MENIKAH DENGAN GURUKU

MENIKAH DENGAN GURUKU
BAB 47


__ADS_3

BAB 47


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, telah terjadi kecelakaan mobil di jembatan xxxx pada sore tadi. Informasi yang didapat dua orang anak sedang berada di dalam mobil tersebut. Yang satunya gadis kecil dan yang satunya lagi seorang remaja laki-laki. Itulah kira-kira penjelasan yang didapat dari warga yang melihat kejadian tersebut," jelas Narasumber yang memberikan informasi tersebut.


Putra maupun yang lainnya mempertajam penglihatan serta pendengaran mereka pada layar televisi yang sedang menyala.


Deg


Detak jantung Putra terasa berhenti saat mengetahui warna mobil yang terdapat di dalam sungai tersebut. Ya, warna mobil tersebut adalah biru tua kesukaan ketiga buah hatinya.


"I-itu pasti bukan mobil kita 'kan, Sayang?" Tunjuk Putra ke arah televisi yang memperlihatkan warna dari mobil tersebut.


"A-aku juga yakin i-tu bukan mobil kita, Mas," Derai air mata Cici yang sudah berjatuhan dari pelupuk mata indahnya.


Karim dan Lathifah masih melihat mobil tersebut dengan mempertajam penglihatan mereka, untuk melihat nomor plat pada mobil tersebut.


"I-itu pas-ti bu-bukan Kakak, 'kan, Dek?" tanya Lathifah yang sudah diiringi air mata saat melihat plat mobil yang tertera jelas di layar televisi.


Plat mobil tersebut merupakan plat mobil yang sama dengan yang di belikan Putra untuk mereka bertiga.


Karim berjalan lebih dekat ke arah televisi untuk melihat lebih jelas lagi informasi yang disampaikan oleh narasumber tersebut.


"I-ini ngak mungkin Kakak, Bunda," lirih Karim yang ambruk di depan televisi.


Suara tangis dari keluarga bahagia ini sudah pecah di dalam ruang nan megah tersebut.


Gilang beserta istri dan anaknya sedang menonton di ruang tamu sambil menikmati cemilan yang di bawa Lili dari dapur. Mereka juga sedang menonton berita terbaru di layar TV.


Lisa tampak syok saat mendengar serta melihat berita yang sedang tayang tersebut. Ia sangat tau persis mobil yang tertera di layar TV. Ya, mobil itu merupakan mobil milik si kembar.


Beberapa jam yang lalu, Lisa meng chat Latifah serta menanyakan Hamid kepada dirinya. Lathifah memberitahu bahwa Hamid sedang pergi jalan-jalan bersama Aulia. Sedangkan dirinya di rumah bersama Karim.


Lisa juga tidak tahu kalau ketiga anak kembar ini sedang mengalami konflik. Bahkan di hadapan Lisa, mereka tampak biasa saja seperti tidak terjadi sesuatu di antara mereka.


"It-itu ngak mungin mobil Hamid 'kan, Ayah?" tanya Lisa sambil menunjuk layar televisi yang juga diiringi air mata yang sudah luruh di ke-dua pelupuk matanya.


Lili berpindah duduk di sebelah putri tunggalnya sambil mengelus punggung sang putri dengan elusan yang sangat lembut. "Ngak Sayang, itu bukan mobil Hamid, kok," Senyum Lili yang tetap mengelus lembut punggung anak tunggalnya.


"Iya Sayang, ayah yakin itu bukan Hamid," ujar Gilang yang ikut menenangkan putri tercintanya.


Detik berikutnya, Lisa kembali menghadap ke arah televisi, dan melihat nomor plat dari mobil tersebut.

__ADS_1


"A-ayah it-itu mo-mobil Ham--" ucapan Lisa terputus karena tiba-tiba tubuhnya ambruk di pangkuan Lili.


"Sayang, bagun! Nak!" ujar Lili sambil mengoyang-goyangkan tubuh mungil putri sulungnya.


Lisa digendong Gilang menuju kamarnya, dan menidurkan sang putri di atas kasur nan empuk tersebut. Lili terus berusaha untuk membangunkan putrinya dengan susah payah.


Sudah hampir dua jam Lisa belum juga sadarkan diri dari pingsannya. Lili merasa khawatir dengan keadaan sang putri yang terbaring lemah di atas ranjang.


Gilang berusaha menghubungi kediaman Putra untuk menanyakan bahwa informasi yang ada di TV itu bukanlah Hamid dan Aulia.


"Hallo, assalamu'alaikum, Pak?" sapa Gilang saat telepon sudah tersambung.


"Wa'alaikumsalam, Lang," jawab Putra dengan suara gemetar.


"Pak, berita di TV itu ngak benar 'kan, Pak?" tanya Gilang berharap itu bukanlah Hamid dan Aulia.


"Itu mobil yang dinaikkan Hamid dan Aulia tadi siang, Lang, " jawab Putra dengan isakan tangis yang terdengar oleh Gilang.


"Apa Bapak sudah menghubungi pihak kepolisian?" tanya Gilang dengan sangat penasaran.


"Sudah tadi, Lang. Oh ya Lang, saya tutup dulu ya teleponnya? Assalamu'alaikum," jawab Putra yang diakhiri dengan salam.


Selesai menelepon, Gilang kembali ke ranjang sang putri yang sedang terbaring lemah. Gilang menatap lekat ke arah putrinya. Gilang tau persih putrinya sangat mencintai Hamid. Meskipun ia tidak tau jika putrinya sedang menjalin hubungan asmara bersama lelaki tersebut, tapi semuanya jelas terlihat saat mata mereka saling beradu pandang saat di rumah mereka.


