
BAB 28
Kurang lebih dua jam, mereka sudah sampai di tanah kelahiran kedua orang tua dari Cici. Tepatnya di Padang Sumatra Barat. Sekarang mereka sedang menunggu travel yang sudah di pesan oleh Mila saat sebelum sang anak berangkat ke Padang, karena Mila memang memiliki nomor telepon supir travel yang ia kenal di daerahnya sendiri.
Hanya dalam waktu sepuluh menit, travel yang mereka tunggu pun sudah datang. Mereka langsung masuk ke dalam travel tersebut, dan sekarang travelnya sedang berjalan menuju rumah sang nenek.
Setengah jam perjalanan, akhirnya mereka sudah sampai di kediaman Nenek dari Cici. Mereka langsung turun dari travel setelah membayar ongkos kepada sang supir.
Cici dan Putra menuju pintu masuk ke dalam rumah Nenek. Rumah Nenek tidak terlalu besar tapi, dekorasi rumahnya terlihat sangat mewah dengan cat coklat kekuningan. Putra langsung saja merebahkan tubuhnya di atas kursi yang ada di ruang tamu.
Putra melihat ke sekeliling sudut rumah yang ia tempati sekarang bersama sang istri untuk beberapa hari ke depan. Putra terlihat sangat kagum dengan dekorasi isi rumah sang nenek. Kenapa tidak! Rumah ini dihias dengan berbagai macam corak batik yang terbuat dari kayu yang dihias sebagus mungkin.
Sedangkan Cici, ia pergi ke kamar mandi karena, ia kebelet pipis dari pertama ia naik travel tadi. Cici hanya bisa menahannya karena di sana toilet umumnya sudah penuh. Bahkan masih banyak yang mengantri.
"Aaaaa, Mas tolong aku tolong ...!" teriak Cici dari dalam kamar mandi.
Putra yang sedang asik-asiknya melihat setiap sudut rumah sang nenek, langsung terkejut dengan teriakan sang istri yang sangat keras memekakkan telinga. Mungkin saja teriakan itu sampai keluar.
Putra langsung beranjak dari duduknya menuju kamar mandi, tak kala mendengar teriakan sang istri, dan itu sempat membuat Putra merasa khawatir terhadap istrinya.
Sampai di kamar mandi, Putra langsung tertawa melihat Cici yang sedang berdiri di atas bak kamar mandi yang lumayan tinggi.
"Sayang, ngapain kamu di situ? Hahahahah," tanya Putra yang tak henti-hentinya tertawa.
"A-ada kecoak di sana tadi Mas," jawab Cici sambil menunjuk di mana tempat Putra sedang berdiri.
"Mana Sayang, ngak ada kok," balas Putra sambil melihat ke sekelilingnya.
__ADS_1
"Ada tadi Mas, mungkin udah pergi. Mas, bantuin aku turun dong hehehe. Ngak bisa aku turun dari sini Mas," ujar Cici sambil sambil mengulurkan kedua tangannya pada sang suami.
Hufff, Putra menghala nafasnya dengan pelan lalu, menolong sang istri untuk turun dari tempat yang lumayan tinggi itu. Padahal Cici bisa naik ke atas tempat tersebut tanpa bantuan siapapun, dan sekarang malah turunya yang tidak bisa.
Kini mereka berdua sedang menuju ke kamar mereka yang berada di lantai dua. Meskipun rumah nenek tidak terlalu besar tapi, rumahnya juga bertingkat.
Klek ...
Putra dan Cici masuk ke dalam kamar mereka yang berada di lantai dua. Kamar tersebut sudah dipenuhi dengan banyak debu. Maklumlah rumahnya sudah lama tidak di tinggali, semenjak nenek Cici meninggal beberapa tahun yang lalu. Bahkan sekarang yang ke-lima kalinya Cici berkunjung ke rumah sang nenek semenjak neneknya meninggal.
Putra dan Cici membersihkan kamar tersebut sampai tidak ada satupun debu yang terlihat oleh mata mereka.
Cici merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang sangat empuk, sambil menikmati hembusan angin yang datang menerpa wajah cantiknya yang datang dari jendela kamar. Sedangkan Putra pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya agar terasa lebih baikan dari yang sebelumnya. Cukup lelah membersihkan kamar tersebut, lantaran debu yang sudah sangat banyak.
Sepuluh menit berlalu, Putra keluar dari dalam kamar mandi dengan mengenakan baju kaus warna putih serta celana pendek sampai lututnya.
"Sayang mandi gih? Liat tuh bajunya udah kotor banget kena debu," suruh Putra yang langsung di angguki oleh sang istri.
Cici mencari suaminya di ruang tamu, tapi ia tak menemukannya, dan sekarang ia beralih mencari Suaminya di dapur. Perasaan Cici mengatakan Suaminya sedang berada di dapur, dan dugaannya memang benar.
"Mas masak apaan?" tanya Cici saat sudah berada di dekat suaminya.
"Masak mie Sayang, Mas udah lapar banget," jawab Putra dengan santai sambil memasukkan satu bungkus mie instan.
"Buat aku ada ngak Mas?" tanya Cici dengan senyuman yang mengembang manis di bibirnya.
"Ngak ada! Masak sendiri Sayang," jawab Putra dengan wajah datar.
__ADS_1
"Aihh, kok ngak ada sih Mas. Padahal aku juga lapar bangat loh," ujar Cici dengan bibir memanyun ke depan.
Putra yang melihat reaksi wajah Istrinya, langsung tersenyum tanpa sepengetahuan Cici. Mie yang di buat oleh Putra sekarang sudah matang, dan ia sedang memasukkannya ke dalam satu mangkok yang lumayan besar. Sedangkan Cici ia mencari-cari mie yang ntah di mana diletakkan oleh Putra.
"Mas dimana letak mie nya Mas? Aku lapar mau masak mie nih," tanya Cici yang terus membuka lemari serta laci-laci yang ada di dapur.
"Mie nya sudah habis Mas masak Sayang," jawab Putra, dan berlalu dari dapur dengan membawa mie buatannya keruang tamu.
Cici mendengus kesal dengan jawaban Suaminya. Padahal sekarang cacing-cacing yang berada di dalam perutnya sedang berdemo minta disisi.
Cici melangkah menuju kamarnya untuk mengambil uang, karena ia akan membeli makanan di luar dari pada dia harus masak dulu, keburu cacing-cacing yang berada di dalam perutnya marah besar.
"Kemana Sayang?" tanya Putra melihat istrimu yang hendak keluar.
"Mau beli makanan," jawab Cici cuek.
Putra menghampiri sang istri yang hendak kembali melangkah. Memegang tangannya lalu, membawa Cici kemeja yang sudah terdapat satu mangkok besar mie yang dibuat oleh Putra.
"Ngak usah beli makanan Sayang, ini aja makan berdua sama Mas," ujar Putra sambil tersenyum manis ke arah Cici, dan Cici hanya memasang wajah datar kepada suaminya.
"Wajahnya jangan datar gitu Sayang, nanti cantiknya hilang loh," goda Putra pada Cici.
"Biarin," balas Cici dengan wajah datar.
Cup ...
Putra mencium sekilas bibir sang istri, dan itu membuat Cici membulatkan matanya dengan sempurna atas apa yang dilakukan Putra terhadap dirinya.
__ADS_1
"Udah jangan marah lagi, mendingan makan gih?Dengar tuh cacing-cacing nya udah pada demo semua," ledek Putra dan menyupi istrinya. Cici menerima suapan dari suaminya meskipun wajahnya sekarang sudah seperti kepiting rebus, karena merasa malu dicium suaminya sendiri.
TBC