
BAB 27
Hari ini adalah hari yang di tunggu-tunggu Putra setelah sekian lama. Hari dimana penerimaan lapor kenaikan kelas bagi kelas sepuluh dan sebelas. Setelah ini akan libur sekolah lebih kurang dua mingguan. Putra akan menagih janjinya kepada sang istri untuk melaksanakan honeymoon mereka yang kedua kalinya. Tentunya kali itu jelas berbeda dari yang lalu.
Rencana Putra akan membawa sang istri kembali keluar negeri untuk honeymoon mereka ini. Tapi sebelum itu tentunya putra harus musyawarah dulu bersama istrinya. Tak mungkin dia mengambil keputusan seorang diri. Bisa jadi istrinya tidak menyetujui tempat yang dia pilih.
Saat ini Cici tengah berada di dalam kamar sambil memainkan ponselnya. Banyak notif pesan masuk yang melalui aplikasi hijau itu. Cici membuka beberapa pesan dari sahabatnya Lili. Langsung saja gadis itu membuka pesan dari sahabatnya. Tampak ada kernyitan pada dahi gadis itu.
Isi chat
("Assalamu'alaikum Ci, aku tunggu kamu sekarang di taman tempat biasa kita ketemuan ya? Soalnya ada yang mau aku omongin sama kamu. Ini sangat penting! Jangan sampai ngak datang!") itulah isi pesan dari Lili. Jangan lupakan emoticon marah diakhir kalimatnya.
***
Taman
Sekarang Cici sudah sampai di taman. Gadis itu tidak menemukan Lili di manapun. Cici sudah melihat ke sekeliling taman tapi tidak juga ia temukan, dan Cici memilih duduk di kursi taman sendirian.
"Haaaahhhh haaaahhhh, maaf Ci aku telat, jalanan sangat macet," jelas Lili dengan nafas ngos-ngosan.
"Iya ngak apa-apa kok Li. Emang kamu mau ngomong apa?" tanya Cici penasaran.
"Kamu tau ngak? Sekarang.... " ucapan Lili terpotong karena Cici meyela ucapannya.
"Ya mana aku tau Li, lagian kamu belum ngomong sama aku," ujar Cici.
"Huhhhhh, ya dengerin aku dulu dong. Gini kemaren aku kan ke rumah sakit sama Gilang karena, paginya kepala aku terasa sangat Pusing...."
"Lah terus apa hubungannya kamu ke rumah sakit sama kepala pusing?" tanya Cici yang kembali menyela ucapan Lili
"Aihhh, dengerin aku dulu dong Ci. Jangan main sambar-sambar doang! Kata dokter aku lagi hamil Ci, dan aku juga Gilang merasa sangat bahagia karena, dengan cepatnya Allah memberikan kami anugerah yang sangat kami inginkan yaitu hadirnya sang bayi di dalam perut aku," ucap Lili dengan sangat bahagia dan ia memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"What? Kamu serius Li? Padahal baru dua bulan menikah tapi sudah hamil?" tanya Cici yang terlihat sangat terkejut. Jujur dia juga senang mendengar kabar bahagia itu dari sahabatnya.
"Iya beneran Ci, lagian buat apa aku bohong sama kamu. Oh ya kamu kapan nyusul?" ungkap Lili dan kembali bertanya kepada Cici.
"Hehehe, ngak tau Li," jawab Cici sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Lili hanya tersenyum menanggapi jawaban dari Cici. Lili juga berharap Cici juga cepat menyusul dirinya untuk memiliki momongan. Padahal Putra dan Cici menikah sudah hampir satu tahun tapi mereka belum juga memiliki momongan.
Hanya dua jam mereka berada di taman, dan Lili mengajak Cici untuk pulang karena, perut Lili terus-terusan mau muntah. Padahal tak ada sedikit pun makanan yang keluar dari dalam mulut Lili.
***
Sekarang jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Cici sedang duduk di balkon kamarnya sambil meminum secangkir teh hangat beserta kue yang ia bawa dari bawah.
