MENIKAH DENGAN GURUKU

MENIKAH DENGAN GURUKU
BAB 46


__ADS_3

BAB 46


"Abang, kita mau pelgi ke mana?" tanya halus Aulia sambil melirik sang abang dengan senyuman yang mengembang di bibir tipisnya.


"Entahlah, Au, Abang ngak tau harus pergi ke mana," jawab Hamid dengan tatapan kosong ke depan.


Mobil yang dilajukan Hamid terus memecah jalan raya yang dipenuhi kendaraan roda empat maupun roda dua. Tatapan kosong terus terlihat dari kedua netra indah milik Hamid. Tidak ada satupun yang terfikirkan oleh Hamid saat ini. Baik itu tentang keselamatannya maupun sang adik yang berada di sampingnya.


Mobil itu terus saja melaju dengan kecepatan yang lumayan kencang. Aulia tidak protes dengan kecepatan dari mobil yang dia naiki bersama sang abang, karena Aulia memang menyukai saat naik mobil dengan kecepatan yang kencang.


"Abang, kita mau ke mana, Abang?" Aulia memecah keheningan yang sempat terjadi beberapa menit.


"Au liat aja yah, nanti Au juga tau kita mau ke mana kok!" Senyum Hamid dan kembali menghadap ke depan dengan tatapan kosong.


Aulia hanya menganggukkan kepalanya atas jawaban sang abang. Aulia kembali menghadap ke depan, dan melihat-lihat ke setiap penjuru jalan raya yang dipenuhi dengan adanya pohon lindung di setiap sisi jalan.


Aulia baru kali ini melewati arah jalan yang sedang ia tempuh bersama dengan Hamid. Sebelumnya ia tidak pernah melewati jalan seperti ini bersama kedua orang tuanya begitupun dengan sang kakak dan sang abang.


"Abang, kenapa kita kecini, Abang?" tanya Aulia dengan raut wajah khawatir.


Hamid tidak membalas ucapan Aulia, melainkan tetap fokus melajukan mobilnya.


Aulia merasa bingung dengan jalan yang sekarang ia lewati. Kenapa tidak? Jalan ini sepertinya menuju ke arah hutan. Bahkan di sepanjang jalan tersebut juga terdapat bentangan sungai dengan air yang mengalir sangat deras.


Rasa bingung semakin menghampiri wajah cantik dan mungil sang gadis kecil. Hamid sejak tadi tidak ada membuka pembicaraan. Hanya keheningan yang tercipta. Ya, hanya keheninganlah.


"Abang, kita mau kemana cih? Kenapa ke alah utan, Abang?" Rengek Aulia dengan menatap ke arah Hamid yang tak bergeming sedikit pun.


Lagi-lagi Aulia berbicara kepada Hamid, tapi hasilnya tetap nihil. Hamid tidak menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan Aulia kepada dirinya.


"Abang, kenapa Abang ngak jawab ucapan Lia?" tanya Aulia dengan tatapan sedih.


Hamid hanya fokus ke depan dengan tatapan kosong, tanpa memikirkan sang gadis kecil yang berada di sampingnya yang terus-terusan berbicara kepada dirinya.


Dua jam sudah perjalanan Putra dan Cici menuju kediaman mereka. Cici memasuki rumah yang diikuti sang suami di belakangnya. Mereka menuju kamar untuk membersihkan tubuh mereka masing-masing, karena keringat sudah membanjiri tubuh sepasang suami istri ini.


Dengan langkah cepat, Putra dan Cici menuju kamar mereka. Semenjak masuk ke dalam rumah, mereka tidak menemukan sang buah hati yang selalu berada di saat-saat jam segini selalu berada di ruang tamu sambil menonton TV yang memperlihatkan film kesukaan sang gadis kecil. Ya, film kesukaannya adalah Ipin dan Upin.


Mereka menepiskan rasa penasaran kepada sang buah hati. Mungkin mereka sedang bermain bersama sang kakak. Itulah yang ada di dalam fikiran mereka masing-masing.


Ini semua membuat Putra semakin berteriak gembira di dalam hatinya, karena sang gadis kecil yang tidak melihat keberadaan mereka yang baru datang dari jalan-jalan. Jika mereka ketahuan maka Putra tidak akan bisa lagi bermesraan bersama sang istri.


