
BAB 11
Jam pelajaran terakhir sudah selesai, Cici juga mengatakan hal yang sama seperti apa yang ia katakan pada Lili kemarem. Itu membuat Lili semakin penasaran terhadap sahabatnya ini. Ada apa sebenarnya dengan sahabatnya.
Cici masuk ke dalam mobil, Putra di tempat parkiran dan ia langsung masuk ke dalam mobil Putra. Sekarang Lili juga sedang mengintip Cici dari pohon yang tak jauh dari tempat parkiran tersebut. Melihat dengan nyata bagaiamana sahabatnya masuk ke dalam mobil guru mereka tersebut.
Mobil Putra sudah meninggalkan perkarangan sekolah, sedangkan Lili masih bersembunyi di balik pohon besar itu. Agar Putra tak melihatnya dari kaca spion mobilnya. Begitupun dengan Cici.
Kembali seperti kemaren, Lili keluar saat mobil yang dikendarai Putra sudah tak terlihat dari pandangan matanya.
"Aku yakin Cici pasti punya hubungan dengan Pak Putra," Monolog Lili saat gadis itu sudah keluar dari tempat persembunyiannya.
Gadia itu verjalan menuju luar sekolah. Lili menyetop salah satu taksi yang lalu lalang di depannya sambil melambaikan tangan kanannya. Taksi tersebut berhenti, dan Lili langsung masuk ke dalam taksi tersebut.
Saat sedang menghadap keluar jendela taksi, muncul sebuah ide di kepala Lili.
"Ahaaa, mendingan aku ikutin aja mobil Pak Putra dan Cici ah," batin Lili yang merasa bahagia mendapatkan ide tersebut. Lagian mobil yang dikendarai Putra tidak terlalu jauh dari taksi yang saat ini dinaiki Lili. Karena Putra melajukan mobilnya dengan pelan.
"Pak, ikutin mobil yang di depan ya Pak?" ujar Lili sambil menunjuk mobil yang berada di depannya mereka.
"Baiklah Neng," balas sopir taksi itu sambil mengangguk.
Lili dan supir tersebut mengikuti mobil yang di kendarai Putra dengan hati-hati. Takut jika Putra ataupun Cici menyadari jika taksi di yang berada di belakang mereka tengah mengikuti mobil yang mereka naiki.
"Mas," panggil Cici sambil melirik ke arah suaminya.
__ADS_1
"Iya ada apa, Sayang?" tanya Putra sambil melirik ke arah Cici. Lalu kembali fokus pada jalan, agar tidak terjadi sesuatu jika dirinya terus saja menatap ke arah istri kecilnya.
"Mas lihat deh taksi yang ada di belakang mobil kita, dari tadi aku perhatiin taksi itu ngikutin kita terus Mas," ucap Cici sambil menunjuk kaca spion. Pasalnya cici terus memperhatikan taksi tersebut sedari tadi. Meyakini apakah taksi itu benar-benar mengikuti mereka atau tidak. Maka dari itu dia memberitahu suaminya.
"Iya Sayang, kenapa ya taksi itu ngikutin kita?" tanya Putra sambil melirik arah tangan Cici, dan Cici membalasnya dengan mengangkat bahunya tanda tak tahu.
"Sayang, Mas akan bawa mobilnya sedikit lebih kencang. Dan kita akan lihat apakah benar taksi tersebut mengikuti kita atau tidak," ujar Putra.
"Iya Mas, nggak apa-apa. Itu lebih baik." balas Cici.
Setelah itu Putra mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, dan membuat taksi yang berada di belakang mereka juga mengendarai dengan kecepatan tinggi, dan itu membuat Putra dan Cici semakin curiga. Sudah jelas jika taksi tersebut mengikuti mereka. Karena jelas terlihat dari taksi itu yang mengikuti mereka dengan apa yang dilakukan Putra.
