
"Sayang, pesanan Mama udah ada belom?" tanya Nini dengan senyuman kepada sang Menantu.
"Pesanan apa Ma?" tanya Cici yang tak mengerti arah bicara mertuanya. Pasalnya sebelum pergi ke Jepang pun sang mertua tidak memesan apa-apa atau dia yang lupa jika sang mertua memesan oleh-oleh yang memang sulit di dapatkan disini atau apa. Sunggu Cici dibuat bingun dengan pikirannya sendiri.
"Ihhh, Mama apa-apaan sih." gerutu Putra dengan kesal pada sang mama.
"Emang apa yang di maksud Mama, Mas?" tanya Cici dengan serius menatap wajah Putra.
"Ciee ciee, yang sekarang udah manggil Mas nih yee, biasanya panggilnya Bapak." goda Ayah mertua Cici sambil meledek menantu satu-satunya itu.
Cici yang mendengar ucapan Ayah mertuanya, tampak salah tingkah. Jangan lupakan jika saat ini pipinya sudah memerah karena godaan ayah mertuanya. Cici sangat malu di goda seperti itu. Meski terdengar biasa saja jika dia memanggil suaminya dengan Mas, namun ini lain karena dia yang dulunya memanggil Putra dengan sebutan Bapak namun kiki berubah secara tiba-tiba.
***
Sekarang jam sudah menunjukkan pukul sembilang malam, dan saat ini Putra dan Cici sedang duduk di balkon kamar sambil memakan cemilan yang mereka beli di Jepang kemaren.
"Sayang, lihat deh bulan itu sangat indah yaa?" tanya Putra sambil menunjuk bulan yang memperlihatkan terang serta keindahannya.
"Iya Mas, bulannya sangat cantik," balas Cici yang tersenyum melihat bulan tersebut.
Putra menatap setiap inci wajah Cici yang tersenyum sangat bahagia itu, dan ia sangat senang melihat Istrinya tersenyum manis.
Saat menikmati malam sambil memakan cemilan, ternyata Cici sudah mulai menguap dan matanya sudah terasa berat.
"Mas, tidur yuk?" ajak Cici sambil menguap dengan menutup mulutnya menggunakan tangan kirinya.
__ADS_1
"Yaudah, ayok." balas Putra dan masuk ke dalam kamar dengan merangkul bahu sang istri dengan mesra.
Sampai di dalam kamar, mereka langsung naik ke atas ranjang. Putra membantu menyelimuti tubuh istrinya sampai batas dada. Setelah itu baru tubuhnya. Mereka langsung tidur tanpa bercerita atau apapun terlebih dahulu. Karena rasa kantuk yang sudah sangat menyerang diri ke-dua suami-istri itu.
Tepat jam lima pagi Putra terbangun dari alam mimpinya, dan ia melihat Cici masih tertidur pulas di sampingnya. Putra menatap wajah Cici dengan sangat lekat, dan saat Putra akan berbicara kedua netra Cici terbuka dengan perlahan, dan itu membuat Cici terkejut saat melihat wajah Suaminya tak jauh dari wajahnya.
"Mas mau ngapain?" tanya Cici yang langsung menjauhkan wajahnya dari sang suami.
"Ng... ak kok, saya ngak mau ngapa-ngapain." balas Putra dengan nada sedikit gugup.
"Hmmm, yaudah aku ke kamar mandi dulu ya? Soalnya mau ngambil wuduk," pamit putra yang langsung turun dari ranjang menuju kamar mandi. Sebelum itu dia mengambil handuk yang terletak di dekat pintu kamar mandi.
Delapan menit berlalu, Putra keluar dari kamar mandi, dan sekarang giliran Cici untuk mengambil air wuduk. Tak berselang lama, Cici pun keluar dari kamar mandi dan langsung mengambil mukenahnya di dalam lemari beserta sejadahnya.
Sedangkan Putra sudah menunggunya untuk melaksanakan sholat subuh berjama'ah, karena masjid dari rumah Putra sangat jauh jadi ia jarang sholat ke masjid.
Sepuluh menit sebelum mereka sarapan pagi, Cici menukar pakaiannya dengan seragam sekolah, karena hari ini ia akan kembali ke sekolah untuk menjalankan pendidikannya seperti biasanya, dan begitupun dengan Putra ia memakai seragam yang biasa dia gunakan untuk pergi mengajar.
