
BAB 21
Wanita itu sudah sampai di depan kamar mandi. Ia sedang mencari di mana tempat untuk mencolokkan kabel tersebut. Dan akhirnya ia menemukan tempat colokan yang berada di tembok samping pintu kamar mandi.
Wanita itu berjalan menuju dapur untuk mengambil air dengan ember yang terletak di dekat tempat cuci piring. Selesai mengambil air, wanita itu kembali mencari gunting. Apa yang wanita itu inginkan, akhirnya ketemu di tas sling kulkas.
Wanita itu melangkah menuju kamarandi yang mana di sana masih ada Cici. Dengan membawa gunting serta air di dalam ember dengan hati penuh kebahagiaan. Rencana yang sangat matang, pikir wanita itu.
Wanita itu menumpahkan air ke arah dalam kamar mandi. Lalu, dia mengambil kabel yang sudah wanita itu colokan pada listrik. Menggunting bagian depan kabel tersebut. Lalu menyodorkan ke bawah pintu kamar mandi, yang otomatis akan langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Di dalam kamar mandi Cici terus saja berteriak minta tolong. Tapi tak juga ada yang datang untuk menolongnya. Bahkan rasanya suaranya hampir habis lantaran keseringan berteriak.
"Lah kok ada air sih? Mungkin ada orang di luar kali ya? tolong!!! tolong!!!" Cici kembali meminta tolong, meski kerongkongannya sudah mulai agak sakit. Namun demi keselamatannya tak apa, yang penting dia bisa keluar dari kamar mandi ini.
Wanita yang berada di luar tidak menyahuti ucapan Cici. Melainkan memasukkan ujung kabel ke bawah pintu. Kabel itu mengenai air yang wanita itu tumpahkan ke dalam kamar mandi. Kabel tersebut mengeluarkan percikan api yang berwarna orange serta kebiru-biruan akibat terkena air.
Cici yang berada di dalam langsung kaget tak kala kakinya serasa di tarik dengan sangat cepat. Cici melihat ke arah kakinya, dan di sana sudah terdapat kabel yang di masukkan dengan sengaja oleh orang yang tidak di ketahui gadis itu.
"Ke--kenapa tiba-tiba ada ka--kabel disini?" tanya Cici dengan nada bergetar pada dirinya. Gadis terus-terusan minta tolong agar kabel yang di luar segera di lepaskan. Tempat yang di pijak Cici cudah genang dengan air. Mau naik ke atas bak mandi, juga tidak bisa. Bak tersebut memiliki tinggi, kira-kira setinggi pinggang Cici. Jadi menyusahkan gadis itu agar bisa untuk naik.
Cici terus-terusan menjerit minta tolong, karena ia sudah tak bisa lagi untuk bergerak. Kakinya sudah sangat lengket ke lantai kamar mandi. Cici tak sangggup lagi untuk menahan rasa sakit karena kesetrum.
Mendengar reaksi Cici di dalam kamar mandi, membuat wanita itu tersenyum dengan puas. Bahkan beberapa kali wanita itu bertepuk tangan dengan keberhasilannya. Menunggu beberapa saat, akhirnya wanita itu pergi dari depan kamar mandi. Bahkan wanita itu memilih untuk meninggalkan ke diaman Gilang.
*Keberadaan Putra*
Putra yang benar-benar sudah merasa kesal, langsung berdiri dari duduknya untuk menyusul sang istri ke kamar mandi. Belum sempat Putra melangkah Gilang dan Lili menghampiri Putra, dan mengajak Putra untuk duduk kembali.
"Eehh Pak, Cici mana? Kok ngak ada sama Bapak?" tanya Lili sambil celingak-celinguk melihat keberadaan sahabatnya. Bisa jadi sahabatnya itu mengambil makanan.
__ADS_1
"Tadi Cici bilangnya ke kamar mandi tapi, sudah hampir dua puluh menit Cici belum juga kembali." jawab Putra yang sudah mulai gusar. Takut jika terjadi sesuatu pada sang istri. Atau istrinya pulang lebih dulu dan tidak mengabari dirinya.
"Oh ya Lang, kamar mandi kamu di mana aja sih? Kok Cici belum kembali-kembali dari tadi? Apa kamar mandi kamu ngak ada dekat sini?" tanya Putra kepada anak didinya itu. Sekarang hanya sebagai mantan anak didik. Karena pemuda itu sudah lulus dari sekolah.
"Hehehe, ngak Pak. Soalnya kamar mandi di rumah ini cuman ada tujuh. Lima di dalam kamar termasuk kamar pembantu dan dua lagi berada di dekat dapur satu, yang satunya lagi berada di pintu ke belakang Pak," jawab Gilang.
Putra hanya menggubris jawaban Gilang dengan menganggukkan kepalanya petanda ia mengerti dengan ucapan Gilang.
"Oh ya Bapak mau minuman ngak?" tawar Lili dan diangguki Putra. Putra masih berfikiran positif, mungkin saja istrinya agak lama mencari kamar mandi, lantaran rumah ini sangat besar. Apalagi kamar mandinya ada di dapur.
Lili pergi mengambil tiga gelas jus yang tak jauh dari mereka duduk. Lili membawa jus tersebut dengan nampan yang terletak di samping jus. Lili meberikan jusnya kepada Putra dan Gilang.
Sekarang mereka bertiga sedang bercerita sambil tertawa bahagia.
Putra yang tertawa bersama Lili dan Gilang merasakan hatinya tidak merasa nyaman. Pikirannya terus tertuju pada Istrinya yang tak juga kembali-kembali hingga kini.
