidur dorong menuju ruang operasi.


Putra tak sanggup melihat wajah pucat pasi sang istri. Wajahnya terlihat tidak berdarah sedikit pun, melainkan seperti mayat hidup.


Putra terus terbayang wajah sang istri yang baru setengah jam yang lalu lewat di hadapannya. Yaa, sudah setengah jam Cici berada di ruang operasi bersama dengan dokter beserta suster yang membawa Cici. Tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda jika dokter akan membuka pintu ruang operasi. Bahan lampu pada atas pintu masih bewarna merah yang artinya operasi masih berjalan.

__ADS_1


Orang tua Cici maupun Putra tetap duduk di depan ruang operasi sambil berdo'a untuk keselamatan sang anak dan juga cucu mereka.


Putra terus mondar-mandir di depan ruang operasi, tanpa menghiraukan ucapan Mamanya untuk duduk dengan tenang bersama dengan dirinya. Nini juga sudah bilang kalau Cici, dan juga anaknya akan baik-baik saja. Namun, Putra tetap tidak mendengarkan ucapan sang mama. Sungguh saat ini dia sangat khawatir akan istri.


Satu jam sudah berlalu, dokter tidak juga kunjung keluar dari ruangan operasi untuk memberi kabar. Fikiran Putra terus saja berbalut dengan hal-hal yang negatif.


"Ma, aku ngak mau kehilangan Cici dan juga bayiku Ma, hiks hiks," Adu Putra sambil menangis sesegukan kepada Mamanya.


"Suttt, jangan ngomong gitu Sayang. Tetaplah berdo'a untuk keselamatan istri dan anakmu," ujar sang mama sambil memeluk putra semata wayangnya. Jujur dia juga sedih menunggu kabar sang menantu yang tak kunjung.


"Tapi Ma, kalau Cici pergi ninggalin aku untuk selamanya gimana? Aku tidak akan sanggup Ma. Lebih baik aku juga pergi Ma hiks hiks," ujar Putra yang tak mau kehilangan sosok wanita yang sangat dicintainya itu.


"Nak, Bunda tau apa yang kamu rasakan saat ini. Jadi berdo'alah untuk keselamatan istri dan juga buah hati kamu yang sedang berada di dalam perut Cici, Sayang," ujar sang mertua kepada Menantunya dengan sangat lembut. Meskipun begitu, Mila juga merasakan apa yang dirasakan Putra saat ini tapi, ia berusaha untuk tetap tegar dalam menghadapi cobaan yang menimpa putri semata wayangnya.


Sudah hampir satu jam lebih doter menangani proses operasi cesar untuk Cici. Dokter beserta yang lainnya melakukan yang terbaik untuk Cici agar ia dan bayinya selamat hingga operasi tersebut selesai.


Bayi Cici sekarang sedang dibersihkan oleh suster yang membantu sang dokter dalam proses operasi Cici.


Klek ...


Suara pintu ruang operasi terbuka. Keluarlah seorang wanita paruh baya yang mengenakan baju operasi bewarna hijau. Tak lupa masker yang setia menutupi mulutnya. Putra yang dari tadi terus mengeluarkan air matanya sambil berjongkok di hadapan sang mama, langsung mendongak, dan berjalan ke arah dokter dengan tergesa.


"Dok, gimana keadaan istri dan anak saya? Mereka baik-baik saja kan dok?" tanya Putra dengan masa bergetar. Sungguh hatinya saat ini tidaklah tenang


"Alhamdulillah proses operasi istri Bapak berjalan dengan lancar. Kami minta maaf hingga sekarang istri Bapak belum sadarkan diri. Berkemungkinan pasien akan koma untuk beberapa hari bahkan bisa sampai bulan bahkan bertahun. Hanya Kuasa Allah yang akan membantu istri Bapak. Jangan luka berdoa yang terbaik untuk istri Bapak," ujar sang dokter.


Deg ...

__ADS_1


Rasa di sambar petir hati Putra, saat mendengar penjelasan sang dokter. Kenapa tidak! Orang yang ia cintai dinyatakan akan koma bahkan itu bisa sampai berbulan-bulan ataupun bertahun-tahun. Ini semua sungguh jauh dari pemikiran Putra. Apakah jatuhnya sang istri sampai separah itu?


"Dokter jangan becanda, saya tau pasti istri saya tidak akan koma selama itu Dok? Istri saya wanita kuat!" Putra menggeleng kepalanya berulang kali. Menyakini jika perkataan dokter tidaklah benar.


"Maaf Pak, kami sudah melakukan semaksimal mungkin seusai kemampuan kami. Tapi itu semua sudah kehendak Tuhan, jadi kami tidak bisa berbuat apa-apa. Harapannya hanya do'a dari keluarga Bapak," ucap Dokter dengan nada halus kepada Putra.


Mila yang sedari tadi hanya bisa mematung. Mengeluarkan air matanya mendengar penjelasan sang dokter begitupun dengan Nini. Wanita itu juga menangis mendegar kabar duka dari sang menantu yang sangat ia sayangi.


Miko dan Farhan hanya bisa memberi semangat untuk anak dan menantu mereka agar bisa kuat menerima kenyataan yang sangat pahit yang baru mereka terima.


"Ta--tapi, anak saya gimana Dok? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Putra dengan gemetar.


"Alhamdulillah anak-anak Bapak sehat semua, dan sekarang lagi di bersihkan oleh suster," jawab dokter dengan senyuman.


"Anak-anak? Apa anak saya kembar dok?" tanya Putra dengan mengernyitkan keningnya tapi, air matanya tetap tak bisa ia bendung.


"Iya Pak, istri Bapak mengandung anak kembar tiga, dan mereka berjenis kelamin berbeda. Yang pertama laki-laki, yang kedua perempuan, dan yang terahir berjenis kelamin laki-laki," ujar dokter dengan senyuman.


"Be--benaran Dok? Saya tidak salah dengar kalau istri saya melahirkan anak kembar tiga?" tanya Putra yang sangat tak percaya dengan apa yang dikatakan dokter wanita itu.


"Benar Pak," jawab Dokter.


Ruang operasi


Dua orang suster tersebut sudah selesai membersihkan ketiga buah hati Putra dan Cici. Sekarang mereka akan memanggil Putra untuk mengazani, dan mengiqamahkan ketiga anaknya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2