Cici langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang benar-benar sudah sangat lengket. Tidak lama kemudian, Cici pun sudah siap mandi dan digantikan oleh Putra.


Sekarang mereka berdua sudah merasa sangat segar. Tubuh yang tadinya terasa sangat lengket kini sudah berubah menjadi segar.


Putra dan Cici duduk di atas ranjang sambil memainkan gawai mereka masing-masing. Tidak ada pembicaraan di antara mereka bedua. Hening? Ya keheninganlah yang tercipta di dalam kamar nan luas tersebut.


"Sayang, makasih ya atas waktunya tadi," lirih Putra sambil menidurkan kepalanya di pangkuan sang istri.


"Iya Mas, sama-sama," jawab Cici sambil tersenyum bahagia. Wajah Cici sangat berseri-seri semenjak ia pulang dari jalan-jalan bersama sang suami. Rasa bahagia yang tiada taranya Cici rasakan hari ini.


Hari ini merupakan hari bersejarah bagi Cici, karena sudah sekian lama mereka tidak bisa menghabiskan waktu bersama. Waktu yang dulunya selalu ada yang menganggu. Siapa lagi kalau bukan Aulia.


Hamid dan Lathifah masih bersantai di balkon kamar. Teh es yang tadinya sudah habis, kembali ditambah oleh Lathifah. Mereka hanya menghabiskan waktu di balkon kamar sambil bercerita ria, seperti tidak ada sesuatu ke ganjalan yang ada di hati mereka masing-masing. Hingga akhirnya Karim membuka pembicaraan mengenai sang kakak.


"Kak, Kak Hamid pergi ke mana ya, sama Aulia?" Penasaran Karim yang berbicara kepada sang kembaran.

__ADS_1


"Entahlah, Dek," jawab Lathifah dengan cuek, dan tidak terlihat di wajah cantiknya beban yang sedang ia alami.


Karim merasa resah dengan kepergian sang kakak, tapi hal ini berbeda dengan Lathifah, ia tetap santai sambil tiduran di kursi balkon kamar yang berbantalkan kedua tangannya. Tapi, di hatinya ntah gimana? Hanya dialah yang tahu.


Detik sudah berganti dengan menit, dan menit pun sudah berganti dengan jam. Sudah hampir lima jam Hamid dan Aulia belum pulang ke rumah. Rasa resah masih menyelimuti diri Karim. Ia takut akan terjadi sesuatu kepada sang kakak. Pasalnya saat ia berangkat, tatapan kosong itu jelas terlihat dari wajah tampan milik sang kakak.


Karim mondar-mandir di sekitar kamar Lathifah sambil mengigit-gikit kukunya. Sedangkan Lathifah, ia tetap santai di atas ranjang sambil bermain dengan gawainya.


"Dek, kenapa sih mondar-mandir terus dari tadi?" Lathifah menghentikan aktivitas Karim, dan berjalan ke arah kembarannya yang sedang berhenti dan menatap lekat wajah cantik dirinya.


"Emang Kakak ngak ada ngerasa cemas sama Kak Hamid?" selidik Karim dengan tatapan yang tak bisa di tebak.


"Ya, pasti nanti juga pulang kok, Dek. Ngak usah cemas gitu kali, Dek!" Lathifah mengalihkan pembicaraannya.


Hufff, Karim hanya menghela napasnya dengan kasar, lalu duduk di tepi ranjang sambil menekan pelipisnya berkali-kali. Rasa cemas itu selalu saja menghampiri perasaannya, ia tak tau kemana sang kembaran, dan juga gadis kecilnya pergi.


Hamid dan Aulia sudah berada jauh dari rumah mereka. Hamid menambah kecepatan laju mobilnya menjadi lebih tinggi. Itu membuat Aulia merasa cemas dengan kecepatan mobil yang semakin kencang. Aulia memang menyukai naik mobil dengan kecepatan kencang tapi, ini sangat kencang dari yang sebelumnya.


"Abang, Lia takut!" bentak Aulia dengan suara keras.


