
BAB 42
Lima bulan sudah berlalu, Hamid dan Lisa sudah sangat dekat. Bahkan kedekatan mereka sudah dianggap oleh sebagian besar teman sekelas sebagai seorang kekasih yang sedang memadu kasih.
Banyak juga yang iri dengan kedekatan mereka berdua. Tapi, rasa itu mereka tepis dalam diri mereka dengan keras. Buat apa harus ngehancurin hubungan orang lain. Jika ego yang di pentingkan maka, semuanya tidak akan pernah berakhir dengan indah, namun sebaliknya.
"Lis, besok kamu ada acara ngak?" tanya Hamid menatap gadis itu.
"Ngak Ham," jawab Lisa sambil tersenyum ke arah Hamid.
"Wah, ada yang mau ketemuan nih yee? Ikut dong!" goda Lathifah yang baru datang dari kantin bersama Karim.
"Ngak bisa!" jawab Hamid penuh penekanan.
"Emang Kakak mau ngapain? Kenapa kita ngak boleh ikut cobak?" tanya Karim yang penasaran dengan rencana sang kakak.
"Kepo!" jawab Hamid yang menekan kata kepo.
Karim dan Lathifah menghela napas mereka dengan kasar. "Ya sudah, awas kalau minta bantuin sama kita," ujar Lathifah yang berlalu dari hadapan Hamid dan Lisa yang diikuti oleh Karim.
*
Pagi ini Hamid sudah sangat rapi dengan baju kaos pendek serta celana levis hitam yang membalut tubuh kekarnya. Hari ini sungguh berbeda dari hari-hari Hamid yang sebelumnya. Biasanya ia tidak pernah serapi ini pada hari minggu.
Hamid turun ke bawah. Senyuman terus terukir indah dari bibir tipisnya. Hamid berjalan menuju ruang makan, dan ikut sarapan pagi bersama keluarganya.
"Tumben pagi-pagi sudah rapi Sayang? Mau kemana?" tanya Putra yang melihat sang putra sulung yang sangat rapi. Padahal biasanya putranya itu tak pernah rapi seperti ini, apalagi hati minggu.
"Hehehe, mau ketemuan sama Lisa, Yah," jawab Hamid dengan cengiran khas dirinya.
"Abang, Lia icut ya?" pinta Aulia sambil mengunyah nasi yang memenuhi mulutnya.
"Hari ini Abang ngak bisa Au, besok-besok kita pergi main ya?" jawab Karim yang hanya mendapat anggukan dari sang gadis kecil.
Karim dan Lathifah tidak berbicara sedikit pun dengan sang kembaran. Mereka hanya diam, dan memakan nasi mereka dengan santainya. Hingga piring yang terisi penuh sebelumnya sudah tak tersisa sedikit pun.
"Abang Aim, Kakak Ipa, kita pelgi main cekalang yuk?" ajak Aulia dengan memasang wajah imutnya.
"Entar yah Au, Kakak sama Abang bersih-bersih dulu ya?" jawab Lathifah yang langsung di angguki oleh Aulia.
Lathifah dan Karim beranjak dari duduknya untuk menuju kamar mereka. Mereka tidak melirik sedikit pun ke arah sang kakak yang sedari tadi melihat tingkah sang kembaran yang terlihat dingin kepadanya. Biasanya mereka selalu bersama saat turun dari lantai dua, tapi pagi ini tidak. Bahkan Karim dan Lathifah lebih dulu turun dari pada Hamid.
*
__ADS_1
"Ayah, Bunda, aku pergi dulu ya, assalamu'alaikum," pamit Hamid sambil mengucapkan salam. Tak lupa dia mencium punggung tangan serta pipi ke-dua orang tuanya dengan penuh kasih sayang. Dan yang terakhir mencium pipi gembul gadis kecil yang berdiri di samping kursi.
Hamid berjalan dengan langkah besar menuju mobilnya yang terparkir di depan rumah nan megah tersebut. Mesin mobil sudah hidup, Hamid langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan rata-rata.
Dalam rumah
"Kakak cudah belec-belec?" tanya Aulia yang memastikan Kakaknya sudah selesai beberes badan.
"Sudah, yuk?" ajak Lathifah yang langsung menggendong gadis kecil itu. Diikuti Karim dari belakang.
"Ayah, aku pinjem mobilnya, ya?" ucap Karim menyodorkan tangannya ke arah sang ayah yang sedang duduk bersama Cici di ruang tamu.
Putra memberikan kunci mobilnya kepada sang putra yang telah menyodorkan tangannya. Lalu, tersenyum manis ke arah sang buah hati.
Mereka bertiga keluar dari dalam rumah menuju mobil Putra yang terparkir di samping mobil yang di bawa Hamid barusan. Ya, Putra sudah membeli satu mobil lagi buat ketiga sang buah hati untuk mereka berangkat ke sekolah.
Mobil kesayangan Putra sudah mulai meninggalkan perkarangan rumah. Kini tinggal Putra dan Cici yang berada di dalam rumah tanpa adanya seorang pembantu. Pembantu yang bekerja di rumah Cici sedang pulang kampung satu minggu yang lalu karena, ada sanak saudaranya yang mengadakan acara pernikahan.
Semua pekerjaan rumah di lakukan oleh Cici, dan juga di bantu oleh sang putri yang sudah tumbuh menjadi remaja yang sangat cantik, dan juga oleh kedua jagoan hebatnya.