__ADS_1
Cici hanya duduk sendirian karena, Putra sedang mandi. Hanya butuh waktu lima belas menit, Putra sudah selesai mandi, dan ia sekarang sudah berada di samping Istrinya yang sedang duduk dengan teh buatannya sendiri.
"Duduk Mas, jangan berdiri mulu," suruh Cici yang langsung di angguki suaminya.
Putra meminum teh yang di minum sang istri. Putra menoleh ke arah Istrinya yang terus-terusan memandang ke depan dengan tatapan kosong. Ntah apa yang ia fikirkan semenjak ia menyuruh Putra untuk duduk.
"Sayang, kamu kenapa melamun aja sih?" tanya Putra dengan melambai-lambai kan tangannya di depan wajah Cici.
Cici tak merespon ucapan Putra. Wanita itu terus saja menghadap ke depan dengan tatapan kosongnya. Putra yang melihat Istrinya melamun, langsung memegang tangan sang istri yang terletak di atas kursi di samping ia duduk.
Cici terperanjat karena, tangannya di pegang suaminya secara tiba-tiba.
"Ehh Mas, apa kata kamu tadi Mas?" tanya Cici yang terlihat sangat terkejut.
"Kamu kenapa sih Sayang? Dari tadi Mas panggil-panggil malah sibuk aja dengan lamunannya," ujar Putra yang terus menatap wajah Istrinya.
"Hehehehe, ngak apa-apa kok Mas," jawab Cici.
"Kalau ada masalah lebih baik bilang sama Mas. Jangan di pendam sendiri Sayang," ujar Putra yang menarik kepala Cici untuk bersandar di bahunya.
"Aku hanya pengen..., ehh ngak jadi Mas," ucap Cici yang merasa ngak enak.
"Pengen apa Sayang? Bilang aja In sya Allah nanti Mas kasih kok, itupun kalau masih mampu," jawab Putra sambil tersenyum.
"Ngak ada kok Mas," jawab Cici sambil membalas senyuman suaminya.
Menit berikutnya, Cici membuka pembicaraan setelah menatap sang suami yang terus menatap wajah cantiknya. Cici menjadi salting karena sang suami yang terus-terusan menatap kearahnya.
"Mas, kamu tau ngak?" tanya Cici sambil tersenyum dan membuat bibir tipis Putra juga ikut tersenyum.
"Ngak Sayang emang apa?" tanya Putra yang tetap melihat wajah Cici, dan itu membuat wajah Cici memerah seperti kepiting rebus.
"Lili sudah hamil Mas, tadi aku ketemuan sama Lili di taman, dan dia bilang sama aku kalau dia sudah hamil," jelas Cici dan membuat Putra terkejut dengan penjelasan Cici.
"Hahhh, kamu serius Sayang? Kok cepat amat yah? Padahal pernikahan mereka baru menginjak dua bulan," cakap Putra yang kurang percaya, padahal yang menikah duluan mereka bukannya Lili dan Gilang ehh, sekarang malah Lili yang memiliki momongan secepat ini.
Hufff maklumlah, mereka saja belum pernah melakukan apa kewajiban yang harus di lakukan oleh sepasang suami istri yang semestinya. Meskipun mereka sudah tidur satu ranjang tapi, mereka tetap menahan syahwat masing-masing.
"Iya Mas, aku ngak bohong," ujar Cici dengan tersenyum.
"Hmmm hmmm, oh ya Sayang, kamu masih ingat kan dengan ucapan kamu beberapa bulan lalu?" tanya Putra dengan memasang wajah seriusnya.
"Yang mana Mas, aku lupa," jawab Cici yang benar-benar tidak ingat.
"Yang itu loh Sayang, katanya mau honeymoon saat Mas libur nanti, dan sekarang Mas kan sudah libur Sayang," ucap Putra mengingatkan istrinya.
__ADS_1
"Oh yang itu ya Mas. Emang kita honeymoonnya kemana Mas?" tanya Cici menatap suaminya.