"Pagi Ma, Pa," ujar Cici dan Putra serentak saat mereka sudah sampai di meja makan.
"Pagi Sayang," balas Nini dan Farhan menjawab sapaan dari anak serta menantu mereka.
Selesai sarapan pagi, Putra dan Cici pamit untuk pergi ke sekolah kepada Nini dan Farhan, karena mereka akan berangkat ke sekolah bersama, dan di angguk oleh Farhan dan Nini. Sebelum itu ke-dua pasang suami-istri itu terlebih dahulu menyalami tangan Farhan dan juga Nini.
Sampai disekolah, Cici yang hendak turun dari dalam mobil, langsung saja tangannya di cekal Putra.
__ADS_1
"Tunggu!" ucap Putra dengan memegang pergelangan tangan Cici dengan erat. Tapi tidak sampai menyakiti tangan sang istri. Bisa dikatan lembut.
"Iya, ada apa Mas," tanya Cici dengan bingung.
"Nanti saat saya ngajar jangan panggil saya dengan sebutan Mas ya?" pinta Putra.
"Iya Mas, lagian tak mungkin juga aku manggil kamu, Mas. Nanti teman-teman aku malah ngetawain aku atau malah lebih. Apalagi kalau ada yang tau jika kita sudah menikah, yang ada aku malah dikeluarkan dari sekolah ini. Jadi ya percuma aku sekolah dulu jika akhirnya akan didepak dari sekolah," kekeh Cici dengan senyuman. Ada-ada saja suaminya itu. Masa iya dia akan lupa jika ini sekolah. Cici dibuat geleng-geleng kepaka dengan ucapan suaminya barusan.
"Oh ya, Mas mau kasih tau kamu nih? Kalau mau pergi kemana-mana bareng maupun tidak, jangan lupa cium tangan Mas ya? Karena sekarang ridho Allah tergantung ridho suami, kecuali kamu belum menikah baru ridho orang-tua yang kamu cari," ucap Putra pada Cici dan di balas anggukan kecil dari Cici.
"Iya Mas," jawab Cici meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangan Putra lalu keluar dari dalam mobil.
Sekarang Cici sedang berjalan di koridor sekolahnya menuju kelasnya. Sampai di kelas ia mendapati Lili sedang duduk sambil melamun di atas kursi dengan tangan menopang dagunya.
"Haii, kok ngelamun sih Li?" panggil Cici yang mengagetkan Lili, dan langsung memeluk erat tubuh sahabatnya untuk melepaskan rindu beberapa hari tidak berjumpa. Lili juga membalas pelukan sahabat itu, karena dia juga merasakan rindu akan gadis yang memeluk tubuhnya dengan erat.
"Issss kamu ngagetin aja sih Ci, aku ngak apa-apa kok Ci, oh ya kamu kok ngak sekolah satu minggu belakang sih? nah Pak Putra juga ngak sekolah juga, kenapa ya?" tanya Lili panjang lebar dan menatap wajah Cici dengan serius. Pasalnya bersamaan dengan ketidak hadirkan Cici seminggu ini.
"Ohh itu, aku lagi pergi ke Jepang sama Ayah dan Bunda aku Li, dan kalau masalah Pak Putra aku ngak tau. Jangan kamu tanyakan sama aku," jawab Cici sambil berbohong. Tak mungkin dia akan mengatakan yang sebenarnya kepada Lili. Dia belum sanggup untuk jujur saat ini.
"Hmm gitu ya Ci? Oleh-oleh buat aku mana?" tanya Lili sambil menyodorkan telapak tangannya pada Cici, dengan wajah seperti anak kecil meminta dikasih permen.
"Hehehe, oleh-olehnya aku lupa bawa Li, soalnya tadi aku cepat-cepat pergi sekolah." jawab Cici sambil cengegesan. Lagian pikirannya juga tidak sampai ke sana tadi pagi.
"Hmm yaudah deh, besok dibawakan ya?" pinta Lili dengan senyuman, dan di balas anggukan oleh Cici.
__ADS_1
Sekitar lima belas menit mereka berbicara dan melepas rindu akhirnya bel masuk pun berbunyi. Semua siswa-siswi yang tadinya berada di luar kelas langsung masuk untuk mengikuti pelajaran pagi ini.