Hamid tidak menghiraukan ucapan gadis kecil di sampingnya yang sudah mengeluarkan air mata, serta tangisan yang sudah menggelegar di dalam mobil tersebut.


Hamid tidak mendengarkan tagihan gadis kecilnya. Tatapan itu tetap saja kosong tanpa memikirkan apapun.


Mobil yang dinaiki Aulia semakin berjalan lurus kedepan.


"Abang! Awac! di depan ada jembatan!" teriak Aulia dengan suara keras yang diringi dengan tangisan.


Hamid tetap melajukan mobilnya lurus ke depan tanpa mendengarkan ucapan gadis kecilnya.


Detik berikutnya mobil itu menabrak tiang jembatan hingga mobil itu masuk ke dalam air yang sangat deras tersebut.


Ucapan Aulia terputus karena mobil yang ia naiki sudah lebih dahulu masuk ke dalam sungai tersebut.


Byurrrr


Bruk


Pintu mobil yang dinaiki Aulia dan Hamid terlepas takkala pintu mobil tersebut terhempas ke bantu besar yang berada tepat di bawah mobil mereka yang jatuh.


Jam di dinding rumah Putra sudah menunjukkan pukul enam sore. Tiba-tiba perasaan Karim maupun Lathifah terasa tidak enak, seperti ada hal yang mengganjal di hati mereka masing-masing.


"Kenapa perasaan Kakak ngak enak ya, Dek?" Lathifah memecah keheningan yang tercipta di dalam kamar nan luas tersebut.


"Iya Kak, aku juga ngerasain gitu," jawab Karim yang merasa memang sama seperti apa yang dirasai oleh Lathifah.


Tok ... tok ... tok ....


Klek


Pintu kamar Lathifah dibuka oleh seseorang yang tak lain adalah Cici. Cici masuk ke dalam kamar sang putri dengan senyuman yang mengembang. Pasalnya sejak ia pulang belum ketemu dengan ke-empat buah hatinya.


Cici melirik setiap sudut kamar Lathifah untuk melihat keberadaan gadis mungilnya. Di dalam kamar Hamid ia tidak menemukan gadis kecilnya tersebut. Makanya ia pergi melihat ke dalam kamar putri cantiknya.


Hasilnya nihil, ia tidak dapat menemukan gadis kecilnya dan juga putra sulungnya.


"Sayang, Aulia sama Hamid mana?" tanya Cici dengan sorot mata penuh tanda tanya.

__ADS_1


"Ta-tadi si_ang Kak Hamid dan Au-lia pergi Bunda," ujar Karim dengan terbata-bata, dan menundukkan kepalanya. Ia yakin sang bunda akan menanyakan kemana mereka akan pergi.


"Mereka pergi kemana? Kenapa jam segini belum pulang, hmm? Kenapa kalian tidak ikut sama mereka?" Berbagai pertanyaan dilontarkan Cici kepada anak kembarnya yang sedang mematung dihadapannya. Kenapa tidak? Biasanya mereka selalu pergi bersama, walaupun Hamid hanya pergi berdua dengan sang gadis kecil, tapi tidak pernah selama ini.


"Ka-mi ngak tau, Bunda," jawab Lathifah yang semakin memperdalam tundukan kepalanya.


"Jam berapa mereka pergi tadi siang?" tanya Cici dengan sorot mata yang sangat cemas dengan keberadaan sang buah hati.


"Kira-kira jam se-belas Bunda," jawab Lathifah dengan sangat gugup.


"Kenapa kalian ngak ikut sama Hamid, hmm? Apa kalian ada masalah?" tanya Cici yang membutuhkan jawaban dari kedua buah hati yang berada di depannya.


"Su-sudah hampir dua ming-gu kami tidak bertegur sapa dengan Kak Hamid, Bunda," jawab Karim dengan netra yang digenangi buliran-buliran bening. Ntah kenapa perasaannya semakin tidak enakenak saat mengucapkan kata itu kepada Cici.


Cici merasa sangat kecewa kepada sang putra. Kenapa tidak? Selama satu minggu lebih ini mereka hanya berdrama di hadapan dirinya dan juga sang suami. Cici tidak menyangka buah hatinya akan bersikap seperti ini.