Sudah hampir tiga jam Lisa pingsan, tapi ia belum juga sadarkan diri. Lili berusaha membangunkan sang putri dari pingsannya, begitupun dengan Gilang.


Suara tangis dari ke-dua buah hati Cici masih menggema di dalam rumah besar tersebut. Ya, mereka sangat menyesal dengan apa yang sudah mereka lakukan kepada kembaran mereka. Jika saja, mereka tidak berperilaku egois kepada kembaran mereka, maka semua ini tidak akan pernah terjadi sampai kapanpun.


Putra mondar-mandir di ruang tamu sambil menatap lagit-langit rumah untuk menahan air mata yang hampir bercucuran dari pelupuk mata indahnya. Putra juga menunggu kabar yang akan diberitahukan oleh pihak kepolisian mengenai sang buah hati. Ya, beberapa menit yang lalu Putra menelepon pihak kepolisian untuk memberitahukan bahwa berita yang tayang di TV adalah anak mereka.


Hari sudah semakin larut. Belum ada tanda-tanda dari pihak kepolisian tentang keberadaan Hamid dan Aulia. Padahal sekarang jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Tidak mungkin juga Putra beserta istri dan anaknya untuk menyusul ketempat kejadian, karena tempat itu sangatlah jauh dari kediaman mereka.


"Aulia, Hamid, cepat pulang, Nak! bunda ngak ngak mau jauh-jauh dari kalian!" Tangis Cici yang memeluk foto keluarga.


Karim dan Lathifah yang melihat hal tersebut, merasa semakin bersalah dengan apa yang sudah terjadi. Kenapa tidak? Ini semua terjadi ulah mereka, jika saja mereka mengikuti atau menghalagi kepergian Kakak dan Adik mereka, maka Bundanya tidak akan frustasi seperti ini.


"Bunda, maaf, ini semua salah kami," lirih Karim dan Lathifah di hadapan Cici sambil memegang tangan sang bunda.


Cici melirik buah hati yang berada di hadapannya. "Ngak Sayang, ini bukan salah kalian," ujar Cici dengan senyuman yang dipaksakan karena, ia juga tidak mengiginkan anaknya merasa terbebani dengan semua ini.


Tepat jam dua belas malam, hanphon Putra berdering, dan dengan sigap, ia langsung mengangkatnya.

__ADS_1


"Hallo, asalamualaikum, Pak," ujar seseorang di seberang sana. Yang tak lain adalah salah satu dari pihak kepolisian.


"Wa'alaikumsalam, Pak, apakah sudah ada kabar mengenai anak, saya?" tanya Putra berharap hasilnya tidak mengecewakan.


"Maaf Pak, kami sudah mengeluarkan mobil Bapak dari dalam sungai tersebut, tapi anak Bapak tidak ditemukan. Berkemungkinan mereka hanyut bersama air sungai yang deras itu, Pak," ujar polisi yang memberikan kabar tersebut.


Deg


Jantung Putra seakan terasa berhenti untuk berdetak. Air mata Putra luruh dengan sendirinya dari pelupuk mata Putra. Buah hati yang sangat ia cintai sekarang tidak ditemukan jejak mereka.


"Pak, saya mohon tolong cari anak saya sampai ketemu!" Mohon Putra dengan suara parau.


"Baiklah, Pak, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk mecari kedua anak Bapak," jawab polisi itu dan mengakhiri telepon itu.


Putra meletakkan gawainya di tempat semula. Raut sedih itu sudah sangat jelas terlihat di wajah tampannya.


"Mas, apa yang di bilang polisi? Anak kita selamat 'kan Mas?" tanya Cici yang beralih duduk ke arah sang suami.


Putra mengelengkan kepalanya untuk jawaban dari pertanyaan sang istri.


Air mata Cici semakin luruh dari pelupuk matanya. Hingga akhirnya mereka semua tertidur dengan sendirinya di kursi ruang tamu.


Sinar surya sudah menampakkan wujudnya ke permukaan bumi. Cahaya pagi yang sangat cerah, membangunkan seluruh umat di permukaan bumi yang masih terlelap dari tidurnya.


Kira-kira jam delapan pagi Putra beserta keluarganya pergi ke lokasi kejadian. Hanya butuh waktu tiga jam lebih, mereka pun sudah sampai di tempat lokasi tersebut.


Di sana sudah terdapat delapan orang polisi yang menyelidiki perairan sungai tersebut untuk menemukan jejak kedua buah hati Cici dan Putra.


Tak berselang lama, Gilang beserta Lili dan Lisa juga sampai di tempat lokasi untuk melihat apakah Aulia maupun Hamid sudah ditemukan.


"Pak, bagaimana dengan anak saya? Mereka bisa ditemukan 'kan, Pak?" tanya Cici kepada salah satu dari polisi tersebut.


"Mohon sabar ya, Buk, kami masih berusaha untuk mencari keberadaan anak Ibu," jawab polisi itu, dan kembali bekerja.


Polisi serta keluarga Putra dan Gilang terus menyusuri anak sungai tersebut hingga ada satu pohon yang menghalangi jalan mereka. Mungkin pohon itu tumbang karena longsor yang terjadi semalam. Ya, di sana sangat jelas itu kejadiannya semalam, karena dari tanahnya sudah terlihat sangat jelas.


Akhirnya mereka semua kembali ke tempat semula, dan akan menyusuri sungai tersebut setelah pohon yang menghambat itu di pindahkan atas bantuan warga setempat.


Sekitar lima jam mereka di sana, bahkan sungai tersebut sudah ditelusuri hingga ujung tapi, hasilnya nihil. Mereka tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Hamid maupun Aulia.


TBC

__ADS_1


__ADS_2