"Sayang, ke kamar yuk?" ajak Putra sambil meraih tangan Cici untuk berdiri.
"Ngapain Mas? 'Kan film-nya lagi seru nih?" tanya Cici sambil menunjuk film yang lagi tayang di TV.
"Aihh, nurut aja dulu, ntar kamu juga tau," ujar Putra sambil mengedipkan salah satu matanya.
Mobil Karim
"Abang, cita mau cemana?" tanya Aulia yang melihat sang abang tetap fokus melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
"Gimana kalau kita pergi ke pantai hmm?" tawar Karim kepada sang gadis kecil.
"Baiclah Abang, Lia cetuju," jawab Aulia sambil tersenyum manis menatap sang abang yang sedang menyetir mobil.
Perjalanan menuju pantai tidak terlalu macet. Hanya butuh waktu tiga jam, mereka pun sudah sampai di pantai. Karim memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang sudah tersedia di perkarangan pantai.
Mobil Hamid
Hamid sudah sampai di depan rumah milik Gilang. Rumah megah yang dilapisi dengan cat bewarna silver. Hamid turun dari mobil, dan menghampiri Lisa yang sudah menunggunya di ambang pintu rumah.
"Yuk berangkat?" ajak Hamid yang menarik tangan Lisa dengan lembut.
Lisa mengikuti Hamid dari belakang. Hamid membukakan pintu mobil untuk gadis yang bersama dirinya. Mempersilahkan gadis tersebut untuk masuk.
__ADS_1
Hamid berlari kecil untuk menuju ke dalam mobil kemudi. Hamid mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Mereka akan menuju taman yang pernah mereka tuju beberapa bulan yang lalu bersama Karim dan Lathifah.
*
Mereka memilih duduk di kursi yang berada di tengah-tengah taman tersebut. Hari ini tidak terlalu banyak yang berkunjung ke taman. Bisa dihitung berapa orang yang sedang mengunjungi taman dengan pasangan mereka.
"Ngapain kita ke sini Ham?" tanya Lisa di sela-sela mereka duduk sambil menatap langit biru yang menghiasi suasana cerah pagi ini.
"Hmm, aku ngajakin ka-kamu ke sini un-untuk--"
"Kenapa gugup ngomongnya Ham?" potong Lisa sambil menaikkan salah satu alisnya. Bingung dengan laki-laki itu. Tak biasanya laki-laki itu akan tergagap saat berbicara.
Huffff, Hamid menghela napasnya dengan kasar. Rasanya sangat gugup hanya ngomong satu kata saja pada wanita yang berada di hadapannya.
Hamid yang tadinya duduk di samping Lisa, sekarang beralih berjongkok di hadapan Lisa sambil memegang ke-dua tangan nan mulus tersebut.
Lisa mengernyitkan keningnya melihat reaksi yang di lakukan pria di hadapannya. Seketika jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari yang sebelumnya.
Lisa mengingat adegan di film-film yang mana si laki-laki berjongkok di hadapan seorang wanita sambil memegang dan mencium tangan si wanita dengan sangat lembut. Lalu, si pria menyatakan perasaannya kepada sang wanita.
"Apakah yang aku fikirkan akan terjadi? Oh Tuhan, sungguh aku akan sangat bahagia apa bila itu terjadi," batin Lisa sambil tersenyum. Jantungnya tetap saja berolahraga dengan sangat cepat.
"Lis, aku ma-mau ngomong se-serius sama kamu," ujar Hamid dengan nada sangat grogi, dan di balas anggukan oleh Lisa.
"A-aku mencintaimu, ka-kamu mau 'kan jadi kekasih aku?" ujar Hamid dengan terbata. Namun di sorot mata laki-laki itu terdapat harapan jika cintanya akan di balas gadis didepannya ini.
Lisa terlihat sangat kaget dengan penuturan yang di berikan oleh Hamid. Apa yang dia fikirkan memang terjadi. Sungguh!! Ini terasa seperti mimpi di siang bolong.
"Kok bengong sih Lis? Kamu nerima aku apa tidak?" tanya Hamid membuyarkan lamunan Lisa.
"Ehh, tidak-tidak, ak--"
"Ngak usah di lanjutin Lis, aku tau kok apa yang akan kamu sebutin," potong Hamid yang kembali berdiri dan membelakangi Lisa dengan wajah kecewa. Padahal gadis itu belum melanjutkan ucapannya, namun dirinya sudah berfikir lain.
"Haii, aku belum siap bicara! Aku mau jadi kekasih kamu kok, Ham," ujar Lisa yang menatap punggung Hamid yang setia membelakangi dirinya. Sungguh dirinya kini sangat malu dan juga grogi tentunya.
Mendengar penuturan Lisa, Hamid kembali membalikkan tubuhnya menghadap gadis cantik di hadapannya. "Kamu ngak becanda 'kan?" tanya Hamid penuh selidik.
"Aku serius," jawab Lisa dengan senyuman yang menghiasi wajah cantiknya.
Hamid langsung memeluk tubuh gadis itu dengan sangat erat. Rasanya ia ingin seperti ini untuk selamanya.
"Terima kasih Lis," ujar Hamid yang tetap memeluk tubuh Lisa, dan dibalas anggukan oleh Lisa.
__ADS_1
Selang beberapa menit mereka berpelukan, Hamid melepaskan pelukannya, dan mengajak Lisa untuk kembali duduk di kursi yang mereka tempati semula.
TBC