"Kenapa tidak bertegur sapa sama Hamid, hmm? Ada masalah apa?" Cici terus melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang membuat nyali kedua buah hatinya menciut.


"Jawab!!" Suara Cici dengan tegas karena buah hatinya tak juga menjawab pertanyaan darinya.


"Min-minggu yang lalu Kak Hamid tidak boleh kami ikut dengan dirinya saat bertemu dengan Lisa, Bunda. Karena itulah kami ngak mau berbicara dengan dirinya, Bunda," jawab Lathifah dengan netra yang sudah mulai basah, dan kepala yang tetap menunduk.


Prok ... prok ... prok ....


Suara tepuk tangan keluar dari kedua tangan Cici. "Hebat! Siapa yang ngajarin kalian seperti ini, haaa? bunda ngak pernah ngajarin 'kan?" ujar Cici dengan tatapan penuh kekecewaan terhadap kedua buah hatinya yang sedang bersama dirinya.


"Ma-maaf, Bunda, kami ngak akan ngulanginya lagi!" Karim dan Lathifah berlutut di kaki sang bunda. Karena baru kali ini mereka melihat kemarahan yang amat sangat dari sang bunda.


Seumur-umur mereka tidak pernah melihat Cici semarah ini kepada mereka. Ya, Cici memang tidak menyukai apabila buah hatinya tidak saling tegur sapa. Hal itu sangat dibenci oleh Cici selama hidupnya. Cici hanya mengiginkan semua buah hatinya hidup dengan bahagia. Jika salah satunya sedih, maka semuanya akan ikut sedih, begitupun sebaliknya.


"Sayang, ada apa ini?" tanya Putra yang masuk ke dalam kamar Lathifah, dan mendapati ke-dua buah hatinya bersujud di kaki sang istri.


"Au-aulia belum pul-ang bersama Hamid hingga sekarang, Mas," Air mata Cici keluar saat mengucapakan kedua nama buah hatinya tersebut. Air mata yang sedari tadi ia tahan, sekarang malah keluar dengan sendirinya.


Deg


Ada sesuatu yang bergejolak di dalam tubuh Putra saat mendengar ucapan Istrinya. Pantasan dari tadi siang tidak menemukan jejak gadis kecil yang selalu menganggu keromantisannya bersama sang istri.


"Mereka pasti ada di dalam kamar Hamid, Sayang," ujar Putra yang berusaha menenangkan istri tercintanya.


"Mereka ngak ada di sa--"


"Mereka ngak ada di rumah, Ayah," jawab Karim yang memotong ucapan sang bunda.


"Kalau mereka tidak ada di rumah, lalu mereka kemana?" tanya Putra dengan netra yang menatap kedua buah hatinya dengan tatapan penuh tanda tanya.


Karim dan Lathifah hanya mengelengkan kepalanya tanda tidak tau kemana kembaran dan juga gadis kecil pergi.


Sudah hampir satu jam lebih Putra berbicara dengan nada keras kepada Karim dan Lathifah mengenai kepergian putra sulung serta gadis bungsunya kepada mereka.


Lathifah menjelaskan dari awal penyebab ini semua terjadi kepada sang ayah. Reaksinya tetap sama seperti apa yang dirasakan Cici. Kecewa? Ya, kecewalah yang dapat dirasakan Putra kepada kedua buah hati yang sedang bersma dirinya.


Mau marah? Putra tidak bisa marah kepada anak-anaknya, karena dengan memarahi mereka semuanya ngak akan pernah kembali seperti semula.


Putra bersama keluarga kecilnya menuju ruang tamu sambil menunggu kedua buah hatinya yang sedang berpergian. Untuk menghilangkan rasa suntuk, mereka memutuskan untuk menonton televisi pada bagian berita.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, telah terjadi kecelakaan mobil di jembatan xxxx pada sore tadi. Informasi yang didapat dua orang anak sedang berada di dalam mobil tersebut. Yang satunya gadis kecil dan yang satunya lagi seorang remaja laki-laki. Itulah kira-kira penjelasan yang didapat dari warga yang melihat kejadian tersebut," jelas Narasumber yang memberikan informasi tersebut.

__ADS_1


TBC


__ADS_2