
BAB 22
Pesta pernikahan Lili dan Gilang telah usai. Dirasa semua tamu tidak ada lagi, Gilang memberitahu kepada keluarganya, jika temannya mengalami kecelakaan di dalam kamar mandi. Dengan segera keluarga itu menyusul Putra dan Cici kerumah sakit menggunakan mobil pribadi mereka.
Rumah sakit
Sampai di rumah sakit, Putra langsung memarkirkan mobilnya di sembarang tempat. Tak mungkin dia akan memarkirkan mobil di tempat khusus parkir. Yang terpenting sekarang keselamatan istrinya. Dengan segera laki-laki itu memopong tubuh sang istri.Putra berteriak-teriak memanggil suster, dan keluarlah satu orang suster. Suster yang melihat keadaan Cici langsung berlari ke dalam untuk mengambil tempat tidur dorong.
Tak lama dua orang suster dan dokter membawa tempat tidur dorong dengan segera ke arah Putra. Dengan hati-hati Putra meletakkan tubuh istrinya diatas tempat tidur itu.
"Dok, tolong selamatkan Istri saya," ujar Putra dengan tatapan sendu kepada suste tersebut.
" In sya Allah Pak, kami akan melakukan semaksimal mungkin untuk istri Anda," jawab dokter tersebut saat mereka sudah sampai di depan ruang UGD.
Dokter itu langsung masuk ke dalam ruang UGD. Menutup pintu dengan sangat rapat. Sementara itu Putra menunggu di kursi depan ruang UGD.
Tak lama setelah itu, Gilang beserta keluarganya datang. Mereka langsung menghampiri Putra yang sedang duduk sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Pak, gimana keadaan Cici?" tanya Gilang dengan suara yang juga terlihat sangat khawatir.
Putra yang sedari tadi hanya menutup wajahnya langsung menyingkirkan tangannya dari wajahnya. Menatap semua orang yang kini menunggu jawabannya dengan cemas.
__ADS_1
"Saya belum tau. Cici masih di tangani oleh dokter," jawab Putra yang terlihat sangat sedih. Bahkan wajah tegas yang biasanya laki-laki itu lihatkan kini tampak menyedihkan.
"Sudah memberi tahu keluarga kamu jika istri kamu masuk rumah sakit, Nak?" tanya Ibu Gilang memastikan.
"Astaghfirullah, saya sampai lupa. Makasih ya Bu sudah ngingetin." jawab Putra yang menepuk jidatnya. Saking kepikiran dengan keadaan istrinya membuat Reyhan lupa akan orang-tuanya bahkan sang mertua.
"Iya Nak, sama-sama,"
Putra pergi agak jauh dari depan ruang UGD, untuk menelpon ke-dua keluarganya untuk memberitahu jika istrinya masuk ke rumah sakit.
***
Selesai menelpon keluarganya, Putra kembali duduk di tempat semula. Menunggu pintu bercat biru itu terbuka. Sepuluh menit berlalu, akhirnya keluarga Cici maupun keluarga Putra sudah sampai di rumah sakit. mmmereka pergi ketempat di mana Putra sedang menunggu istrinya dengan wajah tampak gusar.
Putra menjelaskan semuanya kepada kedua keluarga tersebut tanpa ada yang ketinggalan satu katapun, dan kedua keluarga tersebut langsung terkejut dengan penjelasan Putra.
"Ini tidak bisa di biarin! Kita harus mencari tahu siapa pelaku yang sudah menyakiti putriku," ujar Miko selaku Ayah dari Cici. Laki-laki itu sungguh tidak terima anaknya dicelakai seperti ini. Anak yang dengan susah kayah dan kasih sayang yang dia besarkan selama belasan tahun, tapi kini anaknya malah dengan seenaknya di celaka tanpa sebab yang jelas.
"Iya aku setuju!!!" Tambah ayah mertua Cici yang juga tampak marah mendengar ucapan putranya. Menantu satu-satunya di keluarganya. Menantu yang sangat dia sayangi dan cintai seperti anaknya sendiri.
Klek
__ADS_1
Pintu ruangan UGD terbuka. Menampilkan seorang wanita paruh baya. Semua keluarga yang berada di sana langsung mendekat ke arah Dokter tersebut.
"Dok, bagaimana keadaan Istri saya? Dia baik-baik saja kan Dok?" tanya Putra dengan raut wajah yang sang menyedihkan.
"Iya Dok, gimana keadaan putri kami?" tanya Bunda Mila yang juga tak kalah sedihnya. Bahkan mata wanita itu sudah tampak sembab karena menangis.
"Maaf Pak, Buk. Saat ini keadaan pasien sangat memprihatinkan. Bahkan kecil kemungkinan untuk pasien lekas sadar dari komanya," jelas dokter itu membuat air mata yang tadi ditahan Putra, kini turun dengan sendirinya dari pipi nan tegas itu. Istrinya, istri yang sangat dia cintai kini terbaring lemah di rumah sakit. Ada rasa penyesalan terdalam yang dirasakan Putra. Andai saja tadi dia menemani sang istri, maka kejadian ini tidak akan pernah terjadi. Nasi sudah menjadi bubur, Putra hanya bisa berdo'a yang terbaik untuk keselamatan istrinya.
"La--lalu keadaan lengan istri saya bagaimana Dok?" tanya Putra dengan nada khawatir. Apakah lengan istrinya itu semakin membengkak atau sudah mulai berkurang. Sungguh Putra tidak bisa membayangkan jika, sampai lengan istrinya itu meletus.
"Sekarang lengan istri Bapak sudah kami kasih obat untuk pengering luka bakar. Kami juga memberi obat untuk mengurangi bengkak yang terjadi pada lengan istri, Bapak," jelas dokter itu.
"Terima kasih ya Dok," ucap Putra dan di balas anggukan oleh Dokter.
Sedangkan keluarga yang lainnya hanya mendengarkan serangkaian kata yang keluar dari mulut Putra maupun mulut dokter itu.
Mila? Wanita itu terburuk dalam tangisnya. Mengetahui keadaan putrinya yang tampak sangat memprihatinkan. Hatinya teramat sakit, mengetahui putrinya mengalami musibah sebesar ini. Apa salah putrinya, hingga ada orang jahat mencelakai putrinya sesadis ini. Tak pernahkan berfikir orang itu jika dia berada di posisi putrinya. Jikapun ada salah, bukankah ada cara lain untuk menyelesaikan masalah itu dengan cara musyawarah. Bukan seperti ini. Ini sama saja merenggut nyawa putrinya. Jika saja Putra tidak cepat membawa putrinya ke rumah sakit, apa yang akan terjadi pada putrinya. Apakah putrinya akan meninggalkannya untuk selamanya. Sungguh, membayangkan itu membuat Mila terus-terusan mengeluarkan air matanya. Tak sanggup membayangkan pikiran buruk yang baru saja bersarang di benaknya.
Di samping Mila, suaminya mengusap bahu wanita itu untuk menenangkan wanitanya. Dia juga merasakan sakit yang sama dengan istrinya. Putri kesayangannya di celakai dengan cara tak berperasaan seperti ini. Bahkan selama Miko membesarkan putrinya, tak pernah sekalipun laki-laki itu membuat putrinya menamgis. Bahkan Miko berusaha agar sang putri tetap tersenyum.
Namun, justru orang lainlah yang membuat putrinya menderita seperti sekarang. Sungguh perbuatan yang tidak akan pernah termaafkan.
__ADS_1
TBC