"Gimana kalau ke Thailand aja Sayang?" tanya Putra dengan serius.
"Jauh banget Mas, tempat lain aja deh," ujar Cici yang tidak setuju dengan yang disebutkan suaminya.
"Hmm, ke Perancis Sayang,"
"Ngak deh Sayang, tempat lain aja Mas," Cici masih berusaha menolak, karena memang dia tidak mau ke sana.
"Ke Australia, Cina, Korea, Belanda, Italia, India, Singapura, Malaysian," Putra menyebutkam nama-nama negara, yang mungkin saja salah satunya mau di kunjungi istrinya.
Cici tidak memilih salah satu tempat yang sudah di sebutkan suaminya. Cici hanya merespon dengan menggelengkan kepalanya. Putra yang melihat jawaban dari sang istri hanya mendengus kesal. Kanapa tidak! Sudah disebutin malah ngak di pilih satupun.Siapa cobak yang tidak kesal.
"Aihh, mau kamu kemana Sayang? Kamu kan udah janji sama Mas, masak ngak mau menuhin janji kamu sih, Sayang?" ujar Putra yang merasa kecewa kepada sang istri.
Cici yang melihat raut wajah kecewa Suaminya langsung mengambil tangan Suaminya yang berada di atas pahanya, dan memegang dengan erat, dan sesekali menciumnya dengan penuh rasa cinta.
"Mas, maafkan aku ya. Bukannya aku mau bikin kamu kecewa atas saran yang kamu sebutin tapi,...."
"Iya Sayang, Mas ngerti kok," ujar Putra memotong ucapan Istrinya.
"Bukan gitu maksud aku Mas, seba...,
"Iya Mas tau kok Sayang, kamu pasti ngak mau," Putra kembali memotong ucapan istrinya dengan raut wajah yang tetap merasa kecewa seperti semula.
Cici merasa kesal dengan Suaminya yang terus-terusan memotong ucapannya.
"Mas!! Dengerin aku dulu! Jangan asal potong saja!" ucap Cici dengan nada sedikit kesal dan itu membuat Putra merasa kaget. Kenapa tidak! Baru sekali ini ia melihat Cici berbicara dengan nada tinggi.
"Hufff, yaudah kamu mau ngomong apa?" tanya Putra yang menahan rasa sakit mendengar bentakan Istrinya. Putra sadar, Istrinya membentak karena ulahnya sendiri, jadi karena itulah ia tetap lembut berbicara dengan sang istri meskipun perkataannya membuat Putra merasakan sakit di hatinya.
Cici menghela nafasnya dengan perlahan "Gini Mas, dari pada kita pergi keluar Negeri mendingan kita honeymoon nya di rumah Nenek aja Mas. Lagian rumah Nenek juga kosong, dan kita juga berduaan saja di sana Mas. Gimana kamu setuju ngak?" tanya Cici dengan senyuman dan di balas anggukan oleh sang suami.
"Iya Sayang, boleh," jawab Putra dengan senyum mengembang di bibirnya.
***
Hari ini adalah hari dimana Putra dan Cici sedang bersiap-siap untuk pergi ke rumah Neneknya yang terletak di Kota Padang Sumatra Barat. Orang tua Cici merupakan orang padang, tapi sekarang mereka merantau keluar pulau Sumatera, tepatnya di pulau Jawa.
Sekitar jam sebelas siang nanti, mereka akan pergi ke bandara. Putra sudah memesan dua buah tiket pesawat setelah mereka membicarakan tentang honeymoon mereka berdua.
Empat jam berlalu, sekarang jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lima belas siang, Putra dan Cici sudah berada di dalam pesawat. Dalam waktu sekitar sepuluh menit lagi maka pesawat akan terbang.
Sekarang pesawat sudah mulai naik, dan wajah Cici kembali pucat seperti beberapa bulan yang lalu saat mereka pergi ke Jepang. Putra yang tau akan hal tersebut langsung memeluk sang istri agar tidak merasa takut saat berada dalam ketinggian.
__ADS_1
TBC