Putra membawa mobilnya ke sebuah restoran, dan memarkirkan mobilnya di tempat parkir. Cici dan Putra masuk ke dalam restoran, dan mengintip taksi tersebut dari kaca dari dalam restoran. Kebetulan restoran itu memiliki kaca yang tidak tembus pandang luar dalam, hanya dapat melihat keadaan orang diluar tanpa tau keadaaan di dalam.
Taksi yang dinaiki Lili juga berhenti tak jauh dari mobil Putra yang terparkir. Lili keluar dari dalam taksi setelah membayar uang kepada pak supir itu. Gadis itu celingak-celinguk kesana-kemari untuk melihat keberadaan Cici maupun Putra. Tadi gadis itu sempat melihat keberadaan kedua orang itu keluar dari dalam mobil. Namun kini Lili tidak melihat kemana kedua orang itu perginya.
"Kamu tau kenapa Lili ngikutin mobil kita Sayang?" tanya Putra pada sang istri dengan bingung.
Cici tak menjawab ucapan suaminya, melainkan ia mengajak Putra untuk duduk di salah satu bangku kosong di dalam restoran itu.
"Gini Mas, kemaren Lili denger Mas manggil aku dengan sebutan Sayang waktu kita di parkiran," jelas Cici.
"Kenapa kamu ngak bilang sama aku kalau Lili ngomong seperti itu sama kamu?" tanya Putra sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Maaf Mas, kemaren aku lupa mau ngasih tau sama kamu," jelas Cici menunduk.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Sayang, apa buang akan terjadi kita harus lalui bersama." Putra mengangkat dagu istrinya agar, istrinya menatap ke arahnya. Mengusap lembut wajah mulus sang istri.
Sedangkan diluar restoran, Lili melihat-lihat ke semua arah yang ada di sekitar perkarangan restoran itu, dan ia melirik ke arah mobil Putra yang masih terparkir di dekat mobil berwarna hitam. Yang jelas Lili tidak tau itu mobil milik siapa.
"Mendingan aku masuk saja ke dalam restoran, mana tau nanti aku ketemu mereka di dalam. Disini jelas tidak ada kehadiran mereka. Lagian aku sudah melihat kesemua arah," ujar Lili kepada dirinya dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam restoran.
Sekarang Cici sudah menceritakan semuanya kepada Putra. Apa yang dikatakan Lili kemaren tanpa ada yang gadis itu tutupi. Mereka akan memberitahu kepada Lili, tapi dengan syarat gadis itu menutup mulutnya. Dan tidak akan membocorkan kepada siapapun.
Mereka berdiri dan berjalan keluar restoran. Saat akan sampai di pintu restoran mereka bertemu dengan Lili. Awalnya mereka terkejut namun dengan segera mereka menghilangkan rasa terkejut itu dengan cepat. Takut jika Lili mengetahui raut wajah mereka saat ini.
"Lili, kamu ngapain kesini?" tanya Cici yang pura-pura terkejut akan hadirnya Lili di depan restoran ini.
"Aa... aku la... gi nungguin teman aku. Ya teman aku," jawab Lili dengan terbata-bata. Seakan-akan kata-kata yang akan dia sampaikan tadi hilang begitu saja dari pikirannya.
"Beneran? kamu ngak bohong kan?" tanya Putra dengan menatap manik mata siswinya itu.
"I... ya beneran kok Pak, oh ya Bapak ngapain sama Cici kesini?" tanya Lili mengalihkan omongan Putra. Gadis itu takut terjebak dengan ucapannya sendiri. Lebih beik dia mengalihkan ucapannya.
"Ngak ada, saya sama Cici ada keperluan." jawab Putra dengan lantang. Seperti tidak terjadi sesuatu di antara mereka. Bahkan mereka sengaja menjaga jarak.
"Yaudah Pak, saya masuk dulu." ucap Lili dan masuk ke dalam restoran.
"Iya silahkan," balas Putra.
Putra dan Cici melangkah menuju mobil Putra, yang kini tengah terparkir di tempat parlir restoran. Mereka kembali masuk ke dalam mobil dan langsung saja Putra melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Meninggalkan restoran tersebut.
__ADS_1
TBC