Sudah hampir dua puluh lima menit Cici di kamar mandi, dan itu membuat Putra merasa tidak nyaman. Akan tetapi di hatinya juga terdapat rasa kesal terhadap sang istri yang tak kunjung datang.
Di dalam kamar mandi Cici sudah tak sanggup lagi untuk mengeluarkan satupun kata-kata dari mulut mungilnya. Rasa sakit yang disebabkankan air yang terkena kabel putus, membuat gadis itu pingsan.
Karena tidak sadarkan diri, tanpa tau lengan gadis itu mengenai kabel yang masih saja mengeluarkan percikan api, dengan warna agak biru muda. Lengan gadis itu sudah mulai memar, lantaran sengatan dari kabel terlalu kuat. Lengan yang semula berwarna putih bersih, kini sudah agak kecoklatan. Bahkan ada kuli gadis itu sudah mengelupas karena sengatan listrik.
*Tempat Pesta*
Gilang dan Lili terus saja becanda bersama Putra, tapi perasaan Putra semakin tidak enak, mengingat keberadaan sang istri.
"Lang tolong antarkan saya ke kamar mandi. Perasaan saya sudah tidak karuan, lantaran Cici terlalu lama di kamar mandi. Belum lagi ini sudah terlalu lama. Takut terjadi sesuatu pada Cici," lirih Putra dengan raut wajah yang tampak mulai kacau.
"Iya Pak, ayok?" jawab Gilang berdiri dari duduknya. Meninggalkan pesta pernikahannya yang masih berlanjut. Hanya tinggal satu jam lagi pesta itu akan usai.
__ADS_1
Putra serta Lili mengikuti Gilang dari belakang. Mereka berjalan sedikit tergesa agar cepat sampai di tempat tujuan. Karena itu permintaan Putra. Perasaannya yang sudah mulai kacau membuat laki-laki itu meminta agar jalan mereka di percepat.
Gilang membawa Putra ke kamar mandi yang berada di jalan ke belakang karena, kamar mandi itu tidak terlalu jauh dari tempat pesta.
Sampai di sana Putra langsung membuka pintunya, dan ia tak mendapati sang istri. Sekarang wajah Putra sudah terlihat sangat panik dengan sang istri yang tak juga ia temukan. Ada rasa sesal yang dia rasakan lantaran dia tak menemani sang istri.
Selanjutnya Gilang membawa Putra ke kamar mandi yang lain, yaitu ke kamar mandi pembantu. Ia berfikir mungkin Cici berada di kamar mandi tersebut.
Disana pun Putra juga tak menemui Cici. Putra menghembuskan nafasnya dengan kasar dan terus mengikuti kemana Gilang akan membawanya dan juga Lili.
Saat ini mereka bertiga sedang menuju ke kamar mandi dapur, karena ngak mungkin Cici akan pergi ke lantai dua untuk mencari kamar mandi. Langkah demi langkah sudah mereka lewati, dan akhirnya mereka pun sampai di depan kamar mandi dapur.
Putra yang tadinya berada di belakang Gilang berpindah ke depan Gilang. Putra melihat ada kabel yang di masukkan ke dalam kamar mandi, itu membuat netra Putra tidak berkedip sedikitpun. Ada perasaan takut yang kini tengah menghantui dirinya. Tak mungkin jika lampu kamar mandi itu di hidupkan dari luar. Jika pun benar, maka kabelnya tidak akan tercegah pada lantai.
Putra memegang kabel itu, dan langsung melepaskannya karena kabelnya terasa sangat panas. Putra tidak melihat kalau kabel tersebut di colokkan pada listrik.
Gilang dan Lili hanya tercengang dengan hal tersebut. Gilang beranjak dari tempat ia berdiri, dan membuka colokan tersebut dari aliran listrik.
Putra langsung membuka kunci pintu kamar mandi. Pintu tersebut agak susah di buka karena, terhalang oleh tubuh Cici.
Putra memasukkan kepalanya ke dalam dan ia terkejut tak kala melihat sang istri yang sudah pingsan dan tak berdaya. Putra juga melirik ke arah lengan Cici yang terkena kabel. Apalagi saat ini tangan istrinya itu sudah menampakkan kulit yang mulai terkelupas. Ada rasa sesak yang dirasakan laki-laki itu melihat keadaan istri tercintanya. Bahkan ada setitik darah yang keluar dari tangannya. Bahkan lengan sang istri sudah tampak membengkak dengan warna agak keunguan.
"Sayang bangun!!!" Putra memangku tubuh sang istri. Berusaha membangunkan istrinya. Tanpa disadari Putra, wajahnya sudah dibanjiri air mata. Rasanya sangat sakit melihat wanita yang dicintainya tak berdaya seperti ini.
Sedangkan Gilang maupun Lili juga terkejut melihat keadaan gadis itu. Bahkan mereka sangat kekejut melihat tangan Cici yang tampak membengkak serta kulit yang terkelupas.
***
Putra membawa Cici ke rumah sakit yang tak jauh dari kediaman Gilang dengan mobilnya. Putra membawa mobil dengan kecepatan yang sangat tinggi agar ia cepat sampai di rumah sakit itu.
__ADS_1
"Sayang, kamu harus bertahan. Jangan tinggalkan aku, aku tidak akan sanggup kalau tidak ada kamu di samping aku," lirih Putra sambil menghadap ke arah Cici dan Putra kembali menangis, karena melihat keadaan orang yang sangat ia cintai terluka parah seperti ini.
TBC